Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kisah Mama bag. 1 (POV Laila)


__ADS_3

Selesai acara lamaran, Erlan sudah menyiapkan kamar inap di hotel yang sama. Aku sengaja meminta sekamar berdua dengan Mama. Karena aku merasa tak nyaman bila menginap di hotel sendirian.


Acara lamaran selesai sekitar jam sembilan malam. Aku langsung tergeletak tidur pada kasur super empuk yang ada di hotel selama beberapa menit.


Aku terbangun oleh gerakan seseorang yang berusaha membukakan gaun keemasan yang ku kenakan saat di acara tadi.


Tersentak kaget sekaligus takut, aku langsung saja terbangun. Namun ternyata aku berhadapan dengan Mama yang berusaha untuk menggantikan gaun yang ku kenakan dengan baju piyama ku.


"Mama?! Kirain Laila siapa. Laila ngantuk banget, Ma. Jadi ketiduran deh," ucap ku sambil menggosok-gosok mata ku yang masih merasakan kantuk.


"Biasakan untuk bebersih sebelum kamu naik ke tempat tidur, Nak.. ganti dulu baju mu sana!" Mama memberikan titah nya.


Tanpa melawan, aku langsung beranjak bangun dan melihat jam. Ternyata baru sepuluh menit berlalu sejak aku tak sengaja tertidur, tadi.


Kemudian aku mengambil baju piyama ku yang disodorkan oleh Mama. Lalu membersihkan diri ke kamar mandi. Baru setelah nya aku kembali ke kamar tadi. Di mana Mama pun sudah berbaring di sisi kanan kasur. Aku pun menyusul Mama dan merebahkan badan di sisi kiri kasur.


Heran nya, aku malah sulit untuk memejamkan kedua mata. Mata ku sibuk berkeliaran menilai keindahan garis dan bentuk hiasan yang ada di atap langit kamar hotel tempat ku menginap saat ini.


Tak lama kemudian, ku dengar suara Mama menegur ku.


"Kenapa belum tidur, La? Katanya tadi kamu mengantuk?" Tegur Mama.


Aku lalu menengok wajah Mama. Setelah nya, ku miringkan badan ku ke kanan hingga menghadap pada nya.


"Laila juga bingung, Ma. Rasanya masih kayak mimpi aja deh. Tahu-tahu Laila udah lamaran gini," aku mengaku jujur.


Mama tersenyum. Kemudian bangun hingga posisi nya menjadi duduk selonjoran kini. Diberinya aku tatapan teduh yang senantiasa ia berikan kepada ku setiap kali aku mengutarakan apa yang kurasakan.


"Kamu terlalu bahagia, Nak. Sampai-sampai membuat mu kesulitan tidur," imbuh Mama.


Aku mengernyit bingung. Mencoba menganalisis hati ku sendiri, atas benar tidak nya ucapan Mama tadi.


"Hmm.. mungkin Mama memang benar."

__ADS_1


"Sudah tentu lah! Karena Mama bisa melihat nya dengan sangat jelas, Nak," ujar Mama dengan nada bangga.


"Oh ya? Memang nya sejelas itu ya?" Aku merasa sangsi.


"Ya, Nak. Tengok saja wajah mu saat ini. Dulu tuh kamu sering sekali mengerutkan dahi. Seolah-olah kamu akan menghadapi masalah berat saja di setiap waktu nya."


Aku langsung meraih dahi dengan tangan ku. Dan memang, aku tak sedang mengernyit. Namun aku tak bisa memastikan juga bila dulu aku sering mengernyitkan dahi.


"Begitu kah, Ma?"


"Ya! Kamu juga lebih banyak tertawa dan tersenyum saat bersama dengan Erlan, La. Mama sangat bahagia melihat nya."


"Hm.." mendengar nama Erlan disebut, benak ku langsung saja terbayang wajah nya yang tampan itu.


"Tuh kan! Mesti lah kamu teringat sama Erlan kan?" Tebak Mama dengan sangat tepat.


Aku yang tertangkap basah sedang mengingat wajah tunangan ku itu pun langsung berguling dan menyembunyikan wajah ku di bantal.


Kemudian aku merasakan usapan di rambut ku. Merasa nyaman dengan usapan-usapan itu, aku pun membiarkan Mama. Aku hanya mengarahkan wajah ku kembali ke arah Mama. Dengan posisi tubuh yang masih tengkurap.


Kedua mata ku menatap Mama lekat-lekat.


Ku amati wajah Mama yang berparas manis. Wajah yang mewariskan banyak gen nya kepada wajah ku itu kini sedang menatap ku dengan senyuman teduh nya.


Mama sudah terlihat tua di usia nya yang masih terbilang muda, empat puluh tiga tahun. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Mama yang adalah seorang penduduk di desa kecil kota Mataram harus ikut merantau bersama sang suami yang juga adalah cinta masa kecil nya.


Mama menikah di usianya yang sangat muda, yakni 17 tahun. Menurut Mama, ia dan Papa dulu sadar bahwa keduanya saling mencintai sejak mereka berumur 14 tahun.


Mama lalu merengek pada Amak nya untuk dinikahkan dengan Papa. Hingga akhirnya mereka pun menikah di usia yang sama-sama masih belia.


Kemudian Papa hendak pergi merantau ke luar pulau. Dan Mama yang tak ingin jauh dari Papa akhirnya memutuskan untuk ikut merantau bersama nya. Saat itu Mama sedang mengandung ku.


Akhirnya saat usia kandungannya genap enam bulan, Mama pun ikut pergi merantau bersama Papa ke luar pulau.

__ADS_1


Dalam ceritanya, Mama mengatakan kalau kehidupan awal mereka di tempat yang baru sungguh lah sulit.


Papa yang juga masih berusia muda (18 tahun) pun harus pontang-panting bekerja demi bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.


Secara bertahap, selama beberapa tahun awal mereka merantau, Papa akhirnya mulai merambah dunia perdagangan. Ia mulai membuka warung yang dijaga oleh Mama. Sementara ia sendiri bekerja di pabrik.


Secara perlahan, kondisi perekonomian keluarga kecil mereka pun membaik. Usaha toko sembako yang dijaga oleh Mama pun kian hari semakin pesat saja.


Kemudian Papa mencoba peruntungan di dunia bisnis pertambakan. Dan ternyata usaha nya itu berhasil. Menurut Mama, mereka berhasil jadi pengusaha tambak garam yang sukses.


Hingga seingat ku dulu kami pernah mencicipi hidup di sebuah rumah besar dan indah. Meski tak semegah rumah keluarga nya Erlan.


Tapi lalu roda kehidupan pun berputar. Di masa yang seharusnya jadi masa paling bahagia bagi keluarga kecil kami, kami malah diuji dengan ujian yang sungguh berat.


Ternyata Papa diam-diam telah berselingkuh dengan salah satu rekan bisnis nya.


Hati Mama pun seketika remuk redam lah sudah. Tapi Mama begitu tangguh. Aku yang saat itu baru berumur sepuluh tahun masih belum mengerti penyebab turunnya air mata yang diteteskan oleh Mama hampir setiap malam nya.


Dalam pikiran kanak-kanak ku dulu, aku hanya menduga jika Mama mungkin sedang merindukan Papa. Karena entah sejak kapan Papa tak jua pulang ke rumah.


Saat ku tanyakan itu kepada Mama, ia selalu saja memberikan ku jawaban klise.


"Papa sedang bekerja, Sayang. Jadi Papa belum sempat untuk pulang," ujar Mama saat itu.


Satu hari.. dua hari.. aku masih belum merasakan kehilangan Papa.


Seminggu.. dua minggu.. tiga minggu.. pikiran muda ku pun akhirnya mulai merasakan curiga.


Curiga atas kebenaran ucapan Mama yang mengatakan kalau Papa pergi bekerja hingga tak pulang-pulang. Aku bahkan sempat mengira jika ia telah tiada. Sehingga Mama mungkin merasa segan dan bingung untuk menyampaikannya kepada ku.


Apalagi aku selalu melihat Mama menangis di setiap malamnya semenjak Papa pergi. Makin kuatlah dugaan ku kalau Papa mungkin telah tiada.


***

__ADS_1


__ADS_2