Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kabar Baik (POV Laila)


__ADS_3

Aku telah melaporkan Azki pada malam itu juga ke kantor polisi. Setelah aku memberitahu semua info terkait Azki yang ku ketahui, Aku pun pulang ke rumah bersama Papa dan juga Darman.


Sesampainya di rumah, aku menceritakan kembali percakapan kami dengan Azki kepada Mama. Dan Mama sungguh syok saat mendengar fakta ini.


Aku sendiri masih sangat syok untuk bisa mempercayai kalau ternyata Azki lah yang telah menculik anak-anak.


Tak ada satu pun di antara kami yang menyadari kalau ternyata Azki memiliki kelainan mental. Karena selama ini ia terlihat pendiam, sopan dan yang paling utama adalah penyayang terhadap Mark dan juga Nila.


Mama menangis. Menyesali kelalaiannya. Ku hibur Mama dengan kalimat menyalahkan diri ku sendiri.


Ya. Justru menurut ku, aku lah yang paling bersalah atas apa yang terjadi pada kedua anak ku saat ini. Aku telah lalai mengenali seorang Azki sehingga anak-anak ku kini bisa berada dalam naungan nya.


Aku hanya berharap Allah mengiyakan dugaan Papa. Kalau Azki tak akan menyakiti anak-anak ku karena keobsesifan nya terhadap Erlan.


Dan harapan lain juga melintas di hati ku. Semoga kedua anak ku bisa tetap tangguh dan tak mengalami trauma atas apa yang dialami mereka saat ini.


Entah apa yang telah terjadi kepada Azki di masa lalu nya dulu. Ku harap semua hal buruk yang dialami nya tak jua ia imbaskan pula kepada Mark dan juga Nila.


Karena aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa korban dari suatu tragedi traumatis akan berpotensi untuk menjadi pelaku aktif dari kejahatan serupa yang pernah dialami nya di masa lalu.


Semoga Mark dan Nila baik-baik saja. Semoga kedua ishtar ku tetap benderang sepanjang masa. Aamiin.


***


Keesokan hari nya polisi melakukan penyisiran ke tempat kerja dan juga semua alamat terkait yang pernah disinggahi oleh Azki. Aku mengikuti perkembangan pencarian ini dari rumah bersama Papa dan juga yang lainnya.


Setelah berbincang dengan Papa Ulum dan juga Mama Mutia, pada akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan semua kejadian terkait hilangnya kedua anak ku ini kepada kedua mertua ku dan juga Arline.


Arline memang sudah mengetahui tentang hilang nya Nila. Namun ia kembali merasa syok saat ku beritahukan juga kepada nya kalau Mark juga ikut menghilang.


Saat ku beritahukan kepada mereka tentang identitas pelaku nya, Arline dan juga kedua mertua ku semakin syok. Mereka sama tak menyangka nya seperti ku kalau Azki ternyata akan bertindak se gila itu.


"Aku akan tanya ke Bang Amir. Siapa tahu dia bisa bantu kita dengan koneksi militer nya," ucap Arline dengan segera.


Seketika itu juga mata ku langsung mengembun oleh rasa haru.


"Makasih, Line. Apapun bantuan mu dan Amir, aku makasih banget.. " ucap ku penuh rasa terima kasih.

__ADS_1


"Sama-sama, La. Itu lah guna nya keluarga, bukan?" Sahut Arline sambil tersenyum menguatkan ku.


"Um!" Aku mengangguk. Mengiyakan ucapan ipar ku itu.


"Sebenarnya, Arline juga mau ngasih tahu sesuatu ke Papa, Mama dan Kak Laila.." ucap Arline kemudian.


"Hmm?"


Semua mata kini mengarah ke Arline.


Setelah beberapa saat, Arline kembali bicara.


"Alhamdulillah, Ma.. Pa.. Kak.. Arline hamil," ungkap Arline.


"..."


"..."


"..."


Selama beberapa saat suasana hening. Sampai kemudian ku lihat Mama Ilmaya yang menghambur untuk memeluk putri nya itu. Diikuti juga kemudian oleh ku.


Selesai memeluk Arline, aku melihat kedua ujung mata ipar ku itu telah basah. Arline menangis. Menangis oleh rasa bahagia.


"Iya.. Mas Aryo dan aku benar-benar gak nyangka dengan kehamilan ini. Padahal Arline udah hopeless banget tuk bisa hamil. Tapi ternyata Allah ngasih anak juga ke rahim Arline. Hiks.." Arline berkata-kata sambil menahan tangis nya.


"Iishh.. kok malah nangis sih? Harusnya kamu kan senang, Line! Jadi Mommy muda itu harus selalu happy. Biar nanti dedenin nya juga jadi anak yang happy.." aku mengingatkan Arline.


"Dedenin?" Tanya Arline dengan tatapan bingung.


"Iya. Dedenin. Dede bayi janin, Line.." aku menjelaskan maksud ku.


"Ooh.. hmm.. aku sebenarnya gak tahu apa aku harus ngasih tahu kabar ini sekarang atau nanti aja. Mengingat sekarang kita masih sedih soal hilangnya Mark dan juga Nila.." ucap Arline ragu-ragu.


"Arline.." ucap ku terharu.


"Ya harus kasih tahu secepat nya dong, Nak! Ini momen bahagia nya kamu dan juga Amir. Jadi kita harus tetap merayakannya dengan gembira. Tentang Mark dan Nila.. Mama yakin, Allah akan menjaga kedua cucu Mama baik-baik. Dan Mark dan juga Nila pasti akan segera kembali kepada kita tanpa kurang suatu apa. Yakin aja!" Ucap Mama Ilmaya dengan begitu yakin nya.

__ADS_1


Aku dan Arline dan juga Papa Gilberth langsung saja mengaminkan ucapan Mama Ilmaya tadi.


"Aamiin.. allahumma Aamiin.."


***


Hari itu, setelah menerima kabar baik dari Arline, hati ku sedikit terhibur. Mengingat kalimat Mama Ilmaya dan keyakinan nya tentang Mark dan Nila, aku jadi tertular keoptimisannya juga.


Diam-diam keyakinan ku bahwa kedua anak ku itu akan baik-baik saja mulai merajai hati ku. Keyakinan yang ku harapkan akan diiyakan pula oleh Allah selaku Penentu Takdir seluruh makhluk-Nya.


Meskipun hingga akhir hari itu, kami belum juga menerima kabar baik dari polisi, namun aku tetap meyakini kalau Mark dan Nila ku dalam kondisi baik-baik saja.


***


Hari berikut nya dan hari berikutnya lagi, pencarian Mark, Nila dan juga Azki masih terus dilanjutkan. Beberapa kali Kiyano juga menghubungi ku untuk menanyakan kabar kedua anak ku.


Dengan tabah, ku ceritakan yang sebenarnya kepada Kiyano. Dan lelaki itu mengucapkan kalimat menyabarkan untuk ku.


"Makasih ya, Kiy.." ucap ku lewat sambungan telepon di suatu sore, di hari keempat pencarian Azki.


"Makasih untuk apa, La?" Tanya Kiyano dari seberang telepon.


"Makasih karena udah ngasih tahu soal Azki. Dan makasih juga karena kamu udah mau peduli sama keadaan anak-anak.."ucap ku tulus.


"..itu.. gak usah kamu pikirin, La. Aku ngelakuin nya sukarela kok. Lagi pula Lala juga kayak nya udah suka sama kedua anak kamu. Dia selalu nanyain apa Mark udah sembuh."


"Terus, kamu jawab apa, Kiy?" Tanya ku penasaran.


"Aku jawab aja kalau Mark masih dalam masa pemulihan. Jadi belum boleh main bebas. Soal nya kalau aku gak jawab gitu, nanti Lala.."


Aku terdiam menunggu Kiyano melanjutkan ucapan nya. Lelaki itu tiba-tiba saja terdiam. Membuat ku jadi penasaran dengan apa yang terjadi padanya saat ini.


"Laila! Baru san aku lihat Azki di swalayan. Dia lagi bawa belanjaan banyak banget!" Ucap Kiyano tiba-tiba.


"...apa?!! Azki?!! Kamu lihat Azki, Kiy?!" Aku tersentak kaget.


"Iya. Aku mau buntutin dia dulu ya sekarang. Kalau aku udah tahu di mana dia tinggal, aku share lokasi nya ke kamu. Nanti kamu forward ke polisi ya, La!" Titah Kiyano kemudian, sebelum ia memutuskan sambungan telepon di antara kami.

__ADS_1


Klik.


***


__ADS_2