
Selama dua hari ini, aku susah payah menghindar dari Kiyano.
Aku berangkat pagi-pagi sekali. Sementara ketika jam pulang, aku sudah menyiapkan baju ganti yang kusimpan di tempat lain selain base camp. Jadi Kiyano tak bisa menemukan ku pada waktu seharusnya aku berada di base camp.
Beberapa kali aku juga mendapatkan pesan dari Kiyano untuk pergi ke ruang kerja nya, yang dititipkannya pada rekan OB atau staf lain. Namun aku tak menghiraukan nya.
Tapi, baru juga dua hari permainan petak umpat ini kulakukan, aku sudah merasa letih dan kebingungan sendiri hendak bersembunyi di mana lagi.
Jika Kiyano mulai gencar mencari ku ke mana-mana. Jangan-jangan nanti aku akan langsung ditangkap oleh Pak Satpam penjaga kantor oleh sebab titah dari Kiyano. Jadi seperti buronan saja rasanya.
Selasa malam, aku akhirnya bisa curhat juga dengan Nunik.
Via telepon, aku menceritakan seluruh perjalanan kisah ku, Kiyano dan juga Bella pada sahabat ku itu.
Usai mendengarkan curhatan ku, Nunik lagi-lagi mengomeli ku.
"Lail..Lail.. yang namanya masalah itu ya harus dihadapi, lah, il. Kalau Lail lari terus dari masalah, gak akan deh masalah il itu bisa beres."
"Lagipula, Lail juga belum dengar cerita versi Kiyano kan? Kenapa Lail gak coba ajak obrol dulu Kiyano nya. Barang kali cuma ada kesalahpahaman aja," tutur Nunik.
"Sepengetahuan Nun ya, il. Kalau seorang laki-laki menjatuhkan talak kepada istri nya, maka si lelaki bebas untuk langsung menikah lagi dengan wanita yang lain."
"Sementara bagi istri dikenakan masa iddah, atau masa tunggu. Di mana pada masa tunggu ini lah ia tidak diperbolehkan untuk menikah. Dan wanita itu juga harus tetap tinggal di bawah atap yang sama dengan suaminya, serta melayani kebutuhan sehari-hari suami seperti yang biasa dia lakukan. Seperti menyiapkan baju dan sarapan, dan kebutuhan lainnya, terkecuali hubungan suami istri saja yang tidak diperbolehkan."
Aku mendengar penjelasan Nunik dengan seksama. Kemudian balas menyahut, "Tapi Nun, kebanyakan orang kalau udah ditalak ya udah pindah. Berantem dikit sama suami, langsung pulang ke rumah orang tua nya. Itu gimana tuh?" Tanya ku penasaran.
"Sebenarnya, seorang wanita tidak diperbolehkan keluar dari rumah tanpa ijin dari suami nya. Kecuali jika sang suami mengancam keselamatan nya dan suka melakukan kekerasan terhadapnya, maka dia diperbolehkan keluar dari rumah tanpa ijin sang suami,"
"Bahkan ketika ia ditalak pun, jika suami nya tidak mengijinkannya untuk pergi dari rumah, maka ia tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah. Kedua nya masih harus hidup di bawah atap yang sama namun di kamar yang berbeda selama masa iddah berlangsung," tutur Nunik panjang lebar.
__ADS_1
"Ooh.. ribet amat ya, Nun? Atuh kalau udah pisah mah pisah aja ya. Ngapain coba harus tinggal di bawah atap yang sama kalau udah ngerasa gak cocok!" Aku berseloroh.
"Enggak ribet kok, il.. Justru ini adalah tindakan preventif yang telah diatur oleh agama kita demi bisa meminimalisir terjadinya perceraian yang disebabkan oleh kesalahpahaman. Yang namanya menikah kan memang pastilah ada aja ya masalah nya. Tapi itu kan sudah jadi ujian hidup juga dari Allah. Bagaimana dua insan yang berbeda latar dan karakter bisa membangun satu rumah utuh bernamakan pernikahan, dengan segala permasalahannya."
"Menikah juga kan sebagian dari iman, il. Dan Allah amat membenci perceraian, meski Dia juga memperbolehkan nya terjadi untuk sebab-sebab tertentu. Sementara kebanyakan pernikahan jaman sekarang itu lebih banyak godaan emosi nya. Marah sedikit, kabur.. Beda pendapat sedikit, kabur. Itulah karenanya ketika kita mencintai seseorang, kita harus melandaskannya atas rasa cinta dan takwa kepada Allah. Jadi Allah juga lah yang akan menjaga dan memupuk hubungan kita dengan pasangan, bila memang dia adalah jodoh yang baik untuk kita, La."
"Ooh.. hmm.. makasih ya, Nun. La jadi tercerahkan nih. Sampai lapar perut La dengerin ceramah nya Ustadzah Nun. Hehehe.."
"Memang nya Lail belum makan?" Tanya Nunik dari seberang telepon.
"Belum. Tadi langsung ngebel kamu aja pas kamu balas chat nya aku,"
"Ya, sudah. Kalau gitu Lail makan dulu ya. Kita lanjut kapan-kapan lagi obrolan nya. Insya Allah.,"
"Oke deh, Nun. Makasih ya. Hh.. bisa apa lah Laila tanpa wejangan dari Nun sang Maha Guru," aku menggoda sahabat ku itu.
"Iishhk.. Lail suka lebay deh. Udah ya. Nun tutup telepon nya. Mas Aryo udah pulang deh kayaknya."
"Assalamu'alaikum, Lail!"
"Wa'alaikumussalam.. warohmatullah.."
Klik.
Selesai menutup panggilan telepon dengan Nunik, aku pun langsung bangun dan beranjak ke dapur untuk makan malam.
Sementara dalam hati aku mulai mengazamkan diri. Bahwa esok, aku akan menemui Kiyano dan berbicara panjang lebar dengan nya. Baru setelahnya aku akan mempertimbangkan hubungan kami untuk ke depannya nanti.
***
__ADS_1
Keesokan pagi nya, aku bangun dengan badan dan pikiran yang segar.
Teringat ada percakapan ku dengan Nunik semalam tadi, selintas harap atas solusi permasalahan cinta ku dan Kiyano pun mewujud di hati.
Aku masih berangkat pagi-pagi seperti kemarin. Dan aku belum bertemu dengan Kiyano.
Karena ini akhir bulan, aku jadi harus agak berhemat sehingga aku memutuskan untuk menaiki angkot saja menuju kantor.
Di dalam angkot, aku duduk di samping seorang ibu paruh baya yang berpenampilan cukup stylish. Selain ibu itu, ada juga satu ibu lainnya dengan seorang anak balita yang ia pangku, serta seorang lelaki muda usia akhir belasan tahun.
Suatu waktu, si lelaki muda yang duduk di dekat pintu memberi tanda kalau ia akan turun. Dan, ketika angkot sudah berhenti, tiba-tiba saja si pemuda yang hendak melangkah keluar dari angkot, malah mengambil paksa tas tangan milik si ibu berpenampilan stylish yang duduk di depan nya.
Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Pemuda pencuri itu langsung kabur melarikan diri dengan membawa tas hasil rampasannya tadi. Si ibu berteriak meminta tolong saat menyadari tas tangannya dicuri pergi.
Aku yang menyaksikan kejadian itu spontan saja langsung turun dari angkot untuk mengejar si pencuri tadi. Sambil berteriak sepanjang jalan "pencuri! Pencuri! Berhenti kau!"
Berharap ada orang yang mendengar teriakan ku dan ikut membantu ku meringkus pencuri itu.
Jarak ku dengan si pencuri tak terlalu jauh. Lalu, pada suatu waktu si pencuri terjatuh saat ia menoleh ke belakang, ke arah ku. Langsung saja kuambil kesempatan itu dan mempercepat laju lari ku.
Si pencuri buru-buru terbangun, namun tas rampasannya menyangkut pada sebuah pembatas jalan trotoar yang berupa tiang kecil seukuran lutut orang dewasa.
Pada akhirnya aku berhasil mencapai ke tempat si pencuri. Dan terjadilah aksi tarik menarik tas antara aku dan si pencuri.
Detik berikutnya, si pencuri menarik sesuatu dari saku bawah celana nya. Sebuah belati yang cukup panjang. Pencuri itu lalu menyerang ku dengan belati itu. Dan aku yang tak sempat menghindar akhirnya menerima sebuah tusukan di perut ku.
Seketika itu juga pegangan ku pada tas tangan terlepas dan si pencuri berhasil pergi dengan tas hasil rampasan nya itu. Sementara aku merasakan nyeri hebat yang tiba-tiba muncul di bagian perut ku.
Aku terkejut saat mendapati cairan merah telah tumpah banyak dari luka tusukan tadi. Sebelum benak ku sempat mencerna segala yang baru saja terjadi, kurasakan tungkai ku melemas hingga membuat ku terjatuh berlutut di atas trotoar yang sepi orang.
__ADS_1
Sampai kemudian, dunia ku menggelap begitu saja.
***