Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Pengakuan (POV Laila)


__ADS_3

"La, kamu dipanggil kepala manajer noh. Katanya sekarang juga ke atas!" Teh Dira, salah seorang staf divisi logistik menyampaikan kabar buruk ke telinga ku usai aku kembali dari kantin.


Hari ini, aku kembali makan seorang diri. Nindi masih juga sakit. Dan Erlan pun tak masuk juga. Padahal aku sudah ingin menagih upeti bakso ku dari pemuda itu karena semalam ia telah meninggalkan ku pulang.


Mendengar berita buruk bahwa si keong menitahkan ku untuk pergi ke kantor nya, membuat perut ku langsung terasa mulas.


"Duh. Gimana ini? Ke atas gak ya? Tapi masa iya dia mau beringas pas siang bolong gini? Ah! Ku cuekin aja lah!"


Pada akhirnya aku memutuskan untuk menganggap angin lalu titah si keong kepada ku. Pikir ku, jika aku bersikap cuek pada nya, ia tak mungkin juga akan terus mengejar ku bukan?


Dan katanya dia menyukai ku? Cih. Bullshit benar omongan nya itu! Kami mungkin baru saling mengenal selama sebulan. Jadi bagaimana bisa dia mengatakan kalau dia menyukai ku? Sementara setiap kali kami bertemu, aku selalu merasa interaksi kami mirip seperti Tom and Jerry. Berantem selalu!


Jadi, bagaimana si Tom bisa menyukai si Jerry? Diih. Tiba-tiba aku jadi merasa geli sendiri. Ku ralat kalimat ku barusan. Bagaimana bisa si Jerry menyukai si Tom? Aku kucing nya. Si keong yang jadi monyet, eh, tikus nya! Tikus nying nying!


Alhasil, aku tetap melanjutkan aktivitas ku sepanjang siang itu dengan tanpa ada rasa beban. Aku benar-benar melupakan titah si Keong dan lanjut mengerjakan tugas ku dari lantai satu ke lantai yang lain.


Menjelang waktu pulang, baru lah aku kembali ke base camp setelah sibuk berwara-wiri ke sana ke mari. Begitu langkah ku sudah mendekati base camp, ku tengok Theo yang tampak berdiri di muka pintu. Ia terlihat senang saat melihat ku.


"Ya ampun, Laa! Ke mana aja sih? Hp kenapa Lo matiin?" Tanya Theo dari jarak jauh.


"Kenapa sih, The? Kayaknya genting amat. HP ku lowbat. Dan tadi tuh aku ngebantuin divisi pemasaran. Mereka lagi ngejar deadline bikin materi buat meeting besok pagi. Terus--"


"Udah! Udah! Gak usah ngomong lagi! Cepetan masuk ke base camp, sana! Lo udah ditungguin lama banget noh dari tadi!" Sergah Theo dengan ekspresi terdesak di wajah nya.


"Kenapa sih The? Ditungguin siapa..?!!" Tanya ku sambil melangkah masuk ke dalam ruangan basecamp.


Pada mulanya aku hanya melihat beberapa rekan kerja ku yang sedang berdiri diam dengan ekspresi takut di wajah semuanya. Aku merasakan keganjilan pada ekspresi mereka itu. Sampai akhirnya ku ketahui penyebab semua rekan kerja ku itu jadi takut dan tak buru-buru pulang seperti biasanya.


Karena di ujung ruangan, tempat biasanya Mas Idham duduk di singgasana nya, kini telah digantikan oleh orang lain. Sementara Mas Idham sendiri berdiri di dekat tempat meja nya berada.


Orang yang menduduki tahta Mas Idham tak lain dan tak bukan adalah Kiyano. Si Keong breng sek itu!


Sesaat aku terkejut, detik berikut nya, aku spontan ingin berbalik dan pergi sejauh mungkin dari tempat ini. Tapi kemudian ku lihat wajah teman-teman ku yang menatap ku heran bercampur cemas.


Dan sadarlah aku kini, kalau situasi ku masih cukup aman, karena aku tak hanya berdua bersama si keong breng sek. Merasa memiliki bala bantuan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu, aku pun mencoba menguatkan diri dan menghadap kepada bos ku itu.


Dengan langkah kaki yang terasa berat, aku mendekati meja tempat Kiyano, yang kini memandangi ku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Tak marah, tapi juga tak ramah. Ah, mumet benar pikiran ku saat ini!

__ADS_1


"Ss.. sore, Pak Kepala!" Sapa ku mencoba bersikap berani.


Si keong tak membalas sapaan ku. Ia malah berdehem dan memandangi semua orang di sekitar ku.


"Jam segini, kalian belum pulang?" Tiba-tiba si Keong melontar tanya pada semuanya.


Seketika, semua rekan kerja ku langsung terlihat lega dan bergegas merapihkan barang-narang mereka untuk pulang. Aku pun tak ingin kalah. Aku bergegas meraih tas tangan ku dalam lemari karyawan dan hendak pergi ke kamar ganti untuk berganti baju OB ku dengan baju yang kukenakan saat berangkat tadi pagi.


Namun, pergerakan ku tiba-tiba dihentikan oleh si Keong.


"Laila! Kamu tetap di sini! Ada yang mau saya bicarakan sama kamu!" Titah si Keong dengan pongah nya.


Sontak saja aku langsung membelalakkan kedua mata ku tepat ke mata si Keong. Ku sadari tiba-tiba saja semua pergerakan rekan OB ku yang lain pun jadi ikut melambat, bahkan terhenti kala mendengar ucapan si Keong tadi.


'Dia mau berduaan sama aku lagi di sini, dan aku jadi bulan-bulanan nya?! Big no! No! Jelas enggak mau lah!' aku bertekad dalam hati.


Akhirnya, ku putuskan untuk tak berganti baju saja. Aku lalu memasukkan baju salinan ku ke dalam tas, dan hendak langsung pulang saja.


"Laila! Kamu dengar kan omongan ku tadi?!" Panggil si Keong dari atas tahta Mas Idham.


Merasa sedikit gentar, ku tengok wajah rekan OB ku yang kini menatap ku iba. Namun mereka segera menundukkan wajah dan tak berani menatap ku lagi. Aku pun langsung merasa lunglai karena tak ada yang berani menemani ku di base camp ini.


"Maaf, Pak. Ini sudah jam nya pulang. Laila kan gak punya motor. Jadi dia biasanya nebeng kalau mau pulang. Jadi saya tungguin Laila aja gak apa-apa ya, Pak?" Ucap Bagas tiba-tiba.


Ku pandangi si Kompor dengan pandangan berterima kasih. Tak menyangka kalau si Kompor ternyata cukup berani dan baik juga. Aku jadi merasa menyesal karena telah mengerjai nya tadi pagi.


Pandangan ku lalu beralih ke si Keong. Kini lelaki itu menatap serius pada Bagas.


"Terserah. Siapa nama kamu?" Tanya si Keong tiba-tiba.


Ditanya seperti itu, aku menangkap kegentaran dalam sahutan suara Bagas.


"Bb.. Bagas, Pak!"


"O.. Bagas."


Tik. Tak. Tik. Tak. Sesaat suasana hening. Sampai kemudian si Keong kembali bertanya.

__ADS_1


"Kamu siapa nya Laila? Pacar nya?" Tanya si Keong.


"Dih! Amit-amit! Bukan, Pak! Saya mah temenan doang sama si mercon, eh, Laila ini!"


Tatapan terima kasih ku kepada Bagas langsung berganti tatapan nyolot karena kesal dengan ucapan Bagas baru san.


'Amit-amit katanya?! Sial benar si Bagas! Siapa juga yang mau jadi pacar nya dia! Dih! Dasar breng sek juga dia!' umpat ku dalam hati.


"Bagus. Kalau begitu, kamu bisa menunggu Laila kalau kamu mau. Tapi saya peringatkan kamu, kalau pembicaraan antara saya dan Laila adalah sesuatu yang sifat nya privat. Jadi saya gak akan suka kalau ada orang-orang yang menguping pembicaraan kami..." Ucap Si Keong mengancam.


Aku kembali melabuhkan harap ku pada si Bagas. Berharap ancaman si Keong tak menyurutkan keberanian pemuda itu untuk tetap menunggu ku pulang. Namun..


"Eer.. kalau gitu, saya pulang duluan aja deh, yah, La. Mm .. sore Pak!" Pamit Bagas dengan langkah bergegas ke luar pintu.


Melihat Bagas yang duluan pulang, beberapa rekan OB ku lainnya ikut bergegas menuju pintu. Itu membuat ku merasa kalut. Sehingga tanpa sadar aku langsung saja berteriak.


"Teman-teman! Jangan pulang duluan dong! Jangan tinggalin Laila sendirian sama si Key-- ehh, Pak Kiyano.. Laa.. Laila.." aku terbata-bata berucap. Merasa gugup karena tadi aku hampir kelepasan memanggil nama panggilan Keong pada bos ku itu.


Aku berharap tak ada yang menyadari ucapan ku. Tapi sepertinya semua orang yang ada di base camp menangkap gelagat aneh ku tadi.


"Hhh.. Laila, tak bisa kah jika kita bicara saja berdua secara privat? Atau kamu akan lebih tenang jika ada teman-teman mu yang mendengar pembicaraan kita?" Tanya Kiyano yang tiba-tiba saja sudah berdiri cukup dekat di belakang ku.


Aku terkejut saat mendengar suara Kiyano yang sangat dekat itu. Aku pun langsung saja berbalik dan menatap nya garang.


"Ya! Kalau kamu memang berani, bilang aja langsung sekarang!" Tantang ku pada atasan ku itu.


Ku lihat semua rekan OB ku tampak terkejut dengan kelancangan ku terhadap kepala manajer kami. Aku tak perduli. Biarlah jika memang aku harus resign, tak apa-apa. Tak dapat gaji pun tak apa-apa lah. Asalkan aku bisa selamat dari situasi menegangkan saat ini.


Ku lihat si Keong menghela napas cukup dalam. Dan, setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan, tiba-tiba saja sebuah kalimat pengakuan diucapkannya dengan suara lantang. Disaksikan oleh ku, juga semua rekan OB ku yang masih berdiri terpaku di dekat pintu.


"Laila Matoa. Saya.." si Keong tampak melibaskan rambut nya sekali. Sebelum melanjutkan ucapan nya lagi.


"Gue perlu bilang berapa kali sih ke Lo. Kalau gue tuh suka sama Lo! Jadi pliis, jangan kabur dan ngecap gue kayak kriminal kampung! Dengerin gue baik-baik, La!" Ungkap si Keong dengan bahasa non formal nya.


Aku terpaku kala pandangan lurus si keong, menatap tepat ke dalam mata ku. Juga ke jantung ku.


Ba dump. Ba dump.

__ADS_1


***


__ADS_2