
Keesokan paginya...
Seperti biasa, jadwal rutin ku setiap hari minggu pagi adalah menggosok baju kerja untuk seminggu ke depan.
Aku sudah terbangun sedari jam setengah enam pagi. Aku sedang tak shalat, karenanya aku tak buru-buru mandi pagi. Pikirku, 'Usai menggosok nanti juga pasti aku akan merasa gerah. Jadi sekalian saja lah mandi nya!'
Erlan mengabari ku kalau siang nanti dia ingin mengajak ku ke mall untuk membantunya membeli hadiah untuk Mama Ilmaya yang akan berulang tahun pekan depan. Karenanya, aku sudah mengebut untuk mengerjakan gosokan baju yang sudah menumpuk. Agar aku masih sempat juga untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Dan jika kuperkirakan, aku masih harus menggosok sekitar satu jam lagi agar semua baju ku tergosok rapih.
Mama hari ini libur dan tak kuli mencuci di rumah orang. Entah kenapa pula hari ini Mama juga tak menyiapkan panganan gorengan untuk dijual.
Saat kutanyakan alasannya kepada Mama, ia mengatakan kalau pinggangnya sedang linu. Jadi ia ingin beristirahat terlebih dulu di rumah selama seharian ini.
"Mama mau berobat kah yuk?" Aku mengajak Mama.
"Gak usah, ah, La. Mama cuma kecapekan aja. Istirahat seharian juga insya Allah nanti baikan," Mama beralasan menolak ku.
"Serius nih, Ma? Berobat aja deh yuk. Kayaknya akhir-akhir ini Mama sering ngeluh sakit pinggang," aku kembali membujuk Mama agar mau berobat.
"Namanya juga sudah tua, La. Kamu menggosoknya masih banyak?" Tanya Mama mengalihkan perhatian.
"Sedikit lagi, Ma. Eh, nanti kalau tukang bakso lewat, tolong berhentiin ya, Ma. Laila pingin traktir Mama makan bakso. Kan habis gajian!" Aku sengaja pamer gajian.
"Yah.. gak usah lah. Mama lagi gak enak makan bakso, La. Mulut rasanya pahit."
"Tuh, kan. Berobat aja deh yuk!"
"Udah gak apa-apa, La. Ini juga sudah lebih baik, kok. Tadi habis minum obat warung."
Tak berselang lama kemudian, terdengar suara salam dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam warohmatullah! Sebentar!"
Mama yang tadinya sedang duduk lesehan melihat TV, kemudian bergegas bangun untuk membuka pintu depan.
Aki masih menggosok baju. Namun aku masih bisa mendengar saat Mama membuka pintu dan berbincang dengan tamu yang baru saja datang.
__ADS_1
"Mau apa Nak Kiyano ke sini?"
Aku tertegun. Aku masih cukup jelas mendengar Mama menyebutkan nama Kiyano.
'Apakah tamu yang baru saja datang adalah Kiyano? Mau apa dia ke sini?!' benak ku bertanya-tanya sendiri.
"Laila nya ada, Tante?"
'?!! Itu benar suara dia!'
Selama beberapa saat, aku tak melanjutkan kegiatan menggosok baju. Benak ku masih bertanya-tanya untuk alasan apa kiranya Kiyano datang ke rumah ku? Bukan kah segala di antara kami sudah berakhir dengan cukup jelas?!
Kemudian, kudengar jawaban Mama pada Kiyano.
"Laila nya sedang menggosok baju, Nak. Pulang lah. Seperti nya dia hari ini juga akan pergi keluar rumah," jawab Mama dengan nada datar.
"Laila mau pergi ke mana, Tante? Bukankah tanggal merah biasanya libur? Atau, tempat kerja Laila yang sekarang mengharuskan nya kerja lembur?" Tanya Kiyano dengan beruntun.
"Tante gak tahu persis nya mereka mau ke mana, Nak. Hh.. saran dari Tante, lebih baik kamu berhenti menemui Laila. Kasihan Laila jika harus menerima tuduhan sebagai pelakor dalam hubungan kamu dan istri mu itu, Kiy."
Aku tertegun saat ikut mendengar nasihat Mama untuk Kiyano itu. Dan aku pun menunggu jawaban Kiyano kemudian.
Menyadari maksud ucapan Kiyano itu, aku merasa geram. Aku pun langsung mencabut kabel gosokan. Lalu berjalan keluar untuk menemui Kiyano.
"Tapi sekarang kalian sudah rujuk, bukan?!" Aku menuding Kiyano dengan rasa geram yang tak bisa ku sembunyikan lagi.
Kiyano mengerutkan dahi nya. "Dari mana Lo.. mm" Kiyano melirik ke arah Mama. Baru kemudian melanjutkan omongannya dengan bahasa yang kaku.
"Dari mana kamu tahu, La?"
"Gak penting! Yang penting adalah, itu benar atau enggak?! Jujur Kiy! Jangan lagi berbohong!" Hardik ku sambik berkacak pinggang.
Kiyano terlihat menimbang-nimbang sejenak.
"Ya. Kami memang rujuk lagi. Tapi itu aku lakukan karen.."
"Bulshit! Pergi! Pergi sekarang juga dari sini, atau aku akan benar-benar membenci mu, Kiy! Pergi sekarang juga, dan jangan pernah datang untuk menemui ku lagi! Hibungan kita sudah berakhir!"
"Enggak! La tunggu bentar, La! Aku mau jelasin dulu! Please dengerin aku, La!"
__ADS_1
Aku tak menunggu Kiyano menyelesaikan ucapannya. Begitu aku selesai bicara, aku langsung saja berbalik dan masuk ke dalam rumah. Usai masuk, ku kunci saja pintu rumah ku. Kemudian aku melorot jatuh, terduduk di depan pintu.
Lagi-lagi hati ku basah.. lagi-lagi luka ku terbuka menganga.. belum kering luka lama yang disebabkan oleh Kiyano, kini dia malah kembali datang dan menorehkan luka yang baru.
"Hiks..hiks.." aku menangis.
Wajah ku tersembunyi di antara dua lutut yang kuangkat tinggi. Kupeluk kedua kaki ku erat-erat. Mencoba sekuat tenaga untuk tak bangkit berdiri lalu membuka pintu dan menghambur ke dalam pelukan lelaki yang sungguh masih teramat ku cintai itu.
"Sabar ya, Sayang.. kamu kuat, Nak! Kesusahan ini pasti akan segera berlalu..," ucap Mama menghibur.
Detik berikutnya aku sudah berada dalam dekapan hangat nya Mama. Usapan-usapan lembut pada punggung ku, pada akhirnya berhasil meruntuhkan dinding ketegaran palsu yang selama ini kutunjukkan di hadapan dunia.
Aku telah menipu Mama, Erlan dan juga semuanya, tentang perasaan ku terhadap Kiyano. Karena pada kenyataan nya, aku masih sangat mencintai lelaki yang tak sepatutnya menerima cinta tulus ku ini.
Cinta ku pada Kiyano nyatanya telah mengakar sangat dalam di hati ku. Bahkan tanpa aku menyadari dan menginginkannya. Karena nya, saat kini aku hendak mencabut perasaan ini, rasanya sungguh teramat menyakitkan. Oleh sebab itu berarti aku harus melukai hati ku sendiri, dengan cukup dalam.
Pada akhirnya kutumpahkan lah segala pedih dan sedih ku dalam pelukan tulus nya Mama.
Dan aku pun lama menangis. Meratapi jalan cinta ku dan Kiyano yang harus berakhir miris.
...
...
Di luar rumah, Kiyano masih sesekali mengetuk pintu dengan cukup kencang. Lelaki itu pun mengatakan sesuatu yang sulit tuk bisa ku pahami, karena aku yang masih sibuk dengan tangis dan sedih ku sendiri.
Sampai kemudian ketukan Kiyano di pintu tak lagi kencang seperti pada awal nya. Dan suara nya pun sudah berubah jadi lebih pelan dan terdengar seperti bisikan lembut di telinga ku saja.
Hanya satu kalimat Kiyano yang berhasil ku tangkap dengar, secara berulang-ulang.
"I love you, La.. i love you.."
...
...
Andai Kiyano tahu, bahwa hati ku pun menjeritkan kalimat yang sama untuk nya di balik pintu yang dingin itu.
'I love you, too, Kiy.. but i have to stop loving you, now..' (aku juga mencintai mu, Kiy.. tapi aku harus berhenti mencintaimu, sekarang..)
__ADS_1
***