Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Perjumpaan Kembali (POV Laila)


__ADS_3

Acara ijab kabul pun akhirnya harus tertunda selama satu setengah jam. Karena selama satu setengah jam itu, aku dan Mama harus menyelesaikan permasalahan di antara kami dan juga Papa.


Papa pun kemudian mengisahkan kisah hidup nya.


Menurut cerita Papa, sejak ia pergi dengan selingkuhan nya, Papa hidup berfoya-foya. Mereka pindah ke luar negeri dan hidup di sana selama beberapa tahun. Ia juga membuka usaha restoran yang dikelolanya bersama dengan selingkuhannya itu.


Di tahun ke empat Papa di luar negeri, terjadi krisis yang akhirnya membuat usaha nya bangkrut. Saat itu selingkuhan Papa sedang mengandung putra mereka. Dan sejak krisis itu lah percekcokan mulai sering terjadi di antara Papa dan selingkuhannya.


Pada akhirnya, setelah putra mereka lahir, selingkuhan Papa tiba-tiba saja pergi melarikan diri dengan uang tabungan satu-satu nya yang Papa miliki saat itu.


Papa pun harus menghidupi dirinya dan juga putranya yang masih bayi (yaitu Darman) agar bisa tetap bertahan hidup. Dan waktu pun terus berlalu. Hingga perlahan Darman pun tumbuh dan berusia sekitar satu tahun.


Saat itulah tiba-tiba saja terjadi razia Visa. Dan Papa juga Darman terjaring dalam proses razia itu karena visa Papa yang telah lama habis masa berlaku nya.


Karena itulah Papa pun dideportasi bersama dengan Darman. Dan ia pun mulai kembali meniti hidup di kota B sejak sepuluh tahun silam.


Sebenarnya Papa telah menyesali perbuatannya meninggalkan ku dan Mama sejak lama. Persisnya adalah saat Darman lahir dan istri keduanya pergi meninggalkannya tanpa kata.


Sejak saat itu Papa sebenarnya memiliki keinginan untuk menemui aku dan Mama untuk memohon maaf.


Hanya memohon maaf saja. Karena Papa tak berharap lebih kalau kami akan menerimanya kembali dalam kehidupan kami.


Tapi Papa kesulitan untuk menemukan keberadaan kami. Dan bilangan tahun telah menyeretnya jauh. Papa mulai kesulitan untuk mengumpulkan kembali keberanian nya dan meminta maaf.


Terlebih saat Papa mengenali ku pertama kali nya di rumah Erlan. Di hari pertama ku bekerja di sana.

__ADS_1


Papa sebenarnya ingin mengungkapkan identitas nya kepada ku. Namun rasa malu itu terlalu besar merusak kepercayaan diri yang dimilikinya. Papa merasa terlalu malu untuk berhadapan dengan ku. Karena ia telah menelantarkan ku selama bertahun-tahun lama nya.


Apalagi ketika aku mulai berhubungan dengan Erlan. Papa semakin enggan untuk menunjukkan jati dirinya kepada ku. Dan keinginan untuk menemui ku dan Mama pun harus ia kubur dalam-dalam di hati nya.


Hingga akhirnya tadi pagi. Papa mendengar kabar kalau aku dan Tuan Muda Erlan nya akan menikah pagi ini juga. Ia lalu mendengar dari Pak Kiman kalau pernikahan ini akan dilangsungkan di rumah Bu Hajah Mariyah.


Dan dari Pak Kiman pula Papa akhirnya mengetahui kalau selama sebulan terakhir ini aku telah berusaha mencari nya ke mana-mana.


Maka secercah harapan itu pun muncul kembali dalam diri Papa. Ia berharap aku dan Mama bisa menerima permohonan maaf nya. Jika lah kami tak bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu, maka Papa akan menerima nya.


Begitulah kata Papa.


Mendengar kisah hidup Papa selama belasan tahun terakhir, beragam rasa campur aduk mengisi benak ku. Antara lega, puas, sedih, dan juga iba. Semua itu ku tujukan teruntuk Papa. Papa yang dulu begitu ku benci, namun sekaligus juga begitu ku rindukan.


Dengan mediasi dari ayah dan Bunda nya Nunik, serta wejangan dari Pak Kiyai Imron, pada akhirnya aku dan Mama pun berdamai dengan Papa.


Acara akad nikah pun akhirnya bisa terlaksana dengan hikmat dan penuh haru. Karena aku juga didampingi oleh Papa sepanjang sisa hari ini.


Usai ijab dan kabul, aku, Mama dan Papa kembali berbincang panjang lebar. Meski sebenarnya dalam hati ku masih memiliki rasa tak suka pada sosok Papa, namun saat ku lihat binar bahagia di mata Mama, aku pun mencoba menutup rasa tak suka ku pada ayah ku itu.


Selanjutnya, aku membiarkan Mama dan Papa berbincang berdua untuk menuntaskan permasalahan di antara mereka. Entah bagaimana ke depannya nanti di antara mereka, aku menyerahkannya kepada Mama.


Jika memang Mama ingin kembali bersama Papa, maka aku akan menerima nya. Pun jua bila Mama ingin tetap sendiri, aku pun akan tetap menerima nya. Yang utama adalah Mama bahagia dnegan pilihan hidup nya sendiri. Maka itu saja sudah cukup bagi ku.


Perhatian dan kasih sayang dari Papa yang seharusnya ku terima dulu, aku tak lagi mengharapkannya. Aku mungkin sudah mulai mencoba mengikis rasa benci pada sosok ayah ku itu. Namun namanya luka di masa lalu, pastilah ia masih meninggalkan bekas nya tersendiri.

__ADS_1


Akan ku ikuti saran dari Nunik untuk tetap berbuat baik kepada Papa. Karena itulah sikap yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya.


Meski pun Papa dulu telah mengecewakan ku. Meski pun Papa dulu telah menelantarkan ku. Namun kewajiban ku sebagai seorang anak akan tetap ada selama-lama nya. Bahkan hingga orang tua kita tiada pun, kita masih harus mendoakan kebaikan bagi mereka.


Setelah perbincangan singkat di antara keduanya, Mama dan Papa akhirnya memutuskan untuk menjalani hidup mereka masing-masing terlebih dahulu. Se iyanya, menurut Mama, mereka tak lagi saling menyimpan dendam dan penyesalan atas kesalahan di masa lalu.


"Mama ingin sisa hidup Mama diisi dengan kedamaian, Nak.. jadi Mama harus bisa memaafkan Papa mu. Agar hati Mama jadi lebih tenang dalam menjalani hidup ke depannya nanti.." begitu tutur Mama kepada ku.


Sebelum pamit pulang ke rumah keluarga Erlan tempat nya bekerja kini, Papa sempat meminta ijin untuk memeluk ku sekali saja.


Dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan rupa nya, aku mengangguk. Mengiyakan permintaan Papa itu. Kemudian Papa memelukku erat selama beberapa detik dalam diam.


Hanya satu kalimat saja yang kudengar ia bisikkan ke telinga ku sebelum ia melepaskan pelukannya.


"Maafkan Papa, Laila. Jauh di dalam hati Papa, Papa sungguh menyesal pernah meninggalkan mu dan juga Mama."


Peras.. hati ku terasa peras kala mendengar ucapan Papa itu. Aneh nya, mulut ku seolah terkunci rapat dari menyahut apapun. Walau hanya satu kata saja jua aku tak mampu mengeluarkan suara nya.


Maka hingga Papa berlalu pergi bersama Darman yang menatap ku sedih, aku tetap tak bisa mengucapkan walau satu kata pun jua.


Ku hantarkan kepulangan mereka dengan mata memerah menahan tangis, dengan mulut yang terkunci sendiri.


Baru ketika sosok Papa menghilang di kejauhan, dan Erlan yang menarik wajah ku ke dalam pelukan nya saja lah akhirnya aku bisa meluapkan segala tangis, sedih, sesal dan sesak yang telah menggumpal selama belasan tahun di hati ku.


Malam itu, adalah malam pertama ku bersama Erlan sebagai pasangan suami istri. Namun malam yang seharusnya terasa indah bagi kami ini, justru harus ku iisi dengan tangis sedih ku sendiri. Dan kepada dada bidang nya Erlan lah aku mengadukan semua perasan ku yang tumpah ruah di malam itu.

__ADS_1


***


__ADS_2