
Selesai berganti baju dengan piyama panjang yang kulapisi dengan sweater, aku pun hendak kembali menemui Erlan di teras. Namun, belum sempat kaki ku tiba di dekat pintu, saat ku dengar suara ceu Edah berbicara di teras rumah ku.
"Atuh Si Kasep sareng Nok Eceu bae nya. Si Nok teh teu eleh bohay ti neng Laila. Di jamin Si Kasep bakalan langsung kapincut sareng si Nok. Nok teh geulis pisan kos mama na iyeu. Deuleu bae atuh, Mama na da geh geulis, kumaha anak na pan nya, Sep? Tos lah ulin ka kontrakan Eceu. Engke Eceu kenal keun ka si Nok.."
("Ya sudah, si ganteng sama anak saya aja ya. anak saya gak kalah bohay kok dari Neng Laila. Dijamin Ganteng bakal langsung suka sama anak saya. Anak saya itu cantik sekali seperti Mama nya ini. Lihat, Mama nya juga sudah cantik kan, lebih-lebih lagi anak saya, Ganteng? ya sudah main saja yuk ke kontrakan saya. Nanti saya kenalin sama anak saya..")
Aku berdehem sebelum menunjukkan wujud ku melewati pintu.
Seketika itu juga Ceu Edah langsung beralih fokus bicara kepada ku.
"Aih.. aih.. Neng Laila teh can sare? (Neng Laila belum tidur?) Ari Mamah na ka mana, Neng? (Mama nya ke mana, Neng?) Asa can nempo ti isuk (kayak nya belum lihat sedari pagi)," ucap Ceu Edah mengalihkan perhatian.
"Aya. Ndeuk di geroan tah, Ceu (ada. Mau di panggil kah, Ceu)?"
Aku berdusta. Padahal sebenarnya Mama kan sedang menginap di rumah majikannya.
Aku sengaja berbohong. Karena jika Ceu Edah tahu kalau aku hanya sendirian di rumah saat ini. Dengan adanya Erlan yang berkunjung malam-malam begini, besar kemungkinan akan keluar gosip panas keesokan harinya dari mulut wanita berparas ayu itu.
Melihat akting ku yang seperti hendak memanggil Mama, Ceu Edah langsung bergegas mengelak.
"Ih.. ulah, Neng (jangan, Neng)! Geus atuh lah. Eceu pamit bae nya (sudah dulu deh ya. Teteh pamit aja dulu). Geus ditangguan ku si akang (udah ditungguin sama suami)," pamit Ceu Edah dengan terburu-buru.
Aku tersenyum singkat. Walau dalam hati sebenarnya aku merasa dongkol.
Begitu Ceu Edah berlalu, aku langsung kembali duduk di kursi ku yang tadi. Masih kesal pada tetangga ku itu, ku hempas saja jaket Erlan ke atas meja yang terletak di antara kursi ku dan kursi nya Erlan.
Detik berikutnya, aku berusaha menenangkan diri dalam diam.
"Kenapa sih? Kok tiba-tiba marah?" Tanya Erlan tiba-tiba.
"Huh!" Aku menghela napas kasar.
"Memangnya ibu-ibu tadi ngomong apa, La, sampai bikin kamu sekesal ini?" Tanya Erlan kembali.
Aku langsung menoleh tak percaya ke arah Erlan.
"Memangnya kamu gak ngerti dia ngomong apa?"
"Enggak."
"Terus waktu tadi Ceu Edah ngajak kamu ngobrol, kamu pasti ngerti kan dia ngomongin apa?" Tanya ku mengulang.
"Sedikit-sedikit ngerti sih. Tapi omongannya belibet. Jadi gak terlalu paham betul sih dia bahas apa," jawab Erlan lagi dengan pandangan bingung.
Kuamati baik-baik ekspresi Erlan. Dan kunilai ia jujur dengan jawabannya itu. Seketika itu pula kekesalan ku sirna entah ke mana. Dan aku menertawakan kebo dohan yang terlihat jelas di wajah mantan ku itu.
__ADS_1
"Hihihihi! Lucu banget sih kamu, Lan!" Aku tertawa lepas. Menertawakan kepolosan Erlan saat menghadapi tetanggaku yang sedikit kepo tadi.
Ku lihat Erlan menggaruk kening nya dengan pandangan bingung.
"Lucu di mana nya sih?"
"Hahahaha.. tadi itu tuh, Ceu Edah mau jodohin anak nya sama kamu tahu, Lan!"
"Hah?! Kupikir ibu-ibu tadi lagi nyeritain anak nya yang cantik!" Seloroh Erlan.
Seketika aku berhenti tertawa dan memicingkan mata pada pemuda tampan di samping ku itu.
"Terus kalau anak nya cantik, kamu mau gitu dijodohin sama dia?" Tanya ku dengan kesal.
'Dasar cowok! Ditawarin cewek cantik langsung deh nyamber!' aku mendumel dalam hati.
Erlan tersenyum aneh. Dan aku sungguh tak menyukai senyuman nya itu. Semakin lama, senyuman nya berubah jadi cengiran. Dan aku semakin jadi kesal dibuatnya.
Dengan spontan, kulempari saja ia dengan jaket nya yang tergeletak di meja.
Tapi Erlan masih tetap menyengir.
"Berhenti nyengir, sebelum aku teriak dan panggil tetangga kalau ada orang gila di rumah ku!" Aku mengancam Erlan.
"Memangnya mana orang gilanya?" Tanya Erlan.
"Ya kamu lah! Habis nyengir terus haha hehe!"
"Haishh.. tega banget sih, La. Habis nya kamu cute banget sih.."
Dan Erlan lagi-lagi menyengir.
"Cute? Aku?! Dih! Memang benar sih. Aku memang cute and sweet," ku puji diri ku sendiri.
"Potato sweet? Atau pocari sweat, La?" Seloroh Erlan mencandai ku.
"...!"
"Ahahahaha!!" Erlan tertawa bahak.
Meski kesal dan bingung saat melihat pemuda itu tertawa, anehnya aku juga menyukai tawanya Erlan. Rasanya sudah lama kami tak berbincang se akrab ini. Dan ku sadari kalau aku merindukan momen-momen seperti ini.
Perlahan tawa Erlan mereda hingga akhirnya berhenti. Ia kemudian menatap ku dengan tatapan yang lembut. Dan jantung ku mendadak berdegup tak menentu.
Ba dump. Ba dump.
__ADS_1
Kami berpandangan intens hingga Erlan yang tiba-tiba memutus kontak mata kami saat ia mengusap wajah nya dengan tangan.
"Haish.. please La.. jangan tatap aku dengan pandangan kayak gitu, dong. Nanti aku malah berharap lebih sama kamu, gimana coba?" mohon Erlan dengan kepala tertunduk.
Aku mengerjapkan mata ku untuk menyadarkan diri dari keterpakuan ku sesaat tadi.
"Tatapan gimana sih? Perasaan aku biasa aja deh natap nya."
Aku memalingkan wajah ke depan. Sementara itu, aku sendiri berusaha menetralkan debur jantung yang sempat berdegup tak karuan.
'Kamu kenapa sih, La? Aneh banget deh. Kenapa juga ngelihatin si Cabe,eh, Erlan bikin jantung ku sport ya? Masa iya aku..' benak ku sibuk menduga-duga.
"Ya itu tadi. Seolah-olah kamu punya rasa sama aku, La," ucap Erlan dengan suara lirih.
"..."
"..."
"Ehem! Ehem! Adeudeuhh..nu keur babogoan (yang lagi pacaran).. pan cararicingan sih (kok pada diam sih)?"
Serentak aku dan Erlan terkejut. Kami pun lalu melihat ke depan rumah dan mendapati Ceu Edah yang kembali muncul sambil membawa bungkusan kresek.
"Mm.. ti mana, Ceu (dari mana, Ceu)?" Aku mengalihkan perhatian.
Dan di saat yang bersamaan, Erlan juga berdiri dan mengenakan kembali jaket kulit nya.
"Kalau gitu aku pulang dulu deh ya, La!" Pamit Erlan. "Sebelum aku dijodohin lagi sama ibu-ibu ini," tambah ucap Erlan dengan suara berbisik.
"Aih.. Si Kasep ndeuk balik?" Tanya Ceu Edah pada Erlan.
Erlan tak menyahut dan hanya tersenyum singkat saja. Ia lalu menaiki moge nya.
"Assalamu'alaikum!" Pamit Erlan sebelum akhirnya berlalu dengan moge nya.
"Wa'alaikum salam.." sahut ku dan Ceu Edah berbarengan.
Tinggallah aku berdua dengan Ceu Edah di depan rumah.
Merasa tak nyaman berduaan saja dengan Ceu Edah, aku pun buru-buru pamit pada ibu beranak dua itu.
"Muhun, Ceu (Permisi, Teh). Laila ndeuk ka jero heula (Laila mau ke dalam dulu). Geus peuting (Udah malam)!"
Dan aku langsung ngibrit ke dalam rumah segera setelah berpamitan pada Ceu Edah.
***
__ADS_1