Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Mencari Nila (POv Laila)


__ADS_3

Mengikuti saran Nunik, akhirnya Nunik dan Darman mengantar pulang anak-anak. Sementara aku dan Azki menunggu di pos informasi.


Kami melihat cctv yang masih berfungsi di beberapa tempat satu persatu. Namun sayang, keberadaan Nila tak kunjung kami temukan.


Hingga hari berganti malam, mau tak mau aku harus pulang juga. Dan pihak kebun binatang menyarankan agar aku menghubungi kepolisian setempat untuk melaporkan hilang nya Nila.


Tapi Azki menyarankan agar kami menunggu terlebih dulu hingga esok hari. Siapa tahu ada kabar baik tentang Nila. Dengan hati yang terpaksa, aku menyetujui saran Azki tersebut.


Aku pun pulang di antar oleh Azki.


...


Sesampai nya di rumah, aku langsung diberondong dengan pertanyaan seputar kehilangan Nila oleh Mama dan juga Papa. Mereka sama cemas nya seperti ku. Kami berharap Nila bisa segera ditemukan.


Sepanjang malam itu, aku tidur sambil memeluk Mark. Meski pun tubuh ku berbaring di samping Mark, namun mata ku tak kunjung bisa terpejam jua. Rasa cemas ku terhadap kondisi Nila saat ini sungguh memaksa otak ku untuk terjaga hampir sepanjang malam.


Baru sekitar lewat tengah malam sajalah akhirnya aku bisa tertidur. Itu pun dengan dihantui oleh mimpi buruk tentang Nila dan juga Erlan.


Keesokan hari nya, kecemasan ku bertambah. Karena begitu terbangun, aku menyadari kalau Mark ternyata demam.


Akhirnya hari ini aku meminta ijin pada guru nya anak-anak, untuk tak masuk sekolah selama beberapa hari.


Aku tak mengatakan tentang hilang nya Nila. Hanya Mark yang sakit saja yang menjadi alibi nya anak-anak untuk tak masuk sekolah.


"Nila.. bangun.." ku dengar suara Mark bergumam dalam demam nya.


Hati ku bagai tertusuk belati saat aku harus melihat Mark yang jarang sakit, kini terkulai lemah di atas pembaringan nya.


Mark merindukan saudara kembar nya, Nila. Begitu juga dengan ku.


Entah apa yang dimimpikan oleh Mark, tapi ia mengigau agar Nila terbangun?


Deg. Deg..


Hati ku kusut oleh rasa kalut. Tiba-tiba saja aku memiliki firasat buruk tentang Nila. Nila ku..


'Yaa Allah.. mohon jaga Nila. Jauhkan ia dari segala bahaya dunia juga bahaya akhirat-Mu, Yaa Rabb.. jagalah ia dalam perlindungan terbaik-Mu.. cukup kan ia dengan ketenangan dan keteguhan diri di mana pun ia berada saat ini. Ku mohon kan yang terbaik bagi Nila ku kepada-Mu yaa, Rabb.. Karena hanya Engkau lah Pelindung terbaik dari yang terbaik yang selalu ada.. aamiin..'


Ku bisikkan doa di samping tubuh Mark yang tengah melawan demam yang menyerang nya.

__ADS_1


Ku kecup kening dan tangan Mark berkali-kali. Mencoba saling menguatkan dari kesusahan yang kami hadapi saat ini.


...


Sekitar siang nya, Azki kembali menghubungi ku. Ia kembali ke tempat informasi di kebun binatang untuk menanyakan informasi tentang Nila. Sayang nya tak ada apa pun berita tentang putriku itu.


Hati ku serasa diremas oleh tangan yang berduri, sungguh, saat mendengar berita dari Azki itu. Di mana Nila berada saat ini? Lapar kah ia? Merasa takut kah ia? Sendirian kah ia saat ini? Tak ada yang mampu memberi ku jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.


Aku hanya bisa melantunkan doa dan pengharapan ku saja ke langit yang tak terbatas. Berharap keajaiban senantiasa menyertai Nila ku di mana pun ia berada kini.


Aku tak bisa membayangkan jika sampai sesuatu menimpa Nila. Jika itu sampai terjadi, aku..


"Maafin saya ya, Mbak La. Karena saya mengajak ke kebun binatang, jadi nya Nila.." ku dengar suara Azki lanjut bicara melalui sambungan telepon.


"Sudah lah, Az. Namanya juga musibah ya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah fokus untuk menemukan Nila, Az. Cuma itu yang ada di pikiran ku saat ini," ucap ku menenangkan Azki.


"Lalu, sekarang Mbak La mau lapor ke polisi kah?" Tanya Azki kemudian.


"Ya. Insya Allah siang nanti aku ke kantor polisi, Az. Sekarang.."


Ucapan ku terhenti, saat ku dengar suara Mark yang kembali bergumam dalam tidur nya.


Hati ku kembali tercubit saat menyaksikan kondisi Mark saat ini.


"Mbak? Mbak La?" Suara Azki menyadarkan ku.


"Ehh.. maaf Az!" Aku terburu-buru meminta maaf.


"Gak apa-apa, Mbak. Tadi Mbak bilang sekarang. Sekarang apa, Mbak La?" Tanya Azki kembali.


Ku lihat Mark yang lagi-lagi menyebut nama Papa Azki dalam tidur nya. Akhirnya dengan malu-malu, aku pun memberanikan diri untuk meminta tolong kepada Azki.


"Ini, Az. Mark.. saat ini Mark lagi sakit. Dia demam sedari subuh-subuh tadi. Barusan dia panggil nama kamu.. jadi, apa aku boleh minta tolong kamu untuk ke sini, Az? Tengokin Mark. Barangkali kalau kamu tengokin, demam nya bisa segera turun. Maaf ya, aku selalu ngerepotin soal anak-anak," imbuh ku terburu-buru.


"Iya. Gak apa-apa, Mbak La. Bagaimana pun juga mereka kan anak-anak Erlan. Sahabat terbaik ku. Jadi saya iuga sudah menganggap mereka seperti sahabat ku sendiri.." ucap Azki.


"Ehh.." bingung harus berkata apa lagi, akhirnya aku langsung mengakhiri hubungan telepon itu.


"Kalau gitu, siang aja nanti kamu ke sini nya ya, Az. Sekalian titip jagain Mark pas aku pergi ke kantor polisi siang nanti. Gimana?" Tanya ku.

__ADS_1


"Baik, Mbak. Kalau gitu, nanti siang saya ke sana ya."


"Iya. Makasih ya, Az. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam.."


Klik. Dan sambungan telepon pun akhirnya terputus.


Setelah meletakkan ponsel ku kembali ke atas nakas, aku langsung mengganti kompresan nya Mark. Sekitar satu jam berikut nya, aku memaksa Mark yang masih tertidur untuk meminum obat nya.


Sebelum minum obat, aku berusaha membangunkan Mark untuk sarapan bubur, namun Mark tak kunjung terbangun. Aku berniat, jika sampai malam nanti demam nya Mark tak turun juga, maka aku akan membawa nya ke dokter.


...


Siang hari nya, Azki menunaikan janji nya untuk menjenguk Mark.


Mark sempat terbangun beberapa kali. Namun karena demam yang menjangkiti nya ia jadi merasa lemas dan lebih sering langsung tertidur kembali.


Bahkan ketika aku menitipkan Mark kepada Azki, untuk pergi ke kantor polisi pun, Mark masih juga terlelap.


...


Aku akhirnya melaporkan Nila yang menghilang ke kantor polisi. Setelah menceritakan kronologi nya, Pak Polisi berjanji untuk mengusahakan yang terbaik tentang Nila.


Setelah meninggalkan nomor ponsel dan alamat rumah, aku pun pulang.


Di perjalanan, aku beberapa kali salah mengira saat melihat anak perempuan yang berjalan atau dibonceng di belakang motor orang lain sebagai Nila. Aku pun harus meminta maaf berkali-kali kepada orang dewasa yang menyertai anak nya yang salah ku kenali.


Aku tak merasa malu. Hati ku hanya merasa kebas.


Harapan ku untuk bisa menemukan Nila melambung tinggi. Sementara setiap detik yang terlewati serasa seperti belati yang menusuk hati ini.


'Nila Sayang.. di mana kamu, Nak?' gumam ku pada angin kosong di hadapan ku.


...


Sesampai nya di halaman rumah pada sore hari nya, aku dibuat penasaran dengan keberadaan mobil civic hitam yang ikut berhenti di halaman rumah ku. Aku mengenal betul pemilik mobil itu. Kiyano.


***

__ADS_1


__ADS_2