Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Mimpi (POV Laila)


__ADS_3

Aku berada di sebuah padang rumput yang luas nya tak mampu ku ukur dengan kedua mata.


Padang rumput tanpa angin, dengan basuhan cahaya matahari yang tak terlihat di langit bagian mana pun juga.


Aku berjalan seorang diri di padang rumput yang sepi suara itu. Langkah ku terus ku jejak kan di atas rumput hijau yang terasa lembut di bawah kaki ku yang tak beralas.


Entah bagaimana aku bisa berada di padang rumput ini. Dan ke mana pula tujuan ku saat ini, aku tak tahu.


Yang ku tahu hanyalah aku terus melangkah dan melangkah menuju suatu tempat yang entah lah.


Langkah ku terhenti manakala seekor burung pipit kecil tiba-tiba hinggap ke atas pundak ku. Ku ulurkan tangan ku ke arah tempat si burung pipit sedang bertengger saat ini, demi bisa menangkap burung kecil itu.


Sayang nya burung itu menolak untuk tertangkap. Dan malah terbang di sekitar atas kepala ku.


Berkali-kali aku berusaha untuk menjangkau nya, namun burung itu seolah mengajak ku bermain-main. Ia selalu melesat terbang tinggi setiap kali aku hendak menangkap nya.


'Dasar burung menyebalkan!' dumel ku dalam hati.


Aneh nya, hati ku sungguh tergerak demi bisa menangkap si burung pipit. Entah oleh sebab apa.


Dan aksi menangkap burung itu pun terus berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Sampai kemudian, secara tiba-tiba saja burung itu melesat cepat dan mematuk kepala ku di bagian dahi. Tuk.


"Aww!" Aku menjerit sakit.


Namun belum sempat bereaksi apa-apa terhadap burung pipit itu, saat aku mengalami sesuatu yang ajaib pada detik yang terbilang bersamaan.


Aku mendengar suara Erlan yang berbicara seolah melalui paruh si burung kecil.


'Tinggalkan aku di masa lalu, La..' ucap suara Erlan terdengar dalam benak ku.

__ADS_1


Terpana dengan apa yang baru saja terjadi, aku langsung meraih burung yang entah kenapa terlihat tak mampu tuk terbang kembali.


Burung pipit itu hampir saja jatuh lunglai ke atas hamparan rumput hijau, jika saja aku tak bergegas menangkap nya dengan kedua tangan ku.


Dengan pandangan nanar, ku hentakkan tubuh samg burung berkali-kali. Namun sang burung malah terlihat semakin lemas dan terlihat seperti akan mati.


"Tidak! Jangan! Tolong! Jangan mati juga!" Aku berceracau, memohon pada sang burung untuk kembali terbang mengiringi langkah ku seperti tadi.


Namun sayang, sayap sang burung terlihat kaku dan semakin mengerut, memeluk tubuh mungil nya sendiri.


Aku terjatuh di atas kedua lutut ku dan menangis sejadi-jadi nya.


"Erlan! Erlan! Jangan pergi! Ku mohon!" Jerit ku memecah keheningan di hamparan padamg rumput yang sunyi ini.


Ku peluk erat jasad sang burung yang kini terkulai lemah tepat ke dekat posisi jantung ku berada. Berharap degup jantung ku bisa menular atau malah berpindah saja pada jasad burung yang sedang ku peluk kini.


"Hiks.. hiks.." tangis ku kian menjadi sedu sedan yang menyedihkan.


Entah kenapa aku merasakan satu firasat, bahwasanya burung itu seperti ingin menyampaikan sesuatu sebelum kuasa sang maut merenggut nyawa nya.


Seolah mengerti sendiri, ku dekatkan paruh sang burung ke dekat dahi ku. Dan, kembali, ku dengar suara Erlan menelusup masuk ke dalam benak ku melalui perantaraan patukan pelan paruh sang burung.


"I love you, La.. forever and ever.." bisik suara Erlan menggetarkan batin dan rasa.


Dan kemudian, sang burung di tangan ku pun mati sudah. Meski berkali-kali aku menghentakkan tubuh nya lagi, namun burung itu tak jua terbangun lagi.


Tangis ku pun akhirnya kembali pecah. Meski tak ada kata-kata yang bisa keluar lagi dari mulut ku.


Aku menangis dalam bisu. Dengan hanya isakan yang saling menyambung untuk waktu yang tak ku tahu berapa lama nya.

__ADS_1


...


Di saat itu lah, aku akhirnya terbangun dari mimpi yang aneh itu.


Ku tatap kamar tempat aku dan Erlan pernah memadu kasih dulu sekali, dengan mata yang ku sadari telah basah sejak aku terbangun dari mimpi yang aneh.


Aku masih mengingat jelas dengan apa yang ku mimpikan. Dan aku seolah masih bisa mendengar jelas suara Erlan yang bicara melalui paruh sang burung pipit di dalam mimpi.


Ku sadari pula tenggorokan ku terasa kering dan wajah ku telah basah oleh air mata. Seperti nya aku menangis tak hanya dalam mimpi ku saja. Namun di dunia nyata pun aku menangis pula.


Posisi tangan ku saling menggenggam di depan dada saat itu. Dengan hati yang sungguh berhatap, ku buka genggaman tangan ku berharap aku bisa melihat sosok sang burung pipit.


Meski jelas, tanpa membuka tangan pun aku sudah bisa mengetahui kalau mimpi ku itu hanyalah sebuah mimpi. Meski dengan atau tanpa suara Erlan yang masih membekas nyata dalam benak ku.


'Tinggalkan aku di masa lalu, La.. i love you, La.. forever and ever..' suara Erlan kembali terngiang.


Ku tatap tangan ku yang kosong. Dan kurasakan pula kehampaan yang selama ini mengisi hati ku sejak Erlan pergi meninggalkan ku enam tahun yang lalu.


Dan aku pun kembali menangis pada akhirnya. Menyadari maksud dari mimpi yang baru saja ku alami tadi itu bermakna apa.


Erlan ingin aku meninggalkan nya di masa lalu.. ia ingin aku bisa menatap kembali masa depan ku dengan pandangan yang tegak menghadap ke depan. Tak melulu berbalik melihat ke belakamg, di mana aku telah meninggalkan nya dalan pekuburan di belakang rumah Mama Ilmaya.


Aku harus benar-benar bisa move on. Tak lagi membatasi diri untuk setiap kesempatan yang datang di kehidupan ku. Agar aku bisa meraih kebahagiaan ku dari segala sisi.


Erlan ingin aku bisa benar-benar bahagia. Dan ia juga ingin aku mengingat nya sebagai seseorang yang pernah hadir dalam hidup ku. Pernah mencintai ku dengan bersungguh-sungguh. Hingga kuasa maut memisahkan jalan hidup kami berdua.


Ku tumpahkan sisa pedih dan kekosongan yang kurasakan selama ini, di malam yang dingin ini. Tanpa suara. Hanya isakan-isakan yang saling menyambung saja.


Ku tutup wajah ku dengan kedua tangan yang tak lagi menggenggam. Di atas kedua lutut yang setengah terangkat.

__ADS_1


"I love you, Lan.. forever.. and ever.." bisik ku lirih pada angin kosong di kamar yang sepi ini.


***


__ADS_2