
Sulit. Rasa nya sulit untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi pada ku saat ini. Di mana satu sisi hati ku sedang mengalami patah hati atas penghianatan Bella. Namun sisi hati ku yang lain justru sedang merasakan jatuh cinta pada Laila.
Bukankah ini hal yang sangat aneh?
Layaknya air dan minyak, dua cairan yang sulit untuk menyatu, namun akhirnya dipersatukan dalam sebuah medium bernama sabun. Apakah seperti itu juga kiranya rasa sedih dan bahagia yang kurasakan, dalam satu waktu yang bersamaan?
Terkadang, bila aku teringat Bella, maka aku akan bersedih.
Masih kuingat jelas rupa rasa jerih dan perih yang menyiksa hati ku setiap kali ingatan ku mengulang memori Sabtu malam minggu-minggu yang lalu itu.
Namun, bila aku bersama dengan Laila, aku juga merasakan indahnya cinta. Bahagianya tawa. Dan nikmat nya kala bersama dengan wanita itu.
Meski mulanya aku tak ingin menerima perasaan cinta yang terlalu cepat hadir dalam hidup ku lagi ini, tapi pada akhirnya aku tak kuasa menolak gravitasi cinta yang sudah menarik ku hingga terjatuh terlalu jauh dalam kubangan nya.
Ya. Pada akhirnya aku pun mengakui juga bahwa aku memang mulai menyimpan rasa cinta terhadap wanita berparas manis itu, Laila.
Bella.. Laila..
Jika ada yang menanyakan, siapa yang lebih ku cintai, untuk saat ini aku mungkin akan menjawab Bella lah yang lebih ku cintai.
Itu hal yang wajar. Karena bagaimana pun juga aku telah lama mengenal dan bersama dengan Bella. Hampir dua belas tahun lama nya aku telah mengenalnya.
Sementara Laila, aku baru juga mengenal nya kurang lebih satu bulan yang lalu.
Namun, aku tak bisa memastikan juga. Bisa jadi kelak aku akan lebih mencintai Laila. Karena saat ini saja daya tarik wanita itu sudah cukup kuat menggoda iman ku. Apalagi jika aku mengenalnya bertahun-tahun lama nya?
Tapi aku tak ingin membandingkan dua cinta yang pernah dan telah hadir di hidup ku itu. Karena kedua cinta itu sama-sama istimewa di hati ku, pada waktu nya masing-masing.
Aku masih mencintai Bella hingga kini. Meski nyeri nya penghianatan membuat ku menahan diri untuk tak bersama dengan cinta ku lagi.
__ADS_1
Dan aku juga semakin mencintai Laila kini. Rasanya setiap hari, di setiap perjumpaan atau pun waktu yang terlewati dengan atau tanpa nya, telah membuat pikiran ku justru kian terbayang dengan semua sikap, celoteh, juga amarah wanita pemarah itu. Laila ku memang sungguh istimewa.
Karena nya, ketika tiba-tiba saja Laila menanyakan apakah aku masih single atau tidak? Aku sempat tertegun sejenak.
Aku tak suka berbohong. Namun untuk membuka memori terkait penghianatan Bella dan mengatakannya kepada Laila, aku merasa belum siap untuk melakukannya.
Bagaimana pun juga luka ini masih terlalu basah. Sayatan nya masih tampak menganga lebar. Jadi bagaimana aku bisa menceritakan kisah cinta ku bersama Bella kepada Laila, tanpa derai air mata?
Maka, ku putuskan untuk tak mengatakan perihal cinta ku kepada Bella.. terlebih dahulu. Pada waktu nya kelak, ketika luka hati ku mulai mengering, baru lah aku akan mengatakan segalanya kepada Laila. Karena bagaimana pun juga Laila berhak untuk mengetahui masa lalu ku.
"Kiy? Kok bengong sih? Kamu single kan?" Samar-samar suara Laila merambat masuk melewati gendang telinga ku. Baru lah aku tersadar kalau aku sudah melamun terlalu lama.
"Maaf, La. Gue bengong tadi."
"Jadi.. kamu masih single atau.. udah punya pacar?" Tanya Laila dengan nada kaku.
Aku tertegun, saat ku dapati ekspresi dingin yang tiba-tiba muncul di wajah Laila. Buru-buru aku pun akhirnya menjawab.
Sebuah kernyitan muncul di atas dahi Laila ku. Dan aku buru-buru menambahkan penjelasan.
"Aku duda tanpa anak, La. Tapi sekarang aku udah single. Hubungan ku sama.."
peras.. rasanya aku masih terlalu sulit untuk menyebut nama Bella lagi.
Boleh lah dalam hati, aku masih sering mengingat nama itu. Namun untuk menyuarakannya secara lisan, rasanya itu masih terlalu berat untuk ku.
Akhirnya aku tak jadi menyebut nama Bella dalam penjelasan ku pada Laila.
"Hubungan ku sama.. dia.. udah berakhir."
__ADS_1
Hening.
Sesaat suasana di antara kami terasa canggung. Aku benci dengan perasaan berjarak di antara aku dan Laila ini. Aku tak ingin mengalami perasaan berjarak seperti yang pernah ku rasakan saat bersama dengan Bella dulu.
Perasaan berjarak itu lah yang membuat ku tak bisa menjadi diriku sendiri saat aku bersama dengan Bella. Karena walau aku mencintai Bella, entah oleh sebab apa aku merubah diri ku jadi seperti yang dinginkan oleh Bella. Suami yang humoris, penyayang, dan romantis.
Bella tak pernah melihat sisi lain dalam diriku yang terkadang ingin memberontak, pemarah, atau pun impulsif. Semua sisi lain ku yang tak pernah dilihat Bella dan telah ku kekang selama bertahun-tahun lamanya justru malah keluar sejak aku bertemu dengan Laila.
Laila. Wanita itu lah yang telah memunculkan kembali diri ku yang sebenarnya. Diri ku yang pernah kucoba untuk ku kubur dalam-dalam di pikiran ku yang tersembunyi. Sehingga selama ini aku selalu hidup dalam bayang-bayang kepalsuan diri.
Tapi tetap, cinta ku kepada Bella memang murni adanya. Aku memang sungguh mencintai Bella dengan teramat dalam. Mungkin... Rasa cinta itu lah yang akhirnya membuat ku melupakan diri ku yang sebenarnya. Demi menjadi suami impiannya Bella.
Bersama Laila kini, aku bebas menjadi diri ku sendiri. Aku senang mengajak Laila beradu mulut. Aku senang menggodanya hingga membuatnya marah. Aku senang membuat wajah nya memerah oleh sebab malu. Dan aku senang karena hanya aku lah yang bisa membuat Laila membuka hati nya. Dan akan ku pastikan hanya untukku saja ia akan jatuh hati.
"Kamu.. masih suka sama mantan mu itu ya, Kiy?" Terka Laila tiba-tiba.
Aku menghentikan laju mobil yang sedang ku kendarai. Karena saat ini, entah kenapa feeling ku mengatakan kalau aku harus menatap lurus ke dalam mata Laila.
"Kok, berhenti di sini, Kiy?" Laila menengok ke luar jendela mobil.
Namun aku menarik pelan dagu Laila agar kembali menghadap ku. Baru setelah aku menatap ke dalam matanya lah, aku kemudian berucap.
"Gue pernah menikah. Ya. Dan itu adalah masa lalu gue, La. Gue gak bisa merubah masa lalu. Tapi gue bisa buat masa depan yang baru. Dan gue harap di masa depan gue nanti, ada Lo yang mau nemenin gue untuk selama nya. Would you, La (mau kah kamu, La)..?" Tanya ku perlahan-lahan.
Setelah jeda beberapa saat, ku dengar suara Laila mengalun syahdu ke telinga ku.
"Ya, Kiy. Aku mau."
'Tuhan.. ku harap cinta ini abadi dan murni selamanya..' dan, doa ku pun melangit, di sela-sela suara adzan maghrib yang juga mengangkasa.
__ADS_1
***