
Begitu tertangkap basah oleh Jessika dan kawan-kawan nya, Erlan berusaha menjelaskan situasi sebaik mungkin. Sementara itu aku hanya diam saja. Karena mulut ku sudah terlalu malas untuk berkata-kata akibat tatapan mencemooh yang ku terima dari para krucil nya Jessika.
Setelah Erlan selesai menjelaskan, tanpa berkata apa-apa lagi aku langsung saja pergi kembali menuju ruang acara pesta berlangsung. Di sana Arline langsung memberondongi ku dengan pertanyaan-pertanyaan terkait keberadaaan ku selama setengah jam terakhir.
Sekitar jam sembilan lewat, aku mengajak Arline untuk pulang. Setelah sebelumnya memastikan kondisi Bella yang ternyata sudah dibawa pulang oleh Papa tiri nya. Menurut Erlan, Bella memang sedang dalam kondisi yang kurang sehat saat hendak menghadiri acara hari ini.
Mengutip kalimat Om Andre, Bella bersikeras ingin menemui teman nya di acara pesta hari ini. Karena nya ia memaksakan diri untuk ikut menghadiri acara pesta.
Mendengar penuturan dari Erlan itu, aku jadi menduga-duga. Apakah teman yang hendak ditemui Bella itu adalah aku?
Ah.. ku rasa aku terlalu menganggap tinggi status ku di mata Bella.
...
Sejak tertangkap basah oleh Jessika dan kawan-kawannya, aku dan Erlan tak lagi sempat bicara berdua. Sebenarnya, hal ini lebih disebabkan aku yang menghindari mantan ku itu.
Apalagi saat kulihat Erlan juga sudah cukup 'sibuk' mendampingi Jessika mengobrol.
Cih.
Entah kenapa, saat melihat Jessika dan Erlan mengobrol, aku malah jadi merasa kesal. Apa mungkin firasat ku terlalu kuat ya? Mungkin saja yang sedang mereka bincangkan adalah aku, karena nya aku jadi tak suka melihat mereka berdua berbincang?
Yang jelas, aku tak mungkin lah merasa cemburu pada keakraban mereka bukan?
Iya kan?
...
"Ayo, Line. Pulang sekarang. Kamu tahu kan jam malam ku cuma sampai jam sepuluh. Sekarang aja udah jam sembilan lewat. Belum di perjalanan nya juga kan lumayan ngabisin waktu setengah jam an!" Tegur ku pada Arline yang masih sibuk melu mat sepotong brownies di piring nya.
"Sebentar dong, La. Ini tinggal sedikit lagi nih. Kalau mau cepat, ya bantuin dong makan brownies nya!" Pinta Arline.
"Diih.. Kamu lupa ya? aku kan gak suka yang rasa cokelat, Line. Terlalu manis. Kalau strawberry sih boleh lah," aku berkilah.
"Ya sudah. Berarti tunggu sebentar lagi deh ya. Udah kamu duduk dulu aja sini di sofa. Dari pada berdiri matung di situ. Berasa kayak punya bodyguard kan jadinya aku, La," Seru Arline berkelakar.
Aku mendengus kesal. Meski pada akhirnya ku ikuti juga sarannya Arline itu.
__ADS_1
Aku pun kemudian duduk di sofa samping Arline yang sedang ia duduki saat ini.
"Hoahmm..." Aku menguap.
Alunan tembang kenangan yang mengalun lembut benar-benar menjadi obat kantuk yang paling mujarab bagi ku saat ini.
Entah bagaimana, aku yang duduk bersandar di sofa, tahu-tahu malah tak sengaja tertidur. Aku baru terbangun saat Arline menjawil pipi ku.
"La.. Laila.. bangun. Ayo pulang!"
Mendengar kata pulang, spontan saja aku langsung terbangun.
Ku lihat acara pesta masih ramai oleh para tamu undangan. Jadi kupikir aku mestilah tak tidur terlalu lama.
"Ayuk..hoaahmm.."
Dengan refleks, aku meregangkan lengan ku ke samping.
"Aduh! Hati-hati dong, La!"
Terkejut oleh keberadaan suara Erlan yang teramat dekat, aku langsung saja menolehkan wajah ku ke kanan. Ternyata jok sofa yang tadi nya kosong, entah sejak kapan telah diduduki oleh Erlan.
Dengan segera ku tegakkan posisi duduk ku. Kemudian aku beringsut ke sebelah kiri. Walau usaha ku itu nampak nya hanya bernilai percuma, lantaran aku yang tak bisa bergeser terlalu jauh karena Arline yang masih duduk di jok sofa sebelah kiri ku.
Pada akhirnya ku putuskan untuk langsung saja berdiri. Sayangnya, karena aku baru saja terbangun dari tidur singkat ku, keseimbangan ku masih belum kembali normal. Dan akhirnya menyebabkan tubuh ku oleng ke depan.
Beruntung nya, ada sepasang tangan yang menangkap perut ku. Dan kemudian menarik ku ke belakang hingga terjatuh di atas pangkuan si empunya tangan tadi.
Aku langsung menolehkan wajah ke belakang. Untuk melihat siapa yang sudah menolong ku tadi. Meskipun feeling ku merasakan firasat yang tak enak terkait identitas dia yang ku duduki paha nya saat ini.
'Erlan!' jerit batin ku kaget, saat netra ku dan netra nya bertemu.
"Maaf!"
Spontan saja, aku hendak kembali bangun. Namun tangan Erlan sigap menahan pinggang ku yang lagi-lagi hampir oleng ke depan.
"Duh, La! Kalau mau mesra-mesraan jangan sekarang dong.." goda Arline di samping ku.
__ADS_1
Spontan saja kulayangkan pandangan garang pada bestie ku itu. Sambil berusaha bangun lagi, kali ini dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah berhasil berdiri dengan kesadaran yang penuh, dengan malu-malu ku ucapkan terima kasih kepada Erlan.
"Maaf. Makasih juga," ucap ku pelan.
"Ya," sahut Erlan sambil memandang ku lekat-lekat.
Merasa canggung dengan situasi yang tak mengenakkan oloni, aku langsung mengajak Arline untuk segera pulang.
"Ayo, Line. Pulang sekarang!"
"Ayok. Bye kakak ku yang ganteng.." pamit Arline kepada Erlan.
"Ku antar aja ya, Line? Sekalian kan rumah kita se arah," tawar Erlan.
"Mmm.. gimana, La? Ada tebengan gratis nih. Eh, tapi aku besok harus berangkat pagi-pagi banget, Kak. Gak mungkin kan kalau mobil ku ditinggal?" Tolak Arline beralasan.
"Ohh.."
"Erlan! Di sini kamu rupanya! Jess cari kamu sedari tadi loh!"
Jessika tiba-tiba saja muncul dan duduk di samping Erlan. Dengan wajah yang terlihat jelas sumringah, Jessika menggamit lengan Erlan dengan begitu akrab.
Melihat keakraban dua orang itu, lagi-lagi aku merasa sebal.
Akhirnya tanpa tedeng aling-aling, aku langsung berbalik pergi tanpa pamit dulu kepada Erlan. Dan tak lama kemudian Arline pun menyusul di belakang ku.
"Tunggu, La!" Panggil Arline.
Aku tak menggubris panggilan Arline. Rasanya dadaku terasa pengap sekali. Mungkin kehiruk pikukan pesta lah yang membuat ku merasa kegerahan. Atau bisa jadi juga bila sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Karenanya cuaca nya pengap terlebih dahulu.
"Hey, jangan pulang dulu lah, La! Kan kita belum pamitan sama Mama?" Seru Arline mengingatkan.
Diingatkan tentang Mama Ilmaya, aku yang sudah sampai di muka pintu pun langsung berbalik badan.
"Maaf, aku lupa," ucap ku menahan malu.
__ADS_1
Kemudian aku dan Arline pun berpamitan terlebih dulu pada Mama Ilmaya. Baru setelah nya kami beranjak pulang.
***