Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kado Gelang (POV Laila)


__ADS_3

Hari Senin pagi nya, aku dikejutkan oleh kemunculan sosok Kiyano yang sudah menunggu ku di pinggir jalan besar depan gang tempat tinggal ku.


"Ngapain, Kiy?" Tanya ku pada bos ku itu.


"Jemput Lo, lah! Ayo masuk!" Ajak nya sambil membuka kan pintu depan mobil.


"Tumben. Biasanya juga kamu berangkat agak siangan kan?" Tanya ku heran.


"Gak apa-apa juga kan? Mulai sekarang, Lo pulang pergi sama gue ya, La!" Sang Bos mulai bertitah.


"Serius? Gak PHP nih ya? Gak ngasih harapan palsu. Jangan sampe sekarang bilangnya mau jadi ojek ki, tapi nanti besok kamu malah ingkar janji!" Aku mengancam.


"Haish La.. pikiran Lo sering nya menclok kejauhan. Udah cepetan hayuk masuk ke mobil. Sebelum ada satpolantas lewat dan tilang mobil gue nih!"


Aku mempercepat langkah ku masuk ke dalam mobil. Setelah aku sudah duduk aman di dalam mobil, ku hela napas ku dalam-dalam.


"Hahhh.. Kasihan dong Mang Uding. Bisa patah hati dia nanti,"


"Siapa dia?" Tanya Kiyano sambil menyoroti ku dengan tatapan tajam nya.


Aku menyengir lalu lanjut menjelaskan.


"Itu loh ojek langganan ku. Kalau aku berangkat sama kamu terus, pelanggan nya kan jadi berkurang satu. Jadi patah hati deh.. hehehe.."


"Haishh.. gue kira siapa. Lo tuh senang banget sih bikin jantung gue olahraga melulu, La!" Dumel Kiyano sambil menyetir.


Begitu sampai di depan gedung, aku pun hendak turun. Tapi tidak, sebelum lengan ku ditahan oleh Kiyano.


"Kenapa Kiy?"


Ku lihat pandangan Kiyano tampak berbeda kini. Entah kenapa aku didera perasaan untuk memeluk pria yang tiba-tiba saja terlihat sangat rapuh itu.


"Kamu kenapa?" Tanya ku mengulang.


Namun lagi-lagi Kiyano hanya menatap ku diam.


Setelah waktu terus berlalu cukup lama dalam keheningan yang tak wajar, aku pun langsung mengambil ancang-ancang. Lalu..


"A.. a'uudzubillaahi minasy syaithoonirrojim..." aku pun merapal mantra.


Seketika itu juga, tangan Kiyano yang menahan lengan ku seketika terlepas. Dan ia menganga menatap ku aneh.


"A.. a'uudzu billaahi minasysyaithoonir rojiim.." aku kembali merapal mantra. Dan Kiyano kini berjengit, kian menatap ku aneh.


"Ngapain sih Lo?!" Omel nya kemudian.


"Phyuhh.. syukurlah.. aku udah tegang banget tadi Kiy. Kamu itu tadi habis kesambet!"


"..."


Krik..krik..


Suasana tiba-tiba menghening.


"Laila! Gue dari tadi tuh waras bin sehat. Siapa juga coba yang kesambet. Ada juga Lo tuh yang kesambet setan dodol!" Omel Kiyano padaku.

__ADS_1


"Lha itu tadi kamu tiba-tiba aja diam dan ngasih aku pandangan yang.. gimanaaa gitu ya. Bikin merinding, Kiy! Maka nya aku baca ta'awwudz aja buat perlindungan diri!" Aku membela diri.


...


"Buahahahaha!!! Haishh Laa! Gue tadi tuh.." Kiyano menjeda kalimat nya selama dua detik. Sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya kembali.


"Tadi itu Gue tuh cuma mau minta semangat aja dari Lo. Dan Lo lagi! Kenapa gak sekalian baca ayat suci aja coba! Hahahaha!" Kiyano masih sibuk menderai tawa.


Aku memanyunkan bibir. Tak menyukai posisi ku kini yang jadi bahan tertawaan nya Bos ku itu. Meski begitu, ku jawab juga pertanyaan Kiyano.


"Kepanjangan. Sering nya lidah ku kepleset kalau baca yang panjang-panjang pas lagi gugup atau ketakutan," aku mengaku.


"Lo takut? Diih.. sulit dipercaya. Yang ada orang-orang kali yang takut sama Lo. Soal nya Lo tuh punya mulut dan kepribadian yang sanget!"


"Sanget? Apaan sih?"


"Sangar banget! Hahahahaa!"


Semakin kesal, ku putuskan untuk langsung pergi saja keluar dari mobil. Namun lagi-lagi Kiyano menahan lengan ku.


"Sorry, La. Gue cuma bercanda.. Bercanda aja. Jangan manyun gitu dong!"


"Auk ah! Aku mau masuk aja lah ke dalam. Dari pada di sini jadi bahan olok-olokan kamu!" Dumel ku kemudian.


"Iya. Iya. Sorry. Gue minta maaf deh yah, La. Habis nya, Lo tuh sering banget menghibur gue sih!"


"Memang nya aku pelawak apa?!"


"Iya. Iya. Lo bukan pelawak. Tapi asli, gue tuh tadi nya lagi agak down, La pagi ini. Tapi pas gue ngobrol sama Lo kayak gini nih, rasa-rasanya gue berasa udah di charge. Semangat gue jadi full lagi. Makasih yah, La.." tutur Kiyano dengan tatapan yang kembali sendu.


Setelah agak lama tak menyahut, aku pun akhirnya berkata juga.


"It's okay. Nanti gue bakal cerita ke Lo. Tapi maaf ya La. Gue belum bisa cerita sekarang. Gue butuh waktu.." ucap Kiyano misterius.


"Hmm.. yaudah terserah. Eh, udah kan? Aku keluar mobil ya sekarang? Gak enak dari tadi kita kelamaan di mobil. Nanti dikiranya kita ngapa-ngapain lagi dalam mobil kamu ini!"


Akhirnya Kiyano melepaskan lengan ku yang ditahan nya. Lalu ia kembali berkata.


"Gue ada urusan dulu di tempat lain. Mungkin agak siangan gue baru balik ke kantor lagi. Jadi Lo bikin kopi nya agak siangan ya? Sama, Lo gak usah makan siang di kantin ya! Gue traktir Lo nanti."


Mendengar kata 'traktiran', seketika semangat ku berkobar nyala.


"Eh, serius kamu Kiy?! Janji loh ya! Oke Bos! Kalau gitu kita jumpa siang nanti ya! Pokoknya traktiran nya harus jadi. Soalnya kamu udah berjanji ya Kiy!" Aku memperingatkan Kiyano atas janji nya menraktir ku nanti.


"Iya.. iya.. eh, gue gak dapat sun atau upah apa gitu nih udah nge gojekin Lo?" Ujar Kiyano tiba-tiba.


Dan langkah ku yang sudah menjejakkan satu kaki ku ke luar mobil pun harus kembali tertahan.


Lalu dengan bergaya seperti meniupkan sesuatu ke arah Kiyano, aku pun kemudian membalas permintaannya itu.


"Nah. Udah kan ya. Buat sekarang, upah ngojek nya di sun dari jauh dulu aja ya, Mang Duren!"


"Haishh! Gue bilang ke Nunik lagi lho kalau Lo manggil gue dengan nama aneh lagi!" Kiyano mengancam ku.


Sambil turun dari mobil, aku pun kembali memberikan pembelaan diri.

__ADS_1


"Tapi kan gak menghina, Kiy. Kamu memang duren kan! Duda keren maksud ku.."


Buru-buru ku tutup mobil sambil melangkah masuk ke dalam gedung perkantoran tempat ku bekerja. Tak ku hiraukan lagi sosok Kiyano yang kurasa sedang mengamati ku masuk ke dalan gedung kantor.


Aku bisa yakin karena aku tak kunjung mendengar deru mesin mobil nya hidup.


***


Dan, hari itu, Kiyano nyatanya memang kembali menjelang zuhur.


Saat ia kembali dengan wajah yang terlihat lebih sedih di banding tadi pagi, aku pun menanyakan kepadanya tentang permasalahan yang sedang ia hadapi. Namun lagi-lagi Kiyano memberikan jawaban yang sama. Kalau ia masih membutuhkan waktu sebelum bisa menceritakan masalah nya itu.


Kiyano juga membelikan dua bungkus soto ayam Bang Kumis yang ku gemari. Dan kami pun makan di dalam ruang kantor nya lapang.


Usai makan, aku terkejut ketika tiba-tiba saja Kiyano menyodorkan sebuah kado kecil seukursn genggaman tangan kepada ku.


"Buat kamu, La."


"Apaan ini, Kiy?"


"Buka aja!"


Kemudian, ku buka kado kecil itu dan aku dibuat kagum dengan adanya sebuah gelang dalam bungkusan kado yang kini telah terbuka.


"Gelang? Gelang ini buat ku, Kiy?" Tanya ku tak percaya.


Gelang yang ku pegang itu begitu indah, dengan lilitan yang berbentuk lingkaran-lingkaran yang saling berkait. Dan, pada salah satu sisinya terdapat bandul kecil berbentuk bunga melati.


"Iya. Ayo sini, gue bantuin Lo memakainya!" Kiyano menawarkan bantuan.


Setelahnya, Kiyano membantu ku memakai gelang itu di tangan kanan ku. Aku memandanginya dengan perasaan kagum dn senang. Karena bagaimana pun juga, ini adalah emas pertama yang kupakai sepanjang 25 tahun usia ku kini.


Aku langsung memberikan Kiyano sebuah pekukan singkat, sebelum buru-buru menjauhkan diri dari Kiyano.


"Makasih yah, Kiy."


"Sami-sami La. Lo suka?"


"Suka. Suka banget."


Setelah jeda cukup lama, aku kembali melanjutkan ucapan ku.


"Dalam rangka apa ini Kiy, kamu ngasih aku perhiasan ini? Ini bukan dapat dari hutang atau kreditan kan?"


"Ya ampun La. Negatif melulu sih pikiran Lo. Gue cuma pingin ngasih Lo hadiah aja. Sebagai bukti rasa sayang gue ke Lo!" Tutur Kiyano panjang lebar.


Aku memandang haru pada Kiyano. Dan, setelah jeda yang cukup lama, aku pun kembali berkata.


"Nanti pas ultah ku, kamu kasih anting atau kalung aja ya, Kiy. Biar aku punya satu set perhiasan dari kamu," oceh ku asal.


Kembali, suasana menjadi hening selama beberapa waktu. Keheningan ini baru pecah ketika Kiyano kembali berkata.


"... Kenapa tiba-tiba gue ngerasa nyesel ya ngasih gelang emas ini ke Lo?" Tutur Kiyano dengan suara letih.


Dan aku pun menertawakan ekspresi mengenaskan di wajah bos ku itu.

__ADS_1


'Hahaha!'


***


__ADS_2