
Hari Sabtu sore nya, Erlan kembali datang ke rumah ku. Dia terlihat sangat tampan dalam balutan penampilan yang kasual. Sebuah celana jins dan kaos dengan kerah yang berbentuk V membuat penampilan Erlan bak model papan atas.
"Kamu cantik, La!" Erlan memuji penampilan ku.
Untuk acara nge date pertama kami ini, aku sengaja memakai dress sepanjang betis yang sudah lama tak pernah kupakai. Warna nya ungu lilac. Dan untuk kenyamanan ku, aku juga sengaja memakai celana pinsil se mata kaki dengan warna senada.
"Kita serasi banget ya, La?" Ucap Erlan kemudian.
Ku pandang aneh Erlan atas ucapannya barusan.
"Serasi dari mana nya sih, Lan! Aku pakai baju warna lilac. Sementara kamu hijau botol. Gak matching. Gak serasi lah!" Aku mengoreksi pemikiran Erlan tadi.
"Serasi lah, sayang.. kalau bersama gini.." Erlan lalu mendekat dan meraih kedua tangan ku hingga berada dalam genggaman nya.
"Kita kan jadi pasangan terong. Hijau dan ungu.." gombal Erlan.
"Diih.. ogah! Aku gak suka terong!" Elak ku sambil mencoba melepaskan tangan ku dari genggaman Erlan.
Jantung ku masih belum terbiasa bila bersentuhan dengan Erlan. Dan sepertinya Erlan juga menyadari ketidaknyamanan ku. Ia pun melepaskan tangan nya.
"Mama kamu, mana, La?" Tanya Erlan sambil melongokkan kepala ke arah rumah.
"Ada. Lagi nonton tv. Kenapa?"
"Mau pamitan. Sekalian caper ke camer (calon mertua)," ucap Erlan sambil mendekati pintu masuk.
Aku memandang lucu ke arah Erlan.
"Yee, malah bengong! Ayo, La! Ajak aku ketemu Mama kamu. Gak enak juga rasanya kalau gak nemuin diri. Soal nya biasanya kan aku paling cuma ngapel doang."
"Iya. Iya."
Kami berdua pun lalu berpamitan kepada Mama.
Ketika Erlan sudah keluar usai berpamitan, Mama menarik tangan ku untuk mendekati nya. Ia lalu membisikkan nasihat kepada ku.
"Kamu jaga diri ya, La!"
"Iya, Ma. Tenang. Erlan itu cowok baik kok Ma."
"Iya sih.. tapi tetap. Jangan sampai kebablasan lho, La pacaran nya!" Nasihat Mama lagi.
"Iya Ma. Laila janji bakal jaga diri baik-baik. Lagian Laila udah bawa semprotan cabe kok buat jaga-jaga," aku kembali menenangkan hati Mama.
Dan Mama memang terlihat lebih tenang.
__ADS_1
"Ya sudah, sana. Jangan pulang lewat dari jam sepuluh ya, La!" Teriak Mama saat langkah ku sudah sampai di muka pintu.
"Iya, Ma. Laila berangkat ya.. assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam.warohmatullah.."
Kulihat Erlan sudah menunggu ku di atas moge nya.
"Lama amat. Mama kamu bilang apa La?" Tanya Erlan dengan suara pelan.
"Ada lah.. biasa nasihat ibu ke anak nya. Tapi aku berhasil nenangin hati Mama kok. Kubilang aja kalau aku udah bawa semprotan cabe dalam tas ku ini. Buat jaga-jaga dari cowok jahil kayak kamu!"
"Haishh.. sayang kok begitu sih.." Erlan terlihat merengut.
"Aku kan udah jinak. Jadi gak bakal deh main nakal sama kamu."
Kujulurkan lidah ku ke arah Erlan. Tak percaya dengan ucapannya barusan.
"Jinak.. jinak.. tapi tetap aja buaya!" Aku meledek Erlan. Dan ia menyengir kuda.
Kami pun lalu berboncengan menuju danau Mutiara untuk pergi memancing.
***
Begitu aku datang dan duduk di sana, hampir semua mata lelaki itu memandang ku takjub. Terlebih saat melihat ku memegang alat pancingan. Mungkin mereka heran karena tak biasanya perempuan pergi memancing.
Di samping ku, Erlan tiba-tiba saja mendumel kesal.
"Pindah tempat yuk! Di sini terlalu banyak yang mancing. Nanti ikan yang kita dapat, malah sedikit, lagi," Erlan beralasan.
"Justru kalau ada banyak orang di sini, berarti area ini banyak jumlah ikannya, Lan. Udah di sini aja lah!" Aku membujuk Erlan.
"Enggak. Pokoknya kita pindah!" Erlan kembali berujar.
"Memangnya kenapa sih?" Tanya ku sedikit kesal.
Erlan lalu mendekatkan kepalanya ke wajah ku. Sebelum akhirnya ia berbisik.
"Kamu gak lihat apa, itu mata lelaki di sini sering banget ngelirikin kamu, La? Aku risih lihat nya?" Bisik Erlan beralasan.
Mendengar alasan Erlan itu, aku pun tersenyum hangat.
'Oh.. dia cemburu ya? Hihihi..' batin ku tiba-tiba senang sendiri.
"Ya sudah. Iya. Iya. Kita pindah tempat deh."
__ADS_1
Kemudian aku ikutan bangkit berdiri bersama Erlan. Lalu kami pindah ke spot lain yang lebih sepi orang.
Sesampainya di salah satu spot, hanya terlihat seorang bapak paruh baya saja yang juga sedang memancing seorang diri.
"Di sini, Lan?" Tanya ku memastikan.
"Nah. Iya di sini nih! Ini baru namanya spot yang bagus buat kita pacaran, eh, memancing!"
Kupicingkan kedua mata ku cengan cukup tajam ke arah Erlan.
Akhirnya aku mengetahui alasan sebenarnya Erlan mengajakku pindah ke tempat ini.
"Dasar modus!" Umpat ku pelan.
"Bukannya modus ya, Laila Sayang... Cuma berburu kesempatan aja.." ucap Erlan sambil menyengir kuda.
***
Setelah setengah jam memancing..
Aku tak lagi memegang alat pancingan kini. Telah sejak sepuluh menit yang lalu aku berubah haluan jadi bermain game ML di ponsel. Sementara Erlan..
"Wahh! Bapak keren sekali! Ajari saya trik nya dong, Pak! Kenapa ya ikan-ikan gak tertarik dengan umpan saya?"
Kulirik Erlan yang kini sedang mengagumi ikan berukuran sedang hasil tangkapan Pak Seno. Pak Seno adalah lelaki paruh baya yang tadi melintasi kami dan melihat aksi payah ku dan Erlan dalam memancing. Dengan baik hatinya, Pak Seno mengajarkan teknik memancing agar kail kami segera mendapatkan ikan.
Well, Erlan sih jelas terlihat senang diajari memancing. Sementara aku cepat bosan dan akhirnya memutuskan untuk menepi ke bawah pohon lalu bermain ML di ponsel nya Erlan.
Pada akhirnya acara nge date antara aku dan Erlan pun berubah jadi acara kursus memancing nya Erlan pada Pak Seno. Sementara aku... Terabaikan.
'Iishhk! Nyesal banget nih ngajak mancing ke sini. Gara-gara waktu itu habis lihat acara mancing di tv sih, makanya mulut keceplosan pingin mancing. Padahal ngerti alat pancingan aja enggak!' dumel ku sendirian dalam hati.
Ku lirik kembali Erlan yang terlihat serius mendengarkan instruksi dari Pak Seno. Dan aku jadi merasa sebal.
'Percuma banget nih dandan cantik-cantik tapi malah dianggurin! Ah! Pingin pipis lagi.'
Mulanya aku hendak mengatakan terlebih dulu kepada Erlan kalau aku ingin ke WC. Namun saat melihat keasikan kekasih ku itu dalam memancing, rasa kesal pun kembali muncul dan menguasai benak ku. Alhasil, tanpa mengatakan terlebih dulu kepada Erlan, aku pun bergegas mencari WC Umum seorang diri.
***
Sekeluarnya dari WC Umum, aku dikejutkan dengan panggilan seseorang kepada ku. Saat aku menoleh ke arah orang itu, aku benar-benar terkejut. Tak menyangka bisa bertemu lagi dengan nya di tempat ini.
"Apa kabar, La?" sapa sosok yang begitu kukenal itu.
***
__ADS_1