
Ketika rindu menyapa, muncullah sebuah prahara,
Hingga tergoncang lah hati, karena tak tahu apa yang diingini.
Entah coba kau acuhkan, atau mungkin kau nyatakan,
Kadang ingin kau sembunyi, agar tiada yang tahu rahasia hati.
Oh..
Bila hati cukup berani, nyatakan lah dengan kata atau aksi..
Bila rasa malu meraja dalam hati, maka cukup berani kan dirimu tuk akui pada dunia.
Bahwa rasa rindu telah merajai mu dengan keresahannya.
Rengkuh saja rindu itu dengan sepenuh hati mu yang lapang..
Ho..oh..
*Lirik lagu "Ketika Rindu Menyapa" by Lazuli Nun.
***
Tanpa sadar aku mengangguk-anggukkan kepala ku mengikuti irama lagu yang ku dengar dari ponsel Mbak Meyda, salah satu staf akuntan. Saat ini aku sedang membantu membuat foto kopian file yang akan digunakan untuk acara meeting yang akan diikuti oleh Mbak Meyda sekitar satu jam lagi.
Bersama Mbak Meyda, aku membagi foto kopian kertas-kertas itu menjadi lima belas binder.
"Ini lagu nya siapa sih, Mbak? Kayaknya gak pernah dengar," tanya ku penasaran pada lagu yang diputar berulang-ulang di ponsel Mbak Meyda.
"Lagu teman ku, La. Bukan artis sih. Tapi dia senang bikin rekaman musik yang dia buat sendiri. Makanya rekaman nya juga masih agak kasar kan? Kayak covering covering gitu," papar Mbak Meyda sambil memilah-milah foto kopian.
"Ooh.. pantesan asing," komentar ku.
"Kenapa? Kamu suka? Lumayan nge beat kan lagu nya?" tanya Mbak Meyda sambil memberikan ku senyuman manis yang menunjukkan satu lesung di pipi kiri nya.
"Iya. Lumayan enak Mbak, buat goyang-goyang kepala. Kalimat nya juga lumayan dalem," aku berkomentar.
"Mau ku share it?" Tawar Mbak Meyda.
"Boleh, Mbak."
"Oke. Nanti ya kalau kerjaan kita ini udah beres."
__ADS_1
"Siap, Mbak!"
Dan menit-menit berikut nya, aku dan Mbak Meyda pun mengentaskan pekerjaan kami hingga rampung. Setelah selesai, lima belas binder kopian materi meeting pun sudah tersusun rapih.
Setelahnya, Mbak Meyda menunaikan janji nya. Ia mengirimkan lagu indie karya teman nya itu ke ponsel ku. Baru setelah nya ia bergegas pergi menuju ruang meeting. Sementara aku kembali ke base camp nya para staf OB.
Sampai di base camp, aku hendak mengambil catatan tugas berikutnya di mading ketika Mas Idham yang baru saja menutup telepon tiba-tiba berkata kepada ku.
"La, bisa tolong ke kantin sekarang? Ambil pesanan pak Budi, staf di pergudangan dalam, terus anterin katering pesanan nya ke sana? Sekarang juga kalau bisa kamu ke sana nya. Agak darurat soalnya," terang Mas Idham.
"Katering nya banyak gak, Mas?" tanya ku meminta penjelasan.
"Iya. Ada sekitar 30 kotak makanan yang Pak Budi pesan. Jadi nanti kamu berdua aja ke sana nya. Sama.. Nindi. Ya Nin?"
Titah Mas Idham kepada Nindi yang baru masuk ke dalam base camp.
"Ya, Mas? Ada apa?" Tanya Nindi yang belum paham benar dengan tugas yang diberikan Mas Idham barusan.
"Kamu berdua sama Laika, ambil pesanan katering di kantin punya Pak Budi, staf pergudangan. Gercep sekarang ya!" Titah Mas Idham mengulang penjelasan.
"Siap Mas!"
"Oke Mas Idham!"
Di perjalanan menuju kantin, Nindi mengatakan kalau anak-anak OB akan mengadakan touring pekan depan.
"Jadi, kamu mau ikut touring gak, La?"
"Kalau Nindi ikut gak?" aku bertanya balik.
"Ya kalau Laila ikut, Nindi sih pinginnya ikut juga."
"Hmm.. memang nya acara touring nya ke mana Nin?" aku kembali bertanya.
"Dengar-dengar sih ke pantai Pelangi."
"Waahh.. masa, Nin! Pantai Pelangi yang itu tuh? yang ada wahana permainan nya di pinggir pantai?!" tanya ku memastikan.
"Iya. Pantai Pelangi yang itu. Jadi, kamu mau ikut kan La?" tanya Nindi penuh harap.
"Mau! Mau! aku mau pake banget!" sahut ku bersemangat.
Sesampainya di kantin, memang ada sekitar tiga puluh paket makanan yang telah dipesan oleh Pak Budi. Beruntung orang kantin menawarkan troli untuk membawa 30 kotak makanan itu.
__ADS_1
"Nanti troli nya bawa ke sini lagi ya, Kak!" Mbak kantin mengingatkan.
"Iya, Mbak!" Sahut Nindi dengan wajah tersenyum ramah.
"Biar Laila yang bawa deh, Nin!" Ucap ku menawarkan bantuan diri.
Dan Nindi pun mengangguk, mengiyakan tawaran ku.
Dengan cukup bersemangat, aku pun mendorong troli berisi kotak makanan katering itu. Rasanya menyenangkan sekali. Seperti sedang main kereta-kereta an. Ha ha ha.
"Laila! Pelankan dorong troli nya! Hati-hati!" Tegur Nindi kala aku mempercepat dorongan ku pada troli.
"Hahaha.. seru, Nin! Kayak main kereta-kereta an loh ini! Ayo sini pegang pinggang ku! Aku jadi masinis nya ya!" Ajak ku kepada Nindi.
"Iih.. gak mau ah! Malu, La! Kayak anak kecil aja! Laila! Pelankan dorong troli nya! Takut nabrak orang!" Tegur Nindi yang tergopoh-gopoh mengejar ku di belakang.
"Tenang aja, Nin! Sepi kok! Gak ada orang!" Ucap ku sambil tetap kencang setengah berlari dan menoleh ke belakang.
Dan, detik berikut nya ku lihat ekspresi horor di wajah Nindi. Bersamaan dengan teriakan nya yang cukup kencang.
"Awas, Laa!!"
Gabruk!
Aku terkejut ketika tiba-tiba kurasakan troli yang ku pegang seperti membentur sesuatu. Sayang nya aku telat menyadari peringatan dari Laila itu dan hampir ikut tersungkur jatuh akibat benturan yang cukup kencang tadi.
Syukurlah pegangan ku pada troli cukup mantap, jadi aku berhasil tak jatuh, sekaligus mempertahankan troli yang ku pegang juga sehingga tak jatuh pula.
Aku langsung melayangkan pandangan ku ke depan dan terkejut ketika tiba-tiba saja muncul banyak orang dari tikungan jalan di hadapan ku. Yang paling membuat ku merasa was was adalah adanya sekitar enam orang pria yang mengerubungi sesuatu di depan troli ku. Ku sangka, sepertinya korban tabrakan ku tadi adalah seorang manusia..
'Ya ampun! Masalah lagi!' jerit batin ku tak bersuara.
Dengan rasa takut dan bersalah yang campur aduk jadi satu, ku beranikan diri untuk melangkah maju. Dan, beberapa langkah kemudian bisa kulihat sesosok pria yang terduduk di atas kon blok.
Pada mulanya ia menundukkan kepalanya sambil memegangi perut. Aku pun langsung mendekati pria yang memakai kemeja biru bergaris itu.
"Maafkan saya, Pak! Saya tak sengaja mendorong troli terlalu cepat!" Aku langsung berjongkok di depan lelaki yang tampak kesakitan itu dan meminta maaf padanya.
Namun kemudian, lelaki itu mengangkat wajahnya, dan aku langsung terkejut setengah mati. Karena ternyata korban tabrakan ku tadi adalah bos ku sendiri, alias si Keong, Pak Kiyano.
"?!!!"
"?!!!"
__ADS_1
***