
Satu minggu kemudian..
Pesta pernikahan Arline dirayakan dengan megah di kediaman Om Gilberth dan Mama Ilmaya. Semua tokoh penting kenegaraan pun ikut hadir menjadi tamu undangan pesta pernikahan ini. Karena memang profesi suami Arline yang adalah seorang kolonel, sekaligus juga putra dari seorang jenderal besar yang sudah senior.
Aku berperan sebagai bride's maid nya Arline. Gaun yang ku kenakan berwarna krem pucat, bersama dengan dua teman Arline lainnya, yakni Beby dan Geisha.
Beby adalah seorang yang ceria seperti ku. Sementara Geisha adalah seorang wanita yang pendiam. Kedua-duanya tampil cantik dan memukau menurut ku dalam balutan gaun yang berwarna seperti gaun yang ku kenakan.
"Kamu juga cantik, kok, Laila," puji Beby pada ku.
Aku langsung mematut paras ku di depan cermin besar yang ada di depan kami. Dan memang benar. Hari ini aku tampil sangat amat memukau.
Gaun yang ku kenakan bermodel princess dengan bentuk A-line yang memanjang hingga semata kaki. Bagian kerah dan bahu nya terbuat dari bahan transparan yang memanjang hingga menutupi hampir seluruh leher. Sebuah pita berukuran sedang menghiasi bagian belakang pinggang gaun ini.
Dengan warna gaun yang krem pucat, kulit ku yang berwarna sawo matang pun jadi terlihat kian eksotis saja. Terlebih tim MUA yang menghiasi para bride's maid tadi juga menambahkan glitter ke area lengan yang tak tertutupi. Sehingga aura blink blink pun kian mendominasi penampilan ku saat ini.
"Pingin deh punya kulit secantik punya mu, Laila. Apa rahasia nya?" Tanya Beby yang adalah seorang anak pengusaha batik yang terkemuka.
Ditanya seperti itu, aku jadi bingung sendiri untuk menjawab nya. Aku tak pernah memberikan perawatan khusus kecantikan untuk ku sendiri. Paling hanya krim pagi dan malam saja yang menjadi rutinitas ku setiap hari nya.
Tapi kemudian aku teringat dengan kebiasaan yang kudapat dari nasihat nya Mama.
"Aku sering makan buah tomat pagi dan sore. Selalu rutin minimal satu buah. Dan perbanyak minum air putih juga sih. Selebihnya gak ada tips spesial," ungkap ku jujur.
"Ooh.. gitu ya? Hh.. pantas lah. Kalau Beby sih agak jarang minum air putih. Habis nya tawar sih. Paling kalau minum ya yang ada di kulkas. Lebih sering nya ya smoothie, jus atau minuman bersoda," tutur Beby.
"Kamu masih sering minum minuman bersoda, Beb?" Tanya Geisha yang sedari tadi hanya jadi tim pendengar.
Beby dan Geisha adalah teman Arline sedari mereka tinggal di asrama putri di SMA dulu. Ketiga nya langsung terikat dalam persahabatan yang kompak dan solid bahkan hingga saat ini.
Beby menatap Geisha dengan pandangan bersalah.
"Habis nya enak sih, Gei. Kalau udah ketagihan gimana dong?" Ungkap Beby dengan wajah memelas.
Geisha tampak menggelengkan kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
"Kata nya mau diet. Tapi masih aja minuman bersoda kamu minum. Lagian kasihan kan lambung mu itu, Beb.." tegur Geisha.
Aku yang menyaksikan dua sahabat itu berbincang jadi langsung teringat pada Nunik. Kami juga sering berselisih seperti ini. Tentunya dengan Nunik yang selalu jadi tim penasihat ku yang setia. Hihihi.
"Laila, ayo kita keluar sekarang. Acaranya udah mau dimulai!" Ajak Beby menarik tangan ku.
Kami pun akhirnya pergi ke ruangan tempat Arline dihias. Di sana, nantinya kami akan mengiringi Arline hampir sepanjang acara berlangsung.
***
Pesta pernikahan Arline berlangsung dengan sangat meriah. Acaranya dilangsungkan diluar rumah dengan tema gardening party. Ada banyak hiasan bunga mawar putih yang kata Beby adalah bunga kesukaan nya Arline.
Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan alhamarhumah Oma Ruth yang telah wafat beberapa bulan yang lalu. Aku teringat pada acara pesta ulang tahun nya Oma yang juga dilangsungkan di area halaman rumah ini.
Flash back on.
Di suatu kesempatan saat itu, Oma pernah berkata kepada ku,
"Oma sering mengingat Opa. Suami Oma. Pernikahan kami pun dulu digelar terbuka di depan halaman rumah. Opa adalah seorang peneliti. Sehingga jiwa nya lebih senang bebas berinteraksi dengan alam dan pengetahuan.
Manusia adalah makhluk yang senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman nya, Laila. Ada beragam jenis manusia dengan sifat dan karakteristik yang berbeda-beda pula.
Sepanjang hidup Oma, Oma telah menjumpai beragam jenis manusia dengan sifat baik juga buruk nya. Dan yang paling tak Oma sukai adalah jenis manusia yang munafik.
Jangan mempercayai sesuatu sebelum kamu benar-benar mengenalnya sendiri, Laila. Juga jangan terburu-buru menilai sesuatu sebelum kamu benar-benar memahami nya seutuh nya.
Butuh keterampilan yang terasah dalan waktu lama baru lah Oma bisa menilai mana orang gang munafik, dan mana yang tidak.
Orang munafik mungkin akan pandai bersilat lidah. Mereka juga mungkin akan lihai menutupi aib nya. Tapi Laila, ingat lah nasihat Oma ini.
Bau busuk akan selalu bisa tercium, serapat dan se rapih apapun ia ditutupi. Begitu pun dengan orang munafik. Yang tampak manis di penampilan luar nya, namun teramat busuk di dalam hati nya. Mereka pun pada akhirnya akan bisa kita kenali pada waktu nya.
Jangan jadi orang yang munafik, Laila. Jadi lah seorang yang jujur. Seperti yang telah di suri tauladan kan oleh baginda rasul saw. dahulu.
Orang yang jujur, ibarat berlian yang tak bernilai harga nya. Sekotor dan se kusam apapun ia ditutupi oleh bebatuan, ia pastilah akan dikenali oleh orang-orang ahli yang mumpuni dalam menilai berlian.
__ADS_1
Kamu akan dihargai oleh semua orang saat kamu berlaku jujur di setiap tutur kata dan laku mu, Nak. Ingat lah selalu pesan Oma ini.."
Flashback Off.
"Laila?"
Aku tersadar dari lamunan panjang ku tentang almarhum Oma, ketika sebuah tangan menepuk pelan tangan ku. Begitu kulihat, ternyata ia adalah Erlan.
Ku berikan Erlan senyuman termanis ku. Mengingat kata-kata Oma, aku jafi merasa diingatkan untuk lebih bersikap jujur lagi. Terutama jujur tentang perasaan ku sendiri.
Memang benar kata Oma dan juga Erlan. Setiap hubungan memang sangat membutuhkan komunikasi yang baik. Kejujuran terhadap pasangan adalah modal utama terbangun nya kepercayaan antara satu sama lain.
Dusta sekali ibarat torehan yang membuat kepercayaan antara dua insan menjadi cacat.
Dusta yang kedua, ibarat retakan kecil yang menjadi cikal bakal retak nya hubungan di antara dua insan.
Dan dusta yang ketiga, keempat, dan seterusnya, ibarat semen yang akan membuat hati jadi tertutup untuk bisa saling mempercayai satu sama lain lagi.
Karena nya, aku pun bertekad untuk bersikap lebih jujur lagi. Terutama dalam hubungan ku dengan Erlan saat ini.
Aku akan mengesampingkan keraguan yang masih bercokol di benak ku hingga saat ini. Perasaan ku pada Kiyano kurasa masih sama seperti dulu. Karena hati ku masih merasakan jerih setiap kali benak ku teringat pada sosok pria itu.
Tapi aku juga tak akan memungkiri tumbuh nya rasa yang baru dalam diri ku saat ini. Rasa yang ku tujukan teruntuk pria yang kini berdiri di depan ku dengan pandangan bingung.
"Kamu ngapain lihatin aku serius banget, La? Aku ada dosa ya sama kamu?" Tanya Erlan kebingungan.
Aku terkekeh pelan kala mendengar ucapan Erlan yang sungguh konyol itu. Sungguh heran, bagaimana hati ku bisa tergerak oleh pria yang konyol ini? Hihihi.
Teringat pada nasihat Oma, aku pun akhirnya mengungkapkan isi hati ku dengan jujur kepada Erlan.
"Lan, ku rasa aku memang mulai menyukai mu!"
Dan Erlan pun seketika itu juga langsung membulatkan kedua matanya, menatap ku.
***
__ADS_1