Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Bertemu Jessika (POv Laila)


__ADS_3

Suatu Minggu, aku dan Erlan kembali mendatangi kantor WO yang akan mempersiapkan acara resepsi pernikahan kami nanti nya. Hari itu kami memilih menu makanan, dekorasi ruangan, dan suvenir untuk acara nanti.


Setelah kepusingan memilih satu dari banyaknya pilihan yang bagus-bagus, aku mengajak Erlan untuk melipir dulu ke mall. Agar kejenuhan yang sempat kurasakan saat di kantor WO tadi bisa segera hilang.


Aku mengajak Erlan masuk ke Timezone. Di sana kami memainkan banyak permainan yang seru-seru. Seperti whack and win, dance-dance revolution, juga beberapa permainan lain yang seru.


Usai bermain dan mendapatkan hadiah boneka lumba-lumba yang lucu, aku mengajak Erlan untuk pergi ke salah satu gerai fast food.


"Kamu bengis banget sih, Yang. Tadi waktu main whack and win, aku gak nyangka banget lho kamu bisa dapat jackpot," seloroh Erlan.


Whack and win adalah permainan memukul papan permainan. Di mana nanti dari hasil pukulan itu akan bisa menggerakkan panah ke atas. Di level mana panah itu berhenti akan membuat kita menerima hadiah tiket yang nantinya akan bisa ditukarkan dengan hadiah, sesuai nominal yang berhasil didapat.


Dan tadi, aku berhasil menggerakkan panah hadiah ke level yang paling atas. Level jackpot.


Aku tak hanya berhasil mendapatkan hadiah PS (play station) namun juga sebuah boneka lumba-lumba yang cantik.


Kupeluk hadiah boneka ku dengan bangga. Sementara Erlan menenteng paper bag berisi hadiah PS ku tadi.


"Laila gitu lho! Kamu tadi dapat hadiah level berapa, Lan?" Tanya ku pura-pura tak ingat.


Dan aku langsung menyengir lebar saat kulihat wajah erlan yang langsung masam.


"Jangan ngeledek deh! Tadi tuh aku gak sungguh-sungguh main nya. Jadi ya wajar kalau level ku tadi tuh rendah!" Erlan berkilah.


"Hihihi.. bisa aja deh alasan mu itu, Lan. Bilang aja gak punya tenaga!" Aku malah meledek nya.


"Kata siapa aku gak punya tenaga?! Kamu mau bukti, Yang, kalau aku tuh punya tenaga yang besar, hah?!" Seru Erlan berapi-api dengan suara yang cukup kencang.


Detik berikutnya beberapa pelanggan gerai fast food yang duduk di dekat meja kami pun lalu melirik ke arah kami dengan pandangan menilai.


Erlan yang menyadari kalau ucapannya tadi telah mengundang tanggapan yang salah terhadap nya pun langsung tertunduk malu.


Sementara aku menyembunyikan tawa ku di balik tubuh lembut boneka lumba-lumba yang masih kupeluk hingga saat ini.

__ADS_1


"Erlan?"


Sebuah suara yang sangat ku kenal, terdengar dari arah belakang ku.


Aku malas untuk menengok, sehingga aku hanya menegakkan posisi duduk ku saja.


"Oh! Ternyata ada Laila juga. Kalian sedang apa di sini?" Tanya Jessika kepada kami.


'Tentu saja untuk makan lah! Memang nya kami mau apa pergi ke gerai fast food ini, hah?!' dumel ku sendiri dalam hati.


Jessika lalu menarik sebuah kursi hingga mengitari meja kami. Dan aku merasa kian kesal karena ia sengaja duduk lebih dekat ke Erlan daripada ke kursi ku berada.


Lebih lanjut, ku dengar Jessika bicara.


"Jess dengar, kalian mau menikah ya? Maaf ya, karena Jess gak bisa hadir di acara pertunangan kalian yang kemarin. Waktu itu Jess lagi ke Singapura. Nengokin nenek Jess yang lagi sakit," tutur Jessika dengan raut menyesal di wajah nya.


'Siapa juga yang nanya?' cibir ku dalam hati.


Menyadari kalau aku malas bicara, akhirnya Erlan lah yang mengomentari ucapan Jessika.


Aku langsung memelototi Erlan. Merasa sebal karena Erlan berani menunjukkan perhatian pada neneknya Jessika, tepat di depan mata ku kini.


Sayang nya, yang ku pelototi malah tak melihat ke arah ku. Erlan masih menunggu jawaban Jessika.


"Hh.. diabetes nya kumat lagi, Lan. Padahal Jess kira setelah berobat ke Singapura, kondisi nenek bakal lebih baik. Tapi Jess jadi pesimis deh, waktu jenguk nenek kemarin itu," curhat Jessika.


"Jangan begitu, Jess. Yakin saja kalau nenek Gayo akan segera sembuh. Selebihnya, serahin semuanya ke Allah yang Maha pemberi Kesembuhan," ucap Erlan menyemangati Jessika.


'Dih. Sok bijak! Biasanya juga dia masih perlu dapat nasihat, sekarang sok-sok an ngasih nasihat!' cibir ku lagi dalam diam.


"Hh.. yah. Semoga ya, Lan. Makasih.. eh, jadi, kapan wedding day nya nih? Ingat untuk undang Jessika ya. Kalau Laila mau jadiin Jessika bride's maid juga Jess mau kok," tutur Jessika lagi sambil menatap ku dengan senyuman ramah.


Menghadapi senyuman ramah nya Jessika, aku jadi merasa tak enak hati untuk tak menjawab ucapan nya itu. Dengan bo doh nya, aku malah mengiyakan permintaan nya itu.

__ADS_1


"Ya.. tentu. Kamu boleh kok.."


Selesai mengucapkan itu, aku langsung ingin merutuki diriku sendiri.


'Dasar bo doh! Kenapa juga kamu ngundang mantan nya calon suami mu untuk jadi bride's maid mu, Lailuunnn?? Ngundang penyakit aja!' dumel ku pada diri sendiri.


Erlan sepertinya tahu dengan isi kepala ku, sehingga kulihat ia kesusahan menutupi tawa nya.


"Sungguh, La?? Waahh.. terima kasih ya, La! Tadi nya Jess pikir Laila gak suka Jess karena Jess pernah suka sama Erlan. Tapi syukurlah, sepertinya Jess berpikir berlebihan. Laila memang wanita yang sangat baik dan pantas untuk Erlan!" Puji Jessika seraya menghambur untuk memeluk ku.


Merasakan ketulusan dalam ucapan Jessika tadi, aku jadi merasa bersalah kepada Jessika. Dengan gerakan kaku, aku membalas balik pelukan Jessika dengan menepuk-nepuk pelan punggung wanita di depan ku ini.


"It's okay. Itu kan masa lalu. Gak ada dendam juga lah.." ucap ku asal.


Dan Erlan langsung saja tertawa bahak usai mendengar ucapan ku. Hal ini membuat Jessika jadi melepas pelukannya lalu menatap calon suami ku itu dengan pandangan bingung.


"Kamu kenapa, Lan?" Tanya Jessika.


Aku memberikan Erlan tatapan mengancam agar ia menjaga mulut nya dari berucap yang tak perlu. Baru kemudian aku menjawab pertanyaan Jessika tadi, mewakili Erlan.


"Jangan ditanggapin, Jess. Dia cuma lagi kelewat happy aja. Obat nya habis!" Ucap ku asal.


"Kamu barusan bilang apa, Yang?" Tanya Erlan sambil menatap ku sebal.


"Kubilang kalau obat mu tuh habis! Kenapa? Mau marah?" Aku menantang Erlan.


"Iishkk. Dasar cewek! Sebentar musuhan. Sebentar temanan. Sebentar bilang cemburu. Sebentar bilang--!!"


Aku melempar kertas pembungkus nasi ke muka Erlan. Sehingga Erlan pun tak lagi meneruskan dumelan nya itu.


Jessika memandangi ku dan Erlan secara bergantian. Sebelum akhirnya memberikan komentar.


"Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Jess ikut berbahagia untuk kalian berdua," ungkap Jessika dengan tulus.

__ADS_1


***


__ADS_2