
Usai menyadari pengalaman horor di warung makan tadi, aku pun mengajak Erlan untuk menyudahi acara nge date kami. Padahal saat itu adzan maghrib baru juga berkumandang.
Rencananya, selepas dari danau, aku dan Erlan akan singgah ke mall terlebih dulu untuk jajan dan cuci mata. Tapi dengan kejadian tak mengenakkan soal tepukan di punggung dari makhluk ghaib, aku langsung tak punya mood untuk melanjutkan acara nge date nya kami ini.
'Sial benar sih nasib ku! Lagi asik-asik nya nge date, malah diusik sama makhluk halus! Iiihh..' dumel ku dalam hati.
"Kenapa buru-buru pulang sih, La?" Tanya Erlan di perjalanan pulang.
"Tadi itu.."
Baru juga aku hendak menjelaskan pada Erlan perihal pengalaman horor ku, saat tiba-tiba saja kurasakan tengkuk ku terasa berat. Terlebih aku pun tiba-tiba saja merasakan hawa dingin yang tak biasa. Padahal malam ini sebenarnya hampir tak ada angin yang bersayupan.
'Alamak.. apa itu setan masih ngikutin ya? Pergi jauh sana.. pergi jauh..!'
Aku sibuk berkomat-kamit dalam hati, mengusir si setan menjauh pergi. Sehingga aku lupa untuk membalas pertanyaan Erlan tadi.
Jadi, sampai Erlan mengantarkan ku hingga ke depan kontrakan ku pun ia tak lagi berkata apa-apa.
Sekitar setengah jam kemudian, kami pun tiba di depan kontrakan ku. Hingga saat itu, aku masih juga merasakan bulu kudukku berdiri. Sehingga saat Erlan mengecup pelan kening ku, aku tak menyahut apa-apa padanya.
"Iih.. perasaan dingin amat ya?" Aku mendengar Erlan berucap sambil mengusap tengkuk nya, saat ia baru saja berpamitan pulang kepada ku.
Dan, aku menatap ngeri ke jok belakang nya Erlan. Karena sekilas tadi, aku seperti melihat sosok wanita berbaju putih dengan wajah yang sangat pucat. Wanita itu memberi ku senyuman yang sangat mengerikan.
Buru-buru aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat. Walau kusadari usahaku itu tentu tak akan berhasil mencegah si setan masuk ke dalam rumah ku jika ia memang hendak masuk ke sini.
"Laila?"
Aku terlonjak kaget saat Mama tiba-tiba saja muncul dari arah dapur.
"Ih! Mama! Ngagetin Laila aja deh!"
"Kamu kenapa, La? Muka mu kok pucat banget sih?!" Tanya Mama khawatir, sambil berjalan mendekati ku.
Mama lalu menyentuh kening ku.
"Tapi kamu gak panas. Kamu kenapa, La?"
"Habis ketemu setan, Ma. Serem banget deh. Hii.. ngeri.."
"Ah! Kamu tuh ada-ada aja. Mana ada setan di sini, La?" Ucap Mama tak percaya.
__ADS_1
"Iih.. Laila beneran gak bohong Ma! Tadi tuh ada setan di jok belakangnya Erlan.."
Pikiran ku langsung tertuju pada kekasih ku itu. Aku tak bisa membayangkan perasaan Erlan saat ku beritahu dia nanti, kalau ia telah memberikan tumpangan pada si Kunti. Mestilah dia tak percaya kepadaku!
"Kamu udah shalat maghrib?" Tanya Mama kemudian.
"Belum, Ma.." jawab ku jujur.
"Ya sudah, sana cepetan shalat. Waktunya sudah mepet ke Isya lho sebentar lagi," Ucap Mama memberikan titah.
Aku pun langsung mengiyakan perintah Mama. Dan aku sengaja mengguyur seluruh badan ku dari kepala hingga kaki. Mencoba membersihkan diri dari tempelan makhluk halus yang sungguh membuat ku merasakan ngeri sesaat tadi.
***
Beberapa hari ke depannya, Erlan tak datang berkunjung. Dalam teleponnya ia mengatakan kalau ia mendadak sakit sepulang dari acara nge date nya kami.
Benakku kembali teringat pada sosok si Kunti yang duduk di jok belakang motornya Erlan saat ia pulang kemarin malam.
'Sudah jelas Erlan ketempelan makhluk itu tuh!' aku sibuk menduga perihal nasib nya Erlan.
Kemudian, aku menceritakan pengalaman horor ku kepada Nunik via telepon di suatu sore. Dan Nunik malah menceramahi ku dengan omelan-omelan nya.
"Lagian, pakai acara nge date segala. Sudah tahu kalau lelaki dan wanita dua-dua an. Pastilah ada aja setan yang jadi pihak ketiga dan menemani mereka. Beruntung banget tuh Lail diketemuin sama setan yang mau nunjukin dirinya ke Lail. Jadinya acara nge date nya Lail langsung cepat selesai, deh. Coba kalau Lail ketemu setan yang jenisnya lain?!"
Dan Nunik menangkap ledekan ku itu.
"Ah, Lail mah gitu! Suka ngeledekin Nun deh. Nun juga gak tahu sih tentang dunia persetanan. Yang Nun tahu, memang ada jenis setan lain yang suka menemani laki-laki dan perempuan yang lagi asik dua dua an."
"Setan yang kayak gimana, sih, Nun? jadi penasaran.." Tanya ku mengulang.
"Itu loh.. jenis setan yang suka ngipas-ngipasin hasrat birahi nya lelaki dan perempuan, sampai akhirnya terjadilah perbuatan zina!"
"Dih. amit-amit, deh. Laila juga gak sampe berbuat gitu lah, Nun. Lail juga tahu batasannya pacaran tuh sampai mana. Sayang banget kalau kita ngasih harta berharganya milik kita ke lelaki yang belum tentu jadi suaminya kita nanti!" Ucap ku panjang lebar.
"Pemikiran yang cukup bagus, itu, il. Walau, Nun juga menyayangkan sih karena Lail mau aja diajak hubungan pacaran sama Erlan. Daripada pacaran sekarang, mending langsung nikah aja dulu, il. Biar kalau udah halal, baru deh kalian puas-puasin pacaran. Udah enak, gak dapat dosa lagi! Malahan dapat pahala lho, il!" Nunik berceramah panjang lebar.
Mendengar ceramah nya Nunik itu, spontan saja aku menggaruk-garuk kepala ku yang sebenarnya tak merasa gatal.
Sahabat ku ini sudah cukup sering menceramahi ku perihal pacaran setelah menikah. Sementara aku masih belum bisa menangkap nikmat nya hubungan seperti yang diceramahkannya itu.
"Apa asiknya sih, pacaran setelah menikah?"
__ADS_1
Tanpa sadar, aku malah menyuarakan isi benak ku. Dan Nunik pun akhirnya kembali berceramah panjang lebar nan luas.
"Lail.. lail.. pacaran setelah menikah itu enak banget Lah! Kita bebas pandang-pandangan, pegangan tangan, sentuh-sentuhan, juga berhubungan intim tanpa perlu takut dengan dosa yang menyertai seperti yang selalu membayangi hubungan dua orang yang bukan mahrom."
"Coba Nun tanya, Lail udah pegang-pegangan tangan belum sama Erlan?"
Aku spontan menjawab, "ya udah lah. Wajar kan Nun. Cuma pegangan tangan doang.."
"Astaghfirullah, il.. itu dosa lho. Jangankan pegangan tangan dengan alasan kasmaran. Bersalaman sama lelaki yang bukan mahram aja gak diperbolehkan. Dosa nya sebanding seperti kena cipratan api neraka. Panas, il!"
Aku diam mendengarkan. Rasanya mulai gerah mendengarkan ceramahnya Nunik ini. Namun begitu, aku tahu, Nunik menceramahi ku pun karena ia peduli kepada ku. Jadi aku masih diam mendengarkan nya bicara.
"Allah kan sudah jelas-jelas melarang kita mendekati zina, Il. Ada kok dalam nash nya di Q.S Al Isra ayat err,, Nun lupa. Ayat berapa ya?"
"Buahahaa! Yaahh. Bu ustadzah nya lupa. Payah nih ah..!" Aku spontan tertawa meledeki Nunik.
"Oh ya. nun inget. Maaf ya, il. Maklum lah. Lagi banyak tugas evaluasiin RPP pengajaran nih. Jadi Nun gampang lupa. Hehehe.."
"Iya, bu Ustadzah Nun.. murid mu ini siap menunggu mu teringat dengan ayat quran nya ya.." seloroh ku kemudian.
"Iya. Iya. Apaan sih, ustadzah ustadzah an segala. Tapi Nun aminkan deh ucapan nya Lail. Siapa tahu Nun nanti bisa beneran jadi ustadzah kondang macam Mamah Dedeh atau Teh Ninih nya Aa Gym ya, il?"
"Iya. Iya.. jadi, sekarang Nun udah ingat tentang ayat nya?" Tanya ku mengajaknya kembali fokus.
"Iya. Al quran surat Al Isra ayat 32. 'Dan janganlah kamu mendekati zina. Itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk'. Tuh, il. Mendekati zina aja gak diperbolehkan, apalagi berbuat zina."
"Tapi kan Lail cuma pegangan tangan aja Nun.." aku mengajukan protes.
"Serius cuma pegangan tangan aja? Gak pernah.. kissu kissu gitu?" Tanya Nunik penuh selidik.
Aku merasa seperti tertangkap basah. Sehingga aku pun hanya bisa diam dan tak menyahuti pertanyaan Nunik barusan.
"Lail?" Tanya Nunik mengulang.
"Mm.. pernah ciuman sih.. sekali.." ungkap ku jujur pada akhirnya dengan suara yang sangat pelan.
Herannya, Nunik masih bisa mendengar suara pelan ku via telepon ini. Dan langsung saja berujar.
"Tuh kan! Mula-mulanya kerjaannya setan ya gitu tuh. Bikin pandangan jadi tertarik, terus dibikin ngobrol sampai asik, terus mulai berani pegang-pegangan tangan, cium-ciuman, sampai akhirnya kebablasan deh berhubungan. Duh, il. Mending buruan nikah aja deh!" Nunik asal memberikan saran.
Aku yang mendengar sarannya Nunik itu, hanya mampu diam dan tak menyahut apapun. Takut, jika aku menyahut dan kembali menyanggah, Nunik malah akan langsung datang ke rumah ku untuk menjemput ku. Lalu mengantarkan ku ke KUA bersama Erlan.
__ADS_1
'Aishh.. ngeri amat ya!' komentar ku atas hayalan liar ku sendiri.
***