
"Ya.. saya tahu ke mana Mark pergi. Dan ya. Saya memang yang sudah menyuruh Mark untuk pergi tanpa sepengetahuan Mbak La.. " jawab Azki dengan nada yang kelewat santai.
"..."
"..."
"A..apa maksud kamu, Az?! Jadi Mark ada sama kamu?!" Tanya ku setengah berteriak.
"Ya.. dan Nila juga, jika Mbak La ingin tahu," jawab Azki lagi.
"Nila?!! Nila juga sama kamu?!!"
Aku bertukar pandang dengan Papa dan juga Darman. Papa lalu berbisik pelan.
"Tenangkan diri mu, La. Tanya baik-baik. Di mana Azki dan anak-anak berada sekarang," bisik Papa.
"Az.. di.. di mana kamu dan anak-anak sekarang? Aku akan jemput mereka sekarang juga!" Ucap ku penuh haru. Aku lupa pada fakta tentang Azki yang telah membuat Mark pergi. Yang menjadi fokus perhatian ku saat ini hanyalah bahwa kini aku telah mengetahui kalau anak-anak ada bersama Azki.
"Untuk apa saya capek-capek mengajak mereka pergi, kalau saya akan membiarkan mereka pergi bersama Mbak La lagi?" Jawab Azki dengan nada mengejek.
"?!! Apa maksud kamu Az?" Tanya ku dengan amarah yang tertahan.
"Saya akan membawa anak-anak pergi bersama ku Mbak.. mereka adalah reinkarnasi Erlan. Jadi jelas saya akan membawa titisan nya pergi bersama ku. Jika saya biarkan mereka hidup dengan Mbak La, saya khawatir kalau mereka juga akan mati seperti Erlan yang dulu.." ucap Azki seperti dosen yang sedang memberikan perkuliahan pada mahasiswi nya.
"Apa yang kamu bicarakan itu, Az?! Mbak gak ngerti sama sekali dengan omongan mu itu!" Aku mencecar Azki.
"Ck..ck..ck.. sampai saat ini, saya benar-benar heran. Apa yang membuat Erlan bisa cinta sama Mbak La. Menurut saya, Mbak La gak ada istimewa nya. Bodoh. Ceroboh. Dan gak bisa diandalkan!" Cecar balik Azki lewat telepon.
"Bang sat! Tutup mulut mu itu, Az!" Geram Darman meneriaki ponsel di tangan ku.
"Oohh.. ternyata kalian sedang bersama ya saat ini? Yah.. bagus lah. Jadi kalian sekalian tahu saja kalau anak-anak akan tinggal bersama saya mulai saat ini. Jadi jangan berharap kalian bisa bertemu dengan mereka lagi!" Papar Azki mengultimatum.
"Apa maksud kamu, Az?! Mereka anak-anak ku! Kamu gak punya hak untuk membawa mereka pergi! Itu penculikan nama nya!" Geram ku tak kalah sengit seperti Darman sesaat tadi.
"Ya! Kembalikan Mark dan Nila kepada kami sesegera mungkin! Atau kami akan melaporkan mu pada polisi!" Ancam Papa.
"Nah. Itu sih jelas tak bisa saya lakukan, Om. Mereka itu titisan Erlan. Jadi jelas saya akan membesarkan mereka jadi anak yang seperti Erlan. Om dan kalian semua jangan khawatir. Akan saya pastikan anak-anak hidup sehat dan aman bersama saya!" Azki membual.
"Titisan! Titisan! Dari tadi itu aja yang kamu omongin! Bang Erlan tuh udah lama meninggal, brengs*k! Jangan bawa-bawa almarhum ke masalah yang kamu buat ini, Az!" Cecar Darman kembali.
"Erlan masih hidup! Dia hidup dalam diri Mark dan juga Nila!" Teriak balik Azki.
__ADS_1
"Gila kamu, Az!" Cecar Darman.
"Az! Balikin anak-anak ke aku! Mereka itu anak-anak ku!" Aku kembali mengancam Azki.
"Gak akan! Erlan aja bisa tewas saat bersama dengan Mbak La. Apalagi anak-anak yang masih kecil. Bukti nya, Mbak begitu mudah nya kehilangan Nila. Lalu juga Mark. Menjaga mereka saja Mbak gak becus! Bagaimana bisa saya percayakan titisan Erlan ini kepada Mbak?! Jangan harap saya akan mengembalikan mereka lagi kepada Mbak!" Teriakan Azki terdengar sumbang via telepon.
"Brengs*k kamu Az! Beneran gila kamu!" Cecar Darman.
Papa lalu menahan Darman dari bersikap marah-marah terhadap Azki. Papa juga menahan ku untuk bicara kembali. Selanjut nya, Papa mencoba bicara kepada Azki dengan suara yang tenang.
"Nak Azki. Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Jika kita bisa membicarakan nya baik-baik, bukan kah itu cara yang lebih baik?" Tanya Papa dengan kalimat bijak.
"Nah.. Azki memang paling senang dengan Om Ulum. Om selalu saja bisa diajak berpikir kritis. Tak seperti dua anak Om yang kasar dan tak bisa diandalkan itu," ucap Azki.
"Hei!" Darman baru juga hendak membalas umpatan Azki, namun Papa kembali menahan nya dengan isyarat tangan.
Setelah suasana kembali tenang, papa pun kembali bicara.
"Katakan kepada Om. Apa maksud mu membawa anak-anak seperti ini, Az?"
"Jadi begini, Om.."
"..."
"..."
"..."
Aku, Papa dan Darman saling berpandangan saat mendapati Azki yang tak melanjutkan ucapan nya lagi.
Kemudian ku sentuh layar ponsel ku. Dan kami mendapati kalau ternyata ponsel ku telah mati dikarenakan lowbat.
"Cih! Sia lan! Pakai ponsel ku aja Kak!" Darman mengulurkan ponsel nya.
"Ok!"
Aku lalu langsung menekan tombol dial pada nomor Azki yang berada di ponsel milik Darman. Namun..
'Maaf. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Atau berada di luar servis area. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.'
Suara operator telepon itu membuat ku terhenyak.
__ADS_1
"Kok gak aktif sih?" Aku kebingungan.
"Nomor nya benar gak itu?" Tanya Papa.
"Gak tahu, Pa. Kan ponsel Laila nya lowbat."
"Benar kok, Pa. Darman kan masih sempat teleponan sama Bang Azki sekitar sebulan yang lalu," Darman menjelaskan.
"Terus kenapa..?"
"Jangan-jangan dia sengaja nge blokir kah? Atau memang nomor nya langsung dimatiin tadi?" Terka Darman.
"Terus gimana sama anak-anak sekarang?" Aku bertanya pada entah siapa.
"Kita harus lapor polisi, La. Sekarang juga. Jelaskan kepada polisi kalau kita sudah mendapatkan identitas penculik Mark dan juga Nila," ujar Papa.
"Tapi kalau kita lapor polisi, terus nanti Azki nyakitin anak-anak gimana, Pa?!" Tanya ku mulai merasa panik.
"Papa rasa Azki gak akan menyakiti anak-anak," sahut Papa.
"Dari mana Papa bisa tahu hal itu?" Tanya ku tak percaya.
"Feeling Papa bilang begitu, Nak. Sepertinya Azki terobsesi untuk menjaga anak-anak dengan usaha nya sendiri. Kami dengar sendiri kan dari tadi. Bagaimana dia selalu mengaitkan anak-anak dengan mendiang Erlan?"
"Maksud Papa apa?" Tanya ku tak mengerti.
"Papa menduga, seperti nya Azki mempunyai kelainan jiwa, La. Dan dia terobsesi dengan segala terkait Erlan. Papa gak tahu. Trauma seperti apa yang sudah dialami oleh Azki sampai-sampai ia seperti memuja Erlan dalam hidup nya itu," ujar Papa.
Kemudian aku teringat dengan cerita lama mendiang Erlan. Bahwa Azki pernah menyaksikan sendiri bagaimana ibu nya bun uh diri dengan kedua mata kepala nya sendiri.
Baru ketika bertemu Erlan lah kemudian kehidupan Azki mulai kembali berubah menjadi lebih baik.
'Apa karena trauma masa lalu nya itu kah yang membuat Azki jadi seperti memuja Erlan? Dan karena Erlan sudah mati, maka sekarang anak-anak lah yang jadi pelampiasan nya Azki?!' benak ku sibuk menduga-duga.
"Kalau benar kata Papa, berarti Mark dan Nila berada dalam bahaya sekarang ini!" Darman menyimpulkan.
Dan dengan enggan, benak ku pun mengakui kebenaran ucapan adik ku itu.
'Ya Allah.. tolong jaga kedua anak ku!' hati ku kembali melangit kan doa.
***
__ADS_1