
Selesai menelpon Kiyano, aku langsung memberi kabar terkait Azki kepada Mama Mutia, Papa Ulum dan juga Darman. Mereka sama terkejut nya seperti ku saat aku membeberkan beberapa fakta yang mendukung asumsi ku kalau sebenarnya Azki lah yang telah menculik anak-anak.
"Jangan asal tuduh, La. Rasa nya sulit untuk mempercayai ini. Apa enggak sebaliknya, Kiyano lah yang ingin merusak hubungan mu dengan Azki, jadi dia mengarang cerita ini?" Tanya Mama.
"Ma.. yang barusan Mama katakan juga bisa dibilang menuduh lho, Ma. Menuduh Kiyano. Kita harus menanggapi asumsi ini dengan sebijak mungkin," Papa berkomentar.
"Tapi Pa, Azki itu sayang sama anak-anak. Dari anak-anak baru lahir, Azki sudah sering menengok mereka dan ikut merawat Mark dan Nila juga sesekali. Papa juga tahu itu kan?" Sergah Mama beralasan.
"Iya. Papa juga tahu itu. Tapi benar kata Mama tadi, kita memang sebaik nya tidak asal menuduh orang. Bagaimana kalau kita tanyakan dulu baik-baik ke Azki nya. Kita datangi saja rumah nya sekarang. Mumpung belum terlalu malam," saran Papa.
"Telepon saja dulu Azki nya, La. Apa dia ada di rumah atau enggak sekarang ini? Takut nya dia belum pulang kerja kan?" Saran Mama.
"Iya, Ma!"
Baru juga aku mengeluarkan ponsel dari saku ku, saat tiba-tiba saja Darman berkata.
"Sebaiknya jangan telepon Kak Azki, Kak. Mungkin sebaiknya kita langsung saja pergi ke rumah nya. Khawatir jika dugaan ini benar adanya, jadi kak Azki tak akan.."
"..kabur..." Lanjut ku berucap.
Untuk sesaat, suasana di ruang keluarga itu menjadi hening. Masing-masing kami sibuk dengan pikiran kami sendiri.
Baru setelah beberapa waktu lama nya Darman pula yang memecahkan suasana tegang ini.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang juga! Lebih cepat, lebih baik!" Ujar Darman pada kami semua.
Akhirnya diputuskan kalau Mama akan tetap tinggal di rumah. Sementara aku, Papa dan Darman pergi ke flat nya Azki. Ini kami lakukan dengan pertimbangan kesopanan kami terhadap privasi Azki, jika berita ini nyatanya tidak lah benar.
Karena jika berita ini tidak benar, tentu Azki akan merasa tak nyaman dengan tudingan yang disorongkan kepada nya itu, bukan?
Setelah melewati perjalanan setengah jam lebih, mobil ku pun tiba juga di depan flat nya Azki. Kami langsung saja menaiki tangga ke lantai dua, tempat Azki tinggal.
Dari luar, flat nya terlihat cukup besar untuk ditinggali oleh Azki seorang diri.
Sepanjang perjalanan aku dilanda kebimbangan antara berharap bisa menemukan anak-anak dengan segera di flat nya Azki, sekaligus juga berharap kalau Azki bukan lah pelaku penculikan kedua anak ku.
Darman lalu memencet bel yang ada di dekat pintu flat nya Azki. Namun, setelah berkali-kali memencet bel, Azki tak kunjung keluar juga.
Sampai kemudian ada tetangga Azki memberitahukan kepada kami kalau ia melihat Azki yang terburu-buru pindah saat menjelang maghrib tadi sore. Pemuda itu mengangkut dua koper besar dan meninggalkan barang yang lainnya di flat nya itu.
Untuk membuktikan kebenaran ucapan tetangga nya Azki itu, kami pun pergi ke ruang pengurus flat, dan ternyata memang benar. Azki telah pindah secara tiba-tiba sekitar jam setengah lima sore tadi.
Seketika itu pula hati ku langsung mencelos. Ekspresi sama yang juga kulihat terpasang di wajah Papa dan juga Darman.
__ADS_1
Kepindahan Azki yang tiba-tiba ini menguatkan dugaan tentang ia sebagai pelaku penculikan Mark dan juga Nila. Sayang nya kami telat mengetahui hal ini. Dan aku sungguh menyesalkan keterlambatan kami ini.
"Pa! Azki udah pergi, Pa! Terus gimana sama anak-anak?! Di mana mereka sekarang?!" Tanya ku mulai merasa panik.
Papa mengusap-usap punggung ku. Mencoba memberi ku kekuatan dan ketenangan hati.
"Tenangkan diri mu dulu, La. Begini saja. Coba kamu telepon Azki sekarang juga. Tanya baik-baik. Ada di mana dia sekarang?" Papa memberikan usulan.
Dengan tangan bergetar, aku langsung menelpon nomor Azki. Aku ingat, padahal baru saja tadi siang aku menelpon nya. Dan aku sendiri pula yang memberikan ponsel ku kepada Mark. Saat Azki mengatakan ingin bicara kepada Mark.
Jika saja saat itu aku membesarkan volume suara nya, mungkin aku bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Azki kepada putra ku itu.
Sayang nya hal itu tidak ku lakukan. Yang ku ingat hanyalah Mark yang menjadi lebih murung setelah menerima telepon dari 'Papa Azki' nya itu.
Saat itu aku tak berpikir macam-macm. Aku hanya mengira kalau Mark samgat merindukan Nila yang telah tiga hari ini menghilang.
Tapi bila dipikir baik-baik, bisa jadi lewat percakapan di telepon tadi siang itu lah Azki meminta Mark untuk pergi keluar rumah sendirian. Mark mungkin merasa sedih dengan apa yang disampaikan oleh Azki kepada nya. Jadi ia mengutarakan kesedihannya itu lewat gambar orang lidi yang dibuat nya sendiri.
Cukup lama ku dengar suara nada dering dari speaker ponsel ku. Pertanda Azki yang tak kunjung mengangkat telepon dari ku.
Ku tilik jam digital di layar ponsel, ternyata baru pukul 7 lewat sedikit. Seharusnya Azki sedang bersantai saat ini. Tapi entahlah jika ia benar sedang kabur membawa lari kedua anak ku saat ini.
'Yaa Rabb.. tolong jaga Mark dan juga Nila..' lirih hati ku berdoa tanpa suara.
Panggilan dari ku lalu terangkat. Aku bergegas menekan tombol loud speaker pada layar ponsel ku, agar Papa dan juga Darman bisa ikut mendengar percakapan ku dengan Azki.
"Haloo.. Az! Azki.. kamu ada di mana sekarang?!" Tanya ku terburu-buru.
Papa lalu memberi isyarat agar aku bisa lebih tenang dan tak membuat Azki merasa curiga dengan kepanikan dalam suara ku.
Ku ikuti saran Papa, dan berusaha menenangkan diri ku sebisa mungkin.
Jantung ku berdegup kencang menanti jawaban Azki. Sayang nya hingga cukup lama waktu berlalu, kami tak juga segera mendengar suara Azki bicara.
"Az.. aku mau ngobrolin sesuatu sama kamu. Bisa kita ketemu sekarang?" Tanya ku lagi dengan suara yang lebih tenang.
"..."
Lagi-lagi pertanyaan ku tak mendapat jawaban.
Aku mulai merasa gelisah. Ku tekan layar ponsel ku yang sempat menggelap layar nya secara otomatis. Hingga layar ponsel ku itu kembali terang dan menampilkan sambungan telepon yang sedang berlangsung.
Aku tadi sempat mengira jika panggilan ku telah dimatikan oleh Azki. Tapi ternyata memang Azki lah yang tak kunjung bicara hingga waktu telah berlalu cukup lama.
__ADS_1
"Az! Azki.. Mbak mau kasih tahu kabar tentang anak-anak, Az.. mbak dengar kabar baru tentang Mark dan juga Nila.." aku kembali bucara. Kali ini sedikit mengungkapkan tujuan utama ku menelepon nya.
Kemudian aku mendengar suara kresekan seperti gesekan dua barang. Dan tak lama kemudian aku akhirnya mendengar juga suara Azki bicara.
"Mbak La.."
"Az!" Aku berseru senang. Karena akhirnya aku bisa mendengar suara Azki juga.
"Ya.. ini saya, Mbak.. " ucap Azki dengan nada datar.
Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Aku hampir-hampir kebingungan untuk mengatakan apa lagi kepada sahabat nya almarhum suami ku itu.
Lalu ku lihat Darman mengisyaratkan satu kata kepada ku.
'di mana?'
Dan aku langsung cepat tanggap.
"Az.. kamu sekarang ada di mana? Ada yang mau Mbak omongin soal anak-anak.." ucap ku akhir nya.
"Oh.. "
Hanya satu sahutan itu saja yang diucapkan oleh Azki. Dan ia tak lagi menambahkan kata-kata apapun lagi.
Akhirnya aku pun berinisiatif untuk lanjut bicara.
"Mark tadi siang menghilang, Az.. dia diam-diam pergi ke luar rumah sendirian.." lanjut ku bicara.
Aku menunggu jawaban dari Azki. Namun aku hanya mendengar gumaman nya saja.
"Mm.."
Merasa mulai tak sabar dengan percakapan yang tak berkembang ini, aku langsung saja bertanya kepada Azki.
"Apa kamu tahu, ke mana Mark pergi? Apa kamu yang menyuruh Mark untuk pergi tanpa bilang ke aku, Az?" Tanya ku beruntun dengan sedikit emosional.
Ku lihat Papa menggelengkan kepala nya perlahan. Ia tak setuju dengan sikap gegabah ku barusan.
Aku pun tersadar, seharusnya aku fokus menanyakan tentang lokasi keberadaan Azki saat ini terlebih dahulu.
Sayang nya semua kalimat itu sudah meluncur keluar dari mulut ku. Dan aku semakin menyesali ucapan ku itu manakala ku dengar kalimat Azki di detik berikut nya.
"Ya.. saya tahu ke mana Mark pergi. Dan ya. Saya memang yang sudah menyuruh Mark untuk pergi tanpa sepengetahuan Mbak La.. " jawab Azki dengan nada yang kelewat santai.
__ADS_1
***