
"Ngapain di sini?" Aku menatap heran pada kemunculan Kiyano di depan ku saat ini.
Pemuda itu terlihat tampan dengan setelan kemeja hitam polos dan celana khaki, juga sepatu hitam.
"Habis ngelayat ya?" Aku menerka usai melihat penampilan Kiyano.
Kiyano terlihat merengut.
"Siapa yang ngelayat, dan ngelayatin siapa juga sih! Gue tuh sengaja ke sini buat nemuin Lo tahu, La," ungkap Kiyano dengan jujur.
"Mau apa? Aku masih hidup sehat walafiat. Jadi ga usah di layatin deh, Kiy. Bikin merinding bulu kuduk ku aja sih!"
Kiyano makin merengut dengan gurauan ku itu.
"Apaan sih dari tadi ngomong nya ngelayat melulu!" Dumel Kiyano.
"Lha itu, penampilan mu semuanya serba hitam. Apa lagi coba yang bisa ku tebak selain kamu lagi berduka dan habis ngelayat?" Oceh ku masih menggoda Kiyano. Seulas senyuman tersemat cukup lebar di wajah ku.
Akhir-akhir ini, aku memang senang sekali menggoda bos ku itu. Gantian lah. Dari pada aku yang digoda oleh nya, kan kan?
"Dasar cewek aneh! Penampilan kece gini masa iya dibilang mau ngelayat sih!" Ucap Kiyano dengan begitu narsis.
Well, sebenarnya ucapan bos ku itu ada benarnya juga sih. Penampilan Kiyano memang terlihat kece abis. Karena ia juga seperti baru saja memotong rambut.
"Ecie.cie..yang habis potong rambut! Iya deh. Kamu memang kece habis! Udah dulu ya. Aku mau ke dalam dulu nganterin ini kue."
Aku lalu hendak kembali ke kamar berhias. Namun Kiyano menahan lengan kiri ku.
"Kok gue ditinggal sih, La? Gue kan ke sini tuk ketemu Lo!" Kiyano merajuk.
"Lha ini kita udah ketemu kan? Terus mau apa lagi coba? Perasaan aku gak punya hutang deh ke kamu. Jadi jelas, kamu gak bakal datang ke sini tuk nagih hutang kan?" Oceh ku asal.
"Haishh Laila! Sial banget sih. Tadi Lo bilang gue mau ngelayat, sekarang Lo bilang gue tukang kredit? Tega banget sih, Lo!"
Aku semakin menyengir lebar.
'Ah.. indah nian hari ini. Senang rasanya mengerjai bos ku yang tampan ini!' aku bersyair dalam hati.
"Ya udah. Mau kamu apa sih, Kiy? Cepetan. Aku beneran ditungguin Nunik nih di kamar. Kasihan kalau sampai dia kelaparan dan kurus singset nan lunglai.." oceh ku tak jelas.
Di belakang kami, Dira yang ikut mendengar obrolan ku dan Kiyano, tiba-tiba ikut menyahut.
"Hihihi. Mbak Laila bisa aja. Gak mungkin juga sampai mengurus lah, Mbak, dalam sekejap," ucap Dira.
Aku menoleh ke Dira, lalu membalas sahutan nya itu.
"Ya bisa lah kurus, Dir. Kan dipakein korset biar singset set set seeeet.." aku sengaja sedikit melenggokkan pinggul ku.
__ADS_1
"Hihihi.. Mbak Laila lucu!"
"Dan cantik kan, Dir?"
"Iya, cantik!" Dira membeo.
"Laa.. kok gue dicuekin sih!"
Aku kembali memfokuskan perhatian ku ke Kiyano.
"Lha terus mau kamu apa Kiy?" Aku mulai tak sabar. Karena perut ku benar sudah merasa lapar.
"Temenin gue lah! Gue kan tamu. Dan tamu itu kan raja. Jadi lo mesti nurutin apa kata raja dong!" Ucap Kiyano sedikit memaksa.
"Lha iya kamu memang tamu. Tapi tamu tak diundang. Jadi udah ya, bye. Beneran nih Kiy, aku mesti balik nemenin Nunik. Bentar lagi akad nya mau dimulai,"
Aku dan Kiyano mulai jadi pusat perhatian beberapa pasang mata di sekitar kami. Heran benar deh dengan Kiyano ini. Kenapa pula dia datang ke sini, padahal dia tak diundang sama sekali.
Apa katanya tadi? Dia datang ke sini hanya untuk menemui ku? Iih.. romantis sih. Sayang nya, aku bukan lah cewek penggila romansa. Jadi semua perhatiannya itu tak bisa dicerna oleh otak ku yang smart ini.
"Hh.. ya udah gak apa-apa deh. Kalau gitu gue balik aja lah. Sedih gue. Kehadiran gue ternyata gak dianggap sama Lo, La. Padahal gue udah bela-belain datang ke sini untuk ketemu Lo. Gue udah pasang muka tembok dan menerobos kawasan pesta yang gue gak punya akses masuk nya. Tapi Lo ternyata malah.. haishh.."
Sejenak, aku terpaku diam di tempat, saat melihat sosok Kiyano yang berjalan lunglai menuju luar halaman. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku jadi tak tega melihat nya.
"Kasihan banget Mbak itu pacar nya.. udah gak apa-apa. Ajak aja masuk dulu. Minimal diajak makan, Mbak La.." Dira mengompori di belakang ku.
"Kiy! Tunggu bentar!"
"Apa La?"
"Yaudah, aku nanti temenin kamu deh. Tapi aku mau anterin kue ini dulu ya. Aku bisa kok nemenin kamu pas acara akad nanti. Sesudah nya, aku harus nemenin Nunik lagi. Takutnya dia butuh sesuatu kan kasihan kalau gak ada aku."
"Iya, gak apa-apa. Makasih ya La.." ucap Kiyano dengan eskpresi senang di wajah nya.
Selanjutnya, aku kembali ke kamar berhias untuk mengantarkan kue. Lalu setelah menunggu sekitar setengah jam, aku membantu mengantar Nunik ke meja tempat dilangsungkannya akad. Baru setelahnya, ku cari sosok Kiyano yang telah duduk di antara barisan tengah tamu. Aku pun menghampirinya dan duduk di samping bos ku itu.
"Lo lama banget sih, La?"
"Masih bagus aku mau nemenin kamu, Kiy! Udah jangan ngomong lagi. Aku mau nyimak prosesi akad nya Nunik nih!"
Alhamdulillah prosesi akad berlangsung lancar dan hikmat. Aku bahkan hampir meneteskan air mata jika saja tak kulihat Kiyano yang mengusap wajah nya seperti habis berdoa.
"Ngapain kamu, Kiy?" Tanya ku penasaran.
"Berdoa lah. Memangnya Lo gak berdoa barusan?" Tanya balik Kiyano.
"Berdoa buat apa?" Tanya ku masih tak mengerti.
__ADS_1
"Itu lho. Doa sesudah penghulu bilang sah sah kan makbul banget katanya," sahut Kiyano menerangkan.
"Memang nya gitu ya?" Tanya ku sangsi. Lebih ke rasa tak percaya karena pemuda di depan ku ini ternyata memiliki ilmu juga soal agama.
"Iya. Tanya aja nanti sama teman Lo yang baru nikah itu!"
"Oke. Tapi nanti lah. Dia lagi dua duan sama suami nya kan sekarang. Masa iya aku mau nyempil di tengah-tengah mereka?" seloroh ku asal.
"Haishh, Laila! Ngobrol sama Lo rasanya gak pernah ada benarnya ya!" Keluh Kiyano.
"Tapi kamu juga gak pernah beres ngajakin aku ngobrol,kan, Ki!. Ketagihan yaa?" Aku menyengir.
"Bukan. Gue rasa-rasanya beneran deh kena pelet nya Lo!" Tuduh Kiyano setengah bercanda.
"Hei! Gak boleh sembarangan nuduh, loh Kiy! Jatuhnya fitnah itu! Kata Nunik, al fitnatu.. aduh, apa ya bahasa Arab nya?" Aku sibuk mengingat kalimat Nunik terkait fitnah itu.
Namun karena aku tak berhasil mengingatnya, akhirnya aku menyerah dan hanya mengatakan yang kuingat saja.
"Intinya, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Jadi hati-hati sama ucapan mu ya, Kiy!" Aku mengancam.
Kiyano terlihat menaikkan sebelah alisnya.
"Lo serius nasihatin gue soal hati-hati dalam bicara? Gak kebalik tuh, La?" Balas balik Kiyano sambil memberi ku senyuman miring nya.
Merasa terjebak dalam rasa malu hasil ocehan ku sendiri, aku langsung saja mencubit pinggang Kiyano dengan cukup kencang. Setelahnya, aku berdiri dan melangkah menjauhinya.
"Aw, La! Tungguin gue!"
"Tauk ah. Udah sana pulang! Ngapain coba datang ke sini."
Aku bicara sambil berjalan cepat. Tak memperdulikan Kiyano yang kini sudah berjalan sejajar dengan langkah ku.
"Kan gue udah bilang kalau gue ke sini tuh mau ketemu Lo, La. Gue kangen sama Lo!" Ungkap Kiyano tiba-tiba.
Untuk sesaat, langkah ku tersendat. Aku cukup terkejut dengan pengakuan Kiyano itu.
Akhirnya aku berhenti melangkah dan menghadap kembali ke arah Kiyano.
"Gak usah ngegombalin aku deh, Kiy! Aku gak mempan kena rayuan!" Ucap ku tegas dengan suara pelan.
"Gue gak ngegombal, La. Gue serius emang kangen sama Lo. Gue juga gak bisa jelasin. Tapi setelah nyaksiin prosesi akad nikah barusan, tiba-tiba aja gue jadi pingin seriusin hubungan kita."
Aku tersentak kaget.
'Apa maksud omongan nya Kiyano itu?!' benak ku diserbu oleh rasa genting.
"Jadi La, gimana kalau kita married secepat nya?" tanya Kiyano tiba-tiba.
__ADS_1
***