
Minggu sore nya Arline pulang dari honey moon. Ia membawa serta banyak upeti hadiah yang sudah dijanjikannya kepada ku.
Bersama dengan hadiah-hadiah itu, Arline juga membawa banyak cerita tentang perjalanan honey moon nya. Dan aku pun iseng-iseng bertanya tentang gua cacing cahaya yang begitu ingin dilihatnya di sana.
"Apa kamu gak kejatuhan cacing di atas gua nya, Line?" Tanya ku dengan pandangan jenaka.
"Hah? Apa an sih, La?" Arline menatap ku bingung.
"Anyway, selamat yaa udah resmi jadi calon ipar ku. Aku benar senang banget akhirnya kalian udah sepakat mau coblos bola bareng-bareng!" Imbuh Arline.
"Coblos bola apa sih, Line? Bahasa mu itu suka aneh deh," aku menyanggah.
"Ya kalian. Sebentar lagi kan bakal resmi main coblos-coblosan. Hihihi.."
Menyadari arah pembicaraan yang mulai vul gar, ku lempari saja wajah nya Arline dengan bantal lengan yang ada di atas sofa.
"Dasar me syum!"
"Ahahahahahaa!" Arline tertawa terbahak-bahak.
"Tahu deh yang habis dicoblos. Bahasan nya sekarnag ngeress melulu!" Aku meledek.
"Ihihihihi.. Jangan ngerasa illfeel gitu dong, La. Nanti kalau udah tahu rasanya juga kamu bakal ketagihan deh. Apalagi aku tahu banget watak nya Erlan. Diam-diam dia itu menghanyutkan lho!" Bisik Arline ke dekat telinga ku.
Entah kenapa aku merasa wajah ku memanas kala mendengar penuturan Arline yang sungguhan ngeres itu.
'Dasar kucing rumahan sih Arline ini. Bahasan nya tentang kawin melulu!' aku mendumel dalam hati.
"Lagi bahas apa sih kalian berdua? Sampai-sampai suara tawa kalian kedengeran sampai ke lantai atas," tiba-tiba Erlan muncul dari arah tangga.
"Ini loh Kak. Kita tuh lagi bahas tentang mmmpphhh--!!!"
Aku langsung saja menyergap Arline dan membekap mulut nya dengan tangan ku.
Sehingga selama beberapa waktu, aku sibuk bergumul dengan Arline. Sementara Erlan menatap kami dengan pandangan bingung dan juga geli.
Erlan lalu ikutan duduk di sofa ruang keluarga bersama kami. Dan menuang secangkir teh untuk nya sendiri.
Setelah ku rasa Arline tak akan lagi mengatakan hal ngeres di depan Erlan, baru lah aku melepaskan bekapan tangan ku. Namun sayang, memang dasar mulut calon ipar ku ini sedikit ember sepertinya. Karena Arline tiba-tiba saja berkata,
"Kita lagi ngebahas soal malam pertama kalian. Kira-kira Kakak bakal kuat berapa lama ya sebelum ngompol!" Imbuh Arline tiba-tiba.
Aku terlambat menutup mulut Arline karena wanita itu sudah menjauh terlebih dulu dari ku. Sementara itu, Erlan yang sedang meneguk teh nya malah jadi tersedak dan terbatuk selama beberapa waktu.
Dengan kompak, aku dan Erlan pun langsung meneriaki Arline.
"ARLIIIIINE!!!" Koor aku dan Erlan bersamaan.
"Ecie.. cie.. yang udah sehati dan sejiwa meski belum seraga.. sampai ngomong aja bisa kompak gitu sih!" goda Arline di antara derai tawa nya.
Memahami kalimat awal nya Arline, aku kembali dibuat jengah sehingga aku merasa kalau wajah ku mesti lah sudah memerah.
__ADS_1
Saat aku melirik Erlan, ternyata ia pun ikut merasa jengah. Dilihat dari wajah nya yang sudah jelas memerah hingga ke kedua kuping nya.
Aku bersyukur karena kulit ku berwarna cokelat sawo. Jadi wajah malu ku tak terlalu kentara terlihat.
"Awww! Aww! Aww!"
Tiba-tiba saja kudengar suara Arline mengaduh.
Saat kulihat, ternyata Mama Ilmaya sudah berdiri di belakang calon ipar ku itu, dan menjawil telinga kanan sang putri.
"Mama?!" Jerit Arline yang kuping nya masih ditahan sang Mama.
"Apa, Mama? Mama? Dari sebelum nikah sampai sudah menikah, jahil nya kamu tuh masih adaaa aja. Heran. Kamu tuh jahil kayak siapa sih?" Omel Mama setengah bercanda setengah serius.
"Ya mirip Mama lah.. kan Arline anak nya Mama yang cantik, cerdas nan baik hati.." puji Arline, berusaha menjilat sang Mama.
Aku yang mengetahui maksud ucapqn Arline adalah untuk membuat nya terlepas dari amukan sang Mama pun langsung mengompori Mama.
"Jangan percaya sama omongan nya Arline, Ma. Dia perlu dapat pelajaran itu sekali-sekali. Iseng banget bahas yang vul gar-vul gar di depan aku dan Erlan yang belum menikah. Kan gak benar itu, Mah!" Imbuh ku mengompori Mama.
"Iya, Line?!!" Mama kembali menjawil telinga Arline lebih kencang lagi.
"Aww! Aww! Aww! Tapi kan itu semua Arline ucapin buat kebaikan mereka berdua juga Ma! Dan buat Mama juga biar bisa cepat dapat cucu!" Jelas Arline lagi dalam jerit sakit nya.
Kemudian aku merasakan firasat yang tak baik kala mendengar kalimat terakhir Arline barusan. Dan benar saja. Seketika itu juga jawilan tangan Mama Ilmaya pada kuping nya Arline pun terlepas.
Dengan wajah sumringah, Mama Ilmaya langsung berbisik-bisik berdua dengan putri bungsunya itu. Bisikan yang jelas terdengar oleh semua orang di ruang keluarga saat itu.
"Jadi tadi tuh.."
Dan aku pun akhirnya mengaku kalah saat menghadapi duo ibu dan anak di hadapan ku itu asik membincangkan kemampuan Erlan dalam melakukan aksi coblos mencoblos kelak.
Terlebih lagi Erlan yang muka nya sudah merah padam oleh rasa malu dan juga kesal. Dengan wajah kemerahan, Erlan menarik tangan ku untuk bangkit berdiri, meninggalkan dua wanita beda generasi yang sama-sama jahil itu.
"Ayo, Yang. Ku antar kamu pulang!" Ajak Erlan sambil menarik tangan ku.
Aku mengikuti ajakan Erlan dalam diam. Aku hanya menyempatkan memberi salam singkat pada calon mertua dan juga calon ipar ku itu.
"Maa, Line, Laila pulang dulu ya! Assalamu'alaikum!" Sapa ku berpamitan.
"Wa'alaikum salam warohmatullah! Yahh, Sayang. Cepat banget udah mau pulang. Gak mau nginep dulu, La?" Rayu Mama Ilmaya.
"Enggak, Ma. Kasihan dong nanti Mama di rumah nungguin," ucap ku sebelum berbalik pergi.
Ketika langkah ku dan Erlan sudah mencapai pintu, samar-samar aku mendengar teriakan Arline yang pecah ke seantero ruang keluarga.
"Awas Kak! Langsung antar pulang ke rumah ya! Jangan diajak belok ke Shangrilla lho! Ahahahahaha!"
Shangrilla adalah nama sebuah motel yamg cukup terkenal melayani sewa semalam untuk pasangan yang ingin memadu kasih.
Seketika itu juga Erlan mengumpat kesal.
__ADS_1
"Sialan banget sih tuh bocah!"
Aneh nya, saat melihat wajah kesal nya Erlan, aku justru ingin tertawa.
Sampai akhirnya aku tak bisa menahan tawa ku juga.
"Ihihihihi!"
Erlan pun memperlambat langkah nya dan menengok ke arah ku.
"Kamu kenapa, Yang?" Tanya Erlan sambil menatap ku bingung.
"Ihihihihi.. enggak. Gak apa-apa."
Setelah tawa ku sedikit mereda, dan kami sudah berada di dalam mobil nya Erlan, baru lah aku lanjut bicara.
"Kayak nya punya saudara tuh asik juga ya, Lan. Ramee terus!"
Erlan lalu memberiku senyuman kesal.
"Tapi kalau saudara nya semacam Arline, aku jamin deh, Yang. Kamu gak bakal mau punya saudara!" Dumel Erlan.
"Iya kah? Memang nya itu lebih baik dari pada aku yang gak punya saudara ya? Aku tuh sering banget ngerasa kesepian lho, Lan. Karena aku satu-satu nya anak Mama. Apalagi kami cuma hidup berdua aja. Jadi kamu harus bersyukur karena kamu punya saudara. Seiyanya, kamu bisa punya teman untuk bertukar canda, atau berbagi cerita. Karena keluarga gak akan membuka aib saudara nya sendiri bukan?"
Baru juga selesai bicara, aku langsung teringat pada sosok Papa. Yang pada kenyataannya adalah sosok keluarga yang justru malah menyakiti hati keluarga nya sendiri.
Seketika itu juga aku langsung terdiam sedih.
Melihat ku terdiam, seperti nya Erlan salah tanggap dan mengira aku yang bersedih karena terlahir sebagai anak tunggal. Akhirnya ia pun mencoba menghibur ku.
"Tenang La. Jangan sedih gitu dong. Aku janji, kita akan buat anak sebanyak mungkin yang kamu mau ya! Jadi nanti rumah kita gak bakal sepi dari canda tawa nya anak-anak!" Janji Erlan.
Mendengar janji Erlan itu, aku langsung melotot ngeri kepada nya. Dengan spontan, aku pun mencubit kencang lengan atas pria itu.
"Aww!!" Jerit Erlan.
"Dasar Lan-lan! Siapa juga yang mau punya anak kelewat banyak?! Cukup dua aja!" Aku mengotot.
"Hah?! Jangan lah, Yang. Itu mah sedikit. Minimal enam lah?" Mohon Erlan sambil menghidupkan mesin mobil.
"Gila kamu! Enam anak tuh kebanyakan tahu! Memang nya kamu anggap aku apa?! Pabrik anak?!" Aku mengomel.
"..."
"..."
"Yah.. boleh lah.. boleh lah.." imbuh Erlan sambil terkekeh pelan.
"ERLAAAN!!!" Dan aku pun langsung meneriaki nama calon suami ku yang sungguh konyol itu.
***
__ADS_1