
Pernahkah kamu merasa dipermainkan oleh takdir? Aku pernah, dan rasanya sungguh tak mengenakkan.
Begitu mudah nya takdir membuat ku jatuh cinta pada seorang wanita berparas manis nan istimewa. Namun ternyata wanita yang ku cintai malah menolak ku mentah-mentah.
Tapi aku tak menyerah. Dan tetap berada di sisi wanita yang ku cintai. Dengan harapan, kelak ia akan mengakui kesungguhan perasaan ku pada nya. Dan akhirnya luluh dan membalas perasaan ku dengan rasa yang serupa.
Tapi sayangnya, harapan itu juga mesti pupus, karena ternyata dia yang ku cinta, telah mencintai lelaki yang lain nya.
Saat itu, dunia ku rasanya hendak runtuh saja. Sakit benar hati ku ketika melihat Laila, wanita yang ku cintai, sedang asik bercumbu dengan bos kami, Kiyano.
Aku tak pernah menyadari hubungan Laila dan bos kami ternyata sudah sedekat itu. Padahal sepengetahuan ku, selama ini mereka lebih sering bertengkar dari pada bersikap seperti sepasang kekasih.
Aku bahkan merasa jadi lelaki yang paling sering berinteraksi dengan Laila di kantor. Dengan mengantarkan wanita dambaan hati ku itu setiap hendak pulang rumah dari bekerja setiap hari nya.
Tapi dalam satu kesempatan yang menyesakkan itu, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Usai Laila bercumbu dengan Kiyano, ia memandang lelaki itu dengan tatapan seorang pencinta kepada yang dicintanya.
Aku bisa tahu, karena aku sendiri telah merasakan perasaan yang sama kepada Laila. Aku telah mengenal bahasa cinta. Aku bisa merasakan aura cinta. Dan sayang nya, semua aura cinta itu tak pernah ditunjukkan oleh Laila saat ia sedang bersama dengan ku.
Cinta nya Laila tak pernah tertuju kepada ku.
Cinta nya Laila, tak pernah akan menjadi milikku.
...
Hhh..
Merasa tak bisa berbuat apapun selain mundur, aku pun akhirnya mengalah. Aku mengaku kalah. Biarlah aku berdiri di tepi, jika Laila bisa berbahagia dengan lelaki yang ia cintai. Lagi pula jika dibandingkan dengan lelaki itu, aku bukanlah siapa-siapa.
Di saat yang bersamaan, kabar tentang Papa sampai juga kepada ku. Penyakit jantung Papa kembali kambuh dan menyebabkan stroke pada sebagian tubuh nya. Mau tak mau, aku sebagai putra satu-satu nya Papa pun dipaksa untuk pulang dan meneruskan usaha bisnis nya.
__ADS_1
Akhirnya, aku pun kembali pulang ke rumah yang pernah kutinggalkan dua tahun silam, akibat sebuah pertengkaran antara aku dan Papa. Pertengkaran itu harus kulupakan sudah. Karena kini aku diseret menjadi tulang punggung keluarga kami.
Hari pertama aku kembali pulang, Mama menyambut ku dengan tangisan bahagia. Berbeda dengan Arline, adik perempuan ku satu-satu nya, yang justru menyambut ku dengan amarah dan cubitan yang membabi buta.
Arline adalah saudara kembar ku. Wajah kami memiliki kemiripan hampir 80% identik. Hanya saja tinggi Arline terbilang pendek. Tinggi nya bahkan tak mencapai sebahu ku.
Flashback beberapa minggu yang lalu.
Aku masih ingat, saat aku pulang, Arline malah menyambut ku dengan jawilan pada telinga kiri ku yang cukup keras. Sampai aku mengira daun telinga ku akan putus rasanya.
Arline marah kepadaku atas keputusan ku yang kabur dari rumah dua tahun lalu. Ia sungguh kecewa dengan keputusan ku untuk membangkang pada perintah Papa dan memilih untuk hengkang dari rumah.
Aku meminta maaf pada Arline atas kesalahan ku dulu. Namun maaf ku saja ternyata tak cukup untuk membalas semua rindu dan kecewa yang ia rasakan terhadap ku selama dua tahun ini.
Arline malah kembali menjawil ku. Dan tak hanya kuping, namun juga lengan dan pinggang ku.
"Aw! Aw! Aw! Ampun Lin! Ampun! Aduh! Eling, Lin! Jangan jadi adik durhaka kamu, Lin! Aw! Aw! Argh! Mam, help me dong!"
Jeritan ku tak menggerakkan hati Mama. Mama membiarkan ku dimangsa hingga tuntas oleh Arline. Baru ketika dilihatnya kulit ku kemerahan di banyak tempat saja Arline berhenti mencubiti ku.
"Adik durhaka, kamu Lin!" Umpat ku kesal.
"Lebih baik daripada kamu! Kakak durhaka, anak durhaka, cucu durhaka! Mau bilang apalagi hah?!" Omel Arline dengan begitu sengit nya.
Aku tak mampu membalas pernyataan Arline itu. Karena aku sendiri memang merasa jadi anak, cucu dan kakak yang durhaka dalam keluarga ini.
Kepergian ku dua tahun silam benar-benar telah melukai banyak hati keluarga ku. Aku bahkan tak sempat menyaksikan ketika Opung dijemput sakaratul maut nya.
Arline seolah mengerti dengan apa yang melintas di pikiran ku. Karena sedetik kemudian, ia lalu berkata.
__ADS_1
"Opung titip pesan buat mu, Kak. Katanya, Opung mengerti dengan pilihan Kakak dua tahun lalu. Dan Opung tak marah.. Kakak.."
Untuk sesaat, Arline tampak kesulitan melanjutkan ucapannya. Sementara aku sendiri merasa tenggorokan ku mulai tercekat. Seolah ada gumpalan beban yang menyumbat kerongkongan dan dada ku saja.
"Kakak.. adalah cucu kesayangan Opung yang paling berharga. Itu kata-kata Opung sebelum Opung..!!"
Kubawa Arline ke dalam pelukan ku. Ku biarkan ia menangis untuk mewakili perasaan ku yang sebenarnya juga telah basah oleh rasa bersalah.
Opung meninggal karena penyakit Diabetes yang diderita nya, tepat satu bulan setelah aku pergi dari rumah. Sayang nya, saat itu aku masih terlalu marah dan memilih untuk menyepikan diri ku ke sebuah desa antah berantah di sebuah gunung di pesisir utara pulau Jawa. Sehingga aku tak mengetahui perihal wafat nya Opung.
Aku baru mengetahui kabar tentang Opung sekitar lima bulan kemudian. Sayangnya saat itu sudah sangat terlambat bagi ku untuk mendulang maaf. Sudah sangat terlambat bagi ku untuk menyesalkan semua khilaf.
Pusara Opung telah lama mengering. Jasad nya mungkin telah diurai sebagian oleh cacing-cacing tanah yang kelaparan. Sementara permohonan maaf ku pada Papa dan keluarga, telah ditolak mentah-mentah oleh Papa, sebagai kepala keluarga kami.
Papa terlalu marah. Dan aku terlalu merasa bersalah. Pada akhirnya aku pun kembali mengembara dalam kesendirian ku di luar sana. Hingga tak terasa setahun lebih pun berlalu sudah. Atau dua tahun sudah sejak pertengkaran besar ku dengan Papa berlalu.
flash back selesai.
Tapi berita dua bulan yang lalu itu akhirnya membuat ku kembali ke rumah. Karena Papa telah memanggil ku. Karena keluarga ku membutuhkan ku. Dan karena aku pun perlu melarikan diri dari perasaan perih akibat patah hati ku terhadap Laila.
Semua ini ku yakini sebagai jalan yang telah dibuat oleh takdir untuk ku lalui. Meski aku harus kembali diguncang oleh permainan yang dibuat oleh takdir untuk ku.
Karena kini, di depan rumah ku sendiri, wanita yang ku cintai itu berdiri sempurna dengan semua halo keistimewaaannya. Dan dentum jantung tak beraturan, yang telah lama tak ku rasakan, kini kembali mengusik ketenangan dunia ku.
Ba dump. Ba dump.
Ku sadari. Cinta ku pada Laila pada kenyataannya belum lah usai.
***
__ADS_1