
Aku tak tahu apa yang merasuki ku. Tapi yang jelas, aku memang tak bisa menahan diri lagi dari mengeluarkan semua uneg-uneg ku pada akhir nya kepada Papa dan juga Mama.
"Lail kan sudah besar. Masa gak ada yang percaya sih kalau Lail bisa nerima kehadiran Papa lagi dengan lapang dada? Katanya, Mama nyuruh Lail untuk maafin Papa. Ya Lail berusaha untuk maafin Papa. Tapi kenapa malah ngobrol sama Papa di belakang Lail sih, Ma? Gak fair itu namanya!" Aku merajuk sambil terisak-isak.
"Yy..Yang..?" Erlan memanggil ku dengan suara lembut. Ia berusaha meraih bahu ku, namun aku menepis tangan nya itu.
"Apa sih, Yang.. Yang..Yang..Yang! Aku masih mau ngomong! Jadi diam dulu deh, Yang!" Aku spontan mengomel pula pada Erlan.
Dan kulihat mulut Erlan langsung ternganga lebar menatap ku. Sebuah pandangan jenaka kulihat berkelebat di manik mata indah nya itu. Namun aku mengacuhkan Erlan. Perhatian ku berganti terfokus ke arah Papa.
"Dan, kamu!" Tuding ku ke arah Papa.
Wajah Papa ku lihat langsung berubah pucat pasi. Melihat wajahnya, mengingatkan ku pada napi di televisi. Sang napi itu sedang menunggu vonis hukuman mati yang akan dijatuhkan hakim kepada nya sesaat lagi.
"Kamu itu kan Papa ku! Jadi kenapa dari tadi ngomong pakai kata 'saya.. saya.. saya..' Kan itu..itu.." untuk sesaat, aku kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
"Tukang kebun?" Serobot Erlan.
"Bukan! Maksud ku itu tuh.. eee.." aku masih kesulitan menemukan kata-kata. Beberapa saat mulut ku megap-megap tanpa suara.
"Enggak baik?" Serobot Erlan lagi.
"Iya! Eh, bukan! Iishhh! Erlan Malulan ijoo! Bisa diam dulu gak sih! Mau kamu kita batal makan es krim, hah?!!"
Dan ancaman ku pada suami ku itu langsung ampuh. Wajah Erlan langsung menjadi pias. Dan ia akhirnya tak lagi menyerobot ucapan ku lagi.
"Makan es krim" adalah kode rahasia kami untuk menyebut kegiatan making love di hadapan orang lain. Jadi ketika Erlan dan aku sibuk membincangkan tentang makan es krim, sebenarnya lebih sering maksud kami itu adalah ia mengajak ku making love. Aka ber cin ta. Hihihi.
Fokus perhatian ku masih kepada Papa.
"Maksud Laila, manggil gitu di depan anak sendiri kan kedengarannya aneh! Dan gak sopan juga! Lail berasa kayak gak dianggap anak gitu jadi nya sama Papa. Atau apa memang Papa udah gak anggap Lail sebagai anak ya?!" Aku menuding Papa.
Dosa, dosa deh aku jadi nya. Jika Nunik terbangun dari koma nya dan melihat ku marah-marah seperti ini pada Papa, mestilah ia akan menceramahi ku lagi. Di ujung hati ku, aku sedikit berharap Nunik benar akan segera terbangun dari koma nya. Meski itu berarti aku harus mendengar kembali rentetan ceramahan nya, nanti.
Papa langsung bangun dari tempat duduk nya lalu menuju tempat duduk ku berada. Tanpa kata-kata, Papa langsung membawa ku ke dalam pelukan hangat nya, dan tangis ku pun akhirnya kembali pecah seketika.
Begitu aku berada dalam pelukan Papa, tahulah aku kalau ternyata aku begitu menginginkan pelukan ini. Pelukan yang saat aku kecil dulu sering ku dapatkan dari nya sepulangnya Papa dari bekerja.
__ADS_1
Aku ingat, dulu Papa sering sekali mengapung-apungkan ku ke atas sambil berputar-putar. Sebelum akhirnya ia membawaku ke dalam pelukan dan gendongan nya yang tinggi dan lagi tegap. Dulu, Papa adalah super hero ku yang paling hebat. Bahkan lebih hebat melebihi Mama.
Sampai akhirnya terjadinya perpecahan di kemudian hari..
"Maafkan Papa, Nak.. maafkan Papa ya, Nak.. Laila.. Maafkan Papa yang gagal memahami perasaan kamu dan juga Mama. Maafkan Papa yang telah melewatkan banyak waktu berharga mu di masa lalu. Maafkan Papa untuk semua rasa sakit yang sudah Papa torehkan di hati kamu. Di atas semuanya itu, kamu harus tahu, Nak.. kalau Papa sungguh sayang pada mu.." ucap Papa di dekat kepala ku.
"Huaa.....!" Dan aku pun dengan tanpa malu-malu nya langsung menangis kencang. Melupakan fakta bahwa usiaku sebenarnya sudah menginjak 26 tahun. Namun tingkah ku seolah masih seperti anak usia 6 tahun saat ini.
"Menangis lah, Sayang.. menangis lah jika memang itu akan membuat hati mu jadi lebih tenang. Kamu memiliki Papa dan Mama yang sungguh sangat menyayangi mu. Jadi jangan pernah berpikir kalau kami tak menyayangimu, ya, Nak," ucap Mama pula di dekat ku.
Aku langsung mengangkat pandangan ku ke atas, ke arah Mama.
"Jadi, Mama dan Papa mau balik lagi?" Tanya ku to the point kepada Mama.
Dan wajah Mama langsung merah padam. Papa lah yang akhirnya menjawab pertanyaan ku itu.
"Ehemm! Itu.. Papa menyerahkan keputusannya kepada Mama, Sayang. Papa sendiri sih merasa kesalahan Papa terlalu besar. Jadi Papa tak yakin juga kalau Mama masih mau menerima Papa lagi," ucap Papa bernada sendu.
"Bukan begitu, Mas.." sahut Mama terburu-buru.
Di samping ku, ku dengar suara tawa yang tertahan. Dan ku sadari kemudian kalau itu berasal dari Erlan. Aku memelototi suami konyol ku itu. Dan ia langsung diam seribu bahasa.
"Mmm.. permisi.. pesanan nya sudah matang, Mas, Mbak.. mau dimakan sekarang atau gimana ya?" Suara sang pelayan kedai seketika itu juga menyadarkan kami berempat pada keberadaan kami saat ini.
Dengan terburu-buru, aku melepaskan diri dari pelukan Papa. Sambil berusaha menutupi wajah ku dari pandangan pelayan muda itu.
"Makan sekarang aja, Mas. Ya kan, Yang?" Tanya Erlan sambil menyenggol pinggang ku.
Aku kembali memelototi Erlan atas kejahilannya barusan. Karena ucapannya itu perhatian sang pelayan kan jadinya kembali terfokus pada ku. Iishhkk..!
"Ayo. Kita makan saja dulu semuanya! Mutia, ini kwetiau kamu.. Nak Erlan, ayo makan dahulu.." ucap Papa kemudian untuk mengalihkan perhatian sang pelayan dariku.
'Ahh.. Papa memang ter best lah!' puji ku dalam hati.
Pada akhirnya, kami pun menghabis kan pesanan kami dengan hati yang lapang dan juga senang. Aku pun bersyukur dengan akhir dari pembicaraan ini. Tak menyangka sendiri dengan begitu siap nya perasaan ku dalam memaafkan Papa.
Benar kata Erlan, pada dasar nya jauh di lubuk hati ku yang terdalam, aku memang merindukan keberadaan Papa lagi di hidup ku.
__ADS_1
Ku tatap sosok Papa dan Mama yang duduk bersisian. Sesekali kulihat Papa memberikan potongan daging ayam yang ada di piring nya kepada Mama. Dan Mama pun memberikan potongan sosis di piring nya ke piring Papa.
Perilaku yang dulu kuingat sering kali mereka lakukan kala kami sedang makan bersama. Perhatian Papa kepada Mama pun jua sebaliknya masih terlihat sama seperti dulu.
Aku berharap yang terbaik bagi mereka berdua. Entah mereka akan kembali bersama atau tidak, aku akan menyerahkannya kepada pilihan hati mereka sendiri. Meskipun diam-diam aku akan mendoakan kalau mereja akan bersama kembali. Hihihi.
"Yang, ayo dimakan mie telor nya. Ku habisin aja nih boleh?" Tanya Erlan menyadarkan ku.
"Ehh, jangan lah! Aku kan juga lapar tahu!" Omel ku sambil menarik mangkok berisi mie telor itu ke hadapan ku.
"Tadi katanya gak lapar.. tapi habis nangis, lapar juga kan.." goda Erlan dengan suara pelan.
"Udah! Diam! Jangan berisik ah!" Omel ku membalas godaannya Erlan.
Kemudian pergumulan kami pun berhenti kala ku dengar suara Papa berbicara.
"Kalian berdua sungguh mengingatkan Papa pada Papa dan Mama saat masih pacaran dulu. Dulu, Mama pun sering marah-marah tak jelas seperti kamu, Nak!" Ucap Papa menatap lurus pada ku.
"Wahh! Benarkah itu, Pa?! Erlan gak nyangka. Tadinya Erlan pikir, Laila dapat gen suka marah-marah darimana.. soalnya Mama Mutia kan lemah lembut ya kelihatannya. Erlan pikir Laila mirip Papa. Ternyata.."
Mama yang dilirik oleh kami bertiga langsung berdehem kecil, dan berkata. "Itu kan masa lalu, Mas. Jangan lah diungkit-ungkit," ujar Mama dengan wajah malu.
"Apa menurut Papa, Laila bakal jadi selembut Mama nanti, Pa?" Tanya Erlan dengan tak sopan nya.
Kucubit pinggang suami ku itu lagi dan ia pun mengaduh.
"Apaan sih kamu, Yang?!" Omel ku pada nya.
"Ehehee.. bercanda, Yang.. bercanda.." Erlan terlihat menyengir kuda.
Dan setelah beberapa lama, kudengar suara Papa berkata.
"Tergantung gimana cara menempa nya sih, Nak Erlan. Papa juga dulu coba-coba kok menempa Mama Mutia kalian.." ucap Papa dengan nada jenaka.
"PAPA!!" teriak ku dan Mama bersamaan.
***
__ADS_1