Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Nunik Melahirkan (POV Laila)


__ADS_3

Jam tujuh pagi nya, Erlan mengantarkan ku berangkat kerja. Sebenarnya ia membujuk ku untuk mengambil ijin untuk sehari ini. Saat kutanyakan apa alasan yang bisa ku berikan pada bos ku, dengan mudah nya Erlan menjawab, "mau honeymoon sama suami!"


Memang dasar suami ku ini sungguh kelewatan. Nampaknya ia kecanduan untuk mengurung ku di dalam kamar lama-lama. Jika aku menuruti keinginan nya itu, bisa jadi aku akan dikurungnya selama berhari-hari di dalam kamar.


Maka dengan bersikeras, aku pun berangkat kerja. Aku berhasil membujuk Erlan untuk mengijinkan ku berangkat, setelah aku menjanjikannya untuk melayani nya lagi malam nanti.


Meski pun aku langsung diingatkan oleh rasa ngilu di selang kangan yang masih kurasakan hingga saat ini. Namun rayuanku membuahkan hasil. Dengan cengiran lebar, Erlan akhirnya mengantarkan ku bekerja dengan hati yang gembira.


Sebelum ke tempat kerja, Erlan terlebih dulu mengajak ku sarapan di sebuah warung makan Padang. Sedari keluar dari mobil, hingga masuk dan duduk di dalam warung tersebut, Erlan tak henti-hentinya melepaskan tangan ku.


Terlebih lagi aku mendengar sebuah senandung asing yang tak ku kenal keluar dari mulut nya. Begitu duduk, ku tanyakan kepada nya, lagu apa yang sedang dinyanyikannya itu.


Erlan pun menjawab, "Ku Bahagia nya Melly Guslaw".


"Ohh.."


Setelah mengenyangkan perut, Erlan kembali mengantarkan ku hingga ke mall tempat ku bekerja. Baru setelah nya ia pun pamit untuk pergi ke kantor nya sendiri.


Beberapa hari pun berlalu tanpa ada kejadian yang berarti.


Aku sibuk bekerja, berangkat pagi dan pulang sore, dengan diantarkan oleh Erlan. Dan hampir setiap malam nya, aku diajak bergadang oleh suami tengil ku itu. Bergadang dalam sebuah permainan di atas ranjang.


Beruntung aku memiliki tubuh yang bugar. Jadi aku bisa mengimbangi has rat suami ku itu. Meski tetap saja sih. Aku akan bangun dengan mata panda hampir setiap pagi keesokan hari nya.


Saat ku sampaikan keluhan ku itu, Erlan hanya mengecup kening ku singkat dan berujar, "aku pingin kita cepat punya baby, Yang. Pingin lihat mini nya kamu!" Ujar Erlan dengan bersemangat.


"Mini nya aku aja? Mini nya kamu gimana?" Tanyaku penasaran.


"Gak mau. Udah bosan ah sama diri sendiri. Mending kita banyakin anak perempuan aja. Yang mirip kayak kamu.." ucap Erlan kembali.


"Anak perempuan? Di mana-mana juga, biasanya anak perempuan tuh mirip ke bapak nya lho, Yang. Anak laki-laki tuh yang mirip sama ibu nya. Jadi, kamu mau punya anak perempuan aja nih? gak mau punya anak lelaki, Yang?" Tanya ku lagi.


"Engg..gitu ya? tapi punya anak laki-laki itu lumayan menguras emosi lho, Yang. tapi boleh deh. Cuma satu aja. Biar dia yang gantian jagain kamu kalau aku udah gak ada nanti."


"Husy! Ngomong mu ngawur aja sih! Jangan ngomong soal mati-mati ah!" Aku melotot marah kepada Erlan.

__ADS_1


Erlan malah menyengir lebar.


"Kan soal umur tuh gak ada yang tahu, Yang.. lagipula.."


"Udah ah! Ganti topik! Mau bikin baby kok ngobrol nya yang suram-suram sih?! Kamu mau baby kita jadi pemuram ya nanti nya?!" Aku menuding Erlan.


"Ya enggak lah, Yang. Oke. Oke. Jadi, kita ganti ngobrol yang asik deh. Minggu nanti, setelah fitting baju, kita ngadain acara kumpul keluarga yuk!"


"Maksudnya makan-makan gitu?"


"Iya. Makan-makan atau apa lah. Pokoknya kita kumpul-kumpul, Yang. Kan nanti habis acara pesta, kita bakal langsung pergi honeymoon."


"Buat apa sih? Kita kan cuma honeymoon seminggu doang, Yang. Ngapain ngadain acara makan-makan segala sih?" Aku mengajukan protes.


"Anggap aja kayak pesta pelepasan bujang, Yang.."


"Idih.. ngaku-ngaku bujang! Situ udah bukan lagi perjaka ting-ting juga yee!" Aku meledek Erlan.


Erlan menyengir kuda lagi. Sebelum akhirnya kembali bicara.


"Biar pun aku bukan lagi perjaka ting ting. Tapi nanti kan bakal ada calon si otong di perut kamu. Mungkin sepulang nya kita dari honeymoon, kita udah punya calon si otong di perut kamu, Yang.." imbuh Erlan.


"Jangan! Kayaknya kelewat sombong, Yang.."


"Hmm.. benar juga. Kalau gitu.. baby boy?" Usul ku lagi.


"Jangan ah! Sok kebarat baratan banget. Soleh boy?" Gantian Erlan yang memberikan usul.


"Mm.. amiin.. bagus sih.. tapi.. masa iya samaan kayak Nunik sih? Dia juga manggil baby nya soleh boy."


"Gitu ya? Memang nya dia belum lahiran?"


"Belum. Udah lewat tiga hari sih katanya dari HPL nya."


"Apa tuh HPL?" Tanya Erlan penasaran.

__ADS_1


"Hari Prediksi Lahir," jawab ku singkat dan padat.


"Ooh.. kirain Hasrat Pingin Love Love an.." goda Erlan kemudian.


"Dasar me syum! Ngeres mulu sih pikiran mu, Lan!" Aku menegur nya.


"Cuma ke kamu aja kok, Yang, pikiran ku me syum," Erlan mengaku.


"Gombal!" Ledek ku lagi.


"Gak apa-apa lah. Daripada jadi gembel kan kan? Mana mau kamu sama aku, Yang kalau aku jadi gembel," ucap Erlan dengan wajah dibuat sedih.


"Ya gak mau lah! Mau makan apa aku dan anak ku nanti nya kalau aku nikahin gembel!" Aku ikut menyambung candaan nya Erlan.


"Makan cinta dari ku dong, Yang.."


"Gak bakal kenyaang.. yang ada aku kekembungan karena masuk angin lagi!" Omel ku dengan wajah tersenyum.


"Kenapa bisa?" Tanya Erlan kebingungan.


"Ya iyalah! Cinta mu itu kan laksana angin, Yang.. begitu bebas, luas, dalam jumlah yang tak terbatas.." ucap ku dengan nada seolah sedang berpuisi.


Ini membuat Erlan jadi tersenyum-senyum sendiri. Hingga ia mendengar kalimat ku berikut nya, baru lah ia tersadar kalau aku sungguh hanya mencandainya sedari tadi.


"Tapi ya namanya juga seperti angin ya, Yang.. kalau makan angin kan bisa bikin kembung perut. Bisa jadi malah sampai terkentut-kentut. Bau deh kan jadinya!" Ujar ku sambil menutup hidung ku seolah mencium bau.


Seketika itu pula, wajah Erlan langsung merengut sejadi-jadinya.


"Yah, si Ayang.. parah banget sih nyamain cinta ku kayak angin dan kentut bau!" Keluh Erlan setengah bercanda.


Di saat kami masih asik bercanda, tahu-tahu ku dengar ponsel ku berdering nyaring.


Begitu ku angkat, terdengar kabar mengejutkan dari Bu Hajah Mariyah, ibu nya Nunik. Bahwasanya Nunik baru saja melahirkan seorang putri di rumah sakit terdekat.


Maka secepat kilat, usai sambungan telepon terputus, ku ajak Erlan untuk mengunjungi tempat di mana sahabat ku itu melahirkan.

__ADS_1


Aku begitu bersemangat untuk menemui calon nenantu ku yang baru saja lahir ke dunia ini. Hihihi..


***


__ADS_2