
Keesokan hari nya..
Aku tak tahu, kalau making love ternyata bisa dilakukan berkali-kali dalam satu malam.
Flash back semalam tadi..
Semalam tadi, saat Erlan membopong ku ke dalam kamar tidur, aku langsung mengingatkannya untuk shalat isya terlebih dahulu.
Aku ingat dengan pesan Nunik. Kalau ada lima waktu terlarang bagi seseorang untuk tidur.
Kelima waktu itu antara lain: 1. Dilarang tidur sesudah makan, 2. Dilarang tidur di antara waktu ashar dan maghrib, 3. Dilarang tidur sesudah shalat subuh, 4. Tidur sepanjang hari, serta 5. Tidur sebelum menunaikan shalat isya.
Dan aku teringat dengan poin ke lima tadi.
Jika kami langsung making love, maka itu akan membuat kami jadi ber hadats besar. Dan itu berarti kami harus mandi.
Mandi-mandi malam begini? Dih. Masih lebih baik jika kami shalat isya terlebih dahulu. Jadi kami bisa lebih tenang making love nya. Barulah kemudian kami mandi besok pagi nya setelah subuh. Bukan kah itu lebih baik?
Ku paparkan pandangan ku itu kepada Erlan. Dan syukurlah ia menerima saran ku. Dengan bersemangat Erlan menarik ku ke dalam kamar mandi. Kemudian menyuruh ku mengambil wudhu terlebih dulu.
Seperti anak kecil yang kelewat girang, Erlan mengamati ku sepanjang waktu saat aku mengambil wudhu.
Merasa sebal dengan tingkah kekanakan suami ku itu, sesekali aku menyipratkan air ke arah nya. Aneh nya Erlan tak marah. Ia masih saja menyengir kuda ke arah ku.
Selesai berwudhu dan shalat isya berjamaah, begitu aku selesai mengaminkan doa singkat yang dipimpin oleh Erlan, aku langsung dibuat terkejut oleh tingkah suami ku kembali.
Dengan tiba-tiba dan semangat berlebih, Erlan bangun berdiri dan merapihkan peci, sarung dan sajadah yang tadi ia gunakan untuk shalat. Kemudian, Erlan ikut membantu ku melepas mukenah dengan terburu-buru.
"Ayo, La! Cepetan!" Ujar Erlan tergesa-gesa.
"Ihihi.. kamu lucu banget sih, Yang. Kayak takut ketinggalan kereta aja. Lagian kita kan cuma berdua sekarang di sini. Jadi gak usah buru-buru juga gak apa-apa kan.." ucap ku santai.
"Kamu iya bisa santai! Sementara aku udah ngebet banget dari awal kita nikah, Yang!" Tukas Erlan sambil mendorong ku ke arah kasur.
"Kamu gak romantis-romantisan dulu atau gimana gitu, Yang?" Ucap ku diburu-buru.
__ADS_1
"Udah gak kuat, Laila ku sayang.. bisa kan kita berhenti ngobrol sekarang dan langsung ke kegiatan inti aja?" Ajak Erlan.
Erlan merebahkan ku di atas kasur yang empuk. Lalu ia membuka kemeja luar yang ia kenakan. Ia hanya membuka dua kancing teratas nya saja. Lalu menarik kemeja nya ke atas melewati kepala nya.
Saat dalam posisi tangan terangkat itulah aku bisa melihat otot trisep dan bisep suami ku itu yang sungguh menarik mata ini. Err.. aku memang penggila otot. Jadi begitu melihat pria yang sedikit berotot, mau tak mau aku jadi terkagum-kagum.
Syukurlah aku kini memiliki suami yang memiliki otot-otot yang kukagumi. Jadi aku akan memuaskan mata ku ini dengan tampilan daging berotot milik suami ku sendiri. Jelas sudah halal. ihihi..
"Berhenti lihatin aku dengan pandangan lapar kayak gitu, Yang. Kalau kamu mau kita pemanasan dulu!" Ujar Erlan mengancam.
Kutimpakan kaki kanan ku ke atas kaki kiri. Dengan tangan yang seperti bertopang dagu sambil tetap merebahkan diri.
"Memangnya aku ngelihatin kamu kayak gimana sih? Ge er!" Aku menggoda Erlan dengan perangai ku yang menantangnya sedikit lebih berani.
Erlan melepas celana panjang nya terlebih dulu. Sehingga kini ia hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor berwarna hijau botol.
'cabe ijo yang pakai kolor ijo.. xixixi' pikir ku nyeleneh di dalam hati.
Erlan menangkap tawa kekeh ku. Sehingga ia pun bertanya.
Aku pun berbaring miring menghadap Erlan. Lalu, dengan tiba-tiba langsung duduk menimpa pada kedua kaki nya.
Kini posisiku menjadi duduk di atas Erlan. Dan Erlan berada di bawah kendali ku.
Ba dump. Ba dump.
'ya ampun! Kamu mau apa sih, La? Sok sok an duduk di atas suami mu!' gerutu ku pada diri sendiri.
Erlan menyadari aku yang tiba-tiba saja menjadi diam. Maka ia pun kembali bertanya.
"Tadi ketawa. Sekarang malah diam. Kamu masih Laila ku kan, Yang?" Tanya Erlan sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya sendiri.
Gerakan Erlan itu membuat otot trisep dan bisep di tangan suami ku itu jadi semakin terpampang untuk dinikmati oleh kedua mata ku. Tanpa sadar, aku menggigit sedikit bagian bibir bawah ku.
Dan, tahu-tahu, Erlan merubah posisi kami dengan begitu tiba-tiba. Sehingga aku dibuatnya terkejut karena kini posisi ku jadi berada di bawah nya.
__ADS_1
Secara perlahan, kedua napas kami memburu. Netra yang saling terikat satu sama lain, debur jantung yang kian tak beraturan terdengar menyentakkan telinga, menjadi pengantar kesyahduan di antara aku dan juga Erlan.
Sebelum aku tersadar dengan apa yang dilakukan Erlan kemudian, telinga ku masih sempat mendengar Erlan berbisik pelan.
"Jangan bicara. Biar ku cari tahu sendiri jawaban nya.." ucap Erlan kemudian.. sebelum akhirnya membawaku pada penyatuan raga dan juga jiwa.
***
Erlan mengajak ku making love sebanyak.. dua? Tiga kali mungkin? Pertama kalinya itu terjadi, rasanya memang sedikit sakit.. itu sudah bisa ku antisipasi karena aku telah sering mendengar curhatan dari beberapa teman ku tentang malam pertama mereka.
Kemudian, pertengahan malam nya, Erlan kembali mengajak ku bercum bu. Dan kami pun melakukannya lagi.. dan lagi.
Terakhir kali Erlan membangunkan ku menjelang waktu subuh. Aku yang masih mengantuk karena diajak bermain semalam oleh nya menggerutu kesal karena terganggu dari tidur ku.
Karena nya aku tak sadar saat Erlan kembali melakukannya untuk yang ke.. sekian kali. Aku hanya bisa merasakan kenikmatan nya saja. Tanpa mengingat seberapa kali ia membuat ku larut dalam candunya bercin ta.
Sekitar jam lima lewat, Erlan membopong ku ke kamar mandi. Lalu memandikan ku dengan lemah lembut. Aku yang merasa sangat letih, akhirnya membiarkan saja suami ku itu berlaku sesukanya. Aku hanya mengingat untuk membaca doa junub seperti yang sudah pernah diajarkan oleh Nunik kepada ku dulu.
Setelah mandi, Erlan mengeringkan tubuh ku dengan handuk. Lalu memakaikan ku bra, ****** ***** dan juga baju piyama yang memang sengaja kubawa dari rumah.
Erlan melakukan semuanya dalam diam dan senyuman yang tak lekang tersungging di bibir tipis nya itu. Baru setelah selesai saja lah Erlan akhirnya bicara.
"Kamu ambil wudhu dan shalat lah lebih dulu, Yang. Aku gantian mau mandi," ucap Erlan.
Ia lalu menci um kening dan bibir ku dengan singkat. Baru setelahnya beranjak kembali ke kamar mandi shower.
Untuk sesaat aku memperhatikan gerakan suami ku itu. Hingga sosoknya menghilang dibalik tirai di kamar mandi kemudian baru aku beranjak bangun untuk mengambil wudhu.
Saat kaki ku melangkah untuk pertama kali nya, baru lah aku menyadari ketidaknyamanan yang kurasakan di area selang kangan ku. Dengan langkah berjinjit pelan, aku pun menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Sementara dalam hati ku dipenuhi oleh rasa syukur ku kepada Allah. Juga hadirnya kesadaran yang menyertai ku secara tiba-tiba kini. Bahwasanya kini, aku tak lagi menjadi diri ku yang lama.
'i'm not a virgin anymore..' desah ku penuh rasa bahagia.
***
__ADS_1