Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Putus (POV Laila)


__ADS_3

"Lan, kupikir sebaiknya kita putus saja," ucap ku pada Erlan dengan tiba-tiba.


Sejak kedatangan Kiyano tadi pagi, aku jadi memikirkan banyak hal. Tentang perasaan ku yang masih labil, juga hubungan ku dengan Erlan.


Aku merasa berbuat tak adil dan bersalah kepada Erlan, setelah ku sadari kalau rasa cinta ku pada Kiyano ternyata masih sangat besar. Aku bahkan tak yakin kapan perasaan ini akan bisa hilang. Karena setiap kali aku bertemu dengan nya, aku selalu saja didera keinginan untuk menghamburkan diri dalam pelukan lelaki itu.


Bodoh sekali bukan aku?


Padahal aku tahu, kalau Kiyano telah dimiliki oleh wanita lain. Jadi kenapa hati ini tak mau diajak bernegosiasi untuk melupakan nya? Kenapa aku masih memiliki harapan untuk bisa kembali bersama dengan pemuda itu?


Kenapa tidak dengan Erlan saja? Pemuda itu adalah lelaki terbaik yang saat ini paling dekat dengan ku? Kenapa hati ku tak tergerak untuk mencintai nya, seperti aku tergerak mencintai Kiyano?


Ingin rasanya ku belah dada ini, dan ku ukir nama Erlan saja di hati ku. Jika saja itu bisa membuat ku beralih mencintai Erlan. Ku harap aku benar-benar bisa melakukannya. Namun sayangnya, itu hanyalah hayalan ku semata.


Setelah aku mengevaluasi diri, hingga aku bahkan sering mengabaikan Erlan yang berjalan di samping ku sambil mencari hadiah ultah nya Mama Ilmaya, aku akhirnya sampai juga pada satu keputusan.


Bahwa aku harus mengakhiri hubungan ku dengan Erlan.


Aku tak mau menyakiti pemuda itu lebih lama dan lebih dalam lagi. Biarlah ia meraih kebahagiaannya sendiri dengan wanita yang lain yang bisa mencintainya, sama banyak nya seperti ia mencintai ku saat ini.


Aku tak ingin menarik Erlan ke dalam takdir cinta ku yang abu-abu. Yang aku sendiri tak tahu kapan akan ku temukan kembali pelangi indah di jalan cinta ku.


Usai putus dari Erlan, yang jelas, aku juga tak akan mencari dan berhubungan dengan Kiyano. Prinsip ku masih lah tetap sama. Bahwa aku tak mau menjadi rumput liar di pekarangan rumah milik orang lain. Bahwa aku tak ingin menjadi perusak dalam pernikahan milik Kiyano dan juga Bella.


Biar saja aku akan melalui masa sendiri terlebih dahulu. Ku harap dengan kesendirian ku nanti, aku tak lagi menyusahkan hati orang lain. Dan aku akan menemukan oase milikku sendiri dalam padang cinta ku yang gersang ini.


Kembali ke saat ini..


Erlan menatap ku bingung selama beberapa waktu. Sehingga aku pun harus kembali mengulang pernyataan ku.


"Lan, kupikir sebaiknya kita putus saja," ucap ku mengulang.


Kemudian ku lihat mata Erlan berkedip cepat.


"Apa La? Sepertinya aku salah dengar.." ucap Erlan dengan suara yang sedikit bergetar.


Terlebih dulu aku menelan ludah. Rasanya mulut ku sendiri terasa sulit untuk mengatakan kalimat yang akan ku ucapkan ini. Tapi aku harus mengatakannya kepada Erlan. Karena ini kulakukan juga demi kebaikan pemuda itu.


"Aku mau kita putus, Lan. Aku merasa hubungan kita gak akan bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius lagi. Aku.."


Tiba-tiba saja Erlan memotong ucapan ku. Terlebih dulu ia mengambil gelas orange juice ku dan menuangkan isinya ke gelas soda nya yang hampir kosong. Kemudian aku dikejutkan oleh adanya sebuah cincin perak di dasar gelas orange juice ku tadi.


"Kita.. kita bisa lebih serius lagi, La! Aku sudah menyiapkan cincin perak yang cantik ini untuk kamu. Lihat ini, La!"

__ADS_1


Erlan bangun dari kursi nya lalu berjalan hingga ke dekat tempat ku duduk. Kemudian ia setengah berlutut di depan ku lalu meraih jemari tangan kiri ku.


"Lan.. please. Jangan lakuin ini. Aku serius sama ucapan ku tadi, Lan," aku mencoba menolak usaha Erlan yang ingin menyematkan cincin perak tadi ke jari tangan ku.


"No, La. Kamu dengerin aku dulu, okay. Kita bisa lanjut ke hubungan yang lebih serius, La. Kita bisa menikah, punya anak, sampai hidup menua bersama dengan cucu-cucu yang sangat banyak. Kamu tinggal bilang ke aku, kamu mau punya berapa anak? Kita akan bangun keluarga dengan jumlah anak sebanyak yang kamu ingin kan!" Ucap Erlan cukup panjang lebar.


Mendengar kalimat terakhir Erlan, aku jadi ingin menangis. Meski timbul juga sedikit rasa kesal terhadap pemuda di depan ku itu.


'Punya anak sebanyak yang ku inginkan? Memangnya dia pikir aku mau punya anak sebanyak apa?! Sebanyak jumlah tim sepak bola gitu, hah? Dih!' dumel ku dalam hati.


Tapi aku menahan diri untuk tidak menepok pipi nya Erlan. Karena fokus pembicaraan kami bukan lah tentang jumlah anak yang akan kami miliki nanti. Melainkan keinginan ku untuk putus darinya.


Erlan lalu menyematkan cincin perak yang memiliki hiasan dua bunga kecil yang saling bertautan di bagian tengah nya, itu ke jari manis ku.


"Lihat, La. Cincin nya sangat pas sekali dengan jari mu bukan? Ini berarti pilihan ku sudah tepat bukan, La? Jadi, jangan bilang kalau kamu mau putus ya, La. Karena aku ingin menikah dan hidup menua bersama mu," tutur Erlan kembali sambil memandang lurus ke dalam mata ku.


Aku menatap lekat cincin yang tersemat dengan cantik nya di jari manis ku itu. Kemudian ku tatap Erlan yang masih menatap penuh harap kepada ku.


Aku pun menyadari kalau sikap Erlan yang masih berlutut di depan ku kini telah menarik perhatian pengunjung lainnya di restoran. Sehingga terlebih dulu aku pun meminta Erlan untuk bangun.


"Bangun, Lan. Duduk lah lagi di kursi mu," aku memberikan titah.


Erlan yang menatap cemas pada diri ku, akhirnya bangkit juga dari posisi berlutut nya. Ia lalu kembali ke kursi nya yang tadi, masih dengan posisi tangan yang memegang jemari ku yang telah tersemat cincin pemberiannya tadi.


Setelah Erlan kembali duduk di kursi nya, barulah aku melanjutkan kembali ucapan ku.


"Kamu bicara apa sih, La? Aku gak merasa direpotkan kok," potong Erlan.


"Please, dengerin aku dulu, Lan. Aku benar-benar perlu untuk bicara beberapa hal dulu ke kamu. Kamu mau kan dengerin aku?"


"Enggak mau, kalau itu soal putus."


"Hh.. i need you now as my friend, Lan.. (aku membutuhkan mu sebagai teman saat ini, Lan..) please hear me out (tolong dengarkan aku).. kamu udah janji sama aku untuk selalu jadi teman ku kapan pun dan apapun yang terjadi kan, Lan?" Aku menagih janji nya Erlan.


"Shi.t! Jangan jahat gini dong, La.." ucap Erlan sambil menundukkan kepala nya.


Ku raih tangan Erlan yang lain dan ku satukan dengan tangan ku sendiri.


"Aku minta maaf, Lan. Tapi aku akan lebih jahat lagi sama kamu kalau aku biarin kamu terseret dalam hubungan yang gak jelas sama aku, Lan.. kamu harus tahu hal ini, Lan. Aku gak merasa yakin bisa melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius sama kamu saat ini."


"Saat ini? Berarti nanti nanti kamu bisa kan, La?" Tanya Erlan membuat harapan nya sendiri.


"No, Lan. Maksud ku, aku sendiri gak tahu kapan aku merasa yakin bisa move on dan memiliki hubungan serius dengan lelaki lain. Karena nya, aku gak mau kamu habisin masa muda kamu untuk menunggu sesuatu yang gak pasti. Aku berharap kamu bisa menemukan wanita lain yang bisa bahagia bareng-bareng sama kamu.. gak bikin kamu menggantung seperti yang aku lakukan saat ini.." tutur ku panjang lebar.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan mantan mu itu? Kiyano?" Terka Erlan dengan sangat tepat.


Kedua netra kami saling terikat satu sama lain selama beberapa waktu. Pada akhirnya, ku ucapkan juga pengakuan terbesar ku pada Erlan, yang menjadi dasar utama ku mengakhiri hubungan kami.


"Ya, Lan. Aku masih mencintainya. Teramat mencintai nya, hingga bahkan aku sendiri gak bisa mengukur rasa cinta ku kepada nya."


"..."


"..."


"Tak bisa kah kamu memikirkannya lagi, La?.. tak bisa kah kamu memberiku kesempatan untuk menggantikannya?" Tanya Erlan dengan suara yang hampir seperti bisikan.


"..."


"..."


"Hh.. aku sendiri gak yakin, apa aku bisa melupakan perasaan ku padanya ini, Lan. Dia sudah seperti langit saja di hidup ku. Dan aku seperti bumi nya. Meski kami berada di posisi yang membuat kami tak bisa bersatu, namun aku sangat membutuhkan nya," ungkap ku sambil berfilosofi.


Seketika itu juga Erlan melepaskan tangannya dari tautan jemari ku. Kemudian ia menatap ku sengit dan kembali menanyakan satu pertanyaan terakhirnya.


"Apa itu berarti kamu mau kembali kepadanya? dia itu sudah menikah, La!"


Aku diam. Aku merasa sebaiknya aku tak perlu menjawab pertanyaan Erlan itu.


Tiba-tiba saja Erlan beranjak bangun dan berbalik memunggungi ku. Ku tatap punggung kekar pemuda itu dengan hati yang terasa jerih. Entah kenapa aku didera keinginan untuk meminta maaf kepada Erlan. Atau mengatakan apapun yang diinginkan oleh lelaki di depan ku itu, agar ia tak pergi meninggalkan ku kini.


Namun aku menguatkan diri. Ku tatap punggung Erlan yang terlihat begitu kokoh dan jauh itu, dengan pandangan jerih.


"Kalau begitu, kita mungkin sebaiknya memang berpisah di sini, La. Maaf jika semua sikap ku membuat mu muak atau lelah."


Dan Erlan pun berlalu pergi. Meninggalkan cincin perak yang kini terjatuh ke lantai di langkah pertamanya saat meninggalkan ku seorang diri.


Cincin itu terjatuh dan menggelinding hingga akhirnya berhenti di dekat kaki ku. Lalu dengan hati yang sedih, kuambil cincin berukir dua rantai bunga itu, kemudian ku tatap untuk waktu yang cukup lama.


Setelah sosok Erlan tak lagi terlihat oleh netra ku, ku layangkan pandangan ku ke arah jendela. Pandangan ku pun kemudian mengabur oleh buliran kristal bening yang menganak sungai dalam diam di atas kedua pipi ku ini.


Aku menangis.


Menangisi perpisahan ku dengan Erlan.


Menangisi perpisahan ku dengan seorang kawan.


Juga menangisi jalan cinta kami yang harus berakhir oleh lisan ku sendiri.

__ADS_1


"Maafin aku, Lan..hiks..hiks..hiks.."


***


__ADS_2