
'Dalam posisi mengigau itu, saya jelas-jelas mendengar ia menyebutkan dua nama. Mutia dan Laila..'
Saat ini, aku sedang berjalan meniti anak tangga dengan pikiran yang masih terbayang-bayang dengan kata-kata Pak Kiman tadi.
'Dan dalam beberapa kesempatan setelah nya, saya sempat mengobrol juga dengan Papa Non. Dia menceritakan kesalahan dan penyesalan terbesar nya di masa lalu terhadap istri dan anak pertama nya. Saat ia bercerita, saya menilai ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu, Non. Papa Non Laila memang sangat menyesal telah melalaikan Mama dan Non dulu,' ucap Pak Kiman beberapa waktu yang lalu.
Aku masih memikirkan ucapan Pak Kiman tadi. Dan aku pun mencoba menelisik rupa hati ku saat ini. Dan ternyata, aku tak lagi merasakan peras dan benci seperti dulu sebelum aku bertemu kembali dengan Papa.
Yang ku rasakan kini hanyalah sesal dan.. sedih saja.
"Yang..?"
Ku dengar suara Erlan memanggil nama ku. Saat ku angkat pandangan ku ke depan, ternyata aku telah berdiri di puncak tangga, entah sejak kapan. Dan di depan ku kini, Erlan memandangku dengan tatapan khawatir.
"Kamu gak apa-apa, Yang?" Tanya Erlan mengulang.
Erlan meraih bahu ku, kemudian menarik ku ke dalam pelukan nya.
"Kamu kenapa? Apa obrolan mu tadi sama Pak Kiman yang membuat mu seperti ini?" Tanya Erlan kembali dengan beruntun.
".."
Secepat kilat, ku tata lagi hati ku. Semua sedih dan sesal ini akan ku ceritakan kepada Erlan pada waktu yang tepat. Tapi tidak untuk saat ini. Aku belum siap untuk menceritakan nya kepada Erlan.
"Nanti aja ya ku ceritain. Sekarang, kita temuin Mama dan Arline dulu yuk?" Ajak ku separuh memohon.
Erlan melepas pelukannya untuk mengamati wajah ku lekat-lekat. Untuk mengusir kekhawatirannya, aku pun memberi Erlan senyuman terbaik ku.
Kemudian Erlan menghela napas cukup dalam. Ia menatap ku lagi lekat-lekat, mencium kening ku, lalu memelukku sekali lagi. Kurasakan napas Erlan di atas kepala ku saat ia berbicara dengan suara lembut.
"Janji, kamu akan ceritain semua masalah mu ke aku ya, Yang? Jangan dipendam sendirian. Okay?" Pinta Erlan kepada ku.
"Iya. Janji!" Sahut ku pada dada nya Erlan.
Setelah melewati beberapa detik lagi dalam diam, baru lah kemudian Erlan melepaskan pelukannya pada ku. Lalu kami melanjutkan langkah kami menuju ruang nge teh. Dimana di sanalah Mama Ilmaya dan Arline berada saat ini.
__ADS_1
***
"Wahh.. kakak ipar ku yang manis nan baik!! Rindu kamuu!!" Teriak Arline yang langsung beranjak bangun menghampiri ku.
Ku balas pelukan Arline dengan cipika-cipiki. Dan kami melangkah bersama mendekati tempat duduk Mama Ilmaya.
Mama Ilmaya terlihat tersenyum cerah di pinggir jendela. Ia menatap ku dengan pandangan yang sulit untuk ku artikan. Seperti mengharapkan sesuatu yang besar dari ku.
Baru ketika aku dan Erlan duduk lah akhirnya ku ketahui apa yang berada dalam benak Mama mertua ku itu. Dan dari Arline lah aku mengetahui alasan nya, kemudian.
"Jadi, gimana malam pertama kalian? Siapa yang di atas? Siapa yang di bawah? Berapa lama juga kakak ku ini bisa bertahan sebelum mengompol, La??" Tanya Arline beruntun dengan begitu tiba-tiba.
Erlan yang sedang menyeruput teh nya langsung saja tersedak batuk. Sementara aku berhasil selamat, karena aku belum menyentuh cangkir teh ku.
"Arline!" Tegur Mama Ilmaya pada putri bungsunya itu.
"Kenapa, Ma? Mama juga pingin tahu kan? Biar kita bisa nebak siapa yang kira-kira bakal ngasih cucu duluan ke Mama. Aku atau Kak Erlan. Iya, kan Ma?" Sahut Arline blak-blakan.
Mama Ilmaya berdeham menutupi rasa malu nya karena ulah sang anak yang membuka aib nya.
"Tapi aku kan udah harus pulang, Ma, sebentar lagi. Kalau nungguin mereka cerita sendiri kan gak mungkin terjadi lah, Ma.." rajuk Arline.
"Ya ampun! Satu anak ni! Bisa gak sih kamu gak kekanak-kanakan terus, Line?" Tegur Mama Ilmaya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Arline merengut kesal. Dan aku malah merasa kasihan jadinya pada ipar ku itu. Padahal ucapan Arline tadi kan cukup mengesalkan ku juga.
Demi mencairkan suasana yang mulai tegang, aku pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Papa ke mana, Ma?" Tanya ku kepada Mama.
"Biasa lah, mancing. Paling sama Darman atau Mang Ulum.." sahut Mama Ilmaya tanpa pikir panjang.
Kemudian, Mama Ilmaya menyadari ucapan nya. Sehingga ia pun terburu-buru mengoreksi nya.
"Maksud Mama, Papa mu itu tadi katanya mau mancing di kolam belakang rumah sama adik mu, Darman," ucap Mama Ilmaya.
__ADS_1
Ah. Benar. Darman memang adik tiri ku ternyata. Aku sungguh masih menganggap kenyataan ini sebagai mimpi. Tak menyangka kalau aku ternyata memiliki seorang adik yang berusia belasan tahun saat ini.
Kuingat kembali profil Darman di benak ku. Saat ini adik ku itu mungkin akan memasuki SMP beberapa bulan lagi. Aku jadi teringat, Darman pernah mengatakan kalau ia ingin masuk ke sekolah favorit di kota ini. Namun dengan keuangan ayah nya (yang juga adalah Papa ku), ia tak yakin bisa melanjutkan ke sekolah swasta itu.
Tapi dengan mengetahui fakta kalau Darman sebenarnya adalah adik kandung beda ibu dengan ku, aku jadi berkeinginan untuk memenuhi impian nya Darman itu. Apalagi dia juga seorang anak yang cerdas seperti ku, semasa sekolah dulu.
"Ooh.." aku tak menyahut lebih dari satu kata itu saja. Beruntungnya Arline kembali mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain.
"Jadi, kalian tinggal di rumah Mama Mutia untuk sebulan ke depan ini?" Tanya Arline.
"Iya. Baru nanti kami bakal pindah tinggal ke apartemen ku," Erlan lah yang lebih dulu menjawab.
"Beli rumah lah, Lan, buat masa depan kalian nanti. Kalau apartemen kan kayaknya kecil dan gak nyaman juga semisal kalian udah punya anak. Mau Mama bantu carikan, Nak?" Usul Mama Ilmaya.
"Tenang, Ma. Erlan udah ngincer satu rumah kok. Rumah lama sih, tapi kondisi masih bagus. Lokasi nya juga bagus," tutur Erlan menjelaskan.
"Kamu gak bilang ke aku kalau kamu beli rumah, Yang?" Tanya ku menuduh.
Erlan menyengir bersalah.
"Tadi nya sepulang dari sini aku mau ngajak kamu nengokin rumah nya, Yang. Mau kasih surprised gitu. Kalau kamu suka, ya kita deal beli. Kalau kamu gak suka, ya kita cari lagi yang lain," tutur Erlan.
Mendengar ucapan suami ku itu, aku langsung sumringah dibuat nya. Kupandangi wajah Erlan dengan pandangan penuh terima kasih.
'Terima kasih ya, Lan.. karena sudah mencintai ku sampai seperti ini..' batin ku bergumam.
"Ehem! Hem!"
Kudengar Arline berdeham kencang. Membuat koneksi mata di antara aku dan Erlan jadi terputus seketika itu juga.
"Jadi, kembali ke topik awal. Berapa lama kakak ku bertahan sebelum dia bisa mengompol, La?" Tanya Arline.
"ARLINE!!" Hardik Erlan dan Mama Ilmaya secara bersamaan. Sementara aku hanya bisa menahan senyum geli yang hampir tak bisa lagi untuk ku tahan-tahan.
***
__ADS_1