
"Muka mu kenapa, La?"
Aku bertemu Erlan di kantin saat jam makan siang.
Hari ini Nindi tak masuk. Menurut Mas Idham Nindi mengabarkan kalau ia sakit.
'Pantas lah saat acara di pantai kemarin Nindi tak datang. Bisa jadi Nindi sudah mulai sakit saat itu,' aku menerka.
Karena Nindi tak masuk, alhasil aku pergi ke kantin seorang diri. Hiks. Rasanya sepi sekali jika tak ada kawan untuk teman berbincang. Terlebih sedari pagi tadi aku juga tak bertemu Erlan. Mungkin karena aku yang memang berangkat agak kesiangan.
"Erlan?"
Erlan lalu duduk di bangku yang ada di hadapan ku. Kemudian ia menatap lekat wajah ku yang dipenuhi bintik merah.
"Muka mu kenapa, La?" Tanya Erlan mengulang.
"Alergi bulu. Kemarin ada kucing yang tahu-tahu ngedeketin aku. Muncul deh ruam-ruam. Pas banget obat nya habis. Makin parah, deh!" Papar ku menjelaskan.
"Aku jadi jelek ya?" Tanya ku kemudian dengan nada lesu.
Erlan terlihat berpikir keras. Dan ujung-ujung nya malah diam tak menjawab pertanyaan ku tadi. Aku pun jadi sebal padanya. Ku comot saja bakso paling besar yang ada di mangkok nya, lalu memindahkan nya ke mangkok bakso ku sendiri.
"Kok bakso ku diambil sih, La?" Erlan mengajukan protes.
"Kamu nyebelin sih! Jadi ini tuh upeti dari kesalahan mu!" Jawab ku asal.
"Memang salah ku apa?" Erlan menatap ku bingung.
Terlebih dulu aku membelah bakso besar hasil rampasan ku tadi, lalu menambahkan kecap dalam jumlah yang banyak ke dalam mangkok bakso ku sendiri.
"Hiii.. itu bakso apa sop kecap sih? Jangan kebanyakan makan kecap, La.. kecap kan manis. Kamu gak takut gendut apa?"
"Bukti nya aku gak gendut. Memang nya kalau aku gendut, kamu gak suka.."
Aku menghentikan ucapan ku. Tak sengaja malah keceplosan mengatakan hal tabu yang tak seharusnya ku katakan di depan Erlan.
Ku tundukkan wajah ku semakin dalam. Sementara tangan ku memain-mainkan bakso dengan sendok dan garpu yang ku pegang.
Setelah beberapa saat suasana canggung melingkupi kami, Erlan tiba-tiba menusuk potongan bakso yang ada di mangkok ku, lalu menyodorkannya ke mulut ku.
"Bakso tuh makanan, La. Bukan mainan. Jangan dimainin gitu dong. Ini kan bukan bola," seloroh Erlan berusaha mengalihkan topik.
Aku menerima suapan dari Erlan. Merasa terharu karena Erlan masih bisa bersikap normal meski aku telah menolak perasaannya.
Aku pun mengunyah bakso dengan pandangan yang tak pernah lepas dari wajah oriental nya Erlan. Dan malah keterusan disuapi oleh pemuda itu.
Kemudian, ketika Erlan sedang memotong bakso besar yang ada di mangkok ku, ia kembali berkata.
"Aku suka kamu bukan karena fisik kamu, La. Jadi kalau pun muka kamu hancur begini perasaan ku akan tetap sama," ucap Erlan tanpa memandang mata ku.
__ADS_1
Susah payah aku menelan bakso yang ada di mulut ku, saat ku dengar pernyataan Erlan itu. Setelah aku berhasil menelan semuanya, baru lah aku ikut berkomentar.
"Memangnya muka ku hancur banget ya?" Tanya ku dengan pandangan memelas.
"Yahh.. lumayan lah. Dari Mikha Tambayong, jadi nenek nya gerandong," komentar Erlan.
"Mak Lampir dong!"
Aku pun langsung menjawil kuping kiri nya Erlan hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Aduduh! Ampun, La! Ampun Mak Lam--"
"Erlan!" Aku meneriaki Erlan dan semakin menarik kuping nya ke bawah. Membuat ia menundukkan kepala nya untuk mengurangi rasa sakit dari jawilan tangan ku.
Aku tak memperdulikan pandangan orang-orang di sekitar kami. Rasanya tangan ku belum puas menjawil telinga pemuda di depanku ini. Aku lalu berdiri dan hendak menjawil telinga Erlan yang satunya lagi. Namun..
Trak..
"Aduh! Panas!" Aku mengaduh sakit saat lenganku tak sengaja malah tercebur ke mangkok bakso nya Erlan yang masih agak panas.
"Ya ampun, La! Tuh kan!maka nya jangan main-main kalau lagi makan! Kamu kualat tuh ke aku!" Tegur Erlan kemudian.
Aku mencebik kesal.
"Orang lagi sakit malah dinasihatin. Diobatin lah Lan!"
"Iya, iya. Maaf. Mau ke base camp? Kayak nya ada obat deh di sana," ajak Erlan kemudian.
"Bentar, Lan. Aku mau minta plastik dulu!" Ucap ku sebelum akhirnya meluncur pergi ke arah kasir kantin.
Untuk makan di kantin, pembayaran selalu dilakukan di awal. Sehingga sebenarnya usai makan aku bisa langsung pergi. Tapi aku memutuskan untuk kembali ke meja kasir untuk meminta kantong plastik.
Setelah mendapatkan dua kantong plastik, aku kembali ke meja ku semula. Di mana Erlan masih menunggu ku dengan pandangan was-was dan bertanya.
"Itu buat apa, La?" Tanya Erlan saat melihat kantong plastik yang ku pegang.
"Buat bungkus bakso, Lan. Sayang.. lumayan kan itu masih banyak. Punya mu mau dibungkus juga?" Aku menawarkan kantong plastik kepada Erlan.
Dan Erlan langsung menggeleng cepat.
"Kalau gitu, bakso mu buat ku aja ya?" Aku meminta.
"Ambil lah," ucap nya sambil memberiku pandangan takjub.
Aku bisa menebak apa yang ada di pikiran rekan pria ku itu. Akhirnya sambil membungkus bakso di kedua mangkok, aku pun berkomentar.
"Ini kan udah dibeli, Lan. Sayang banget kalau gak dihabisin. Beli nya kan pakai duit ya. Kata teman ku tuh kalau makanan gak dihabisin namanya mobanjir," aku berkelakar.
"Mubadzir, La! Mubadzir!" Koreksi Erlan.
__ADS_1
"Iya. Pokoknya itu lah!"
Setelah membungkus semua isi bakso sampai kuah-kuah nya juga, barulah kemudian aku dan Erlan kembali ke base camp.
Syukurlah kulit ku tidak sampai melepuh. Hanya ada bekas kemerahan saja di bagian lengan yang masih ada bintik ruam alergi nya.
Setelah diberi salep, aku langsung bisa kembali melanjutkan pekerjaan ku di sisa hari itu.
***
Sepulang kerja, Erlan kembali menawarkan diri untuk memberiku tumpangan pulang.
Meski sebenarnya aku masih merasa tak enak hati, tapi aku juga merasa senang dengan tumpangan gratis yang masih bisa kunikmati ini. Hehehe..
Ketika hendak pulang, tiba-tiba saja perut ku terasa mules. Akhirnya aku meminta Erlan untuk menunggu ku sementara aku bertandang ke toilet.
Usai menunaikan hajat ku di toilet, aku bergegas keluar dan hendak kembali ke depan kantor. Tempat Erlan menunggu ku tadi.
Namun ketika aku berada di sebuah tikungan, aku dibuat terkejut oleh tarikan seseorang pada tangan ku. Tahu-tahu aku sudah berada di antara himpitan dinding dan seorang yang muncul entah dari mana. Dan saat aku menengadahkan wajah ku ke atas, mata ku seketika melebar karena terkejut saat mengetahui identitas orang yang sudah menculik ku ke sudut yang sepi orang ini.
"Keong?!"
Bos ku itu mengernyitkan dahi nya. Entah apa yang ada di pikiran nya hingga bersikap mengintimidasi seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan ciuman pertama ku yang telah dicuri oleh nya.
'Enggak! Itu bukan ciuman! Itu cuma kecelakaan dua mulut aja!' aku mengoreksi pikiran ku sendiri.
"Muka Lo kenapa?" tanya si Keong tiba-tiba.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan si Keong. Hanya memelototi nya saja selama beberapa waktu.
"Itu kayak alergi.." terka si Keong. Dan aku masih tetap saja diam dan menatapnya garang.
Setelah beberapa lama saling menatap, si Keong kembali melontarkan tanya.
"Apa hubungan Lo sama temen cowok yang suka nganterin Lo pulang itu, hah?" Tanya Si keong tiba-tiba.
Untuk sesaat, aku menatap bingung pada si Keong. Beberapa detik berlalu sementara kami berdua saling menatap garang dalam diam. Setelah teringat dengan posisi ku saat ini yang ada dalam tawanan si Keong, aku pun langsung menemukan kembali suara ku.
"Dan apa perlunya kamu tahu hubungan ku sama Erlan itu gimana? Kamu bukan siapa-siapa nya aku!" Ucap ku menantang dengan suara lantang.
"Lo..!"
"Apa, hah?! Jangan mentang-mentang kamu bos ku, terus kamu ngerasa punya hak untuk ikut campur kehidupan pribadi ku ya!" Aku kembali mengamuk. Memuntabkan semua kekesalanku terhadap si Keong yang sering bersikap abnormal itu.
"Lo!"
"Apa?! Lo! Lo! Kamu kira aku gak berani, hah?! Jangan harap aku bakal diam aja ngadepin tindak anarkis dan abnormal kamu selama ini. Aku, Laila Matoa, punya keberanian yang lebih besar dibanding keberanian siapapun juga! Aku-- hmmphh!!"
Aku membelalakkan kedua mata. Terkejut oleh serangan ciuman yang dilayangkan oleh si Keong ke mulut ku. Untuk ke dua kalinya...
__ADS_1
***