Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Terbebas (POV Laila)


__ADS_3

Aku tersudut di sebuah tikungan yang sepi orang. Dan mulut ku dikunci oleh mulut si keong breng sek. Sekuat mungkin aku berusaha mendorong si keong, namun daya ku semata tak cukup kuat untuk melepaskan ku dari kurungan tangan lelaki itu.


Sampai kemudian, secara perlahan aku pun ikut larut dalam ciu man yang dipaksakan oleh si keong kepada ku.


'Gila! Berhenti La! Menjauh dari nya!' akal sehat ku berusaha memberikan ku peringatan. Namun entah oleh sebab apa, perlahan aku malah terbuai oleh bujuk setan dan menikmati tekanan demi tekanan, hisapan demi hisapan, juga tarian liar yang dilakukan oleh lidah pemuda itu dalam mulut ku.


Tanpa sadar aku memejamkan kedua mata. Menikmati rasa asing yang sama sekali belum pernah kurasakan ini. Ada sesuatu, rasa asing yang menggelitik perut bawah ku. Sehingga membuat ku malah ingin meraih dan menyandarkan diri pada tubuh lelaki di depan ku itu.


Setelah waktu yang entah berapa lama, tiba-tiba saja mulut ku terbebas. Dan aku merasakan sesuatu menekan lembut dahi ku. Ku buka kedua mata ku pelan-pelan. Dan aku memandangi wajah Kiyano yang menurut ku terlihat sangat lah tampan.


Baru beberapa detik kemudian lah aku akhirnya tersadar dengan apa yang baru saja kami lakukan.


Seketika ku belalakkan kedua mata ku lebar-lebar dan ku dorong Kiyano dengan sekuat tenaga. Kiyano lalu terhuyung ke belakang, dan aku akhirnya bisa terbebas. Tanpa berkata-kata lagi, aku langsung saja berlalu pergi dengan langkah cepat.


Hati ku masih sangat tergoncang dengan apa yang baru saja terjadi.


'Bagaimana bisa aku membiarkan diri ku dici um oleh si keong?! Bagaimana bahkan aku bisa menikmati ciuman yang dipaksakannya kepada ku tadi?! Itu.. itu.. itu sungguh menjijikkan sekali!' amuk ku pada diri sendiri.


'Bodoh sekali kau, Laila! Hanya dengan sebuah ci uman saja kamu bisa luluh dan hampir menyerahkan diri mu pada lelaki breng sek itu! Bodoh! Bodoh! Bodoh!' aku terus saja mendumel.


"Laila! Tunggu!"


Terdengar suara Kiyano memanggil di belakang ku. Dan aku menulikan telinga ku dari panggilan nya itu. Cukup sudah si breng sek itu mengalahkan ku dua kali.


Aku tak mau berdekatan dengan lelaki itu lagi dan membiarkan si breng sek itu menang untuk ke tiga atau empat kali nya.


Enak benar dia menci um ku sesuka hati! Akan ku lapor kan saja dia nanti ke kantor polisi. Agar dia kena Undang Undang Tindak Kekerasan terhadap Wanita! Biar dia dipenjara selama bertahun-tahun lamanya!


Atau lebih bagus lagi jika ia tak perlu keluar dari penjara selamanya! Membusuk di sana bersama lelaki-lelaki breng sek yang kainnya.


"Laila! Tunggu aku!"


Aku tersentak kaget saat tangan ku kembali ditarik oleh Kiyano. Terlebih ketika lelaki itu kembali menghimpit tubuh ku pada sebuah dinding.


Tiba-tiba aku didera oleh perasaan takut. Bagaimana jika Kiyano memaksakan diri nya kepada ku lagi? Dan aku akan kehilangan keperawanan ku, seperti para wanita malang yang menjadi topik utama di acara berita di televisi?


Bagaimana jika nanti aku juga jadi seperti wanita itu, dengan judul berita yang lebih menyeramkan, "Ditemukan Jasad Wanita Muda di Gudang sebuah Perkantoran"!


'Ya ampun, Ma! Laila takut!' jerit ku dalam hati.


Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian, aku pun langsung berteriak sangat kencang.


"Tolooo--!! Hmmphh!!"

__ADS_1


'Sialan! Si brengsek ini malah menutup mulut ku rapat-rapat dengsn tangan nya!' Tampak benar ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja ku teriakkan.


Aku menatap takut pada si breng sek. Benar-benar takut saat memikirkan nasib ku beberapa waktu ke depannya nanti. Sehingga aku sempat tak menggubris apa yang dikatakan oleh si Brengsek kepada ku sedari tadi ia menutup mulut ku.


Kemudian aku mendengar sebuah kalimat mencengangkan yang keluar dari mulut si breng sek. Dan akhirnya aku berhenti panik.


Si brengsek tiba-tiba saja mengatakan, "Gue suka Lo, La! Ya ampun! Gue beneran suka dan mungkin udah cinta sama Lo! Jadi please jangan panik dan bikin kehebohan yang gak jelas kayak tadi! Karena gue bukan kriminal! Gue cuma mau ngobrol sehat aja sama Lo!" Teriak Erlan di depan wajah ku.


Aku membelalakkan mata ku. Kali ini bukan oleh sebab rasa takut. Melainkan terkejut atas apa yang diucapkan oleh si breng sek ini.


'Apa katanya tadi? Dia bilang suka aku?! Mimpi buruk macam apa ini?! Pastilah aku udah bikin dosa besar sampai bisa mimpi seburuk ini!' pikir ku sibuk sendiri.


Memastikan apakah ini hanya sekedar mimpi atau bukan, akhirnya aku membenturkan kepala ku sendiri ke dinding. Dan aku langsung mengaduh sakit. Sebulir air mata bahkan menetes keluar di ujung kedua mata ku.


Hal ini membuat si breng sek cukup terkejut dan langsung melepaskan sekapan tangannya di mulut ku.


"Lo kenapa sih? Ngapain coba, benturin kepala sendiri ke tembok?! udah gila ya?!" Tanya si breng sek sambil mengusap-usap belakang kepala ku yang tadi ku benturkan ke tembok.


Begitu mulut ku terbebas, aku langsung saja mengambil kesempatan untuk kembali berteriak.


"Tolong!! Hmmpphh!"


Dan Si brengsek lagi-lagi menyekap mulut ku. Sementara tubuh ku masih dipepetnya ke dinding. Sehingga aku benar-benar kesulitan untuk bergerak.


Merasa gentar, aku akhir nya spontan menganggukkan kepala.


Dan, setelah beberapa waktu berlalu dengan ia menatap dalam ke kedua mata ku, si breng sek pun akhirnya kembali melepaskan sekapan tangan nya dari mulut ku.


"Lo udah janji untuk diam, dan gue gak akan ngelakuin apa pun yang gak Lo suka!" Ancam si brengsek lagi kepada ku.


Setelah beberapa lama aku hanya diam dan menatap nya garang, si breng sek kemudian menghela napas.


"Lo tuh kebangetan deh La!"


"Kamu yang gila! Kamu yang kebangetan! Bisa-bisa nya nyium orang sesuka hati! Dasar mesum! Psiko! Pedofil!" Aku terus mengumpat dalam kondisi tangan yang digenggam kuat oleh si brengsek di belakang pinggang ku.


Dan tiba-tiba saja ku dapati sebuah senyuman terukir di wajah tampan si Breng sek.


'Tunggu dulu! Kenapa aku pikir si keong tampan?! Gila beneran nih kayak nya aku?' koreksi ku pada pemikiran ku sendiri.


"Lepasin aku, breng sek!" Lepasin gak?!" Aku mengancam si brengsek.


"Gak. Gue gak bakal lepasin Lo sebelum Lo bisa tenang dan mau dengerin omongan gue!" Tantang si breng sek dengan wajah pongah.

__ADS_1


'Sialan! Sombong benar si breng sek ini! Awas saja aku akan melaporkannya pada polisi kalau sampai dia mengurungku semalaman di sini!' tekad ku dalam hati.


Ku tatap si breng sek dengan pandangan garang. Ku kirimkan amarah dan kebencian pada si breng sek melalui kedua mata ku ini.


Setelah beberapa lama waktu berlalu, Si breng sek kembali berkata, "Gue bakal lepasin Lo. Tapi please banget, La, dengerin omongan gue dulu! Bisa gak sih Lo gak langsung lari dan mikir yang aneh-aneh tentang gue! Gue tuh bukan kriminal, La?" Mohon si breng sek dengan nada yang lebih pelan.


Aku mencebik. Tak percaya dengan ucapan lelaki brengsek di depan ku itu.


Namun, ternyata si breng sek menepati janji nya. Ia tiba-tiba saja melepaskan pegangannya pada kedua tangan ku.


"Lihat kan? Gue beneran ngelepasin Lo, La! Jadi please, bisa kan kita ngobrol baik-baik?"


Aku menatap curiga pada si brengsek. Namun setelah beberapa lama, aku akhirnya berkata juga.


"Apa yang mau kamu omongin?" Tanya ku sambil melirik ke arah pintu keluar kantor yang tak jauh di sebelah kanan ku.


"Hahh.. La. Rasanya gue udah pingin hopeless (menyerah) aja deh ngadepin cewek kasar kayak Lo!"


Aku memicingkan mata pada si breng sek. Berani benar dia mengatai ku kasar! Aku bukan cewek kasar! Aku ini pemberani!


"Tapi mau gimana lagi? Gue.."


Aku tak menghiraukan ucapan si breng sek di depan ku itu. Dan langsung saja berlari secepat mungkin menuju pintu keluar.


Aku tak menyia nyiakan kesempatan untuk segera pergi menjauh dari si breng sek. Sehingga begitu sampai di luar gedung, ku cari sosok Erlan ke segala arah. Namun aku tak mendapati sosok nya di mana pun juga.


Masih sambil berlari, mata ku menangkap sosok Mbak-Mbak yang sudah mendekati gerbang keluar dengan kendaraan matik nya. Alhasil aku langsung saja berteriak kencang.


"Tolong!! Mbak MIO tunggu! Tolong aku!"


Seolah mengerti dengan panggilan ku, si Mbak pengendara motor tiba-tiba berhenti dan menoleh. Dan tanpa melambatkan lari, aku langsung melajukan langkah ku ke arah Mbak-Mbak itu.


"Mbak! Tolong aku, Mbak! Aku dikejar-kejar orang jahat Mbak!" Ucap ku terengah-engah.


"Mana orang jahat nya?" Si Mbak malah bertanya.


"Itu Mbak di belakang. Ayo Mbak cepetan pergi! Aku takut banget, Mbak!" Ucap ku bernada genting.


Tanpa ba bi bu lagi aku langsung saja membonceng di belakang Mbak nya. Dan tak lama si Mbak pun menggaskan laju motor nya.


Akhirnya, aku bisa terbebas dari si breng sek Kiyano itu.


***

__ADS_1


__ADS_2