
Usai berpisah dari Laila di depan lobi, aku langsung melangkahkan kaki menuju mushola. Dan di sana, aku bertemu dengan Kak Aryo, suaminya Nunik.
"Kak," aku menyapa.
"Oh! Kamu, Lan. Sama Laila ya?"
"Iya. Laila nya duluan ke ruangan Mbak Nunik."
"Hmm.. kalau gitu, shalat berjamaah yok?" Ajak Kak Aryo.
"Boleh, Kak!"
Dan akhirnya maghrib itu aku berjamaah dengan Kak Aryo dalam ruang mushola yang luas nya terbatas. Selesai shalat, kami pun sempat berpapasan dengan Bu Hajah Mariyah, ibu nya Nunik.
"Jam besuk nya baru buka sepuluh menit lagi. Sementara waktu, kita duduk mengobrol saja dulu ya di sini?" Ajak Kak Aryo kepada ku.
"Boleh, Kak."
Dan perbincangan kami pun berlanjut di bangku yang terjejer rapih di lobi utama rumah sakit. Di sekitar kami, beberapa orang tampak berseliweran. Entah ikut menunggu jam besuk buka, seperti aku dan Kak Aryo, atau ada juga yang memang hendak melakukan registrasi masuk rawat inap.
"Pekan depan bukan, resepsi kalian digelar?" Tanya Kak Aryo tiba-tiba.
"Iya, Kak."
"Tapi kamu mungkin sudah gak deg degan lagi ya. Kan sudah sah," seloroh Kak Erlan dengan pandangan jenaka.
"Hahaha. Gak tahu juga deh, Kak. Tapi saya masih sering deg-degan sih kalau bertatapan sama Laila lama-lama," ungkap ku jujur.
"Alhamdulillah.. itu namanya pertanda sayang. Salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita terhadap pasangan. Beruntung nya bila perasaan itu bisa senantiasa kita jaga ya, Lan, hingga masa tua nanti dengan pasangan kita masing-masing," ucap Kak Aryo dengan bijak.
"Begitu ya, Kak. Hm.. tapi memang nya bisa dijaga sampai tua ya, Kak? Bukannya soal perasaan itu manusia tak punya kendali atas nya?" Tanya ku penasaran.
"Ada benar nya, memang ucapan kamu itu, Lan. Soal perasaan memang kita gak punya kendali. Apalagi seiring dengan berjalanan nya waktu pasti lah akan ada masanya kita merasa bosan atau jenuh dalam melalui rutinitas hubungan yang melulu monoton dengan pasangan kita yang itu-itu aja."
"Maka nya agama kita memperbolehkan untuk berpoligami ya, Kak?"
"Entah. Wallahu a'lam, Lan. Tapi memang secara fakta nya, saat ini jumlah wanita mencapai empat kali lipat dari jumlah lelaki ya, Lan. Jadi anjuran berpoligami itu masih bisa diterima secara masuk akal."
Aku mengangguk-anggukan kepala. Mengiyakan ucapan Kak Aryo itu.
"Tapi jangan lupakan juga syarat utama untuk berpoligami ya, Lan. Harus siap untuk bersikap adil. Ya adil secara nafkah lahir, dan juga dalam memenuhi nafkah batin. Kalau gak siap, mending gak usah deh, ya."
Aku masih mengangguk-anggukan kepala ku dalam diam.
"Kenapa? Kamu memang nya mau poligami in Laila?" Tanya Kak Aryo to the point.
Aku tersentak kaget.
__ADS_1
"Waduh! Enggak lah Kak! Tobat duluan lah saya. Gak berani.." aku mengaku jujur.
Kak Aryo memberi ku senyuman yang lebih lebar dari biasanya.
"Ternyata kamu takut sama istri, toh, Lan?" Canda Kak Aryo.
"Hehehe.. iya, Kak. Saya cukup Laila saja lah. Menghadapi dia yang satu saja belum tentu saya bisa maksimal, Kak. Tahu sendiri kan Laila itu kayak gimana," ucap ku sambil tersenyum membayangkan wajah istri ku itu.
"Yah.. semisal kamu mau poligami, juga gak apa-apa, Lan."
Aku tak menanggapi ucapan Kak Aryo itu. Hanya sebuah senyuman saja yang bisa kuberikan kepada nya.
"Lalu, cara menjaga agar hubungan dengan pasangan bisa tetap asri seperti baru nikah tuh gimana ya, Kak?" tanya ku pada Kak Aryo.
"hmm? versi kakak nih ya? walau sebenarnya Kakak juga masih tahap mencoba-coba ya, Lan. Secara, usia pernikahan kakak juga masih terbilang muda juga seperti pernikahan mu dan juga Laila," ucap Kak Arto dengan rendah hati.
"iya. versi Kak Aryo aja. Siapa tahu bisa saya coba juga sendiri," ungkap ku jujur.
"Kalau menurut saya. Untuk menjaga hubungan dengan pasangan yang paling penting untuk dijaga adalah komunikasi ya, Lan. Selebih nya, sering-sering mengungkapkan sayang, memberikan perhatian-perhatian kecil kepada istri, membantu meringankan pekerjaan rumah istri. Inti nya sih menyenangkan hati istri ya, Lan."
"Oo.. begitu.."
"Itu versi saya ya, Lan. Masih dalam tahap uji coba," seloroh Kak Aryo dengan senyum jenaka.
"Hahaha. Ada-ada aja, Kak Aryo ini."
Nunik kata nya sudah sadar ya, Kak?" Tanya ku kemudian.
"Iya. Alhamdulillah. Bi idznillah ya, Lan (dengan ijin Allah)," sahut Kak Aryo dengan pandangan penuh rasa syukur.
"Kalau anak Kakak sekarang masih di kamar bayi, Kak?" Tanya ku lagi.
"Iya. Insya Allah malam ini mau dipindahkan ke ruangan nya Nunik, kata dokter."
"Berarti si dedek sempat sufor, Kak?"
"Iya, Lan. Ya mau bagaimana lagi. Kan Nunik nya koma ya seminggu kemarin. Memang, menurut dokter, bayi yang baru lahir masih bisa bertahan tanpa minum selama tujuh hari. Tapi kan kita nya gak tega juga ya, Lan."
"Si dedek nya rewel ya, Kak?"
"Alhamdulillah. Putri anak nya gak rewel, Lan. Kata suster nya sih begitu."
"Putri? Itu nama si dedek?" Aku menebak.
"Iya. Putri Aisyah Nur Fahima."
"Wahh.. nama yang bagus itu, Kak!" Puji ku dengan jujur.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Lan."
Sekitar sepuluh menit kemudian, perbincangan ku dan Kak Aryo berlanjut di perjalanan kami menuju ruang inap nya Nunik.
Begitu masuk, netra ku langsung terfokus pada wajah istri ku, Laila. Ia nampak fokus mendengarkan Nunik bicara entah apa.
"Assalamu'alaikum!" Sapa ku dan Kak Aryo bersamaan.
Seketika itu pula perbincangan dua dara di dalam ruangan itu terhenti. Dan netra ku langsung menangkap netra nya Laila yang tampak terkejut saat melihat ku.
Aku memberikan Laila senyuman hangat ku. Walau dalam hati ku diselimuti juga dengan rasa penasaran pada apa yang sebenarnya dibincangkan oleh Laila dan Nunik tadi. Karena kini, Laila menatap ku dengan pandangan melamum.
"Kamu udah shalat, Yang?" Tanya ku pada Laila, saat aku sudah berdiri dekat dengan nya.
"... Belum."
"Kalau gitu shalat dulu aja. Ku antarin ya?" Aku menawarkan bantuan.
".. boleh."
Sebenarnya, aku ingin bertanya lebih lanjut kepada Laila. Karena istri ku itu tampak seperti sedang merenungkan sesuatu. Namun aku menahan diri, karena kami tak hanya berdua saat ini.
"Mbak Nun. Sudah baikan, Mbak?" Aku menyapa Nunik yang terlihat begitu segar. Tak nampak seperti pasien yang baru saja melahirkan.
Nunik memberiku senyuman ramah.
"Alhamdulillah, Lan. Sudah jauh lebih baik."
Setelah beberapa saat suasana sempat menghening, Laila pun akhirnya berpamitan kepada Nunik.
"Kalau gitu aku sekalian pamit pulang deh ya, Nun. Kamu cepat sehat. Biar bisa cepat pulang ke rumah," ucap istri ku, Laila.
"Iya, il. Tadi sih dengar kata dokter. Katanya kalau hasil check up ulang Nun bagus, besok siang juga Nun udah boleh pulang," sahut Nunik dengan pandangan hangat.
"Aamiin.. ya udah. Aku pulang ya, Nun. Udah malam juga nih. Kak Aryo, titip Nunik ya!" Pesan Laila pada Kak Aryo.
Kak Aryo memberikan anggukan singkat ke arah kami sambil berujar pelan, "insya Allah akan saya jaga."
Dan akhirnya, aku dan Laila pun keluar juga dari ruang inap nya Nunik.
"Kamu shalat dulu kan, Yang, di mushola. Baru kita pulang ke rumah?" Tanya ku pada Laila.
"Iya, Yang," sahut Laila dengan singkat dan padat.
Merasa tergelitik untuk menanyakan apa yang terjadi pada Laila sehingga ia jadi sering melamun usai menjenguk Nunik tadi, aku pun akhirnya memberanikan diri juga untuk bertanya.
"Kamu kenapa sih, Yang? Kayak nya setelah nengok Nunik tadi, malah jadi bengong begini?" Tanya ku to the point kepada Laila.
__ADS_1
***