Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Tak Suka (POV Kiyano)


__ADS_3

Pagi ini, aku terburu-buru berangkat kerja karena aku bangun kesiangan. Aku baru sampai ke kota B dan merapihkan flat tempat tinggal sementara ku selama bekerja di kota ini.


Sebenarnya aku merasa sedih sekaligus senang ketika Ayah mertua ku menawarkan ku naik jabatan dan pindah tempat kerja dari kota A ke kota B.


Senang nya, aku tak lagi harus berjumpa dengan Bayu, kakak ipar nan menyebalkan itu. Sementara sedihnya adalah, aku juga harus hidup terpisah jauh dari Bella, istri ku tersayang.


Bella bekerja sebagai perawat di rumah sakit milik negara. Sehingga ia tak bisa leluasa keluar dan pindah tempat kerja. Menurutnya, ia masih harus bekerja di rumah sakit itu sekitar tiga bulan lagi, agar ia bisa mendapatkan surat rekomendasi untuk pindah ke tempat kerja yang baru.


Alhasil, aku harus menyabarkan diri melakukan LDR (Long Distance Relationship) dengan Bella. Sementara ia menetap hidup di rumah orang tuanya. Aku harus hidup seorang diri di kota B.


Hari ini adalah hari pertama ku masuk kerja di kantor cabang. Aku kini menjabat sebagai kepala manajer. Sebuah jabatan yang kudapatkan dengan kerja keras nan susah payah.


Begitu sampai di kantor, aku langsung menghubungi Bella yang semalam tak sempat kuangkat teleponnya karena aku sudah ketiduran. Kukatakan padanya kondisi flat tempat ku tinggal, yang terletak di salah satu gedung apartemen kelas menengah di kota B. Aku mencoba menceritakan hal-hal baik kepada Bella agar ia tak terlalu menghawatirkan ku yang kini hidup seorang diri.


Aku meyakinkan Bella untuk menjaga pola makan ku. Yang entah bisa ku tepati atau tidak. Mengingat selama ini Bella lah yang selalu mengingatkan ku untuk makan dan beristirahat, mana kala ia mendapati ku larut dalam mempelajari file-file perusahaan hingga lewat tengah malam.


"Pokoknya jangan suka bergadang ya, Mas! Kamu harus pintar jaga kesehatan. Nanti kalau aku udah dapat surat rekomendasi, aku akan langsung menyusul kamu pindah ke kota B," tuntut Bella melalui sambungan telepon.


"Iya, Dek.. Mas akan jaga kesehatan. Kamu juga sehat-sehat ya, Sayang.. jangan sampe dua domba ku mengurus dan kehabisan susu sewaktu kita berjumpa lagi hari Minggu nanti. Kamu jadi kan ke sini hari Minggu?" Tanya ku menggoda.


"Ah, Mas! Obrolan nya mesum aja! Iya. Nanti aku kabarin lagi ya, Mas. Aku harap sih gak ada perubahan mendadak dari jadwal jaga ku. Jadi hari Minggu nanti aku bisa nengokin kamu," ucap Bella.


"Ya.. tapi kalau kamu kecapekan juga jangan dipaksakan ya, Dek. Mas gak mau kamu sampe sakit," aku mengingatkan Bella.


Selama beberapa saat, sambungan telepon terdengar sepi. Bella tak langsung menyahut ucapan ku. Sehingga membuat ku sedikit bertanya-tanya dalam hati.


Terlebih lagi akhir-akhir ini kuamati Bella seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Karena nya aku cemas dengan LDR ini, khawatir malah akan menjadi jalan permasalahan dalam rumah tangga ku dengan Bella.


Namun, ucapan Bella kemudian langsung mengusir kekhawatiran ku tentang nya.


"Iya, Mas, Sayang.. aku akan selalu berusaha untuk tetap sehat buat kamu. Love love you, my hubby.." sapaan sayang nya Bella itu membuat kecemasan yang sempat kurasakan langsung menghilang seketika.


"Love love you too my Lunar Queen (Ratu Bulan).." aku balas memanggil Bella dengan sapaan sayang ku khusus untuk nya.


Lunar Queen yang bermakna Ratu Bulan adalah gambaran ku tentang nya, yang menjadi penerang dalam hidup ku yang sempat terasa kelam sepeninggal Ayah ku beberapa tahun silam.


"Ya udah. Aku tutup dulu ya, Mas. Aku mau siap-siap berangkat jaga nih," pamit Bella.


"Iya. Kamu hati-hati ya, Sayang.. kalau mau makan, ingat aku ya biar nafsu makan mu bertambah!" Seloroh ku menggoda.

__ADS_1


"Ihihii.. Mas ada-ada aja. Udah ah. Kalau ku ladenin, nelpon sama kamu gak bakal beres sampe satu jam ke depan. Baik-baik ya, Mas di sana.. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam warohmatullah.."


Klik. Sambungan telepon pun terputus.


Selesai bertelponan dengan Bella, aku langsung menuju meja kerja ku. Di sana sudah terlihat ada banyak tumpukan file yang harus ku baca. Aku mendesah letih. Belum apa-apa, rasanya aku sudah sangat merindukan Bella.


Namun, langkah ku menuju meja langsung terhenti kala indra penciuman ku menangkap aroma telur busuk.


"Huekk! bau apaan nih! Kayak bau kentut!"


Aku mencoba mencari asal bau busuk itu berada dengan mengendus-endus udara kosong. Ku dapati bau ini berasal dari arah belakang tempat meja kerja ku berada. Akhirnya aku pun melangkah ke sana.


Tapi, baru juga langkah ku menjejak dua kali, ketika kemudian ku dengar suara kentut yang menciut cukup nyaring.


'uuuuttt...'


"Siapa itu?!" Aku menantang siapa pun yang telah mengeluarkan suara ciutan kentut itu.


"Hey! jangan ngumpet deh! ngapain jongkok-jongkok di situ, hah?!" Hardik ku pada sosok wanita yang tampak sedang berjongkok di lantai belakang meja kerja ku berada.


Seketika hati ku melunak kala ku lihat ekspresi ketakutan yang ada di wajah wanita itu. Namun itu tak lama, ketika tiba-tiba saja wanita itu berdiri dan menuding kan telunjuk nya ke arah ku.


"Kamu?!" Teriak wanita OB itu kepada ku.


Aku langsung mengerutkan kening. Kala samar-samar ku ingat kembali wajah manis milik wanita di hadapan ku itu. Serasa kami pernah bertemu entah di mana.


Dan, tiga detik kemudian baru lah ku ingat siapa wanita di hadapan ku itu. Karena dia adalah wanita yang pernah bertengkar dengan ku di pinggir danau Mutiara kala aku sedang menenangkan diri sekitar seminggu yang lalu.


"Elo?!" ucap ku balas menuding nya.


Percakapan kami selanjutnya membuat ku mengetahui kalau dia adalah staf OB di kantor tempat ku bekerja kini.


Aku juga semakin mengetahui kepribadian wanita di depan ku itu yang kelewat berani dan bersikap kurang ajar.


Beruntung nya aku merasa kasihan kepada nya yang baru bekerja sehari di kantor ku ini. Dan seperti nya ia juga menyesali sikap nya yang terlalu menantang atasan itu. Karena nya ku putuskan untuk memberinya kesempatan untuk tetap bekerja di kantor ini.


Meski begitu, aku masih merasa sebal dengan sikap nya yang agak kelewat pemberani dan kasar terhadap atasan (maksudnya aku). Sehingga aku pun sedikit mengerjainya untuk membuatkan ku kopi.

__ADS_1


Tadi nya ku pikir ia sudah handal dengan tugas nya di bidang pelayanan, jadi pikir ku aku hanya akan mengerjainya sekali saja. Tapi selanjutnya, aku malah ketagihan mengerjainya, terlebih ketika ku dapati ia yang tak mahir membuat kopi hitam, pesanan ku.


Setelah lima kali membuatkan ku kopi, baru lah aku berhenti mengerjai wanita kasar itu. Namun aku kembali dibuat terkejut oleh pengakuannya perihal kopi terakhir yang ia suguhkan padaku. Karena ia mengaku kalau kopi yang enak itu bukanlah buatannya.


Selama sesaat aku tertegun. Ku dapati ekspresi tak nyaman di wajah wanita itu. Dan barulah kemudian aku bisa menyimpulkan, kalau wanita di hadapan ku itu adalah seorang yang jujur.


Laila, begitu nama panggilan wanita itu, sepertinya tak nyaman karena menerima pujian ku atas kopi yang enak itu. Karena nya ia mengakui kalau bukan ia yang telah membuatnya. Sebuah sikap yang patut dipuji.


Karena di jaman sekarang ini, di mana banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pujian dengan segala cara yang tak bisa dibenarkan. Sikap Laila sungguh amat jarang ditemukan di masa sekarang ini. Itu jelas menandakan kalau dia seorang yang jujur dan non kolusi.


Selanjutnya, ku minta Laila untuk membuatkan ku kopi yang sama untuk hari-hari ke depan nya. Entahlah. Aku tak berniat untuk menjahili gadis itu lagi. Tapi rasa-rasanya aku ingin dibuatkan kopi hanya oleh nya saja. Pikir ku, pasti lah jiwa iseng ku mulai meronta-ronta. Dan Laila adalah sasaran yang sangat tepat untuk menuntaskan jiwa isengku ini.


Selama sisa hari itu, aku tak lagi bertemu dengan Laila. Karena aku sibuk berada di dalam ruang kerja ku untuk menelaah dan mempelajari semua file terkait perkembangan kantor cabang tempat ku bekerja kini.


Aku baru melihat sosok Laila lagi, ketika aku hendak beranjak pulang.


Ku dapati Laila berjalan seorang diri di jalanan lengang kala aku mengendarai mobil civic hitam ku.


Entah kenapa rasanya aku ingin menawarkan diri untuk mengantarkan Laila pulang. Tapi aku berusaha menepis keinginan sesat itu. Mengingat tak sepatutnya aku yang sudah beristri, malah menawarkan pulang berdua dengan wanita lain. Khawatir nanti malah akan timbul gosip yang akan merusak hubungan ku dengan Bella, istri ku tersayang.


Meski begitu, aneh nya aku tak juga cepat pergi dan melajukan mobil ku menjauh. Dengan perlahan, ku bawa mobil ku mengikuti langkah Laila di kejauhan. Sampai kulihat sebuah pengendara motor yang berhenti dan berbincang cukup akrab dengan wanita itu.


Aku memandang tak suka pada pengendara motor gede itu, entah untuk alasan yang tak ku mengerti sebab nya. Terlebih ketika kulihat Laila membonceng di belakang motor gede itu. Aku pun memutuskan untuk tetap mengikuti keduanya dalam jarak aman.


Sampai kemudian mereka berhenti di pinggir jalan besar, baru lah aku ikut berhenti pula. Lalu kulihat keduanya kembali bercengkrama cukup akrab. Dan perasaan tak suka itu kembali menguasai ku.


Rasanya aku ingin menabrakkan mobil ku ke moge di depan ku itu. Sungguh perasaan yang sangat aneh.


Merasa pikiran ku kacau, aku menenggak separo isi botol air mineral yang ada di jok samping ku. Dan, pemandangan pengendara motor yang mengacak-acak rambut Laila dengan cukup akrab membuat ku tanpa sadar meremas kuat pegangan ku pada botol mineral. Sehingga menyebabkan air nya tumpah ke celana yang ku kenakan.


Ku alihkan perhatian ku untuk mengelap kemeja dan baju ku yang basah dengan tisu di atas dashboard. Setelah selesai, ku lihat pengendara moge tadi telah pergi meninggalkan Laila yang kini berdiri menunggu di pinggir jalan.


Merasa masih kesal, ku lajukan mobil ku cukup cepat saat aku melewati Laila. Begitu sudah melewati wanita kasar itu, aku melihat bayangan Laila melalui kaca spion. Dan spontan saja, aku jadi ingin tertawa.


Laila tampak marah-marah ke arah mobil ku yang telah melesat pergi.


"Dasar cewek pemarah!" Umpat ku sambil tersenyum geli.


***

__ADS_1


__ADS_2