Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Ruam (POv Laila)


__ADS_3

Akibat pulang larut dari pantai, aku pun akhirnya bangun kesiangan pada hari Minggu nya. Aku bahkan tak shalat subuh, karena begitu ku buka kedua mata, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.


Semalam tadi usai diantar pulang oleh Erlan, aku tak langsung lelap tertidur. Pada kenyataan nya penolakan ku kepada Erlan telah menimbulkan sedikit rasa penyesalan juga rasa bersalah di hati ku, terhadap pemuda yang sangat baik itu.


Kini, saat aku menikmati sarapan pagi, pikiran ku masih juga melayang pada Erlan dan hubungan kami nanti nya.


Seperti yang sudah sering terjadi, biasanya lelaki yang sudah ku tolak akan mulai menjaga jarak dari ku hingga akhirnya menjauh. Dan ketika aku membayangkan Erlan juga akan seperti itu, hati ku serasa dicubit oleh tangan yang tak terlihat. Dan jelas sekali aku tak ingin Erlan pergi menjauh dan menghilang.


Aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Apakah keengganan ku ini bisa dikatakan sebagai awal mulanya benih cinta? Apalagi semalam hati ku sempat berdetak kencang saat Erlan mencium ku di kening.


'Duh. Mumet benar rasanya soal percintaan ini! Aku mau konsul saja lah ke Nunik, nanti. Dia kan paling jago nya ngasih nasihat!' aku membatin.


"Ya ampun, Laila! Kamu lagi apa, Nak??" Teriakan dari Mama spontan membuyarkan lamunan singkat ku.


Aku menatap bingung pada Mama. Merasa heran karena Mama masih juga bertanya di saat jelas-jelas aku yang sedang sarapan ini.


"Sarapan lah, Ma. Ngapain lagi coba, kalau lagi megang piring dan nyuap nasi goreng gini, kalau bukan lagi sarapan?" Aku menyahut cukup panjang.


Mama sedikit mengerutkan dahi saat mendengar sahutan ku tadi. Dan aku menyadari sesuatu.


'ups.. kelepasan gak sopan,' batin ku menyadari ucapan ku yang tak sopan terhadap Mama.


Aku pun menyengir kuda. Mencoba meluluhkan hati Mama yang masih terlihat bertekuk-tekuk.


"Sama kucing?" Tanya Mama tiba-tiba.


"Hah?" Aku pun bertanya karena tak paham dengan pertanyaan dari Mama itu.


"Iya kamu lagi sarapan, sama kucing?" Tanya Mama kembali.


Spontan saja, aku langsung menunduk ke arah piring yang ada di pangkuan ku.


Saat ini aku memang sedang sarapan sambil duduk selonjoran melihat tayangan di TV. Tapi ternyata entah sejak kapan yang tak ku sadari, seekor kucing rumahan telah menyusup masuk dan ikut makan dari piring ku.


"Hii!" Aku langsung saja meletakkan piring ku ke lantai dan menjaga jarak sejauh mungkin dari si kucing oren itu.

__ADS_1


Membayangkan kalau sedari tadi aku tak sadar telah menyuap makan nasi goreng telor di piring yang sama bersama si kucing, membuat sekujur tubuh ku langsung merinding ngeri.


Bagaimana lah bisa tidak? Karena aku memang sangat takut dengan hewan satu itu. Karena aku..


"Hacim! Hacim!" Aku pun akhirnya bersin-bersin.


Yap. Bisa ditebak bukan? Aku tak menyukai kucing dan semua hewan berbulu, karena aku punya riwayat alergi dengan bulu.


Seperti sekarang ini. Tak henti hentinya aku bersin dalam waktu yang cukup lama. Terlebih lagi beberapa menit kemudian kulit ku mulai terasa gatal. Membuat ku langsung ingin menggaruknya.


"Jangan digaruk, La! Sebentar Mama ambilkan obat nya ya!" Ucap Mama terburu-buru ke dalam kamar ku.


Sementara itu aku menahan diri dari penyiksaan rasa gatal yang kurasakan saat ini. Untuk mengurangi perasaan gatal itu, aku sengaja mengusap-usap bagian yang gatal dengan cukup keras.


Kemudian ku lihat Mama keluar dari kamar, namun dengan tangan yang kosong.


"Mana obat nya, Ma?" Tanya ku mulai tak sabar.


Sekarang rasa gatal itu mulai menyebar hingga ke sekujur badan. Aku bahkan sudah sering menggeliat ke dinding tembok macam ular keket. Lalu Mama menatap ku dengan pandangan bersalah.


Mama lalu masuk ke dalam kamar nya sambil membawa dompet. Lalu keluar rumah dan menghilang ke balik pintu.


Aku pun jadi putri yang tertinggal. Dengan sekujur badan yang mulai dipenuhi ruam merah dan rasa gatal yang tak mampu ku jelaskan kegatalannya dengan kata-kata.


Menatap kepergian Mama, aku masih sibuk menggesek-gesekkan punggung ku ke dinding sambil mengusap-usap seluruh tangan, leher dan perut ku berkali-kali.


***


Sekitar setengah jam lamanya aku tersiksa oleh sebab alergi bulu yang ku alami. Karena Mama akhirnya pulang juga dari apotek dan menyodorkan ku beberapa pil anti alergi yang dibelinya dari sana.


Sekitar setengah jam kemudian, rasa gatal ku mulai mereda. Dari yang sebelumnya gatal di sekujur tubuh, kini hanya tersisa sedikit gatal di beberapa area tubuh ku saja.


Sayang nya, ruam merah yang telah muncul di wajah, tangan, tubuh dan kaki ku tak kunjung berangsur menghilang.


Ku pandangi wajah ku kini yang hampir dipenuhi oleh bintik-bintik merah di seluruh bagian nya, bahkan hingga ke leher juga.

__ADS_1


"Aduh, Ma.. gimana lah ini muka Laila? Besok kan Lail mesti kerja. Masa iya ijin sih?" Aku mengeluhkan penampilan ku di kaca.


"Sabar ya, Sayang. Semoga saja besok ruam nya sudah gak akan terlalu kelihatan," ucap Mama menghibur.


Aku mengerucutkan bibir. Merasa gamang atas ucapan Mama barusan. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, biasanya ruam-ruam ini baru akan hilang setelah beberapa hari berlalu.


Terbayang sudah di benak ku bagaimana Bagas akan meledek ku nanti. Si kompor meleduk itu pastilah akan senang mendapat bahan untuk menggoda ku sepanjang hari.


"Uughh.. mau ijin kerja, tapi hari rabu nya kan gajian. Kalau Lail ijin kerja dua hari terus tiba-tiba datang pas hari gajian kan kayaknya tengsin abis. Ketahuan banget magabut nya nanti!" Aku mengeluh kembali.


Aku pun melayangkan pandangan kesal pada tersangka kucing yang kini terlihat rebahan di pojok kursi.


'Dasar kucing nyebelin! Nongol gak diundang, udah kenyang malah asik tiduran. Bikin aku jadi dipenuhi ruam! Apes banget sih!' gerutu ku dalam hati.


***


Keesokan hari nya, benar saja. Aku menjadi bulan-bulanan Si Kompor meleduk Bagas dan juga Theo. Padahal aku sudah sengaja menyamarkan diri dan memakai baju juga celana panjang yang dipadu dengan topi pet dan rambut tergerai.


Meski sudah ku usahakan sebaik mungkin, tetap saja Bagas sibuk menggodaku sepanjang hari itu. Yang membuat ku jadi kesal hati adalah ucapannya saat pertama kali kami bertemu di basecamp.


"Ya ampun Laila Majnun! Itu muka kenapa? Puber ke dua ya?" Goda Bagas kepada ku.


"Ngawur! Ini tuh alergi, dodol!" Aku mengomel.


"Hah?! Memang nya dodol bisa bikin alergi ya? Baru tahu, gue.." ucap Bagas dengan nada santai dan raut tak bersalah.


Di saat kekesalan ku sudah memuncak, aku pun langsung melemparkan tutup gelas yang sedang ku pegang ke arah Bagas. Dan tepat mengenai wajah putih nya yang jerawatan itu.


Bletak!


"Aduduh! Ya ampun, La! Jangan KDRT dong!"


"Tahu lah!" Dan aku pun bergegas pergi meninggalkan Bagas yang masih tampak cengengesan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2