Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Makan di Warung (POV Laila)


__ADS_3

Usai perjumpaan tak terduga dengan suaminya Nindi, kedua pasutri itu lalu berlalu pergi tanpa pamit. Nindi menarik lengan suami nya yang terlihat dewasa itu, menjauh pergi dari aku dan Erlan yang masih terkejut dengan fakta yang baru saja kami ketahui tentang nya.


Bahwa Nindi ternyata telah menikah, aku sama sekali tak mengetahui nya. Dan saat kulihat Erlan pun sama terkejutnya dengan ku, aku pun tahu kalau kekasih ku itu tak mengetahui status pernikahan Nindi yang telah tersimpan rapat selama ini.


Lagipula Nindi pandai benar menunjukkan kalau dia adalah wanita yang masih single. Aku membayangkan. Jika saja Erlan sampai jadian dengan Nindi, bisa jadi Erlan lah yang akan dituduh sebagai pelakor, eh, pebinor saat ini.


(Pebinor \= perebut bini orang)


"Kamu gak menyesal, Lan, gak jadian sama Nindi?"


Aku dan Erlan kini sedang menikmati ikan hasil buruannya Erlan di warung yang berada di area danau. Di warung ini memang menyediakan jasa memasak ikan hasil memancing.


Begitu ikan bakar hasil tangkapannya Erlan dan Pak Seno itu ku gigit, aku langsung dimanjakan dengan sensasi segar gurih dan manis di lidah ku. Rasa nikmat nya melebihi daging ikan mana pun yang pernah ku makan!


Erlan yang juga sedang melahap ikan bakar nya, langsung memberi ku pandangan menyolot.


"Sialan benar kamu, La! Ya enggak lah! Bisa-bisa aku dibilang pebinor nanti!" Erlan menyahut dengan raut sebal.


"Hihihi.. ya kali kamu pingin jadi pebinor," goda ku kembali.


"Diih.. amit-amit deh. Daripada jadi pebinor, aku sih mending say bye aja lah. Kayak.." ucapan Erlan menggantung.


Aku menatap bingung pada kekasih ku itu.


"Kayak..?" Aku memburu kelanjutan ucapannya Erlan.


Terlebih dulu, Erlan menatap ku hati-hati. Baru kemudian ia melanjutkan ucapannya tadi.


"Kayak yang aku lakuin pas aku gak sengaja lihat kamu lagi sama Kiyano di dekat toilet dulu.." ungkap Erlan dengan jujur.


Mendengar nama Kiyano, hati ku tanpa kuminta, kembali mengingat perih yang telah lelaki itu torehkan di hati ku. Sampai kemudian ku rasakan tangan Erlan yang mere mas tangan ku. Barulah aku tersadar dengan keberadaan ku saat ini.


"Apa kamu masih mencintai nya, La?" Bisik Erlan penuh tanya.


'Cinta? Aku tak tahu. Yang jelas, hati ku masih merasa sakit setiap kali aku mengingat nama nya,' monolog ku dalam hati.


Tapi kepada Erlan, mulut ku seolah terkunci. Dan aku tak yakin harus memberikan jawaban seperti apa padanya.

__ADS_1


Lalu, aku melihat sebersit luka dalam sorot mata nya Erlan. Dan aku pun dilanda kepanikan. Rasanya aku tak mampu melihat luka di mata gemintang milik kekasih ku itu.


"Eng.. enggak, Lan! Aku gak cinta! Aku gak cinta dia kok!" Buru-buru ku raih jemari Erlan yang tadi sempat melepas tangan ku saat aku tak bergegas menjawab pertanyaannya terkait Kiyano.


Erlan memandang ku lekat-lekat. Baru kemudian kembali bicara.


"Hh.. maaf ya, La. Seharusnya aku gak menanyakan hal itu ke kamu saat ini. Pastilah kamu masih merasa sakit hati dengan perpisahan mu dan Kiyano. Apalagi ternyata perpisahan kalian itu dikarenakan adanya hubungan pernikahan antara Kiyano dan wanita lain nya,"


Erlan memberi jeda sejenak pada kalimat nya.


"Aku gak bisa bayangin rasanya dituduh jadi pelakor, padahal kamu gak pernah bermaksud untuk menjadi salah satu nya. Pastilah kamu merasa ter zolimi banget ya, La?" Tanya Erlan menutup kalimat nya.


"Kamu kok bisa langsung tahu sih kalau aku dituduh jadi pelakor tanpa aku tahu?" Balas ku dengan pertanyaan pula.


Erlan kembali menggenggam tangan ku.


"Aku bisa nebak kok dari pembicaraan dengan Nindi, tadi. Dan aku tahu banget. Kalau kamu gak akan pernah mau merusak hubungan orang lain," ucap Erlan dengan begitu yakin.


Merasa terharu, aku pun langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Erlan. Beruntung saat itu warung tempat kami makan hanya ada kami berdua dan pemilik warung saja. Itu pun pemilik warung nya sedang berada dalam ruangan warung nya. Sehingga aku pun bebas memeluk Erlan tanpa perlu merasa malu.


"Makasih.. makasih ya, Lan. Cuma kamu yang bisa langsung percaya sama aku tanpa aku perlu cerita apapun ke kamu," ucap ku dalam pelukan Erlan.


Sedetik kemudian, aku buru-buru mendorong dada Erlan menjauh. Hingga Erlan hampir saja tersungkur jatuh dari bangku panjang yang kami duduki kini.


"Aishh, Laila! Kenapa sih?! Lagi asik-asiknya pelukan kok malah balik jadi barbar lagi?!" Protes Erlan yang berusaha duduk tegak kembali di bangku nya.


Terlebih dulu aku menyengir kuda kepada Erlan. Baru setelah nya aku buru-buru meminta maaf padanya.


"Maaf, Lan! Maaf! Tadi tuh spontan banget aku mendorong kamu. Soalnya aku baru inget, itu tangan kamu kan masih kotor bekas makan ikan bakar. Kalau tadi kamu nepuk-nepuk punggung ku, nanti baju ku kan bisa kotor, Lan!" Ungkap ku jujur panjang lebar.


"Diihh.. kirain kenapa. Tahunya cuma karena itu aja? Ya aku juga mikir lah La. Masa iya aku tepok-tepok punggung kamu kalau tangan ku kotor begini," ucap Erlan sambil menunjukkan tangan kanan nya yang kotor.


"Terus tadi?" Tanya ku kembali.


"Terus tadi apa sih?" Tanya balik Erlan sambil memberiku pandangan bingung.


"Kamu nepok-nepok punggung ku pakai tangan yang kiri gitu?" Tanya ku memperjelas.

__ADS_1


"Nepok apaan sih? Kapan juga aku nepok-nepok punggung kamu, La? Aku cuma meluk kamu doang. Kedua tangan ku kan masih pada kotor gini nih!" Ucap Erlan sambil menunjukkan tangan kirinya yang juga ternyata kotor bekas bumbu ikan.


'Mestilah Erlan menggunakan kedua tangannya saat mencuil daging ikan bakar yang masih panas, tadi,' aku menerka dalam hati.


"Jangan bohong deh, Lan! Lha wong tadi aku ngerasain kok kamu tepuk-tepuk punggung ku. Pelan sih. Tapi aku beneran ngerasain!" Ucap ku ngotot.


"Dih. Gak percaya. Coba aja tanya ke Mbak warung nya tuh. Mbak, Mbak! Coba tolong lihatin baju belakang nya pacar saya. Memangnya ada bekas kotor bumbu ikan gak tuh, Mbak?" Tiba-tiba saja Erlan meminta tolong pada Mbak penjaga warung.


Dengan ekspresi aneh, Mbak warung nya menengok ke belakang ku, lalu menggeleng pelan.


"Baju nya bersih kok, Kak!" Tutur Mbak nya.


Aku terhenyak tak percaya.


"Tuh kan! Jelas banget aku gak nepuk punggung kamu, La. Kalau iya aku nepuk punggung kamu, pastilah baju mu ada bekas kotornya kan?" Papar Erlan cukup masuk akal.


Aku pun merenungkan ucapan Erlan itu. Tak mungkin juga bila Mbak penjaga warung nya berbohong. Untuk apa dia berbohong pada kami, dua orang asing yang tak dikenalnya?


"Lalu, siapa yang tadi menepuk punggung ku ya?" Tanpa sadar, aku menyuarakan pertanyaan ku, entah pada siapa.


"Kamu ngantuk kali, La. Diih.. padahal baru jam enam kurang loh sekarang.." ucap Erlan sebelum akhirnya melanjutkan kembali santapan ikan bakar nya.


Di saat aku masih kebingungan, tiba-tiba saja Mbak penjaga warung menowel tangan ku dari balik meja.


"Kakak.. kakak.." panggil si Mbak penjaga warung.


"Hmm? Ya?" Sahut ku dengan sigap.


"Itu tuh.." ucap si Mbak nya ke tempat pojok di sebelah kiri ku.


Aku pun mengikuti arah pandang si Mbak, dan tak mendapati apapun di tempat yang ia tunjuki.


Si Mbak nya menatap ku dengan pandangan nelangsa.


"Kakak gak bisa lihat dia ya? dari tadi dia ngelihatin Kakak aja lho.." ucap si Mbak dengan bisikan kecil.


Seketika, bulu kuduk di tengkuk ku berdiri. Terlebih saat aku menoleh kembali ke pojokan kosong yang tadi sempat kulihat. Samar-samar aku seperti melihat sekelebat bayangan berlalu dengan begitu cepat.

__ADS_1


'Alamak.. a'udzubillaahi minasysyaithoonir rojiim.. a'uudzubillaahiminasysyaithoonir rojiim..' rapal ku dalam hati yang kebat kebit oleh rasa takut.


***


__ADS_2