Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Mimpi Buruk yang Menjadi Nyata (POV Laila)


__ADS_3

"Yang.. nanti aku pesan cokelat Maryqueen yaa.."


"Yang.. aku ngantuk. Apa kita tambah masa liburan nya aja ya sehari lagi. Biar aku bisa nengokin anak-anak kita lagi.."


"Yang.. kamu tambah kelihatan cantik deh pakai kerudung. Aku makin cinta deh jadi nya.."


"Yang.. nanti kalau dede utun nya cewek, kita kasih nama Lanila ya? Kalau cowok kita kasih nama Mark.. tapi kalau dua-dua nya cewek, yang satu nya lagi kita kasih nama Erla. Nama nya diambil dari inisial kita berdua, Yang.."


"Aku mau kita punya enam anak ya, Yang. Biar sampai kita tua nanti, rumah kita akan selalu ramai sama anak-anak. Syukur-syukur sih kalau kamu mau nambah, Yang.."


"Yang.. aku tuh udah benar-benar cintaaaa banget sama kamu, Yang.. kamu, cinta aku juga kan?.."


"ERLAANN!!"


Aku tersentak bangun dari mimpi terburuk yang pernah ku alami seumur hidup ku.


"Hah.. hah..hah.." aku mengambil napas dalam-dalam.


Baru kemudian tersadar dengan tempat ku berada saat ini.Sebuah kamar putih yang sering ku lihat berada di rumah sakit.


Aku berusaha mengurai ingatan masa lampau. Tentang bagaimana aku bisa berada di ruangan asing ini. Sampai kemudian sebuah benda yang tergenggam dalam tangan ku entah sejak kapan lah yang menjawab semua pertanyaan di benak ku saat ini.


'Cokelat Maryqueen..'


"Erlan!" Aku terhenyak.


Berharap apa yang melintas dalam ingatan ku itu hanya sekedar mimpi buruk semata. Namun keberadaan sebungkus cokelat Maryqueen yang ada dalam genggaman tangan ku menghempaskan satu-satu nya harapan ku pada kenyataan yang ada.


"Erlan!" Kembali ku jeritkan nama suami ku dalam ruangan putih yang sunyi ini.


Erlan ku.. Matahari ku.. Cinta ku..


Dia..


....


Flashback satu jam sebelum nya...


"Yang.. nanti aku pesan cokelat Maryqueen yaa.." pinta Erlan kepada ku saat aku baru membuka pintu mobil.


"Maryqueen?"


"Iya. Yang warna merah.." ucap Erlan memperjelas.


"Oke. Udah itu aja?"


"Itu aja deh. Makasih ya, Yang.. udah sana cepetan ke kamar mandi! Beneran nih aku di mobil aja? Kamu gak mau ku anterin?" Tanya Erlan menawarkan diri.


Kuamati wajah Erlan sekilas. Ada dua kantung hitam di bawah mata nya. Aku sadar diri. Bila semalam tadi suami ku itu sibuk mengusap-usap punggung ku berkali-kali hingga aku benar-benar telah terlelap.


Sementara aku juga sering terbangun untuk pipis dan minum. Jadi mau tak mau Erlan pun akan ikut terbangun untuk mengusap punggung ku lagi.

__ADS_1


"Udah gak apa-apa. Kamu di sini aja. Lumayan kan kamu bisa tidur dulu selagi nunggu aku BAB (Buang Air Besar). Lima belas menit mungkin," ujar ku mengira-ngira.


"Oh. Yaudah. Hati-hati ya, Sayang."


"Iya.."


Tapi, baru juga kaki ku menjejak ke tanah aspal di depan minimarket yang hendak ku tuju, Erlan kembali memanggil ku.


"Yang.. kok aku pingin di sun kamu ya? Sekali aja dong, Yang..?" Pinta Erlan tiba-tiba.


Karena terburu-buru dan sudah kebelet untuk BAB, aku pun langsung mengabulkan permintaan suami ku itu. Cup.


"Udah ya, Yang. Udah mulas banget nih perut ku.." ucap ku sambil melangkah pergi.


Aku tak melihat lagi ke arah Erlan dan langsung saja menujukan kaki ku ke mini market untuk ikut melipir ke toilet nya.


Sekitar lima belas menit kemudian, aku selesai menuntaskan hajat ku. Setelah nya, aku membeli pesanan Erlan yakni cokelat Maryqueen.


Karena aku hanya membeli satu cokelat itu saja, maka aku menolak tawaran kantong plastik dari Mbak kasir. Jadi aku memegang saja cokelat Maryqueen itu dengan tangan kosong.


Setelah membayar, aku bergegas keluar dari minimarket itu.


Dari depan pintu minimarket, aku bisa melihat Erlan yang tampak pulas tertidur di depan kemudi mobil.


'Ceroboh banget sih, Erlan. Itu kaca mobil samping dibiarin terbuka begitu aja. Gimana kalau ada orang jahat yang mau merampok coba?!' dumel ku dalam hati.


Akan tetapi, kejadian yang terjadi pada detik berikutnya menjadi horor yang paling mengerikan dalam hidup ku.


Di jalan besar, jalanan tampak sepi. Tak terlalu ada banyak kendaraan yang melintas pada pagi hari itu.


Karenanya, saat tiba-tiba saja ada sebuah truk kontainer yang melaju dari arah berlawanan dengan sangat cepat menuju mobil Erlan, aku langsung bisa melihatnya selama beberapa waktu lamanya.


"ERLAANN!!"


Namun kesigapan ku untuk meneriaki Erlan agar keluar dari dalam mobil demi menghindari tabrakan dari truk itu tak bisa membuat Erlan ku terbangun dari tidur nya.


Dalam gerakan slow motion, aku bisa melihat jelas, ketika truk itu menabrak mobil Erlan dengan tubrukan yang sangat dahsyat. Hingga membuat mobil Erlan, beserta Erlan di dalam nya, terseret mundur selama beberapa meter ke belakang.


Kemudian mobil truk itu baru berhenti ketika mobil Erlan sudah menabrak sebuah pohon besar yang berada di tepi jalan. Jadilah akhirnya mobil Erlan terjepit di antara truk dan pohon besar itu.


"Tidak!! ERLAN!!!"


Dan seketika itu pula dunia ku pun menggelap..


Flashback selesai..


"Huuuuu...hiks.. Erlan!!" Aku meraung-raung, meneriakkan nama suami ku.


Aku berharap kecelakaan itu hanyalah mimpi buruk ku saja. Namun adanya sebungkus cokelat Maryqueen pesanan Erlan itu di tangan ku membuat hati ku remuk redam rasanya.


Dada ku terasa sesak oleh rasa dingin yang mulai membungkus sekujur tubuh dan pikiran ku.

__ADS_1


"Erlan!!" Isak ku tak mampu lagi ku bendung.


Kupanggil nama suami ku berkali-kali. Berharap dengan memanggil namanya, sosok Erlan akan segera datang dan menjumpai ku seperti yang biasanya ia lakukan.


"Erlan!!"


"Laila!" Suara Mama terdengar datang mendekati ku.


Kuangkat wajah ku untuk melihat Mama, Papa dan juga Darman yang baru memasuki ruangan putih tempat aku berada saat ini.


Aku berusaha bangkit dari brankar tempat ku berbaring. Namun Mama terburu-buru menghampiri ku dan menahan ku untuk tetap berbaring.


"Tenangkan dirimu, Nak. Dokter mengatakan kalau kamu perlu istirahat dulu selama beberapa hari.."


Aku tak memerdulikan ucapan Mama. Aku langsung saja menanyakan keberadaan Erlan, suami ku.


"Erlan mana, Ma?!" Tanya ku setengah berteriak kepada Mama.


Dan, untuk sesaat, aku menangkap kegelisahan dan juga...iba di manik mata nya Mama.


'Tidak! Jangan! Jangan katakan terjadi sesuatu pada Erlan, Yaa Rabb.. ku mohon..' batin ku mulai merasa panik.


Aku pun mengulangi pertanyaan ku dengan intonasi yang lebih tinggi. Hampir seperti membentak Mama malah..


"Erlan mana, Ma?!"


Mama tak langsung menjawab pertanyaan ku. Terlebih dulu ia membawa ku ke dalam pelukannya, lalu mengusap-usap kepala ku secara perlahan.


"Tenangkan dulu dirimu, Nak. Nanti akan Mama katakan dimana.." Mama sempat tersendat dalam berucap.


"...Dimana suami mu itu.. Tapi Mama mohon kamu tenangkan dulu dirimu, Nak.. ingat, ada dua janin dalam perut mu saat ini. Dan tadi dokter mengatakan kalau kondisi mu sedang tak baik saat ini. Jadi kamu harus menenangkan pikiran mu terlebih dulu. Demi keselamatan anak-anak mu nanti nya, La.." ucap Mama sambil tetap memeluk ku.


Aku langsumg terdiam saat Mama mengingatkan ku tentang dua dede utun dalam perut ku. Pantas saja, sedari tadi aku merasakan keram di bagian perut ku. Apa itu berarti dede utun juga sedang merasakan sakit?


Jika benar begitu, tentu aku harus mengikuti nasihat Mama. Tapi Erlan..


Setelah menenangkan diri ku sendiri dengan susah payah, baru lah aku kembali menanyakan keberadaan Erlan kepada Mama. Kali ini dengan suara yang lebih tenang.


"Erlan di mana, Ma..? Lail mau ketemu Erlan.. panggil Erlan sekarang juga, Ma.." aku memohon, meminta tolong kepada Mama atau siapapun juga yang ada di ruangan itu untuk mengantarkan ku kepada Erlan.


Akan tetapi, bukan jawaban yang ku dapatkan terlebih dulu. Melainkan suara tangis Darman di ujung ruangan yang pecah dan mulai berubah menjadi isakan tertahan.


"Kak Erlan udah meninggal, Kak La.. hiks.. Kak Erlan udah meninggal..!" Ucap Darman tersendat-sendat, di antara isak tangis yang keluar dari mulut nya.


Dan..


JDARRR!!


Aku merasakan dunia ku mulai goyah. Hingga akhirnya aku kembali pingsan untuk kedua kalinya di hari ini.


***

__ADS_1


__ADS_2