
Setelah melihat rumah, aku meminta Erlan untuk melihat ke apartemen nya. Aku beralasan kalau aku ingin tahu di mana apartemen nya berada. Padahal sebenarnya aku memiliki alasan ku tersendiri sehingga mengajak nya ke sana.
Sebelum ke apartemen, aku mengajak Erlan untuk mampir dulu ke swalayan dan membeli beberapa bahan makanan. Ku katakan kepada Erlan kalau aku ingin memasak makanan untuk nya. Yang mudah-mudah saja sih. Hanya masakan tumis saja yang memang cepat penyajiannya.
Jadi, begitu sampai di apartemen nya Erlan yang berada di lantai 12, aku langsung membajak dapur suami ku itu. Saat kulihat, dapur nya Erlan masih terlihat sangat bersih seperti baru.
Aku menduga kalau Erlan mestilah tak pernah memakai dapur ini untuk masak-masak.
"Kamu memang nya mau masak apa, Yang? Sebenarnya gak perlu ribet sih, Yang. Kita bisa pesan gofud aja biar kamu gak capek-capek masak," begitulah ucapan Erlan di depan meja yang tembus langsung ke area dapur.
Dari tempat duduk nya itu, Erlan bisa melihat semua kegiatan ku di dapur.
"Kamu memangnya gak mau ngerasain masakan buatan ku, Yang?" Aku bertanya sambil memotong daging jadi potongan-potongan kecil. Rencananya aku hendak memasak tumis daging bumbu kecap. Bahan-bahannya tak rumit. Karena aku hanya perlu mengulek tomat, bawang bombay dan cabe rawit, menumisnya hingga harum, lalu memasukkan potongan daging sapi yang sudah terlebih dulu direndam dalam saos tiram selama lima belas menit.
Aku sengaja membeli daging kalengan yang sudah setengah matang direbus, jadi nanti proses memasaknya juga tak akan terlalu lama.
"Ya mau sih, Yang. Tapi kalau itu bikin kamu capek, aku gak keberatan juga kok makan makanan delivery an," sahut Erlan kemudian.
"Kalau kamu gak mau aku capek, ya sini dong bantuin aku, Yang. Jangan cuma mager di situ aja!" Aku menegur Erlan dengan pelan.
"Kamu mau aku bantuin apa memang nya? Kalau cuma nyuci-nyuci dan potong-potong aja aku sih bisa, Yang," ujar Erlan berbangga diri.
"Iya udah. Bantu aku cuci dan potong-potong deh. Sini cepetan! Biar makanan nya juga bisa cepat matang!" Aku melepaskan titah.
"Oke.."
Dan acara memasak di dapur itu pun berlanjut dengan cukup seru. Karena Erlan kemudian ikut juga membantu ku.
Beberapa kali ada kejadian yang membuat kami tergelak dalam tawa. Beberapa kali juga Erlan berhasil membuat ku jadi gelap mata dan dunia.
__ADS_1
Gelap mata dan juga dunia ini bisa terjadi lantaran Erlan yang sesekali iseng mengajakku bermesraan di dapur. Seperti misal nya saat ini.
Erlan memelukku dari belakang, sementara ia menyandarkan kepala nya ke bahu ku.
Sesekali aku bisa merasakan napas Erlan Berhembus hangat ke leher dan telinga ku. Membuat sekujur tubuh ku jadi bergidik merinding oleh hasrat yang akhir-akhir ini sering dibangkitkan oleh suami ku itu.
"Kamu ngapain sih, Yang? Ribet tahu aku masaknya kalau kamu terus peluk-pelukin aku begini!" Aku mengajukan protes.
"Hmm.."
Lagi-lagi Erlan menci umi leher ku. Dan perasaan merinding itu pun kembali menyerang sekujur tubuh ku.
"Kapan lagi kita bisa mesra-mesraan gini, Yang? Kan kalau di rumah kontrakan nanti pastilah ada Mama kan? Aku gak enak lah kalau ngajak kamu mesra-mesraan gini di depan Mama," ujar Erlan.
"Ya tapi..hey! Ngapain itu tangan mu masuk-masuk ke baju ku, Yang! Geli tahu! Jangan aneh-aneh deh! Aku belum selesai masak ini, Lan!" Aku memperingatkan Erlan yang mulai bermain nakal.
"Megang-megang tapi kok.. ehh?!!"
Saat ini aku baru saja menyelesaikan kegiatan memasak. Tadinya aku mau membawa masakan ku ke meja di ruang TV. Namun dengan sikap Erlan yang kian nakal ini, aku jadi merasa sangsi. Apakah aku bisa terlepas dari tangan nakal nya itu dalam waktu dekat ini.
"Kamu udahan kan masak nya? Kita main-main dulu yuk! Tiba-tiba aja aku pingin main sama kamu di dapur sekarang juga.." ucap Erlan dengan nada memohon.
Sebelum ia meminta ijin, tangannya sudah sedari tadi menelusup masuk ke balik baju ku yang disingkap kannya ke atas.
"Kamu memangnya gak lapar apa, Yang? Gak mau cicipin masakan ku dulu?" Tanya ku sambil menahan gerakan jemari Erlan yang kian jahil mengusik kedua pu ting ku.
"Enggak. Aku mau makan kamu dulu deh kalau bisa. Tapi berhubung kamu masih M, jadi gak apa-apa deh. Aku makan dessert nya dulu.." imbuh Erlan dengan bahasa metafora nya itu.
"Tapi ya jangan di sini juga dong, Lan! Kan bisa di--mmm"
__ADS_1
Ucapan ku ditelan Erlan mentah-mentah. Karena detik berikutnya, Erlan mengunci mulut ku dengan ciu man-ciu man nya. Kemudian ia juga memenuhi keinginannya itu untuk mencicipi dua mangkok dessert milikku, yang jadi kesukaannya ini.
...
Baru setelah Erlan membuat ku terkulai di atas meja dapur saja lah akhirnya ia berhenti mengerjai ku.
'Dasar memang suami ku itu sungguh menyebalkan!' umpat ku kelepasan di dalam hati.
Saat Erlan selesai menikmati dessert nya, aku dibuat kesal karena ternyata ia berhasil membuat penampilan ku berantakan. Sementara ia masih tampak rapih seolah kami tak melakukan pemanasan saja sesaat tadi.
Ku lempar Erlan dengan serbet. Namun ia berhasil menangkap nya.
Aku merasa kesal karena Erlan sudah berhasil membuat ku penasaran untuk lanjut melakukan ML dengan nya. Tapi ia malah berhenti di pertengahan.
Aku lalu teringat kalau Erlan masih mengira kalau aku masih datang bulan. Padahal kan sebenarnya aku sudah bersih sedari pagi tadi.
Tapi memang, aku berencana untuk mengatakannya kepada Erlan setelah kami makan malam nanti. Karena itulah aku mengajak Erlan ke apartemennya ini agar jika memang kami melewati malam pertama kami nantinya, kami tak akan merasa canggung dengan keberadaan Mama, seperti jika kami melakukannya di kontrakan ku.
Ku jernihkan lagi pikiran ku dari kabut hasrat yang sempat menguasai benak ku. Lalu aku merapihkan pakaian ku dengan dibantu oleh Erlan yang kini tersenyum lebih lebar dari sebelum kedatangan kami ke apartemennya ini.
"Kita makan sekarang yuk! Perut ku udah lapar nih, Yang!" Ajak Erlan, masih dengan cengiran yang sama.
Aku pura-pura kesal kepada nya dan berjalan terlebih dulu di depan Erlan. Padahal dalam hati ku sudah tersusun rencana hebat untuk membalas perlakuan tengil suami ku itu.
'Awas saja kamu, Lan! Akan kubuat kamu sampai ampun-ampunan nanti malam!' janji ku di dalam hati.
Dan akhirnya, kami pun menikmati makan malam kami yang syukurlah masih cukup hangat dan nikmat untuk kami santap kemudian.
***
__ADS_1