
"Ehh? Bagaimana bisa dalam seminggu tahu-tahu anak mu jadi tiga, Young Ma?" Seloroh Stephen bernada canda saat menyambut ku dan anak-anak yang baru saja tiba di butik.
"Bisa aja. Baca lah bismillah," ku sahuti kalimat Stephen dengan ucapan asal.
"You're kidding me, Sist (Kamu mencandai ku, Sist)!" Sahut Stephen tak percaya.
"Hello Mark, Nila. Lama gak ketemu. Masih ingat gak nih sama Om ganteng? Kita ketemu kan waktu ulang tahun kalian yang kemarin.." sapa Stephen pada anak-anak.
"Nila ingat! Om putih ini yang kasih Nila kado boneka balbi kan?" Sapa balik Nila dengan ceria.
"Hmm.. iya ya? Om lupa. Ehehee.. waktu itu yang bungkusin kado soal nya teman Om sih.. tapi, kamu suka kan sama hadiah nya, Cantik?"
"Nila, Om. Nama ku Nila. Bukan Cantik!" Koreksi Nila.
"Ehh.. iya ya. Habis nya Nila cantik sih. Jadi Om pingin nya panggil cantik aja deh!" Puji Stephen.
"Gombal!" Mark berkomentar.
Selama sesaat, aku dan Stephen terpana kala mendengar cibiran putra sulung ku itu terhadap Stephen.
Kemudian aku bersusah payah menahan diri untuk tidak tertawa dan langsung menegur Mark.
"Mark! Jangan begitu. Itu gak sopan!" Tegur ku dengan wajah yang menahan tawa.
Sementara Stephen yang baru saja dicibiri oleh bocah enam tahun, kini terlihat seperti orang yang sedang sakit gigi.
Mungkin di usianya yang sudah menginjak kepala tiga itu, tak menyangka akan menerima hinaan dari bocah berumur enam tahun.
"Dia.. mirip kamu banget sih, La.. kamu waktu dulu maksud nya.." ucap Stephen kemudian.
Aku tak marah. Dan hanya berkomentar santai.
"Dia memang anak ku. Mau apalagi coba?" Ucap ku dengan santai nya.
"Hello, Boy! Nama kamu Mark kan? Kamu terlihat tampan dengan baju seragam mu itu, Boy!" Puji Stephen mencoba bersikap akrab pada Mark.
Sayang nya, Stephen harus kembali dipermalukan oleh Mark. Dengan kalimat satir nya yang cukup menyentil ego sang bupuk (bujang lapuk).
"Gak usah muji, Om. Aku ini anak cowok. Gak mempan dipuji-puji!" Tukas Mark dengan nada ketus.
"Mark!" Kali ini, aku sedikit menaikkan nada ku saat menegur putra ku itu.
Aku sungguh merasa heran dengan sikap Mark.
Putra sulung ku itu selalu saja bersikap kasar terhadap semua teman lelaki ku. Menurut Mama, Mark seperti nya berpikir semua teman lelaki ku itu memiliki niat lebih terhadap ku.
__ADS_1
Dipikir Mark aku mungkin akan menikah dengan salah satu dari teman lelaki yang ku bawa ke rumah.
Aneh nya, hanya pada satu teman lelaki ku saja Mark tak bersikap kasar. Dan itu adalah kepada Azki, sahabat dekat almarhum Erlan.
Saat pemakaman Erlan, Azki jadi salah satu yang paling banyak membantu ku mengurus keperluan pemakaman suami ku. Ia pula yang memberi kabar ke semua teman Erlan lain nya tentang berita wafat nya suami ku itu.
Tak hanya sampai situ saja. Azki juga sering menengok si kembar saat mereka masih bayi dan juga balita. Kata Azki, dengan menengok Mark dan juga Nila ia merasa seperti sedang bercengkerama dengan Erlan. Terutama Nila.
Menurut Azki, Nila lah yang memiliki kepribadian paling mirip dengan Erlan. Dengan segala keceriaan dan sikap optimis nya dalam menghadapi situasi.
Sementara dalam diri Mark, Azki melihat sifat kompetitif dan penyayang yang juga ada pada diri almarhum.
Aku meng iyakan pendapat Azki itu. Karena aku pun bisa merasakan keberadaan sosok Erlan dalam diri kedua anak ku itu.
"Maaf Om," ucap Mark dengan kepala sedikit tertunduk.
"It's okay.. gak apa-apa, Mark. Om pun dulu pernah seumuran kamu. Dan Om juga selalu berhati-hati kalau kenalan sama orang baru. Tapi Om yakin, kita berdua nanti bisa jadi best buddiest! Tos, Mark!" Stephen mengajak adu tos pada Mark.
Meski pada awal nya Mark terlihat enggan menanggapi tangan Stephen yang terjulur pada nya. Namun pada akhirnya Mark membalas adu tos an yang ditawarkan oleh Stephen itu.
"Nila juga mau! Nila mau tos, Om Putih!" Seru Nila yang ingin adu tos juga.
"Tentu Nila Cantik.. ngomong-ngomong, kenapa kamu manggil Om Putih sih? Apa karena kulit Om warna nya putih ya?" Stephen mengajak obrol Nila.
"Iya, Om. Kulit Om putih! Kayak Teteh cantik yang ada di tivi!" Seru Nila menjelaskan.
Aku menyadari maksud Nila dengan teteh di tivi itu adalah artis kosmetik yang dilihat nya saat sedang iklan di tv. Dan sepertinya Stephen pun menyadari maksud Nila.
Ia kini terlihat bingung antara merasa tersanjung karena dipuji memiliki kulit putih, juga merasa kesal karena Nila menyamakan nya dengan artis perempuan di iklan tv.
"Kedua anak mu ini sungguhan deh, Young.." gumam Stephen pelan namun masih bisa ku dengar.
"Hebat kan?" Aku mengajak Steph tersenyum. Menertawakan nasib nya yang jadi bullyan ke dua anak ku secara tak sengaja.
"Hahaha!" Tawa garing Stephen pun pecah.
"Lalu anak yang satu ini.. anak siapa, Young Ma?" Tanya Stephen kemudian, sambil menatap ke arah Lala.
Lala yang tahu kalau ia sedang diperhatikan langsung bersembunyi di belakang Mark. Dan, aku dibuat terkejut saat Mark membiarkan Lala mendekat kepada nya. Padahal biasanya Mark paling anti disentuh anak perempuan, terkecuali Nila saja.
"Jangan takut, Lala. Om Putih baik. Dia gak gigit kok. Tuh, gigi nya juga gak tajam kayak si guguk," ujar Nila menghibur Lala.
Untuk kali ini, aku tak lagi bisa menahan tawa ku. Aku pun langsung tertawa lepas.
"Hahahahahaha!"
__ADS_1
"Young Ma, aku penasaran, bagaimana sih kamu mendidik dua anak mu hingga jadi se menggemaskan ini?" Tanya Stephen dengan nada menggerutu.
"Tentu dengan bismillah lah, Steph..!" Ucap ku santai.
...
Setelah menghabiskan pizza dan menyempatkan shalat zuhur di butik, aku lalu mengajak anak-anak ke kantor nya Arline.
Namun, baru juga langkah kami menjejak ke lobi kantor, saat ponsel ku tiba-tiba saja berdering nyaring. Saat ku lihat, ternyata yang memanggil adalah nomor telepon rumah.
"Assalamu'alaikum!" Sapa ku.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Nyonya, di luar ada laki-laki nyariin anak perempuan nya. Kata nya anak nya ketinggalan waktu beli makanan. Katanya juga anak nya ada sama Nyonya. Gimana ya, Nyonya?" Ucap Bik Num, pembantu di rumah ku, dari seberang telepon.
"Oh iya. Tolong suruh tunggu sebentar gitu, Bi. Laila pulang sekarang deh ya. Anak nya ada sama Laila sekarang."
"Baik, Nyonya."
"Mama sama Papa udah pulang, Bi?" Tanya ku tiba-tiba.
Sedari kemarin, Mama dan Papa sedang ke kota C untuk mencari bibit tanaman baru. Keduanya memang suka berkebun. Jadi semua tanaman di rumah adalah hasil karya keduanya. Dan aku suka.
"Belum, Nyonya. Den Darman juga baru berangkat ke kampus tadi jam sepuluh."
"Oh.. gitu. Yaudah gak apa-apa. Tolong minta tamu nya untuk tunggu ya Bi. Mungkin sekitar setengah jam Laila sampai ke rumah. Sekarang lagi ada di kantor nya Arline soal nya."
"Baik, Nyonya."
"Makasih ya, Bi.. assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam warohmatullah!"
Klik. Dan panggilan telepon pun terputus.
"Kita pulang sekarang yuk ke rumah!" Ajak ku pada anak-anak.
"Gak jadi ke Tante Alin, Ma?" Tanya Nila.
"Nanti sorean aja. Kalian tidur siang dulu aja yuk. Sore, baru kita ke rumah Oma Ilmaya," papar ku membujuk.
"Waahhh!! Yeee yee!! Nila mau nginap ke rumah Oma Ima! Nila kangen sama ikan-ikan nya Opa, Ma. Udah bisa dimasak belum ya?" Seru Nila dengan ceria.
Dan aku pun kembali menggiring anak-anak ke dalam mobil. Lalu mengirim pesan singkat kepada Arline.
Kami berjanji untuk bertemu di rumah Mama Ilmaya saja sore nanti sepulang nya ia dari bekerja.
__ADS_1
Dan aku pun melajukan mobil ku. Memecah jalanan yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan.
***