
Hari Minggu itu, rencana liburan bersama dengan Nunik dan Azki akhirnya terlaksana juga.
Mas Aryo tak bisa ikut karena ada seminar di luar kota. Tapi ia mengijinkan Nunik untuk membawa anak-anak pergi berlibur.
Demi situasi yang lebih aman, Darman juga ku ajak pergi ke kebun binatang. Sehingga nanti aku dan Nunik tak terlalu repot dalam mengawasi anak-anak.
Akhirnya, empat orang dewasa (Aku, Nunik, Darman dan Azki) beserta kelima anak kecil (kedua anak ku dan ketiga anak nya Nunik) pun bertamasya bersama ke kebun binatang.
Aku menaiki mobil ku sendiri bersama anak-anak. Sementara Nunik ikut menumpang di mobil nya Azki.
Sesampai nya di kebun binatang, anak-anak langsung berteriak senang karena tak sabar ingin melihat bermacam-macam fauna yang ada di sana.
Terutama Nila dan Angkasa yang lagi-lagi meributkan tentang hewan yang paling besar di kebun binatang ini.
"Yang paling besal itu gajah, Angka!" Ucap Nila mengotot.
"Bukan! Badak! Badak lah yang paling besal!" Tantang Angkasa.
"Hey.. sudah-sudah! Ayo kita jalan-jalan dulu pelan-pelan. Jangan lari-larian ya!" Aku mengingatkan.
Darman menggendong Baby Go. Karena kasihan juga kan bila bayi tiga tahun itu harus ikut berjalan kaki mengitari kebun binatang?
Sementara aku menggandeng Mark, dan Nunik menggandeng Nania dan Angkasa. Nila sendiri minta digendong pada Papa Azki nya di barisan paling depan.
Kami menikmati jalan-jalan pagi itu dengan hati yang senang. Hingga menjelang zuhur tiba, kami pun beristirahat di sebuah gazebo yang ada di salah satu lokasi.
Aku memesan mi instan untuk menu makan siang kami hari itu. Sementara untuk anak-anak, Mama Mutia telah menyiapkan bekal tersendiri. Omelet cacahan daging sapi.
Saat beristirahat, Nila ingin pergi ke kamar kecil. Aku pun pergi mengantarkan nya ke WC terdekat. Kemudian aku meminta Nila untuk menunggu ku di dekat kamar mandi karena aku pun ingin buang air kecil juga.
Saat itu kondisi wc hanya ada sekitar dua orang saja selain aku. Jadi kupikir akan aman bila Nila menunggu ku di luar pintu kamar kecil yang sedang ku gunakan.
Tapi lalu aku dibuat ketakutan karena saat aku keluar dari kamar mandi, aku tak mendapati Nila di luar pintu. Saat itu pun aku tak melihat ada orang lain nya.
Aku sangat merasa khawatir. Langsung saja aku mencari Nila di sekitar wc.
Setelah tak ku dapati Nila di mana pun, aku juga bergegas ke tempat yang lainnya beristirahat. Dan Nila pun tak ada di sana.
"Mana Nila nya, il?" Tanya Nunik keheranan.
"Nila hilang! Tadi tuh aku minta dia tunggu di luar pintu pas aku mau pipis, Nun. Tapi pas aku keluar, Nila nya udah gak ada! Gimana ini?!" Aku panik. Dan yang lainnya ikut panik.
Darman langsung berdiri dan menghampiri ku.
"Kita cari lagi Nila nya, Kak! Kita ke wc lagi. Tadi Kak Azki juga ke wc. Mungkin Nila sama kak Azki sekarang. Coba aja telepon kak Azki nya!" Darman memberikan usulan.
__ADS_1
Aku langsung merogoh ponsel ku dalam tas selempang yang ku kenakan.
Cukup lama aku mendengar nada dering dari seberang telepon, namun Azki tak jua menjawab nya. Aku kembali menelepon nya. Dan lagi-lagi panggilan ku tak terangkat.
Aku jadi semakin panik.
"Gini aja. Biar anak-anak sama aku aja di sini. Sementara kalian cari Nila dan Azki. Darman, coba hubungi pihak kebun binatang juga untuk minta bantuan nemuin Nila!" nunik membagi-bagi tugas kepada ku dan Darman.
Sekitar dua puluh menit kemudian, aku dan Darman kembali ke tempat Nunik dan anak-anak berada. Dan aku langsung merasa lega saat mendapati Azki yang sudah berada di sana.
Aku sangat berharap bisa menemukan sosok Nila juga bersama nya. Namun hati ku mencelos saat harapan ku itu harus pupus seketika. Karena Nila tak ada di dekat Azki berdiri kini.
Begitu aku sudah berada di dekat semuanya, Azki langsung saja bicara.
"Maaf Mbak La.. tadi saya kelamaan di wc. Soalnya perut saya sakit. Kata Mbak Nun, Nila menghilang? Bagaimana bisa?" Tanya Azki dengan wajah yang sama panik nya seperti ku.
"Iya, Az.. tadi itu.."
Dan aku pun kembali menceritakan kronologi menghilang nya Nila kepada Azki.
"Udah lapor ke bagian informasi belum?" Tanya Azki.
"Udah, Bang. Tadi Darman ke sana, terus ngelaporin Nila yang hilang. Kita juga coba cek CCTV, sayang nya cctv yang ada di dekat kamar mandi tuh ternyata rusak. Begitu juga dengan cctv di beberapa titik. Maka nya sekarang lagi ngecek CCTV yang ada di depan gerbang. Darman udah kasih foto profil nya Nila juga sih. Jadi kalau ada Nila yang kelihatan di gerbang, mereka bakal hubungin kita," papar Darman panjang lebar.
Aku sibuk mendengarkan penjelasan Darman dengan hati yang gugup, takut, dan juga dipenuhi penyesalan.
Aku tak bisa membayangkan apa yang sedang dialami oleh Nila ku di luar sana saat ini juga. Jika ia menghilang karena berkeliaran sendirian, itu mungkin masih lebih baik.
Tapi bila Nila ku diculik oleh orang asing.. Ya Allah! Aku benar-benar takut bila harus kehilangan Nila. Bagaimana pun juga dia adalah penghubung ku dengan Erlan. Bagaimana aku bisa bertahan jika terjadi sesuatu pada putri kecil ku itu?!
"Mbak Laila, tolong tenangkan diri dulu. Begini saja. Seperti nya anak-anak juga sudah tak tenang sekarang ini. Jadi bagaimana kalau Mbak Nunik dan Darman pulang terlebih dulu dengan anak-anak," usul Azki.
"Tapi Nila.." aku menyanggah.
"Biar saya dan Mbak La yang nunggu di pos informasi. Barangkali Nila nanti segera bisa ditemukan," imbuh Azki.
"Seperti nya itu memang usulan yang paling baik, il. Kamu lihat sendiri kan anak-anak.." imbuh Nunik pula.
Kupandangi anak-anak yang lainnya. Baby Go sudah menangis entah sejak kapan. Nania juga terlihat takut dan Angkasa meringkuk sambil memeluk kaki nya Nunik.
Hanya Mark saja yang kulihat tak banyak bicara. Padahal aku mengira kalau kembaran nya Nila itu lah yang paling akan terlihat galau di antara anak-anak yang lain.
Sebuah dugaan melintaa di kepala ku. Aku pun langsung berjongkok di depan Mark dan bertanya kepada nya.
"Mark, apa kamu tahu ke mana Nila pergi?" Tanya ku to the point.
__ADS_1
Mark terlihat ragu. Namun aku kembali membujuk nya untuk bicara.
"Mark, bilang ke Mama, Nak. Apa kamu tahu Nila pergi ke mana? Atau apa Nila bilang sesuatu ke kamu, Sayang?" Tanya ku dengan penekanan di setiap kalimat yang ku ucapkan.
"Mark gak tahu ke mana Nila, Ma.. tapi.."
Secercah harapan muncul tiba-tiba dalam hati ku.
"Tapi apa, Mark? Bilang ke Mama! Ayo bilang sejujurnya, Sayang!" Aku mendesak Mark.
"Nila tadi bilang. Kalau dia mau lihat bayi dinosaurus," jawab Mark.
Hati ku langsung saja mencelos.
"Ba. Yi. Dino.saurus?" Aku mengulang kalimat Mark. Aku tak bisa menghubungkan pernyataan Mark itu dengan menghilangnya Nila.
"Iya. Tadi Nila juga ajak Mark. Tapi Mark gak mau," imbuh Mark kembali.
Dan aku langsung saja menangis. Karena harapan yang tadi sempat muncul untuk bisa menemukan Nila, harus pupus dengan seketika.
Nunik memeluk ku singkat.
"Istighfar, il.. istighfar.. kita berdoa ya ke Allah. Insya Allah kita bisa menemukan Nila segera. Yakin ya, il," Nunik menguatkan hati ku dengan nasihat nya.
"Aku cuma..ya Allah.. Nila.. di mana kamu, Nak.." lirih ku sambil menutup wajah ku dengan kedua tangan.
Aku hampir saja akan ambruk saat itu juga jika saja tak ku dengar suara Mark yang bicara.
"Maafin Mark, Mama.. Nila nanti pulang kan, Ma?" Tanya Mark dengan nada suara yang bergetar.
Ku angkat wajah ku dan kutatap Mark dalam-dalam.
Kedua mata Mark sama merah nya seperti ku. Dan aku tertegun. Karena tak biasanya Mark menangis.
Sedari kecil, Mark jarang sekali menangis. Bahkan meski masih bayi pun Mark hanya meringis pelan saja. Tak ada teriakan. Tak ada tangisan kencang.
Tak seperti Nila, Mark menyimpan rasa sedih dan sakit nya seorang diri. Dan sifat ini lah yang paling megingatkan ku kepada sosok Erlan.
Kini, saat aku kehilangan Nila, aku hampir saja terlupa kalau aku masih memiliki Mark. Aku lupa pada Mark yang mungkin justru akan lebih merasa sedih karena kehilangan kembaran nya itu.
Detik berikutnya, ku sapu kedua pipi ku yang sempat basah. Lalu ku kecup kening Mark sekali.
Aku harus tetap tangguh. Setidaknya di hadapan putra ku sendiri.
Ku berikan Mark, senyuman terbaik ku. Dan kembali, ku kecup kening putra ku itu. Baru kemudian aku bicara.
__ADS_1
"Tenang lah Mark. Kita pasti akan menemukan Nila. Dan ya. Nila pasti akan segera pulang. Insya Allah.." ucap ku dengan keyakinan yang ku aminkan di dalam hati.
***