Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Patah Tulang (POV Laila)


__ADS_3

"Butuh bantuan, La?"


Aku menengok ke arah Erlan yang menahan tangan Kiyano. Tiba-tiba saja ku dapati situasi tegang yang tak mengenakkan di antara Erlan dan Kiyano.


"Mm.. gak apa-apa, Lan. Aku udah selesai ngomong kok sama Kiyano. Kita berangkat aja yuk!" Aku mengajak Erlan pergi, saat pegangan Kiyano pada lengan ku mulai mengendur.


"La! Gue belum selesai ngomong, La!" Kiyano masih juga memanggil ku.


Tapi aku tak menggubris panggilan dari Kiyano. Aku justru kian mempercepat langkah ku menuju mobil nya Erlan.


"Laila!"


Aku tersentak kaget saat Kiyano tiba-tiba saja kembali menarik tangan ku. Kali ini tarikan nya cukup membuat ku kesakitan.


"Aw!" Aku mengaduh.


"Brengsek!" Erlan mengumpat.


Detik berikutnya, segalanya berlangsung dengan sangat cepat.


Tahu-tahu Erlan melayangkan bogem mentah ke wajah Kiyano, hingga lelaki itu tersungkur mundur beberapa langkah.


Aku menjerit kaget. Dan semakin ngeri saat melihat Kiyano bergerak cepat dan membalas bogeman Erlan tadi. Namun Erlan berhasil mengelak dengan memiringkan kepala nya.


Erlan lalu menangkap tangan Kiyano yang terjulur ke depan dengan begitu sigap. Kemudian kembali melayangkan pukulan tangan ke arah perut pemuda itu.


Melihat pergumulan di antara kedua pria itu, aku sungguh ketakutan. Tiba-tiba saja aku teringat pada Kiyano yang baru-baru ini habis menjalani operasi ginjal bersama ku. Aku takut jika pukulan dari Erlan akan memberi efek buruk pada Kiyano nantinya.


Maka dengan cerobohnya, aku langsung saja maju ke depan. Hingga posisi tubuhku berada di antara kedua pria itu. Saat itu keduanya sama-sama hendak melayangkan tinju nya kembali pada lawan nya. Namun karena kemunculan ku yang tiba-tiba di pertengahan mereka, Erlan sigap menghentikan pukulannya tepat sebelum mengenai wajah ku.


Sayang nya Kiyano gagal menghentikan pukulannya, hingga secara tak sengaja lengan kiri ku menjadi korban bidikan tangan nya Kiyano.


"Argh!"

__ADS_1


Aku tersungkur mundur. Namun Erlan sigap menangkap tubuh ku yang hampir terjatuh.


"Brengsek! Beraninya kau memukul Laila!" Erlan muntab melepaskan murka nya.


Aku yang merasakan tulang ku sedikit bergeser akibat pukulan Kiyano tadi, langsung menatap lurus pada Kiyano. Kasihan sekali Kiyano. Ia sepertinya terpul dan menyesal berat karena tak sempat menghentikan pukulannya tadi.


Erlan melepaskan ku dan hendak kembali menyerang Kiyano. Namun aku buru-buru menahan lengan nya.


"Sudah! Sudah! Ayo kita pergi saja, Lan!" Aku mencoba menarik Erlan dengan tangan ku yang masih sehat. Namun Erlan masih begitu ingin memukul Kiyano yang masih saja diam termangu menatap tangannya sendiri.


"Erlan! Udah! Ayo kita pergi!" Kembali ku ajak Erlan. Kali ini dengan nada yang cukup tinggi. Dan, usaha ku pun berhasil. Aku akhirnya bisa membawa Erlan masuk ke mobil kami.


Begitu sudah masuk ke dalam mobil, aku kembali menengok ke belakang. Ku lihat Kiyano masih tetap di posisinya yang tadi. Diam terpaku menatap tangannya sendiri.


Aku merasa cemas saat melihat kondisi Kiyano saat itu. Ingin ku sih aku kembali turun untuk memastikan Kiyano baik-baik saja.


'Apa tadi dia terluka akibat pukulan Erlan ya? Kenapa dia diam seperti itu?' benak ku kalut oleh pertanyaan yang berturut-turut.


"Tangan kamu sakit, La?"


Kuangkat pandangan ku ke atas, tepat ke mata Erlan. Ku dapati kekhawatiran yang terpampang nyata dalam sorot mata pemuda di dekat ku ini. Kemudian baru lah aku melihat ke arah lengan ku yang terasa nyut-nyut an sakit tak karuan.


Satu detik..


Dua detik..


Tiga detik..


Dan..


"Hiks.. Ma..Mama.. aa..aa.. sakit banget sih ini.." aku tak kuasa menahan isak tangis ku sendiri.


Sementara Erlan yang sempat melongo menatap ku, terburu-buru mengangkat lengan kemeja yang ku kenakan. Untuk melihat bagian lengan ku yang terasa sakit.

__ADS_1


"Aww! Sialan kamu, Lan! Pelan-pelan buka nya bisa gak sih?! Sakit tahu!" Aku mengomel sewot, saat sentuhan tangan Erlan tak sengaja menowel bagian lengan ku yang sakit.


"Aduh! Maaf, La. Aku gak sengaja. Yang mana sih yang sakit?" Erlan bertanya, sambil melipat lengan kemeja ku ke atas dengan perlahan-lahan.


"Aw! Yang ini nih.. huuuu...uu..uu.." aku kembali menangis.


Kemudian, sebuah lebam keunguan muncul di bagian lengan ku yang tadi sempat menjadi sasaran bogem tangan nya Koyano.


"Duh! Kita ke rumah sakit aja deh ya! Takut ada patah tulang atau gimana.." ucap Erlan was-was.


Selanjutnya, Erlan langsung membawaku ke sebuah rumah sakit. Menurut hasil pemeriksaan oleh dokter, aku hanya mengalami patah tulang ringan. Sang dokter lalu memasangkan papan gips pada lengan ku yang sakit. Juga memberi ku obat demam dan antibiotik, jika-jika aku mengalami demam nanti malam.


Sekeluarnya dari rumah sakit, Erlan tadi nya hendak mengantarkan ku kembali pulang. Namun aku bersikeras menolak usulannya itu.


Aku memilih untuk kembali kerja hari ini. Karena toh pekerjaan ku pun terbilang ringan. Dan aku juga tak terlalu memerlukan lengan kiri ku dalam menunaikan pekerjaan ku.


Merasa kalah berdebat, Erlan mengalah. Ia pun akhirnya melajukan mobil nya kembali menuju rumah Mama Ilma.


Tapi, sesampainya di rumah Mama Ilmaya, aku langsung menyesali keputusan ku untuk tetap bekerja hari ini.


Karena pada akhirnya aku justru dilarang oleh Mama Ilmaya untuk berbuat apapun. Alih-alih bekerja dan menemani Oma yang sakit di pembaringan nya, aku justru mendapatkan pelayanan istimewa macam tamu VVIP dari negeri Arab saja.


Aku diminta untuk beristirahat di salah satu kamar tamu. Disiapkan makanan dan minuman yang enak dan bergizi tinggi. Serta tak habis-hanis nya pelayan datang silih berganti untuk menanyakan segala keperluan ku.


'Benar kata si Cabe ijo. Lebih baik tadi aku pulang saja ke rumah!' sesal ku tanpa suara.


Sekitar jam enam sore, aku hampir ditawan oleh Mama Ilmaya dengan alasan aku yang masih sakit. Syukurlah, aku menerima telepon dari Mama yang menanyakan keberadaan ku.


Seharusnya, memang aku sudah pulang dan berada di rumah pada jam lima sore. Namun hingga mendekati waktu maghrib, aku tak jua pulang.


Akhirnya Mama Ilmaya merelakan ku pulang. Namun ia berpesan agar aku besok harus tetap kembali ke rumah nya. Tapi tidak untuk bekerja dulu. Melainkan untuk berleha-leha seperti seharian ini.


'Diih.. enggak lah. Mending besok aku ijin kerja dulu aja beberapa hari lah. Rasanya gak enak banget tadi, dilayanin sama banyak pelayan. Padahal aku sendiri juga kan pelayan di sana!. aku memutuskan dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2