Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Berakhir Sudah


__ADS_3

(POV Kiyano)


Sambil menyeringai lebar, Azki menekan tombol pemicu bom yang terpasang di tubuh Mark dan juga Nila. Dan... Tak ada ledakan. Tak ada apa pun yang terjadi.


...


...


Aku menatap bingung kepada Azki dan juga pada orang-orang di sekitar ku. Mengira kalau aku mungkin berhalusinasi dan langsung masuk ke syurga tanpa sempat merasakan sakit nya luka akibat ledakan bom


Tapi lalu ku lihat Azki yang tampak frustasi dan menekan remot nya berkali-kali.


"Seperti nya, tim penjinak bom kami telah berhasil menjinakkan rangkaian bom milik mu itu. Jadi, percuma juga bila kau terus menekan remot itu terus menerus," ungkap salah seorang polisi.


Mendengar itu, Azki melempar remot itu ke lantai. Dan tiba-tiba saja ia bangun dan merangsek maju ke arah Laila. Hendak menjadikan nya sebagai sandera.


Tapi aku tak membiarkan hal itu terjadi. Aku langsung bergerak cepat dan menarik Laila hingga punggung ku pun menjadi tameng bagi serangan Azki yang begitu mendadak.


Entah sejak kapan Azki memegang sebuah cutter di tangan nya. Dan karena sabetan cutter itu, aku merasakan perih akibat sayatan pada bagian punggung ku.


Beruntung nya polisi yang lain juga bergerak cepat. Sehingga dalam hitungan detik, Azki pun berhasil di lumpuhkan di atas lantai.


Aku meringis nyeri. Namun sekaligus juga merasa lega karena berhasil mencegah Laila dari terluka.


Laila seperti nya menyadari luka ku itu. Sehingga ia pun langsung meminta ku untuk berbalik demi melihat luka di punggung ku.


"Ya Allah.. luka nya lumayan panjang. Kamu tahan dulu ya, Kiy. Kita obati ke rumah sakit aja sekarang juga!" Saran Laila.


Belum sempat aku menjawab, ku dengar suara Mark dan juga Nila memanggil Mama nya dari atas anak tangga.


"Mama!!" Panggil kedua anak nya Laila secara bersamaan.


"Mark! Nila!" Panggil balik Laila sambil berlari menuju kedua anak nya itu.


Perhatian Laila langsung teralih ke belakang. Dan aku menyaksikan reuni ibu dan kedua anak nya itu kembali setelah terpisah selama satu minggu lama nya.

__ADS_1


Di belakang ku, Azki kembali menggila saat melihat Mark dan juga Nila.


"Erlan! Erlan! Sini! Ikut bersama ku! Jangan dengan wanita bo doh itu! Erlan!!" Empat orang polisi harus berjibaku membawa Azki pergi keluar rumah. Sudah pasti jeruji besi akan menjadi rumah masa depan pemuda itu.


Meski pun aku juga agak meragukan masa tahanan yang akan diberlakukan bagi Azki. Mengingat seperti nya pemuda itu memiliki kecenderungan gila. Bila mendengar cerita Laila tentang ke obsesifan nya terhadap mendiang Erlan.


Syukurlah, malam ini Azki berhasil dilumpuhkan tanpa ada siapapun yang terluka. Well,, hanya aku saja sih yang terluka. Itu pun hanya sedikit saja.


Pulang dari rumah persembunyian nya Azki, aku menolak tawaran Laila yang ingin mengantarkan ku ke rumah sakit.


Aku menyuruh nya untuk langsung pulang ke rumah nya saja bersama anak-anak. Karena aku pun merasa kalau itu lah yang paling dibutuhkan oleh anak-anak Laila saat ini. Kebersamaan dengan keluarga nya do rumah nya sendiri.


Aku diantar oleh seorang polisi yang dengan suka rela menjadi sopir ku ke rumah sakit terdekat. Di sana, aku hanya diberi obat salep dan demam saja oleh dokter. Kemudian langsung diijinkan pulang.


Namun sebelum itu, aku diminta untuk memberikan kesaksian ku terlebih dahulu atas kejahatan yang dilakukan oleh Azki dalam aksi penculikan dan percobaan pembunuhan nya itu.


Setelah selesai memberikan keterangan, aku pun langsung pulang ke rumah ku sendiri. Menemui oase ku tersendiri. Lala ku.


***


(POV Laila)


Aku hanya pergi ke kantor polisi saja sekali pada keesokan hari setelah Azki berhasil diringkus. Tujuan nya untuk memberikan kesaksian ku atas kejadian penculikan ini.


Menurut polisi, Azki harus menjalani serangkaian tes kejiwaan dulu. Dan jika benar ia memiliki kelainan mental, maka besar kemungkinan hukum pidana tak akan bisa menjerat nya. Sanatorium sudah pasti akan menjadi penjara seumur hidup lelaki itu.


Dan jika ia dinyatakan sehat, maka Azki terancam hukuman 20 tahun penjara atas usaha penculikan dan percobaan pembunuhan kemarin lalu.


Aku tak perduli dengan apa yang terjadi pada Azki. Bagi ku, dia adalah mimpi buruk yang harus kulupakan sesegera mungkin. Fokus ku untuk waktu ke depan nya adalah kebahagiaan Mark dan juga Nila. Ya. Hanya itu saja.


Terhadap Kiyano, aku kembali menelepon nya juga sekitar dua hari setelah malam penangkapan Azki. Ku tanyakan kabar luka di punggung nya akibat sayatan cutter Azki saat ia mencoba melindungi ku tempo lalu.


Sedikit banyak nya aku merasa bersalah sekaligus juga berterima kasih kepada Kiyano. Hanya dua hal itu saja yang bisa terpikirkan oleh ku saat ini terhadap mantan kekasih ku itu.


Arline, Mama Ilmaya dan Papa Gilberth mengunjungi rumah ku segera setelah ku kabari mereka pada keesokan hari nya. Semua orang turut berbahagia dengan kembali nya Mark dan juga Nila tanpa ada nya luka apapun jua.

__ADS_1


Ya. Aku bersyukur karena Mark dan Nila tak mendapatkan luka fisik dari Azki. Mereka hanya sempat ketakutan pada Papa Azki nya yang tiba-tiba saja bersikap gila.


Mark bercerita, kalau Azki memang menyuruh nya untuk pergi keluar rumah tanpa memberitahu siapa pun beberapa hari yang lalu. Itu dilakukannya lewat telepon di hari yang sama saat Mark menghilang.


Aku memarahi Mark untuk sikap abai nya itu. Ku ajarkan kedua anak ku untuk selalu meminta ijin terlebih dulu kepada ku setiap kali mereka hendak pergi ke mana pun mulai saat ini.


Sehingga saat suatu sore Mark tiba-tiba saja mengatakan kepada ku kalau ia ingin bermain ke rumah Lala, aku sempat ternganga selama beberapa detik.


"Kenapa kamu tiba-tiba mau ke rumah Lala, Mark?" Tanya ku penasaran kepada nya.


Dengan gugup, Mark menyampaikan alasan nya kepada ku.


"Mark mau ketemu Papa nya Lala. Bukan kah Papa Lala yang membawa Mama menemui kami saat itu ke rumah Papa Azki?"


"Dari mana kamu tahu itu? Apa Kiya.. maksud Mama, apa Papa Lala yang mengatakan nya kepada mu, Mark?" Tanya ku lagi, menyelidik.


Mark menggeleng jujur.


"Enggak. Malam itu, Nila menangis ingin pulang bertemu Mama kan ya. Tapi Papa Azki bilang kalau Mama gak mau ketemu sama kita lagi.."


"Bohong! Mama sayang sama Mark dan juga Nila. Jadi jelas Mama ingin selalu bersama-sama dong dengan kalian.." aku menyanggah ucapan beracun yang diucapkan oleh Azki kepada anak-anak.


"Tuh, kan. Sudah Mark duga kalau Papa Azki pastilah berbohong,," komentar Mark.


"Terus?"


"Terus, waktu pintu nya dikunci lagi sama Papa Azki, papa Lala datang dan bilang kalau sebentar lagi ada bantuan yang datang. Gak lama, ada tentara keren yang lepasin baju besi di badan Mark dan juga Nila. Mark gak suka pakai baju itu, tapi Papa Azki memaksa Mark untuk memakai nya," keluh Mark.


Ku dengar celoteh panjang Mark tentang baju besi (rompi bom) yang dipasangkan oleh Azki ke tubuh nya dan Nila. Mengingat bom itu, aku jadi merasa kesal lagi pada pemuda gila itu. Tak menyangka kalau aku telat menyadari kegilaan nya selama ini.


"Jadi, Mark mau ketemu Papa Lala karena itu?" Tanya ku memastikan.


"Iya, Ma! Papa Lala keren deh! Bisa punya teman tentara yang banyaaaakk banget. Kalau sudah besar nanti, Mark mau jadi tentara aja!" Mark mengangankan cita-cita nya.


Aku tersenyum.

__ADS_1


"Oke. Kapan-kapan, kita main deh ya ke rumah Lala," aku melontarkan janji yang tak ku tahu kapan bisa menepati nya. Mengingat bila aku pergi ke rumah Mark, maka mau tak mau berarti aku juga pasti nya akan bertemu dengan Bella. Hmm..


***


__ADS_2