Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Pemakaman (POV Laila)


__ADS_3

Dengan agak memaksa, aku meminta kepada Mama untuk mengeluarkan ku dari klinik tempat ku dirawat saat ini.


Setelah mendapat ijin dari dokter di sana, akhirnya Nunik dan Mama mau mengantarkan ku ke rumah sakit tempat Erlan berada saat ini. Itu pun dengan satu syarat. Yakni aku harus mau duduk di kursi roda selama perjalanan kami.


Menurut dokter di klinik tadi, kondisi janin ku saat ini cukup mengkhawatirkan. Mungkin karena aku baru saja mengalami shock yang berlebihan, sehingga salah satu janin terdata memiliki detak jantung yang lebih lemah dibandingkan yang lainnya.


Aku pun mau mengikuti saran dokter untuk duduk di atas kursi roda selama beberapa waktu ke depan nya. Dan aku pun ingat pada nasihat dokter agar bisa bed rest selama beberapa hari nanti.


Berlima dengan Mama Mutia, Nunik, Papa dan juga Darman, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Erlan dilarikan.


Di rumah sakit itu lah aku bertemu dengan Arline, Mama Ilmaya dan juga Om Gilberth. Wajah ketiganya menampakkan kesedihan yang teramat nyata. Dan hal ini membuat ku teringat kembali pada fakta menyakitkan yang harus ku hadapi sesaat lagi.


Dari Arline, aku mendengar cerita versi nya.


Ternyata begitu pingsan di depan minimarket, aku segera dibawa oleh seorang pelanggan mini market yang baik hati ke klinik terdekat.


Setelah itu dia menelpon Arline yang berada di kontak teratas dalam aplikasi chat di ponsel milik ku. Arline yang juga baru menerima telepon tentang kecelakaan yang dialami oleh Erlan dari pihak kepolisian pun langsung bergegas datang ke klinik tempat ku berada.


Arline lalu menghubungi Mama Mutia untuk datang menemani ku. Sementara ia hendak melihat kondisi kakak nya yang katanya dilarikan ke rumah sakit.


Saat ini, tiga jam telah berlalu sejak kecelakaan itu terjadi. Dan baru sekitar satu jam berikutnya lah akhirnya aku bisa melihat jasad Erlan dengan kedua mata ku sendiri. Erlan dinyatakan meninggal di TKP (tempat kejadian perkara).


Sebelum memasuki kamar jenazah, ku dengar sayup-sayup suara adzan zuhur berkumandang di kejauhan.


Gema takbir itu seolah menjadi pengingat bagi ku untuk tetap tegar dalam menghadapi apa yang akan ku temui beberapa saat lagi di dalan ruang jenazah itu.


Aku memutuskan untuk beranjak bangun dari kursi roda ku.


Aku ingin menemui Erlan dengan kedua kaki ku sendiri. Aku ingin perpisahan kami ini kulakukan dengan usaha ku sendiri.


Dan dengan langkah dan hati yang terseret-seret, aku pun akhirnya menguatkan diri untuk menemui Erlan ku lagi.. meski kini, nyawa tiada lagi berdiam dalam raga milik suami ku itu.

__ADS_1


Tes.. Tes..


Dua bulir air mata menganak sungai dalam diam. Hati ku serasa disayat atas setiap langkah yang kuambil untuk mendekati jasad suami ku yang kini telah terbujur kaku.


Erlan ku.. matahari ku.. cinta ku..


Begitu banyak penyesalan yang tiba-tiba muncul dan berkelebat di benak ku. Entah itu sikap maupun kata-kata yang telah sering kuucap dan melukai hati suami ku.. juga kata-kata yang tak sering kuucapkan selama Erlan masih hidup bersama di sisi ku dulu.


Aku kini didera oleh rasa penyesalan yang sungguh menyesakkan hati. Menyesal karena tak cukup sering mengungkapkan cinta ku kepada nya.


'Maafin aku, Yang.. aku cinta kamu.. aku cinta kamu..' batin ku merapalkan kalimat yang sama berulang-ulang.


Hingga akhirnya langkah ku terhenti jua di depan jasad Erlan yang tiada lagi bernyawa.


Ku buka kain putih yang menutupi wajah suami ku. Dan..


...


Rasa pedih yang teramat menyakitkan itu kembali menyayat hati ini. Manakala kulihat wajah Erlan yang tampak sama seperti saat terakhir kali aku melihat nya di depan minimarket tadi.


Dengan tangan bergetar menahan emosi, ku sapukan jemari ku hingga menyentuh kepala, wajah, dan juga pipi Erlan. Namun sensasi dingin yang kurasakan kemudian, bagai belati yang kembali menghujam jantung ku dengan begitu kuat nya.


Dingin nya kulit Erlan membuat ku teringat pada fakta yang harus ku terima di sisa hidup ku mulai saat ini dan untuk seterusnya. Bahwa Erlan ku kini telah tiada.. bahwa cinta ku kini telah berpulang kepada-Nya..


...


...


Masih dengan tangan yang bergetar, aku meraih kembali wajah Erlan dengan tangan ku yang lain. Dengan hati yang sudah pecah bersimbah darah, ku cium kening, pipi, serta bibir suami ku itu.


Sebuah kalimat ku bisikkan pelan di telinga Erlan yang tak lagi memiliki fungsi nya.

__ADS_1


"Aku akan mengikhlaskan mu pergi, Yang.. aku akan menjaga dede utun 1 dan 2 untuk mu.. tenanglah di dunia mu saat ini. I ❤️u, Lan.."


***


Sore menjelang maghrib, jasad Erlan langsung dishalatkan dan dimakam kan di taman belakang rumah Mama Ilmaya dan Om Gilberth.


Makam Erlan berdampingan juga dengan makam Opa dan Oma Ruth.


Kupandangi ketiga makam yang beejejer rapih di depan ku itu. Dengan makam Erlan yang tanah nya masih terlihat merah baru.


Ku antarkan Erlan ke tempat istirahat nya yang terakhir dengan langkah gontai dan hati yang sudah terlalu letih dalam rasa sedih.


Aku tak lagi menangis, sejak netra ku menangkap citra jasad nya Erlan di kamar jenazah. Mulut ku serasa bisu dari meneriakkan kesedihan yang sebenarnya masih menyelubungi ku dengan begitu erat nya.


Pandangan ku mungkin terlihat hampa bagi orang-orang di sekitar ku saat ini. Karena aku sering mendapati orang-orang menatap ku dengan pandangan iba dan juga terluka.


Aku tak bisa perduli dengan semua pandangan itu. Karena saat ini benakku terlalu disibukkan oleh rasa kehilangan yang ku rasakan.


Erlan ku telah pergi kini. Dan aku tak akan lagi mendapati tawa nya menemani hari-hari ku di waktu ke depannya nanti.


Tes.. tes..


Dua tetes air hujan terjatuh menyentuh pipi ku. Ku tengadahkan wajah ku ke atas. Menatap langit yang mulai terlihat gelap kemerahan. Pertanda senja yang telah kembali datang menjemput hari.


Masih dengan wajah yang tertengadah ke atas, dua buliran krital bening itu pun akhirnya kembali tumpah dari kedua mata ku. Bercampur baur bersama air hujan yang kian menderas turun dari atas langit sana.


"Laila, ayo kita ke dalam rumah, Nak! Hari mulai gelap.." ajak sebuah suara di samping ku.


Pikiran ku tak bisa mengenali pemilik suara yang sebenarnya tak asing itu. Aku hanya sadar ketika ada tangan yang menarik ku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan makam Erlan yang berada di belakang ku.


Sebelum pintu belakang rumah tertutup rapat, aku sempat melayangkan kembali tatapan ku ke arah gundukan tanah merah, tempat Erlan baru saja dikuburkan.

__ADS_1


"Sayonara, Yang.. have a sweet dream.." bisik ku lirih ditelan gemuruh angin dan deras nya hujan.


***


__ADS_2