Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kisah Mama bag. 2 (POV Laila)


__ADS_3

Masih flashback..


Kecurigaan ku tentang tiada nya Papa seketika pupus. Manakala tiba-tiba saja muncul orang asing yang mengaku kalau ia telah membeli rumah yang kutinggali saat itu dari Papa.


Aku merasa heran dan tak percaya. Sementara Mama langsung terduduk jatuh dan tak berkata-kata untuk waktu yang lama.


Usia ku masih sangat muda saat itu terjadi. Sepuluh tahun. Dan aku harus merasakan terusir dari rumah tempat ku di besarkan selama ini.


Aku menangis dan meraung-raung. Sementara aku mencoba membuat Mama untuk melawan orang asing itu. Tapi Mama hanya terduduk diam dalam dunia nya sendiri.


Hingga kulihat dua kristal bening akhirnya menganak sungai juga pada kedua pipi Mama. Ia menangis dalam diam. Meratapi takdir cinta dan kebahagiaan nya yang harus direnggut paksa dari hidup nya.


Dengan linglung aku mengikuti Mama keluar dari rumah kami, berjalan hingga ke halte, lalu pergi ke toko emas. Di sana, Mama menjual satu-satu nya harta yang ia miliki, yakni sebuah cincin yang selalu ia kenakan di jari manis nya.


Bagaimana Mama bisa se miskin ini? Kalian mungkin akan bertanya. Memang nya Mama tak memiliki simpanan emas? Kalian mungkin akan menanyakan hal ini juga.


Beberapa tahun setelah kejadian itu, Mama baru bercerita kepada ku. Kalau ternyata saat Papa memutuskan untuk pergi, ia juga mengambil paksa semua simpanan mas milik Mama.


Saat Mama mencoba untuk menjumpai Papa di ladang tambak nya, ternyata Papa telah menjual usaha tambak nya itu pula kepada orang lain.


Sebelum rumah kami akhirnya dijual, Mama masih terus berusaha mencari keberadaan Papa yang tiba-tiba saja hilang di telan bumi.


Mama hanya mendengar selentingan kabar kalau Papa telah menikah dengan wanita lain dan hidup berfoya-foya dengan pelakor itu.


Saat itu lah akhirnya Mama tersadar kalau Papa ternyata telah menghianati cinta mereka. Dan Mama sungguh membenci pelakor yang hingga kini tak pernah ia jumpai wajah nya itu.


Akhirnya, dimulai lah kehidupan ku berdua saja dengan Mama. Berbekal uang hasil penjualan cincin, kami bisa menyewa sebuah kontrakan kecil di kota A.

__ADS_1


Selama beberapa tahun pertama kami hidup berpindah-pindah. Karena sering nya kami diusir oleh para pemilik kontrakan karena Mama yang telat membayar uang sewa nya.


Tapi yang membuat ku sungguh bangga pada Mama adalah, sejak diusir nya kami dari rumah besar kami, Mama tak lagi pernah kulihat menangis. Mama seolah-olah telah bertransformasi menjadi wanita single yang mandiri.


Fokus Mama hanyalah aku dan aku semata. Ia selalu memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan ku. Terutama adalah terkait masa depan pendidikan ku.


Melihat perjuangan Mama, akhirnya aku bertekad untuk mengurangi beban di punggung Mama. Aku pun belajar dengan giat. Sehingga saat kelulusan SD, aku akhirnya bisa menerima beasiswa ke SMP yang kutuju.


Sejak saat itulah, aku langganan menjadi juara umum di sekolah. Dan terus berlanjut hingga SMA.


Sayang nya, aku hanya mampu mengenyam bangku pendidikan hingga SMA saja. Karena ketika aku hendak meneruskan ke Universitas dengan beasiswa yang juga berhasil kudapat, terjadi sesuatu yang membuat langkah ku tertahan.


Mama sakit. Separo tubuh nya mengalami stroke sehingga ia sempat tak bisa berjalan normal selama beberapa bulan.


Akhirnya aku pun tak jadi lanjut ke universitas. Dan uang yang akan kugunakan sebagai bekal pendidikan ku pun akhirnya harus dilarikan untuk biaya pengobatan Mama.


Entahlah dengan keluarga Mama di pulau masa ia kecil dulu. Karena telah sejak lama, Mama mengaku telah hilang kontak dengan Ama dan Apa nya.


Karena nya aku benar-benar mengusahakan kesembuhan Mama dari penyakit stroke itu. Meski pun ini mengharuskan ku menghabiskan masa muda ku dalam hirup pikuk nya dunia kerja. Tak mengapa. Semuanya itu tulus kulakukan demi Mama.


Flashback selesai.


"Ma.. apa Mama pernah menyesal telah mencintai laki-laki seperti Papa?" Aku tiba-tiba saja didera hasrat untuk menanyakan pertanyaan yang sudah sejak lama begitu ingin kutanyakan.


Kemudian kulihat Mama tercenung diam. Ia terlihat seperti sedang mengingat sesuatu dengan ekspresi yang sulit tuk ku baca. Maka aku pun menanti jawaban Mama dalam diam.


"Menyesal? Tidak, Nak. Mama tidak akan menyesali pernah mencintai Papa mu. Karena bukan kah dengan bersama nya Mama juga bisa bertemu dengan mu? Kamu adalah permata berharga Mama satu-satu nya. Jadi Mama selalu bersyukur karena kamu ada dan selalu berada di sisi Mama," ungkap Mama dengan jujur.

__ADS_1


Gantian aku yang dibuat tak bisa berkata-kata oleh Mama. Mendengar jawaban Mama tadi, aku tiba-tiba saja merasakan sesak haru yang membungkus tak hanya hati ku saja, namun juga keseluruhan benak dan indera ku.


Kemudian aku membetulkan posisi ku hingga menjadi duduk bersandar ke kepala kasur, seperti Mama. Lalu ku rebahkan kepala ku pada bahu wanita yang selama ini telah mengajarkan ku tentang cinta, ketulusan dan ketabahan hati.


Mama. Satu-satu nya wanita yang paling ku cintai di dunia ini.


"Lail saya...ng Mama. Sampai kapan pun juga, Lail gak akan mau berpisah dari Mama. Walau nanti Lail menikah, Mama harus ikut tinggal juga ya sama Lail. Pokoknya harus!" Aku bersikukuh dengan harapan ku itu.


Mama lalu meraih jemari ku dan menepuk bagian punggung nya dengan pelan selama beberapa kali. Ia pun kembali berkata.


"Kamu harus jadi wanita tangguh ya, Nak. Senantiasa tangguh menghadapi apapun yang telah ditakdirkan kepada mu. Sebenarnya Mama sempat khawatir saat kamu dulu berpisah dari Kiyano.."


Aku tertegun kala ku dengar nama Kiyano dari mulut Mama. Tak menyangka kalau aku akan mendengar nama nya lagi di hari bahagia nya aku saat ini.


"Mama pernah merasakan jatuh cinta. Dan Mama pun pernah merasakan sakit nya dilukai. Tapi, setelah semua rasa sakit yang Mama rasakan dari mencintai Papa mu, aneh nya Mama tetap tak bisa membenci nya, Nak. Jauh di sudut terjauh dalam hati Mama, Mama masih berharap untuk bisa bertemu lagi dengan Papa mu, La.." ungkap Mama dengan jujur.


Aku terkejut dengan fakta yang baru kuketahui ini. Dengan spontan, aku mengangkat pandangan ku ke wajah Mama. Dan Mama membalas tatapan ku dengan senyuman tipis di wajah nya.


"Mama takut kamu pun akan seperti Mama, Nak. Mama takut kalau kamu masih mencintai pemuda itu, setelah semua yang terjadi di antara kalian."


Dan aku langsung menundukkan kepala ku. Aku merasa tak sanggup menatap mata Mama lebih lama lagi setelah mendengar kekhawatiran nya tadi.


"Tapi syukurlah.. kamu ternyata jauh lebih tangguh daripada Mama, Nak. Karena kini kamu bisa menerima Erlan untuk masuk ke dalam masa depan mu nanti. Mama bangga pada mu, Laila!" Ucap Mama sambil menempelkan kepala nya pada kepala ku yang masih rebah di bahu nya.


Sementara itu, aku tak mampu membalas ucapan Mama lagi. Karena aku tak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakan pada Mama bahwa sangkaan nya tentang ku itu tak sepenuh nya benar.


Karena jauh di sudut terdalam hati ku pun, aku tahu benar. Bahwa aku masih menyimpan rasa untuk Kiyano, cinta pertama ku itu.

__ADS_1


***


__ADS_2