Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Dugaan (POV Laila)


__ADS_3

Ku tunjukkan Mark yang masih tertidur di kasur nya, kepada Lala. Baru lah kemudian, dengan suara berbisik, aku mengajak anak perempuan itu untuk kembali ke tempat Ayah nya berada.


Benar saja. Kiyano, ku dapati masih berdiri menunggu di luar rumah. Ia menatap ke sekitar rumah ku dengan pandangan tertarik.


"Udah puas lihatin nya?" Aku menegur nya dengan sedikit bersikap jutek.


Entahlah. Berhadapan dengan Kiyano lagi, aku malah jadi teringat dengan apa yang terjadi di antara kami dulu. Dan itu cukup membuat hati ku menjadi kesal.


Melihat Kiyano, aku jadi diingatkan pada kesalahan terbodoh sepanjang hidup ku ini. Dan semua itu disebabkan oleh ketidak jujuran Kiyano terhadap ku dulu sekali.


"Sorry. Rumah kamu asri banget. Aku suka," ucap Kiyano terlihat malu.


Ekspresi nya langsung melembut saat ia menatap putri nya.


"Sudah jenguk Mark nya kan, Sayang? Kita pulang yuk!" Ajak Kiyano kepada Lala.


Lala mengangguk. Dan berjalan menghampiri Kiyano.


"Makasih ya, La. Udah mau kasih ijin ke Lala untuk nengokin Mark," imbuh Kiyano sebelum masuk ke mobil nya.


"Ya. Bukan masalah besar," jawab ku acuh.


Sebelum menutup pintu mobil nya, Kiyano kembali bicara kepada ku.


"Kamu juga terlihat beda dengan kerudung itu. Kamu... Pantas memakai nya," ucap Kiyano lagi.


Aku tak menyahut apa-apa. Bahkan aku tak menunggu mobil Kiyano menghilang, untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Begitu aku kembali ke kamar Mark, ternyata ada Azki di sana.


"Oh! Ku pikir kamu sudah pulang Az? Tadi kamu gak ada.." aku menyapa Azki.


Di atas kasur, Mark telah terbangun. Namun putra itu terlihat masih lemas dan lebih pendiam.


Ku hampiri Mark, dan ku sentuh kening nya. Syukurlah panas nya sudah mereda.


"Alhamdulillah.. demam nya sudah turun.." aku bergumam pelan.


"Tadi aku ngobrol sama Om Ulum, Mbak La, di halaman belakang. Taman di bagian belakang rapih banget. Jadi aku minta tips nya untuk taman di rumah ku nanti," imbuh Azki.


Aku tertarik dengan ucapan Azki barusan. Karena sepengetahuan ku, saat ini Azki tinggal di sebuah flat ukuran sedang. Di flat itu tak ada lahan untuk parkir mobil nya. Sehingga sering nya Azki ikut parkir mobil di rumah teman nya.


"Oh! Kamu ada rencana untuk beli rumah, Az?" Aku bertanya.


"Iya, Mbak. Alhamdulillah.. tabungan ku kira-kira sudah cukup untuk beli rumah tipe ukuran sedang."


"Alhamdulillah.. yah. Boleh lah beli dulu rumah nya. Nanti baru cari orang yang mengurus rumah nya ya," ucap ku ramah.

__ADS_1


Azki tak menyahut apa-apa. Ia malah memandangi ku lekat-lekat. Hingga saat aku mulai merasa jengah dengan tatapan nya, baru lah Azki mengalihkan pandangan nya kembali ke Mark.


"Seperti nya jagoan Papa sudah mau sembuh. Kalau begitu, Papa pulang dulu ya, jagoan!" Azki berpamitan kepada Mark.


Namun, belum sempat Azki membalikkan badan, kemeja nya sudah ditahan oleh putra ku itu.


Dengan suara sedikit serak, Mark bicara.


"Mark mau sama Nila, Pa.." mohon Mark.


Deg. Deg. Hujan membasahi hati ku dengan seketika. Mestilah Mark sangat merindukan Nila saat ini sehingga ia mengutarakan keinginan terdalam nya itu kepada Azki.


"Mark.." aku baru hendak mulai bicara, saat Azki memberi ku isyarat untuk menyerahkan situasi ini kepada nya.


Azki lalu duduk di tepi kasur dan menatap Mark lekat-lekat. Dengan suara lembut, Azki pun berkata.


"Ya. Nanti Mark main lagi ya sama Nila. Tapi Mark harus tepati janji Mark dulu sama Papa. Oke?" Ucap Azki.


Dengan ragu-ragu, Mark menganggukkan kepala nya.


"Iya, Pa.."


"Bagus. Sekarang, Mark makan bubur dulu ya, Sayang. Biar Mark cepat sembuh. Nanti bisa main lagi sama Nila. Ok?"


"Ok.."


Azki pun keluar kamar. Aku sebenarnya ingin berbincang terlebih dulu dengan Azki. Namun terlebih dulu aku berkata kepada Mark.


"Mama ambilkan bubur buat kamu dulu ya, Sayang. Mark tiduran dulu aja," aku memberikan saran.


Dengan langkah tergesa, aku mengejar Azki. Syukurlah Azki belum masuk ke dalam mobil nya saat aku mendapati nya di depan rumah.


"Az! Tunggu sebentar!" Ku panggil Azki.


Azki berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap ku.


"Ya, Mbak La?"


Ku perhatikan raut wajah Azki yang sederhana dengan kedua mata yang terbingkai oleh kacamata bulat. Terhadap sahabat nya Erlan ini, aku masih merasa canggung bahkan hingga saat ini. Padahal aku sudah cukup sering berinteraksi dengan nya.


"Ini.. Kamu bisa tolong cek cctv di ragunan sekali lagi gak? Pakai caramu sendiri, Az. Kamu lumayan ngerti kan soal komputer?" Aku lagi-lagi meminta tolong kepada Azki.


"Maaf kalau ngerepotin lagi," imbuh ku terburu-buru.


Azki menatap ku dalam diam untuk sesaat. Lalu ia perlahan berkata.


"Saya sudah mengeceknya kemarin malam, Mbak. Tapi sepertinya cctv nya memang sudah rusak dari sejak lama. Dan saya gak berhasil nemuin profil Nila di setiap cctv itu. Maaf.." ucap Azki dengan raut menyesal.

__ADS_1


Harapan ku pun pupus. Padahal tadi nya aku berpikir kalau kemampuan Azki di bidang IT bisa membantu ku menemukan Nila. Tapi ternyata..


"Berprasangka baik saja ya, Mbak. Semoga Nila berada bersama orang-orang yang baik.." imbuh Azki.


"Jika memang Nila bersama dengan orang yang baik, lalu kenapa hingga saat ini tak ada laporan ditemukan nya Nila, Az? Aku bingung.. bagaimana aku bisa membalas pertanyaan-pertanyaan Mark tentang Nila? Jika saja waktu itu aku tak ceroboh dan membiarkan Nila menunggu sendirian di luar WC.." aku kembali berandai-andai.


Sayang nya aku tak mampu berandai-andai lama. Karena isak tangis ku mulai kembali merebak di dada.


"Hiks.. Nila.. Ya Allah.. di mana kamu Nak?.." aku pun menahan isak sambil menutup kedua mata ku.


Memikirkan kembali nasib putri ku yang entah ada di mana kini.


Tak lama kemudian, seseorang mengusap kepala ku pelan secara berkala. Aku tahu, kalau Azki lah yang saat ini berusaha menenangkan ku dengan cara nya sendiri.


Ia tahu, kalau aku tak mungkin bersedia untuk dipeluk oleh nya. Karena pelukan di antara dua insan yang bukan mahram hukum nya adalah haram. Dosa.


Ku ambil napas dalam-dalam beberapa kali. Hingga ketenangan itu kembali menyapu hati ini. Setelah merasa lebih tenang, baru lah ku angkat wajah ku ke atas, menatap Azki.


Aku merasa malu, terutama saat aku menangkap tatapan iba dari kedua manik milik pria di hadapan ku itu.


"Maaf.. barusan aku lepas kontrol.." aku mengaku sambil malu-malu.


"Gak apa-apa Mbak La. Wajar kok. Saya juga khawatir sama anak-anak kalau sampai mereka di rawat sama orang yang gak tepat," imbuh Azki.


Lewat beberapa lama kemudian, Azki tiba-tiba saja bertanya.


"Tadi itu, teman nya Mbak La atau siapa ya?" Tanya Azki.


"Huh? Siapa, Az?" Tanya ku kebingungan.


"Itu loh Mbak, yang bawa anak kecil naik mobil warna hitam," ucap Azki memperjelas.


"Oh! Kiyano maksud kamu? Memang nya dia kenapa, Az? Iya. Dia dulu pernah jadi.. bos nya aku dan Erlan," ucap ku menutupi sebagian fakta.


Ya. Kiyano memang pernah menjadi bos ku dan juga Erlan. Namun Kiyano juga pernah menjadi kekasih ku beberapa tahun silam..


Ku pikir ada baiknya bila aku tak berkata banyak perihal Kiyano. Lagipula, apa perlunya? Toh dia hanya masa lalu ku semata. Pikir ku begitu.


"Apa dia.. pernah jadi teman dekat nya Mbak La, Dulu? Maaf, kalau pertanyaan saya lancang, Mbak.." ucap Azki terburu-buru.


Aku terdiam dan tak tahu harus menjawab apa. Namun ucapan Azki kemudian telah memunculkan satu dugaan baru yang patut ku pikirkan baik-baik.


"Sepertinya dia masih suka sama Mbak La. Soalnya tadi dia sempat tanya-tanya gitu tentang siapa saya bagi Mbak. Saya pikir, agak aneh juga ya. Karena tiba-tiba saja dia muncul di saat Nila menghilang.. maksud saya.. maaf. Saya hanya ingin tahu, apa antara Mbak La dan lelaki tadi pernah ada dendam atau sesuatu yang seperti itu? Jika begitu maka bisa jadi hilangnya Nila ini ada kaitannya dengan.. ah, tapi ini hanya dugaan saya saja ya Mbak. Bisa jadi juga saya salah," ungkap Azki panjang lebar.


Aku tertegun menyimak kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Azki barusan. Setelah kupikirkan baik-baik, barulah logika ku merangkai satu kesimpulan yang kutanyakan kepada Azki saat itu juga.


"Apa maksud mu... kiyano yang sudah.. menculik Nila, Az?!"

__ADS_1


***


__ADS_2