Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Nunik dan Kiyano (POV Laila)


__ADS_3

"Asalamu'alaikum!" Suara salam dari depan teras serentak membuat ku dan Si Keong menoleh.


Sebelum menengok, sebenarnya aku sudah mengetahui pemilik suara feminim itu.


"Nunik! Kyaa!! Miss you, Nun!" Aku bangun dan menjerit heboh sambil menangkup tubuh mungil sahabat ku itu dalam sebuah pelukan erat.


Rindu benar dengan Nunik. Karena hampir sebulan berlalu sudah, sejak terakhir kali kami bertemu.


"Masya Allah, il! Baru sebulan gak ketemu, suara Lail makin nyaring aja!" Nunik bicara dalam pelukan ku.


"Kangen tahu, Nun! Ya ampun! Apalagi minggu depan kan kamu married, nanti aku gak punya teman jomblo lagi dong!" Aku masih melepas kangen dengan sahabat ku, Nunik.


"Nanti Nun bantu cari calon suami deh buat Lail," Nun menawarkan bantuan.


Seketika itu juga aku langsung melepas pelukan ku untuk menatap wajah teduh nya Nunik.


Dengan sengaja aku mengerucutkan hidung. Pertanda tak suka dengan tawaran Nunik itu.


"Mm.. enggak, deh. Makasih. Kalau kamu yang bantu cariin, paling tipikal nya gak jauh dari Mas Aryo-mu. Manusia-manusia fosil semua! Hihihi," aku tertawa geli.


"Iishkk! Lail kok gitu sih. Kebiasaan deh suka ngasih nama panggilan yang aneh-aneh ke orang. Kan udah pernah Nun kasih tahu. Kalau ngasih nama panggilan tuh yang baik-baik. Ada lho dalam nash al qur'an nya. Surat al Hujurat ayat 11.." mulai lah Nunik dengan ceramah-ceramah nya.


Buru-buru aku menyambung ucapan Nunik yang sudah sering kali di sebutkan nya itu.


"Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk(fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Q.S. al Hujurat ayat 11)


Aku selesai membaca terjemahan ayat dalam nash al Quran yang hendak dikutip oleh Nunik. Dan Nunik memberi ku pandangan heran.


"Itu Lail udah hapal!"


"Hapal lah. Kan Nun udah sering banget ngutip ayat itu. Apalagi aku kan punya daya ingat yang superb. Jadi pasti lah aku ingat, Bu Ustadzah.." seloroh ku dengan nada bangga.


"Kalau ingat, ya mestinya dipraktikin dong, il.. Jangan manggil orang dengan panggilan yang gak baik lagi.."


"Lha? Memangnya manusia fosil tuh gak baik ya? Itu kan maksudnya antik. Kalau antik kan berharga. Jadi, berarti itu panggilan yang termasuk baik dong!" Aku menolak mengaku kalah.


"Serius Lail gak ada pikiran ngeledekin Mas Aryo, hm?" Nunik menatap ku lekat-lejat.


Dipandangi seperti itu, aku jadi salah tingkah. Pada akhirnya, aku pun menyengir kuda. Mengaku salah. Dan Nunik ku lihat menghela napas panjang.


"Hh.. Lail.. Lail. il masih ingat kan dengan cerita Nunik tentang Bani Israil?"


Waduh. Aku menangkap gelagat tak enak dengan ceramah Nunik berikut nya. Sepertinya sahabat ku itu merasa candaan ku tentang Mas Aryo dan sifat ke fosilan nya itu kelewatan. Aku pun langsung menunduk bagai ayam yang mengantuk usai bergadang senalaman.


"Jangan seperti Bani Israil ya, il. Padahal mereka sudah diberikan kelebihan oleh Allah d atas umat-umat yang lain. Banyak nabi yang sudah diutus, dari dan untuk mereka. Namun karena sifat buruk nya, mengakibatkan mereka dikutuk oleh Allah," Nunik mulai ceramah nya kembali. Dan aku masih tetap menunduk diam sambil memandangi genggaman tangan kami yang saling bertautan.


"Salah satu sifat buruk bani Israil adalah suka membantah dan rewel atas kebaikan yang telah diserukan kepada mereka.."

__ADS_1


Deg.


'Adidaw! alamat aku tersindir habis-habisan lagi ini mah. Duuhh.. jadi nyesal becanda kelewatan tentang Mas Aryo. Tahu gitu tadi..'


Tiba-tiba saja terdengar suara deheman di belakang ku.


"Ehem! Ehem!" Si Keong tiba-tiba saja berdehem dan menunjukkan eksistensi nya.


'Alamak! Lupa banget sih kalau ada si Keong. Berarti dari tadi si Keong ngelihatin aku jadi objek ceramahan nya Nunik, dong?!'


"Ehh? Mmm. Siapa itu, il?" Nunik tiba-tiba mengakhiri ceramahan nya dan menanyakan identitas si Keong.


Netra ku lalu beralih ke si Keong. Dan mendapati kalau bos ku itu sedang memberi ku senyuman miring.


'Sialan! Dia ngetawain aku itu, pasti!' ku pelototi si Keong dengan pandangan kesal.


Melihat interaksi singkat antara aku dan si Keong, Nunik pun kemudian menyimpulkan.


"Assalamu'alaikum, Kak! Maaf. Tadi Nun gak sadar kalau ada Kakak. Kakak ini teman nya Lail ya?" Tanya Nunik dengan sopan.


"Wa'alaikum salam. Iya gak apa-apa. Dan benar, gue memang temannya Laila. Kenalin, gue Kiyano!" Si Keong mengulurkan tangan kanan nya, mengajak berkenalan.


Dan aku tersenyum. Aku senang karena detik berikutnya, ku lihat Nunik menolak tawaran jabatan tangan dari si Keong. Sahabat ku itu malah menangkup kan kedua telapak tangannya di depan dada dalam posisi menyatu. Seulas senyum menghiasi wajah nya yang teduh.


"Salam kenal juga, Kak. Perkenalkan, saya Nunik. Tetangganya Lail," ucap Nunik memperkenalkan diri.


"Iih Nunik suka gitu deh! Jangan merendah gitu ah!"


Aku lalu menoleh ke si Keong untuk memperkenalkan ulang Nunik kepada nya.


"Kenalin Key, dia ini Nun. Bestie nya aku!" Ucap ku dengan nada bangga.


"Key? Kok Lail manggil nya Key sih, il? Nama nya Kiyano kan? Apa Nun salah dengar ya tadi? Nama nya Keyano gitu ya, Kak?" Tanya Nun pada si Keong.


'Alamak! Mulut keceplosan lagi. Mesti pula otak nya Nun kelewat cerdas dan curious (penasaran) sekarang ini!' benak ku merasa genting.


Dan, jawaban dari mulut si Keong kemudian, akhirnya membuat ku mendapatkan vonis dari Nun.


"Well.. Laila ini, gak tahu kenapa, ngasih gelar gue Si Keong. Jadi dia lebih sering manggil gue Key (untuk Keong) daripada Kiy (Kiyano)," sahut si Keong mengadu.


'Sialan kamu, Key!' aku mengumpat sambil kembali memelototi si Keong.


Tapi pelototan ku itu tak bisa menyelamatkan ku dari ceramahan Nunik pada detik berikut nya.


Alhasil, aku pun harus mengaku kalah dan juga salah. Nunik juga membuat ku berjanji untuk tak lagi memanggil Kiyano dengan panggilan Keong. Dan aku pun menyanggupi nya.


Setelah puas melihat ku diceramahi Nunik, Si Keong, eh, Kiyano berpamitan pulang. Setelah nya, aku dan Nunik melanjutkan kembali acara lepas kangen kami di dalam rumah.

__ADS_1


Ternyata kedatangan Nunik pagi ini adalah untuk mengantarkan kebaya bridesmaid yang akan ku kenakan pekan depan. Aku diminta untuk menemani nya sepanjang hari terbaik nya nanti. Dan aku menyanggupi.


"Insya Allah, il.. selalu sertakan kalimat 'Insya Allah' di setiap kegiatan dan janji yang akan kita buat. Kan kita gak tahu, kita akan benar-benar mampu melakukannya atau tidak. Gimana kalau ternyata kita meninggal duluan sebelum menunaikan janji? kita nanti jadi punya hutang janji kan? Hutang itu harus dibayar lho, il. Apalagi masa berlaku nya sampe alam akhirat sana. Hii.. seram!" Oceh Nunik kembali.


Dan aku pun kembali jadi ayam sayur yang hanya bisa mengangguk-angguk kala mendengar ceramahan sahabat ku itu.


Sepanjang siang dan sore itu, aku asik berbincang dengan Nunik. Aku menceritakan semua hal-hal penting yang terjadi dalam hidup ku selama satu bulan kemarin kepada nya. Termasuk juga tentang kebimbangan ku atas perasaan si Keong, eh, Kiyano terhadap ku. Atau pun juga tentang kepergian Erlan yang terlalu tiba-tiba.


Oh ya, aku sengaja men -skip bagian tentang ciuman-ciuman ku bersama Kiyano. Jika Nunik sampai tahu, mestilah aku nanti kena ceramah nya lagi!


"Jadi, lelaki tadi itu udah nyatain cinta ke Lail?"


"Iya, Nun. Tapi aku ngerasa gimana gitu ya. Aku sih udah ngakuin juga perasaan ku ke dia. Tapi gak tahu kenapa aku ngerasa ada yang mengganjal di hati gitu, Nun," keluh ku pada Nunik.


"Apa karena status duda nya itu ya, il?" Terka Nunik dengan begitu tepat.


Aku mengangguk sambil menghela napas.


"Hh.. iya. Gak tahu kenapa. Aku merasa kalau Kiyano masih ada rasa sama mantan istri nya itu. Feeling ku bilang gitu, Nun."


Melihat wajah ku yang kalut, Nunik langsung saja meraih kedua tangan ku untuk kemudian digenggam nya. Selanjutnya, ia lanjut berkata.


"Laila, Nunik gak bisa kasih saran ke Lail untuk mutusin berhubungan sama Kiyano atau enggak. Karena Lail mesti lah lebih bisa menilai Kiyano lebih baik dari pada Nun."


"Nun cuma bisa ngasih saran. Ikuti kata hati mu, ya, il. Dan perbanyak-banyak mendekatkan diri kepada Allah. Karena Allah yang Maha Tahu. Minta sama Allah, jawaban atas keraguan yang Lail rasakan sekarang ini. Rayu lah Allah. Minta pada-Nya untuk menunjukkan Lail jodoh terbaik di antara yang terbaik."


"Nun pun pernah merasa bimbang waktu menerima ungkapan cinta Mas Aryo. Ngerasa ragu gitu, il. Ini jodoh nya Nunik bukan ya? Tapi terus Nun perbanyakin shalat istikharah. Nun minta jawaban ke Allah. Sampai akhirnya Nun tiba-tiba aja merasa mantap hati dan menerima Mas Aryo. Bismillah, kami pun insya Allah siap untuk menggelar akad nikah pekan depan," tutur Nunik panjang lebar.


Aku memandangi wajah Nunik dengan perasaan gamang. Masih sulit mengerti dengan kalimat nya yang 'merayu Allah' tadi.


"Istilah mu lucu banget sih, il! Merayu Allah! Berasa jadi wanita penggoda dong kamu! Hihihi.." aku cekikikan geli.


"Hush! Lail! Diajak serius malah bercanda. Maksud Nun tuh intinya, Lail perbanyak ibadah nya. Biar Allah makin sayang sama Lail. Jadi nanti Allah akan tunjukin ke Lail apa Kiyano itu lelaki yang baik buat Lail atau bukan. Gitu loh maksud Nun!" Omel Nunik.


Dan aku masih ber haha hihi kala mengingat kalimat 'merayu Allah' tadi.


Namun, kalimat Nunik berikut nya membuat ku tersedak oleh tawa ku sendiri. Karena tiba-tiba saja Nunik bertanya.


"Lail udah gak bolong-bolong kan shalat nya?"


Dan, tawa ku seketika terhenti. Berganti oleh pandangan malu dan cengiran kuda yang menghiasi wajah manis ku ini.


Nunik pun hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, berkali-kali.


"Lail.. Lail.."


***

__ADS_1


__ADS_2