Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Konklusi (POV Laila)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Kiyano kembali menelepon. Ia meminta ijin untuk datang mengunjungi Mark dan juga Nila. Itu adalah permintaan putri nya, Lala.


Dengan senang hati, aku menyambut baik permintaan nya itu. Dan, untuk menghapuskan rasa tak enak ku terhadap Bella, kepada Kiyano ku katakan juga untuk mengajak serta istri nya ke rumah ku. Rasa nya tak enak bila hanya ia dan Lala saja yang main ke rumah ku.


Secara, status ku kan seorang janda. Apa kata dunia, bila rumah ku terus dikunjungi oleh lelaki yang sudah beristri secara berkala? Apalagi dengan membawa putri nya. Bisa-bisa dikira pelakor lagi kan nanti nya aku!


Namun, ucapan balasan Kiyano terhadap undangan ku itu malah membuat ku sangat terkejut.


"Bella sudah meninggal, La, sekitar lima tahun yang lalu.." jawab Kiyano dengan nada sedih.


"..."


Untuk sesaat, aku membiarkan sambungan telepon di antara kami menjadi hening.


"Bella juga sudah wafat, Kiy?" Tanya ku ulang untuk memastikan pendengaran ku tak salah.


"Ya. Dia sakit," jawab Kiyano lagi.


Aku tertegun. Lalu aku teringat saat terakhir kali nya aku bertemu dengan wanita itu. Yakni di pesta pernikahan nya Arline.


Saat itu Bella sempat pingsan secara tiba-tiba. Aku menduga kalau saat itu pun Bella mungkin sudah sakit.


"Aku ikut berduka.." ucap ku canggung.


Tak menyangka kalau aku akan se telat ini mengetahui status duda nya Kiyano. Sama seperti Kiyano yang juga sempat ternganga saat telat mengetahui perihal Erlan yang juga telah lama tiada.


Perihal kematian, memang tak ada yang bisa mengetahui nya kecuali Allah 'azza wajalla.


"Terima kasih... Gak apa-apa. Itu udah cukup lama juga kok," ujar Kiyano kemudian.


"Lala pasti masih sangat kecil saat Bella.." aku tak bisa melanjutkan ucapan ku. Rasanya terlalu berat bila membahas soal kematian dan kematian melulu. Namun mulut ku malah keceplosan mengucapkan hal yang terkait dengan nya lagi dan lagi.


"Ya. Waktu itu baru setahun kami mengadopsi Lala. Jadi aku lumayan syok juga sih. Karena nya aku sempat pindah kota selama beberapa tahun terakhir. Kamu tahu? Buat ganti suasana gitu.." ucap Kiyano beralasan.

__ADS_1


Dalam hati ku terkejut saat mengetahui fakta bahwa Lala ternyata anak asuh Kiyano dan Bella. Tadi nya ku pikir Lala itu anak kandung kedua nya. Hendak menanyakan tentang Lala, rasanya tak etis. Jadi aku meng skip bagian itu. Dan lanjut mengomentari hal yang lain.


"Hmm.. ya. Aku bisa mengerti itu kok. Terkadang kita memang butuh pelarian kan biar kepala gak meledak karena menghadapi masalah dalam hidup," aku sedikit menyindir Kiyano atas perbuatannya dulu yang mendekati ku saat ia masih berstatus kan suami dengan Bella.


Dan Kiyano mengerti dengan arah pembicaraan ku. Dengan terburu-buru, Ku dengar suara Kiyano memburu kalimat ku lewat telepon di malam itu.


"Aku dulu gak jadiin kamu sebagai pelarian ya, La! Aku tuh dulu benar-benar gak nyangka bisa suka sama kamu lho.." ujar Kiyano terburu-buru.


"Iya. Tapi status kamu waktu itu kan masih jadi suami nya Bella!" Aku mendumel. Dan langsung segera ku sesali. Ketahuan sekali kan jadinya kalau aku masih mendendam karena perbuatan nya itu.


Sesaat sambungan telepon kembali menjadi hening. Sampai kemudian Kiyano kembali yang memulai pembicaraan di antara kami.


"Secara hukum negara, ya. Aku memang masih jadi suami nya Bella. Tapi secara hukum agama, saat itu kami memang benar-benar sudan berpisah, La. Aku gak pernah dua in siapa pun sepanjang hidup ku yang singkat ini. Gak kamu. Gak juga Bella," ucap Kiyano terdengar bersungguh-sungguh.


"Tapi ujung-ujung nya kalian rujuk lagi kan?" Komentar ku lagi-lagi kelepasan. Dan aku langsung menepuk mulut ku yang entah kenapa jadi sering keceplosan setiap kali berbincang dengan Kiyano lagi.


"Well, ya.. itu memang benar."


"Itu pun karena kamu terus menolak ku kan, La? Padahal dulu aku udah jelasin sejujur-jujur nya ke kamu tentang hubungan ku dengan Bella. Tapi kamu nya gak percaya dan malah pilih Erlan!" Gantian ku dengar Kiyano yang mendumel kemudian.


"Karena Erlan memang baik! Dia itu sangat-sangat baik memperlakukan ku!" Ucap ku bersungguh-sungguh pula.


"Jauh lebih baik dari sikap ku ke kamu?" Tanya Kiyano.


"Ya! Sudah pasti!" Jawab ku spontan.


"..."


"..."


Aku menjadi canggung dengan perbincangan kami yang mulai menjurus ke ranah perasaan. Aku menyesalkan awal mula kami bisa sampai membincangkan hal ini jadi nya.


"Hh.. kenapa ya. Walau Erlan sudah gak ada, dia tetap saja bisa bikin aku cemburu," komentar Kiyano tiba-tiba.

__ADS_1


"...apa?! Kamu bilang apa barusan, Kiy?!" Aku tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.


Kiyano merasa cemburu kepada Erlan? Saat ini?!


"Yah.. well.. gak usah dibahas lagi deh. Percuma kalau aku bilang perasaan ku ke kamu sekarang juga. Kamu pasti bakal nolak aku. Ya kan?" Ujar Kiyano dengan begitu asal.


Tanpa ku sadari wajah ku terasa panas. Kesal benar dengan ucapan sembarangan nya Kiyano itu!


Aku hampir saja akan memutuskan sambungan telepon kami, bila tak kuingat sesuatu hal.


"Oya, besok jadi mau ke rumah? Jangan terlalu siang ya. Anak-anak mau ku ajak ke rumah nenek nya soal nya," Aku berkata.


"Gitu. Iya. Nanti kami ke sana nya pagi-pagi deh. Jam enam gimana?" Tanya Kiyano.


"Ngasal kamu Kiy! Mau sekalian numpang sarapan ya!"


Dan perbincangan kami pun terus berlanjut hingga belasan menit kemudian. Aku tak sadar kalau aku dan Kiyano begitu larut dalam perbincangan kami. Seolah seperti kembali ke masa dulu. Saat kami masih bersama lagi.


Teringat dengan kebersamaan kami dulu, aku buru-buru menepis pikiran itu. Aku menegaskan hati ku lagi. Kalau kami hanya berteman saja saat ini. Terlepas dari status janda dan juga duda yang kami sandang. Untuk sementara ini, aku akan menganggap Kiyano layaknya seorang teman ku semata.


Teringat dengan masa lalu ku bersama nya dulu, aku merasa sangat bersyukur.


Karena aku berhasil mendidik diriku agar tidak menjadi pelakor yang merusak pernikahan Kiyano dan juga Bella.


Aku berhasil membangun hubungan ku sendiri dengan Erlan. Menciptakan kebahagiaan keluarga ku sendiri bersama Mark dan Nila kini. Dengan tangan dan usaha ku sendiri melalui butik La Luna ku.


Aku berhasil menjadi seperti sebatang pohon yang hidup di atas tanah dan akar milik ku sendiri. Dan tidak menjadi seperti rumput liar yang sering tumbuh asal dan merusak pekarangan rumah milik orang lain.


Ya. Aku bukan lah pengganggu kehidupan siapa pun jua. Karena aku bukan rumput liar.


***


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2