Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Menghindar (POV Laila)


__ADS_3

Sekitar jam sebelas lewat, aku sudah kembali pulang ke rumah. Aku langsung mengurung diri ku dalam kamar dan memikirkan segala hal terkait Kiyano, Bella, dan juga hubungan ku dan Kiyano.


'Ya Allah..! Rumit benar takdir yang Kau Gubah untuk ku. Kenapa Kau jadikan aku seseorang yang paling ku benci dalam hidup ku yang singkat ini?!' aku mengeluhkan beban hati pada Sang Illahi.


Sejak ku kunci diri ku di dalam kamar, bendungan pertahanan di mata dan hati ku seketika bobol. Hingga air mata ku pun berderai tak terbendung lagi.


Aku menangis terisak-isak. Namun tetap menahan suara ku agar tak terdengar oleh siapa pun jua.


Beruntung siang ini Mama masih kuli mencuci di rumah orang. Jadi aku bebas menangisi takdir ku seorang diri di rumah.


'Kenapa harus aku?! Kenapa juga harus Kiyano yang mencuri hati ku?! Kenapa aku harus mengetahui semua ini?! Kenapa tidak nanti-nanti saja atau lebih baik aku tak mengetahui nya sama sekali?! Kenapa, Ya, Allah?! Hiks..hiks..'


Aku terus menangisi jalan cinta ku hingga waktu ashar. Aku bahkan tak ingat shalat. Aku bahkan tak ingat makan.


Busuk benar perasaan cinta yang kurasakan ini, sehingga membuat ku lalai atas kewajiban ku pada Sang Pencipta juga pada diri ku sendiri.


Aku menyesal telah memupuk rasa pada Kiyano. Aku berharap kami tak pernah saling mengenal dan jatuh hati.


Jika ketidaktahuan adalah pilihan yang terbaik, maka aku memilih untuk tak mengetahui apapun, sampai semua hal perih yang ku rasakan kini berlalu pergi dengan sendirinya.


***


Malam harinya, Kiyano menelepon ku. Namun aku tak mengangkat nya. Ku biarkan ponsel ku bergetar dalam diam. Hingga setelah getarannya yang entah ke sekian kalinya, barulah ponsel ku berhenti dan kembali diam.


Esok hari nya pun, aku berusaha menghindari Kiyano.


Aku sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Lalu mengendap-endap berkeliaran di kantor untuk mengerjakan tugas ku sambil tetap menghindari Kiyano. Rasanya seperti pencuri saja.


Padahal aku yang terluka. Aku yang didustakan. Tapi kenapa harus aku juga yang menjadi si kambing hitam dan mengendap-endap menghindar dari sumber kepedihan ku (Kiyano).


Aku merasa belum siap untuk bertemu Kiyano. Aku terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan sisa cuilan hati ku yang masih ada.

__ADS_1


Biarlah untuk sementara waktu ini aku meleburkan diri di balik bayang-bayang. Biarlah aku menghindar dulu agar tak bertemu dengan Kiyano lagi. Karena beban cap pelakor yang kusematkan pada diri ku sendiri telah meleburkan sebagian besar rasa percaya diri ku.


Bagaimana aku bisa menatap dunia, jika sampai orang-orang mengetahui kalau aku adalah pelakor? Walau aku menjadi pelakor karena terseret oleh dusta yang disemaikan oleh Kiyano.


Kiyano!


Menyebut nama lelaki itu kini tak lagi menimbulkan gelenyar-gelenyar menyenangkan dalam hati ini. Aku justru langsung diliputi oleh kabut amarah sekaligus perih atas segala dusta yang diucapkan oleh mulut busuk lelaki itu.


"Dasar kau memang Keong racun!" Aku memasukkan lembaran kertas terakhir yang tak lagi terpakai, ke dalam mesin penghancur kertas.


Sesekali aku bahkan mere mas-re mas terlebih dahulu lembaran kertas itu sebelum aku menghancurkannya. Mencoba melampiaskan perasaan negatif yang memenuhi seluruh ruang di hati ku ini.


"La? Kamu ngapain?"


Aku terlonjak kaget saat mendengar sebuah suara di belakang ku. Begitu ku tengokkan kepala, ternyata itu adalah suara Nindi.


"Nindi..!"


"Kamu udah selesai?" Tanya Nindi kembali.


Aku menggeser tubuh ku ke samping. Membiarkan Nindi melanjutkan pekerjaan nya kembali. Kini, gantian Nindi yang menghancurkan kertas-kertas. Sementara aku yang seharusnya bergegas pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang lain, malah berdiri bengong memandang tembok kosong.


"Hey! Kok malah bengong sih, La! Kamu kenapa? Mau cerita?" Tanya Nindi mengulang.


Dan akhirnya, didorong oleh hasrat untuk membagi kisah pedih ku pada seseorang, aku pun menumpahkan getir dan pahit nya kisah cinta ku yang berujung tragis, kepada Nindi.


Sebenarnya, sedari kemarin aku ingin menelepon Nunik. Namun di setiap kesempatan ku ingin bercerita, aku malah tak sengaja mendengar suara suaminya Nunik yang menggodanya di seberang telepon sana.


Karena merasa risih, akhirnya aku selalu mengurungkan niat ku untuk curhat pada Nunik.


Dan kini aku masih saja merasa kalang kabut dan sungguhan gabut.

__ADS_1


Selama setengah jam berikutnya, aku pun menceritakan segala yang terjadi antara aku, Kiyano dan juga Bella (atau yang ku kenal juga sebagai Inda).


Aku bahkan dengan lepasnya menangis di hadapan Nindi. Hingga ingus ku menganak sungai dan menyeberangi mulut ku pun aku tak perduli.


Yang jelas, saat ini aku membutuhkan seseorang untuk tempat berbagi kepiluan yang kurasakan. Aku benar-benar membutuhkan seorang teman.


Kemudian, setelah Nindi selesai mendengarkan cerita ku, ia tampak tertegun lama sekali. Setelah ruangan foto kopi ini lama hanya diisi oleh suara isak tangis milikku, pada akhirnya Nindi mulai kembali bicara.


"La.. kamu seharusnya bersikap berani. Bagaimana pun juga kamu kan gak salah. Justru Pak Bos lah yang paling bersalah saat ini. Kenapa juga dia tak mengatakan yang sebenarnya ke kamu sedari awal?"


Mendengar nasihat Nindi, entah kenapa aku malah jadi ingin membela Kiyano.


"Tapi sebenarnya Kiyano sering sih ngakuin diri kalau dia memang lagi ada masalah sama mantan nya. Cuman dia belum siap untuk ceritain detail nya gimana masalah itu, Nin," ucapku membela Kiyano.


Nindi mengerutkan dahi, pertanda ia tak menyukai sanggahan ku tadi.


"Tapi tetap saja kan. Kalau Pak Bos itu berbohong sama kamu. Udah, mending kalian putus aja deh. Dari pada gosip tentang kamu sebagai pelakor tersebar ke mana-mana. Mulut orang itu kan lumayan cepat nyampein berita dari ujung kota ke ujung kota yang lain, La!"


"Jadi, aku harus gimana dong, Nin?" Tanya ku masih merasa tak yakin.


"Ya itu, tadi, La! Bersikap lah seperti seseorang yang pemberani. Jadilah seperti Laila yang biasanya. Yang lantang ketika membalas ucapan. Bersikap tangguh dan berani lah seperti seorang yang selalu benar. Karena kamu kan memang benar, La. Kamu tak berbuat salah apapun dalam hal ini."


"Sungguh?" Tanya ku memastikan, pada Nindi.


"Iya. Dan jangan beri kesempatan pada Pak Bos untuk mendekatimu lagi. Karena jika kamu kembali bertemu dengannya, besar kemungkinan dia sudah menyiapkan beribu alasan bohong yang akan membuat mu kembali mempercayainya, La."


Aku tertegun. Mencoba mencerna nasihat yang diberikan oleh Nindi tadi. Meski ada beberapa hal yang tak kusukai, namun pada akhirnya aku mencapai satu kesepakatan yang sama dengan pendapat Nindi.


Bahwasanya aku memang harus menghindari Kiyano sebisa mungkin.


***

__ADS_1


__ADS_2