Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Menunggu Mark Pulang (POV Laila)


__ADS_3

Aku menunggu Nila hingga kelas nya berakhir. Di hari pertama nya sekolah ini, Nila terlihat seperti biasanya ia.


Nila menjelma jadi anak yang paling ceria di antara kawan-kawan nya yang lain. Dan mungkin karena usia nya yang juga lebih tua setahun di banding anak-anak yang lain, Nila tampil sebagai ketua bagi 10 anak murid yang ada.


Saat mengobrol dengan beberapa ibu yang juga menunggu anak mereka, aku mendapati fakta kalau hampir semua anak berusia sekitar 5 tahun. Sementara Nila sudah 6 tahun.


Sedikit penyesalan hinggap di hati ku. Karena Nila tak bisa sekolah setingkat yang sama dengan Mark. Namun segera ku tepis pikiran negatif itu jauh-jauh.


Aku yakin, semua anak itu istimewa. Dan setiap anak memiliki keistimewaannya tersendiri yang tak bisa diukur hanya dari segi akademis nya semata.


Jadi meskipun Nila ku harus tertunda masa sekolah nya dibandingkan Mark, aku harus selalu pandai mensyukuri hal lainnya. Seperti misalnya kondisi kesehatan putri ku itu yang sudah jauh lebih baik kini dibanding satu tahun yang lalu. Di mana Nila masih harus dirawat di rumah sakit di luar negeri, dulu.


Usai kelas Nila selesai, aku mengajak nya main ke gedung SD samping TK, tempat Mark bersekolah.


Aku sengaja menyekolahkan Mark di sini. Karena ini adalah permintaan Mark sendiri yang ingin sekolah dekat dengan Nila. Dan kebetulan kedua sekolah ini memang difavoritkan di kota B ini.


Aku mengajak Nila main ke kantin yang ada di sisi samping gedung. Saat itu suasana tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak saja yang berlarian menuju kelas nya. Ku duga mungkin bel masuk dari jam istirahat baru saja berbunyi.


Sesampainya di kantin, dengan santai nya aku memilihkan beberapa bungkus roti rasa cokelat untuk Nila. Sementara Nila menerimanya dengan tanpa banyak kata.


"Nila kenapa? Kamu capek, Sayang? Dari tadi kok diam aja?" Tanya ku sedikit khawatir karena sedari memasuki area gedung SD ini Nila tak mengucapkan apa-apa.


"Nila gak apa-apa. Cuma capek aja, Ma," ujar Nila dengan mata yang sayu.


Memang, Nila lebih cepat merasa letih dibandingkan Mark. Karena nya aku sempat ingin meng home schooling kan kedua anak ku itu pada awal nya. Namun seiring berjalan nya waktu, Mark ingin belajar di sekolah reguler. Begitu pun juga dengan Nila.


Akhirnya aku pun mengikuti keinginan anak-anak.


Ku tengok sekitar ku kini. Kemudian ku lirik arloji di tangan kiri ku. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.25. masih ada sekitar satu jam kurang lagi sebelum kelas Mark berakhir.


Setelah mempertimbangkan segalanya, akhirnya ku putuskan untuk tetap menunggu Mark pulang. Sementara Nila kuminta untuk merebahkan kepala nya ke pangkuan ku.


"Tidur di sini dulu aja gak apa-apa, Nak. Kelas Kakak sebentar lagi selesai kok," aku memberikan titah.


Sambil menguap, Nila merebahkan badan nya ke bangku panjang yang ada di kantin. Sebenarnya aku bisa saja mengajak Nila pulang terlebih dulu ke rumah. Lalu kembali ke sekolah untuk menjemput Mark pulang.


Tapi hari ini aku sudah berjanji untuk mengajak mereka pergi ke butik La Luna ku. Janji yang baru sempat kuiyakan hari ini pada kedua anak ku.


Selagi menunggu sekolah Mark berakhir, aku memainkan gawai ku. Ku dapati ternyata ada banyak pesan dari beberapa orang. Yang kemudian ku baca satu persatu pesan di ponsel ku itu.


Stephen: Young Ma, siang ini jadi tengokin butik kan? Ada banyak laporan nih nungguin!


Aku mencebik kesal saat membaca panggilan Stephen untuk ku itu. Young Ma. Yang berarti Mama Muda.


Telah seringkali aku meminta pemuda kristiani itu untuk merubah panggilan nya kepada ku. Karena panggilan nya itu mengingatkan ku pada salah satu slogan iklan rice cooker di televisi yang berbunyi, "Young Ma the magic in life!".


Sayang nya Stephen tak menggubris permintaan ku itu. Sehingga sampai sekarang aku harus bersabar diri setiap kali ia memanggil ku Young Ma. Hh..

__ADS_1


Aku bahkan sedikit curiga, seperti nya Stephen memang sengaja memanggil ku begitu untuk membuat ku kesal. Karena seringkali ia meledekku dengan kalimat-kalimat seperti ini,


"Kamu tuh terlalu beku sekarang ini, La. Mana Laila yang ku kenal dulu? Aku jarang banget dengar kamu ngomel-ngomel atau cerita bebas kayak dulu. Masih blum bisa move on kah dari suami mu itu?"


Jika Stephen sudah membicarakan soal Erlan, aku langsung saja melipir pergi dan meninggalkan nya. Saat-saat itu aku memang masih belum bisa membicarakan tentang rasa kehilangan ku pada siapa pun. Bahkan kepada Nunik sekali pun.


Aku baru mulai benar-benar bisa move on dari kehilangan ku sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu adalah masa-masa tersibuk dan paling genting yang harus dilalui oleh butik ku yang baru berdiri selama dua tahun.


Jadi karena terlalu sibuk antara mengurus butik dan juga kedua anak ku, secara perlahan aku mulai sering melupakan rasa sedih ku atas kepergian Erlan.


Dan akhirnya kini aku sudah bisa berdamai dengan rasa sakit ku itu. Dan seperti kata Nunik dulu. Memang seiring dengan berjalannya waktu, dengan dua penolong yakni sabar dan juga shalat, aku pun kini bisa bangkit dari keterpurukan bertahun-tahun yang lalu itu.


Kembali ke saat ini. Ku balas pesan Stephen dengan jawaban singkat dan padat.


To Stephen: ya. Insya Allah siang aku ke sana sama Anak2.


Selesai menekan tombol sent, aku pun lanjut membaca pesan berikut nya yang datang dari nomor Arline.


Arline: kangen dua ishtar ku.. ajak ke kantor dong, Kak?


Aku tersenyum saat membaca pesan dari adik ipar ku itu.


Arline memang selalu memanggil Mark dan Nila dengan nama belakang mereka, Ishtar yang berarti bintang.


Bagi Arline, Mark dan Nila seperti dua bintang yang dikirimkan oleh Allah untuk menerangi kehidupan keluarga kami yang memang sempat suram sejak kepergian Erlan.


Ku balas pesan Arline dengan segera.


To Arline: agak siangan ya, Lin. Mau ke butik dulu.


Hh.. Mengingat Arline aku jadi diliputi oleh rasa iba. Hingga kini, Arline belum juga dikaruniai momongan. Sementara dalam beberapa kesempatan terakhir kami bertemu, Arline bercerita kalau ia mulai sering bersitegamg dengan sang suami, yakni kolonel Amir.


Penyebab perseteruan keduanya antara lain perihal usulan Arline agar sang suami menikah lagi dengan wanita lain lagi secara diam-diam. Demi memiliki keturunan bersama wanita itu.


Arline nampak nya mulai menyerah untuk memiliki anak lagi. Karena saat dilakukan pengecekan ke dokter, ternyata ada miom dalam saluran leher rahim nya Arline. Itu diketahui nya sekitar dua tahun yang lalu.


Memang, miom itu telah diangkat dalam sebuah operasi yang dilakukannya segera. Tapi menurut dokter, kesempatan rahim Arline untuk kembali hamil sulit untuk diprediksikan.


Karena itu lah sejak beberapa bulan belakangan Arline mulai mengusulkan poligami pada suami nya.


Tapi kolonel Amir menolak tegas usulan itu. Karena memang sebagai seorang perwira ia tak diperbolehkan menikah dua kali dalam satu waktu. Selain itu juga ia tak ingin menyakiti hati Arline. Karena meski pun Arline sendirilah yang mengusulkan saran poligami itu, Amir tahu siapa dalang di balik usulan itu yang sebenarnya. Yakni ibu kandung nya sendiri, aka ibu mertua nya Arline.


Secara langsung, hanya saat kami sedang ber empat mata saja, kolonel Amir menceritakan kepada ku kalau keduanya memang sempat tinggal di rumah ibu kolonel Amir setahun yang lalu.


Dan ternyata setelah diselidiki, kolonel Amir baru mengetahui kalau ibu nya telah menekan sang istri untuk meminta cerai kepada diri nya. Namun Arline menolak nya.


Karena Arline tak ingin bercerai, maka ibu kolonel Amir mengusulkan agar sang anak boleh menikah lagi.

__ADS_1


Saat mendengar cerita itu dari kolonel Amir, aku sungguh merasa kesal pada ibunda sang kolonel. Begitu tega nya ia ingin memisahkan putra nya sendiri dari orang yang ia cintai, hanya demi alasan keturunan saja?


Tapi aku menyabarkan diri. Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, emosi sesaat tak akan membawa keuntungan apapun bagi ku.


Karena nya aku hanya memberikan saran agar kolonel Amir bersabar terhadap Arline. Sementara secara perlahan aku lah yang akan membujuk adik ipar ku itu untuk tak meminta sang kolonel berpoligami.


Aku pun yakin, dalam hati nya Arline tak mungkin sepenuh nya rela melepas sang suami pada pelukan wanita lain.


Zzt.. zztt..


Sebuah pesan kembali masuk. Ku buka segera. Dan ternyata itu dari Arline.


Arline: ok. Ditunggu ya Kak.. ku siapin es krim deh buat dua ishtar ku yang unyu unyu.❤️❤️


Dan aku kembali dibuat tersenyum manakala membaca pesan dari Arline itu.


Belum sempat aku mengetik balasan untuk Arline, sebuah pesan lagi-lagi masuk ke aplikasi pesan di ponsel ku.


Stephen: ada berita bagus buat mu, Young Ma. Beberapa desain kita berhasil lolos seleksi buat ikut serta di acara B star fashion week bulan depan. Bravo!


Dan hati ku buncah oleh rasa bahagia.


B Star Fashion Week adalah salah satu acara bergengsi di dunia fashion. Di mana di sana model-model papan atas akan berjalan di atas cat walk dengan beragam desain baju terpilih dari butik yang berbeda-beda. Acara ini rating nya berada sedikit di bawah ajang fashion kelas internasional.


To Stephen: good! Kita perlu rayain ini. Ku traktir pizza?


Dan balasan dari Stephen tak lama kembali masuk ke layar chat kami.


Stephen: as always.. mozarella nya minta banyakan ya, Young Ma!


To Stephen: minta sendiri ke penjual nya deh!


Teeett.. teeettt..


Akhirnya bel pulang terdengar berbunyi. Ku masukkan kembali gawai ku ke dalam tas tangan. Kemudian ku raih tubuh mungil Nila yang masih pulas tertidur.


Mulut Nila terbuka sedikit membentuk huruf O. Dengan setetes air liur yang hampir keluar dari mulut mungil nya itu. Aku tersenyum. Merasa gemas dengan putri bungsu ku ini.


Wajah Nila tampak sangat damai saat ia terlelap tidur.


'Seperti wajah Erlan..dulu.' batin ku berbisik.


Ku hela napas ku sedikit kasar. Mencoba menepis kabut kesedihan yang hampir saja ingin mengurung ku lagi dalam bayang-bayang kemuraman nya.


Tapi aku menolak untuk kembali hidup bermuram durja. Karena aku pun yakin, kalau Erlan pun akan menginginkan ku untuk bisa kembali hidup bahagia.


***

__ADS_1


__ADS_2