
Memasuki halaman rumah, ku lihat sebuah mobil civic hitam terparkir di depan rumah. Entah kenapa, melihat mobil civic itu aku seolah mengenal nya. Namun aku tak bisa benar-benar mengingat nya juga siapa pemilik mobil civic itu.
Karena jenis mobil itu memang cukup banyak di pasaran akhir-akhir ini.
Selesai mencabut kunci mobil, aku segera keluar dari dalam mobil.
Perlahan ku buka pintu mobil belakang, tempat ketiga anak-anak duduk. Dan Mark, Nila dan Lala pun bergantian turun.
"Hati-hati. Pelan-pelan!" Aku mengingatkan anak-anak agar berhati-hati.
Sayang nya Lala yang paling terakhir turun, malah tak sengaja tersandung karpet mobil. Sehingga ia hampir saja terjatuh ke rumput halaman rumah jika saja aku tak sigap menangkap nya.
Setelah aku menurunkan Lala ke tanah, ku cubit pelan pucuk hidung anak perempuan itu dengan sayang. Dan Lala seperti nya terlihat senang dengan perlakuan ku itu.
Tiba-tiba saja Lala menarik leher ku ke dalam pelukan tangan mungil nya. Aku yang sempat dibuatnya terkejut, tak bisa melakukan apa-apa manakala Lala menghadiahi ku kecu pan sekali di kening ku.
"Telima kasih, Tante.. Tante baik deh!" Ucap Lala sambil tersenyum manis.
Sedikit terharu, aku pun balas mengecup kening anak perempuan di hadapan ku itu dengan sayang.
Cup.
"Sama-sama, Sayang. Seperti nya Papa Lala ada di dalam rumah Tante. Coba Lala lihat!" Ujar ku memberi tahu.
Lala terlihat riang seketika. Lalu menengok ke arah pintu rumah. Ia terlihat ragu untuk masuk ke dalam rumah. Sehingga aku pun menuntun nya berjalan.
Belum sampai teras, Lala melihat mobil asing yang terparkir di depan rumah ku. Dan seketika itu pula Lala berteriak kencang dan berlari ke arah mobil itu berada.
"Itu mobil Papa! PAPAAA!!" Teriak Lala sekencang-kencang nya.
Kemudian, ku lihat pintu mobil civic itu terbuka. Dan aku melihat sebelah kaki keluar dari depan kursi kemudi.
Belum sempat aku melihat rupa Papa nya Lala, Nila yang berjalan di dekat ku menarik pinggiran baju ku. Sehingga perhatian ku pun teralihkan ke arah putri bungsu ku itu.
"Itu Papa nya Lala, Ma?" Tanya Nila.
"Iya. Mungkin. Mama juga belum tahu," aku menjawab jujur.
__ADS_1
"Tapi tadi Lala teliak kalau itu mobil papa nya," ujar Nila kembali.
"Iya. Seperti nya memang itu Papa nya Lala."
Ku usap pelan kepala putri ku itu. Lalu ku raih tangan kanan nya untuk ku gandeng. Sementara Mark berdiri di sisi lain Nila. Menggandeng tangan lain adik nya.
"Papa Lala ganteng. Nila juga mau Papa kayak Lala, Ma.." ucap Nila dengan pandangan iri.
Deg. Deg.
Untuk sesaat aku dibuat tertegun dengan permintaan putri ku itu.
Nila cukup sering mengatakan kalau ia ingin memiliki Papa.
Pada awal nya aku tak bisa menjawab apa-apa untuk permintaan putri ku itu. Namun lambat laun aku telah terbiasa dengan ungkapan hati nya Nila. Dan bisa memberikan jawaban yang bisa ia terima.
"Kan ada Papa Azki. Itu kan Papa Nila dan Mark juga," jawab ku sekena nya.
Kulihat Mark mengangguk-anggukan kepala nya. Pertanda menyetujui ucapan ku barusan.
'Dasar Mark, Azki lover!' komentar ku atas sikap Mark terhadap Papa Azki nya.
Beruntung Azki yang masih singke itu tak merasa keberatan karena tiba-tiba harus menjadi Papa bagi dua anak yatim ku itu.
"Nila mau Papa Lala jadi Papa nya Nila deh Ma. Kayaknya olang nya juga baik," ucap Nila lagi, menyadarkan ku yang sempat melamun tentang masa lalu.
"Hah?! Mana bisa sayang.."
Bersamaan dengan itu, pandangan ku pun terangkat ke arah di mana Lala dan sosok terduga Papa nya itu berada.
Dan, ku ketahui dari mana Nila bisa menilai kalau sosok terduga Papa nya Lala itu adalah orang yang baik.
Karena ku lihat kini, Lala sedang diapung-apungkan ke atas oleh sosok lelaki itu. Lelaki yang, saat ku telisik wajah nya lebih dekat lagi, ternyata adalah orang yang sangat amat ku kenal baik di masa lalu. Dia adalah Kiyano.
Kiyano lalu menggendong Lala sambil berdiri. Kemudian lelaki itu baru lah beralih fokus menatap ku.
"Apa kabar Laila? Sudah lama kita gak jumpa," ucap Kiyano menyapa ku.
__ADS_1
....
....
"Terima kasih sudah menjaga Lala. Aku hampir aja mau lapor ke polisi tadi pas gak nemuin dia di dekat gerai fastfood. Soalnya aku cuma berhenti di situ aja sebelum sampai ke rumah. Ku pikir Lala masih tidur di bangku belakang.." ucap Kiyano.
".." menyadari kalau aku belum menjawab sapaan ataupun kalimat Kiyano sedari tadi, aku oun buru-buru berkata.
"Sama-sama.." dan setelah jeda beberapa saat, aku kembali menambahkan. "Lain kali lebih hati-hati lagi. Untung ketemu nya sama aku," ku tegur Kiyano atas kelalaiannya itu.
Kemudian, Aku mengamati wajah Lala lebih detail. Dan aku bisa melihat beberapa bagian milik Kiyano yang diwariskan pada gadis cilik itu. Seperti bulu mata nya yang panjang dan lentik, serta bentuk wajah yang mungil.
'Ternyata Lala itu anak nya Kiyano.. dan ibu nya mestilah Bella. Dilihat dari umur Lala yang sepertinya sama dengan Nila, berarti Kiyano dan Bella masih berhubungan usai aku berpisah dari nya..' aku membatin dalam hati.
"Mama! Mama!"
Aku terkejut dari lamunan singkat ku oleh teriakan dari Nila. Ku tengok ke samping pada wajah Nila yang menatap ku bingung.
"Mama kenapa? Mama ngantuk ya? Tapi kok mata nya enggak melem? Tapi tadi Mama kayak lagi tidul. Habis nya Nila panggil, Mama diam aja," ujar Nila dengan pandangan bingung.
Di samping Nila, Mark pun menatap ku lekat-lekat. Namun aku menangkap kekhawatiran di balik wajah netral yang dipasang nya.
Aku langsung diliputi oleh rasa bersalah karena sempat terbuai dalam lamunan masa lalu ku bersama Kiyano. Dan lupa dengan keberadaan kami saat ini.
"Mereka berdua.. anak mu, La?" Tanya Kiyano hati-hati.
Pandangan ku kembali bersirobok dengan mata Kiyano. Dan.. blitz..
Gravitasi rasa yang dulu sempat ku rasakan saat pertama kali berhubungan dengan Kiyano itu, kini kembali ku rasakan.
Aku hampir saja kehilangan pijakan ku lagi dan lupa pada siapa dan di mana aku berada saat ini. Jika saja bukan karena tangan Nila yang mere mas lembut jemari ku.
Ku tatap Nila kembali. Dan aku seolah bisa melihat sosok Erlan kini menatap ku dalam-dalam.
Deg. Deg.
Dengan perasaan sedikit gentar, aku pun menjawab pertanyaan Kiyano..
__ADS_1
"Ya. Mereka adalah anak ku... Bersama dengan Erlan," ucap ku dengan nada tegas.
***