Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Tiga Hati, Dua Rasa


__ADS_3

POV Erlan


Bila ada yang mengatakan bahwa aku telah menjadi budak cinta, aku akan dengan rela mengiyakannya. Aku pun tak tahu bagaimana bisa cinta begitu cepat mengikatkan hati ku pada sosok wanita seperti Laila.


Padahal ku pikir tipikal wanita idaman ku adalah wanita yang anggun, sopan dan lembut hati seperti Nindi, salah seorang rekan kerja ku.


Namun, begitu Laila hadir dalam hidup ku, aku sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan ku dari nya. Berat sekali untuk melepaskan diri dari perasaan ini. Karena begitu aku mengenal Laila, hanya dengan seulas senyuman yang ia berikan kepada ku, aku pun terjatuh sudah ke dalam telaga cinta yang teramat dalam. Bahkan aku sendiri pun tak mengetahui kedalamannya sampai di mana.


Laila. Laila. Laila. Ku panggil namanya selalu sebelum lelap menyergap ku setiap malam. Sebentuk wajah manis nya membuat ku senantiasa ingin tersenyum, di setiap detik kala ia terbayang di benak ku. Maka benar lah sudah bila ada yang mengatakan kalau aku telah dibudakkan oleh cinta.


Dengan bahagia akan ku katakan bahwa aku memang mencintai Laila. My Lovely Laila..


Aku kemudian menyatakan perasaan ku pada Laila. Namun, ternyata muara cinta ku menolak rasa yang kupunya terhadap nya.


Aku bersedih, tapi aku tak berkecil hati. Pikir ku, jika aku selalu bersama nya, lambat laun aku bisa mengikis kerasnya batu yang menutup hati Laila dari mencintai ku. Itu pasti akan terjadi kelak.


Sepanjang Laila belum memiliki lelaki yang ia sukai.


Namun kini, apa yang ku saksikan dengan kedua mata ku secara tak sengaja ini membuat dunia ku tergoncang. Aku bahkan tak lagi bisa merasa kan keberadaan dunia dan seisinya di sekitar ku.


Yang ada dalam benak ku kini hanyalah Laila yang sedang berci uman dengan seorang lelaki yang sangat ku kenal. Bos kami sendiri, Kiyano.


Selama sepuluh detik aku menyiksa diri ku dengan melihat muara cinta ku yang membagi isi telaga nya dengan pria lain.


Dan aku pun merasa kalah. Terlebih saat aku melihat wajah Laila terakhir kali nya sebelum aku berbalik pergi.


Teramat jelas, kuasa cinta pun telah menjerat hati Laila ku. Dan cinta itu ditujukannya terhadap Kiyano.


Ahh.. sakit benar rasanya hati ku kini. Sakit nya melebihi sesak dihimpit oleh sebuah batu besar nan berduri.


...Pada akhirnya aku benar-benar mengaku kalah. Di antara setiap langkah yang ku jejaki menuju moge ku di luar, aku merasa seperti Zombi yang tak tahu lagi harus pergi ke mana....


Hanya rasa sesak. Sesak. Dan sesak saja yang menemani langkah ku kini. Menjauh dari keberadaan muara cinta yang kurasa tak lagi bisa ku reguk air kasih nya.


"Laila.." ku titipkan salam terakhir ku untuk cinta ku, kepada angin malam. Berharap ia bisa menyampaikan rasa rindu yang ku tahu akan mulai menumpuk di hari-hari kemudian.

__ADS_1


"Bye.. La,"


Dan aku pun pergi bersama moge ku. Membawa luka hati yang tak ku tahu entah kapan bisa terobati.


***


POV Kiyano.


Flash back siang hari nya.


Aku membaca pesan singkat dari Bella. Ia mengatakan kalau ia sudah di perjalanan menuju Kuta untuk berlibur. Sejak aku menjatuhkan talak kepada nya pada hari Sabtu lalu, aku berusaha untuk menjaga jarak dengan nya.


Saat itu, Bella hanya menatap ku terkejut. Dan beberapa detik kemudian ia mengatakan kalau ia menerima talak ku, dengan ekspresi pasrah yang tersemat di wajah nya.


Resmi sudah akhir kisah cinta ku dan Bella secara agama. Dan aku bahkan sudah membebaskan Bella dari kewajiban nya sebagai seorang istri.


Karena nya Bella bisa langsung pulang ke kota A, dan tidak melewati masa iddah nya di apartemen ku. Seperti yang seharusnya dilakukan secara hukum agama Islam. Karena meski talak itu telah jatuh, selama masa iddah masih ada, maka Bella semestinya masih wajib menyiapkan kebutuhan ku sehari-hari. Walau kami sudah pisah ranjang dan hanya berada di bawah satu atap yang sama.


Namun karena aku telah membebaskan nya dari kewajibannya itu, Bella pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke kota A.


Bagaimana pun juga dulu aku meminang Bella baik-baik. Maka ku pikir aku pun harus mengembalikannya baik-baik pula.


Tapi Bella menolak tawaran ku itu. Dan ia pun mengatakan kalau Ayah dan Bunda nya (mertua ku) belum pulang dari Aussy. Jadi aku harus menunggu menyampaikan kabar ini kepada mereka hingga mereka pulang nanti.


Meski hubungan ku dan Bella sebagai suami istri kini telah berakhir, Bella terkadang masih mengirimkan ku pesan-pesan tak beraturan seperti sebelum nya.


Ia masih menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Bagaimana pekerjaan ku di kantor, sulit atau tidak? Hal-hal seperti itu lah yang sering ditanyakan Bella lewat semua pesan singkat nya.


Terkadang aku membalas pesan Bella. Namun lebih sering aku tak menghiraukannya. Bukan nya kenapa. Tapi aku pun masih dalam tahap menyembuhkan luka di hati ku akibat penghianatan yang dilakukan oleh mantan istri ku itu. Jadi aku berusaha menjaga jarak dari nya, demi kebaikan kami berdua.


Aku membaca pesan Bella dengan perasaan hampa. Aku hanya menatap pesannya itu beberapa detik saja, sebelum meneruskan kembali pekerjaan ku yang sempat tertunda. Ku putuskan untuk tak menghiraukan pesan Bella itu.


Sepanjang pagi aku berkutat di depan laptop dan membaca rancangan strategi baru yang telah disusun oleh tim pemasaran. Akhir-akhir ini grafik penjualan cabang pabrik tekstil di tempat ku bekerja kini memang sedang menurun. Karena nya aku telah memberikan tugas pada tim pemasaran untuk mencari strategi baru, demi bisa menaikkan jumlah penjualan bulan depan.


Begitu serius nya bekerja, aku hampir saja lupa untuk makan siang. Jika saja Eni, sekretaris ku, tak mengingatkan.

__ADS_1


Akhirnya aku pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Dan entah kenapa aku begitu ingin merasakan makanan kantin saat ini. Padahal biasannya aku melakukan delivery order.


Tapi, begitu aku sampai di kantin, mata ku langsung tertarik pada pemandangan yang sungguh tak mengenakkan hati.


Ku lihat Laila sedang bercanda cukup akrab dengan rekan kerja pria nya yang selalu mengikuti nya kemana pun itu. Erlan, seingatku nama lelaki itu.


Melihat keakraban mereka, tiba-tiba saja rasa cemburu itu kembali menguasai ku. Membuat ku jadi heran sendiri. Karena kepada Bella pun aku tak pernah merasakan amarah yang menyesakkan seperti yang saat ini kurasakan.


Jadi kenapa hanya dengan melihat Laila bercanda akrab dengan Erlan, sudah membuat ku serasa dilahap oleh panas nya api cemburu? Ingin rasanya aku menghampiri kedua nya lalu menarik dan membawa Laila pergi menjauhi Erlan.


Jika bisa malah aku ingin mengunci gadis kasar itu dalam ruang kerja ku seharian. Sehingga ia tak bisa berbincang akrab dengan lelaki mana pun lagi.


Gila! Gila benar pikiran ku barusan. Sebelum aku disesatkan oleh perasaan cemburu ini, aku bersusah payah membalikkan badan ku dan menjauh pergi dari kantin.


Menjauh pergi dari pemandangan yang membuat ku jadi gerah hati.


Aku takut, jika aku berdekatan dengan Laila, aku akan menyergapnya dan menculik nya untuk ku bawa pulang. Gila sekali pikiran ku itu.


Akhirnya aku tak jadi makan di kantin. Dan aku kembali memesan makanan secara on line. Ku putuskan juga untuk kembali mengurung diri dalam ruang kerja ku. Agar sementara waktu aku tak lagi melihat wajah gadis kasar itu.


Tapi, sore hari nya, takdir menggoda ku dengan sebuah kesempatan.


Saat aku hendak pulang, ku lihat Laila yang terburu buru pergi seorang diri. Entah kenapa ketika melihat Laila saat itu, aku jadi teringat lagi dengan keakrabannya bersama Erlan tadi siang. Dan api cemburu itu pun kembali hadir dan mulai menjerat ku kuat-kuat.


Dalam posisi badan dan pikiran yang letih, akhirnya aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti kemana Laila pergi. Pada akhirnya aku mengikuti Laila dari jarak yang cukup jauh.


Setelah beberapa waktu, ku dapati ternyata Laila pergi ke toilet. Saat itu, suasana lorong di sekitar toilet sangat lengang. Ku terka semua orang pastilah sudah beranjak pulang. Alhasil sebuah pikiran gelap tiba-tiba muncul di benak ku.


Aku pun menunggu Laila di sebuah tikungan. Dan begitu Laila lewat, tanpa menyadari keberadaan ku, aku langsung saja menarik nya ke sebuah sudut yang tak terlalu menarik perhatian.


Ku sergap Laila dan ku berondongi ia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan nya dengan Erlan.


Tapi memang dasar mulut wanita itu terlalu kasar. Laila malah berceloteh dan marah-marah tak jelas kepada ku. Sehingga secara spontan aku pun didera perasaan untuk mengunci mulut kasar nya itu lagi dengan mulut ku sendiri.


Dan.. di sebuah pojokan tersembunyi, aku pun kembali menci um Laila.

__ADS_1


***


__ADS_2