Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Dingin (POV Laila)


__ADS_3

Ketika mobil sampai di jalan besar, tiba-tiba saja Erlan berkata.


"Saya berhenti di sini aja, Pak. Rumah saya belok ke kanan," ujar Erlan.


"Oh.. baiklah."


Ketika Erlan keluar dari mobil, aku pun ikutan keluar dari mobil. Namun, ucapan dari Bos Kiyano kemudian membuat ku tertegun.


"Kenapa kamu ikut turun? Bukan kah rumah mu ke arah sini? Naik lah lagi!" Titah sang Bos.


Aku yang sebenarnya masih dilanda kengerian akibat ancaman naik turun tangga dari sang Bos pun akhirnya langsung melangkah kembali ke dalam mobil.


Ketika mobil mulai berjalan kembali, ku sapa Erlan yang tampak tercenung melihat ku masuk kembali ke dalam mobil. Ia bahkan tak membalas sapaan ku tadi.


Dan, mobil pun terus melaju. Membawa serta aku, sang Bos beserta rasa dingin yang kurasakan begitu kuat di dalam mobil.


'Pastilah ini karena AC bukan?' benakku sibuk dengan pikiran ku sendiri.


Ku lirik lubang AC yang ada di bagian atap mobil, namun ternyata itu hanya membuka sedikit saja, di angka 1. Setahu ku seharusnya bukaan sebesar itu tak akan menyebabkan suhu jadi sedingin ini.


Aku bisa tahu karena aku pernah menjadi seorang perawat pribadi nenek orang kaya. Dan dulu aku sering menaiki mobil bersama Bos ku untuk mengantarkan sang nenek bolak-balik ke rumah sakit.


"Lo Kegerahan? AC nya kurang dingin ya?" Tanya Bos Kiyano tiba-tiba dengan gaya bicara yang tak lagi seperti Bos.


Spontan saja langsung ku tolehkan wajah ku ke arah pemuda itu.


"Dingin banget gini. Masa iya aku gerah!" Celetuk ku asal.


Menyadari ucapan ku yang rasanya tak etis, aku pun kembali mengatupkan mulut ku rapat-rapat.


Kemudian, dari sudut mata ku lihat Kiyano menekan tombol on off AC. Dan setelahnya, ku sadari udara dalam mobil jadi tak sedingin tadi.


Ku lirik Kiyano diam-diam. Dan aku dibuat terpukau oleh pemandangan maskulin yang terpampang di depan mata ku itu.


Aku menyukai profil sang pemuda yang begitu serius mengemudikan mobil. Garis wajah nya yang biasanya tampak mengancam kini terlihat tangguh dan.. macho.


'Ya ampun! Barusan aku kesurupan atau apa ya? Aku barusan mikir kalau si Keong ini macho?! Gila! Jangan sampe si macho, eh, si keong tahu apa yang ku pikirin tentang nya tadi!' benak ku sibuk oleh pikiran konyol ku sendiri.

__ADS_1


"Apa sih yang lagi Lo pikirin? Jangan bilang Lo lagi mikirin gue!" Terka Kiyano dengan sangat tepat.


Hingga membuat ku terlonjak kaget dan menatap takut ke arah nya.


Ku lihat Kiyano tersenyum lebar kala melihat reaksi ku barusan. Dan aku langsung saja membuang pandangan ku ke samping kiri, ke arah jendela. Agar Kiyano tak lagi bisa melihat raut khawatir yang ditunjukkan oleh wajah ku.


"Cowok tadi, pacar Lo, ya?" Tanya Kiyano kembali dengan begitu tiba-tiba.


Bodohnya aku yang langsung kembali menoleh dan menyahut pertanyaan nya itu dengan jawaban lantang.


"Erlan? Diih.. bukan lah! Masa iya aku sama si Cabe Ijo pacaran? Kakak adek mah iya kali!" Sahut ku spontan, yang langsung ku sesali kemudian.


Ku lihat cengiran lebar kembali terpampang di wajah tampan Bos ku itu. Membuat ku tiba-tiba merasakan gugup yang tak ku mengerti sebab nya kenapa.


"Cabe Ijo? Kamu nama in cowok tadi Cabe Ijo? Hahahaha!!"


Kiyano terus menertawakan ku selama beberapa waktu ke depan nya. Sementara itu, aku yang terlanjur malu dan kesal pada kecomelan mulut ku sendiri, memutuskan untuk kembali menatap ke luar jendela.


"Boleh tahu alasan Lo nama in dia Cabe Ijo?" Tanya Kiyano kembali.


Aku memutuskan untuk tak menghiraukan pertanyaan pemuda di samping ku itu.


"Laila.. jangan buat gue ancam Lo lagi untuk naik-turun tangga besok deh!" Ancam Kiyano begitu tiba-tiba.


Sontak saja aku kembali menoleh dan menatap garang pada bos muda ku itu. Sementara yang ku tatap malah tersenyum kecil dan kembali bertanya.


"Jadi, kenapa cowok tadi Lo nama in Cabe Ijo, hm..?"


Mulanya aku masih menatap garang pada pemuda di samping ku itu. Dan Kiyano juga menahan pandangan ku cukup lama. Lalu aku menyadari sesuatu.


"Awas! Lihat ke depan!" Aku mengingatkan Kiyano dengan teriakan ku, kala ku lihat sebuah mobil van di depan kami yang agak melambat.


"Gila kamu ya! Kalau mau mati, jangan ajak-ajak aku dong! Aku masih mau hidup. Masih mau jalan-jalan ke taman Ragunan. Jadi fokus dulu ke depan, nyetirnya!" Omel ku panjang lebar.


Setelah beberapa lama, aku menyadari sikap ku yang kembali kurasa tak etis.


'Ya ampun, Laa!! Ini mulut kebangetan amat ya?! Kenapa sih, bikin eror melulu kalau ada di dekat cowok ini?!' omel ku pada diri sendiri.

__ADS_1


Kembali ku lirik Kiyano yang kini menatap fokus ke depan jalan. Sebuah senyuman masih tersungging di bibir nya yang berwarna pink.


Melihat ke-pink-an bibir Kiyano, entah kenapa aku didera perasaan tak nyaman. Seolah ada kupu-kupu yang menggelitiki perut ku saja. Aku pun memalingkan kembali wajah ku ke luar jendela. Mencoba menormalkan detak jantung ku yang berdentum tak karuan selama sesaat tadi.


'Aku kenapa sih?!'


"Jadi, Lo belum jawab pertanyaan Gue. Kenapa Lo nama in temen Lo tadi, Cabe Ijo?" Tanya Kiyano kembali untuk ke sekian kali nya.


Dan aku pun dengan spontan nya langsung menoleh pada pemuda itu.


"Masih bahas itu lagi? Apa penting nya sih?" Protes ku dengan berani.


Lama-lama, aku mulai kesal juga dengan topik pembicaraan yang tak bermutu ini. Dan entah dari mana datang nya, keberanian pun kembali menguasai ku untuk membalas sahutan Bos muda ku itu.


"Gak penting juga sih, sebenarnya.. Gue cuma lagi pingin dihibur. Dan isi kepala Lo seringkali bisa menghibur gue," sahut Kiyano dengan nada sendu.


Ku amati wajah lelaki di balik kemudi itu lekat-lekat. Sementara ia fokus memandang ke jalan di hadapan, aku menangkap aura kesedihan di wajah lelaki itu. Dan aneh nya, tiba-tiba saja dadaku merasakan sesak yang sulit tuk dijelaskan.


Ku paksa diri ku untuk ikut memandang jalan di hadapan ku. Sebelum akhirnya aku kembali bicara dengan nada senormal yang ku bisa.


"Soalnya, Erlan itu mirip banget kayak Cabe Ijo. Kelihatannya sih gak pedas. Tapi ternyata pas dimakan, wow pedas juga ya!" Seloroh ku dengan kalimat yang bernada.


"Maksud kamu dia pedas gimana?" Tanya Kiyano kembali.


Entah kenapa aku bisa menangkap senyuman di balik nada suara Kiyano barusan. Aku tak mau melihat wajah pemuda itu lagi. Dan hanya melanjutkan kalimat ku saja di detik berikutnya.


"Ya pedas. Seringnya dia tuh kalem.. charming.. kayak pangeran berkuda putih gitu. Pokoknya bersikap kayak cowok impian nya para cewek lah!"


"Terus?"


Aku tersentak dengan aura dingin yang tiba-tiba kembali menyergap. Bulu kuduk ku bahkan kembali kurasakan meremang. Ku lirik wajah Kiyano yang masih fokus menatap ke depan. Dan aku menyadari adanya urat-urat yang tampak jelas di pelipis pemuda itu. Ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.


Kiyano lalu menoleh singkat ke arah ku.


"Terus?" Tanyanya kembali dengan nada yang sama.


Seketika itu juga, tahulah aku dari mana aura dingin yang sedari tadi ku rasakan itu berasal. Karena aku mendapati tubuh ku serasa langsung membeku di bawah tatapan tajam pemuda itu.

__ADS_1


***


__ADS_2