
Arline pulang selepas waktu zuhur tiba. Suami nya, Kolonel Amir datang menjemput nya.
Bila dibandingkan, aku sebenarnya merasa heran. Bagaimana bisa Kolonel Amir yang tampak pendiam dan berwibawa bisa terpincut hatinya pada sosok Arline yang... Yah.. seperti itu lah. Hihihi.
Jika Arline bisa membaca pikiran ku ini, ia mungkin akan menyumpahi ku dengan nama yang akan membuat Mama nya semakin mengamuk.
Sebelum pulang, Arline kembali berbisik di telinga ku dan menanyakan pertanyaan yang sudah membuatnya diteriaki oleh Erlan dan Mama tadi.
"Syuut.. La. Ayo lah bilang ke aku, berapa lama Kakak ku itu bertahan menghadapi malam pertama kalian?" Bujuk Arline setengah memohon setengah memaksa.
Ku berikan Arline senyuman ku yang paling cerah. Lalu aku balas berbisik ke dekat telinga nya.
"Ra ha si a!"
Dan tawa ku pun pecah saat itu juga. Mengantar kepergian Arline yang mencak-mencak kesal karena tak berhasil menghilangkan rasa penasarannya itu.
Terkait malam pertama ku.. Jelas aku tak akan membincangkannya pada Arline atau siapa pun juga. Karena Nunik telah menasihati ku di hari pernikahan ku dan Erlan. Agar aku tak menceritakan perihal hubungan suami istri kepada orang lain.
Karena dalam hadits nya, baginda rasul saw. Mengatakan bahwa orang yang senang mengumbar hubungan badan nya dengan pasangan nya maka kelak akan memiliki kedudukan yang paling buruk di akhirat nanti nya.
Aku juga merasa sedikit malu dan juga bersalah kepada Erlan, suami ku. Karena hingga satu Minggu sudah usia pernikahan, kami belum juga menikmati malam pertama kami.
Di malam pertama pernikahan kami, aku terlalu sibuk dalam rasa sedih ku atas kemunculan Papa kembali dalam hidup ku. Sehingga Erlan tampaknya tak tega, dan akhirnya membiarkan ku puas menangis selama hampir semalaman itu.
Di hari kedua, ketiga hingga malam kemarin, aku pulang bekerja dari shift malam. Sehingga Erlan dan aku sama-sama terlalu lelah. Terlebih lagi saat tamu bulanan ku datang bertamu di hari ketiga. Jadi batal deh making love nya.
Hanya saja, beberapa hari terakhir ini Erlan mulai berani meminta ku melakukan pemanasan tangan setiap kami bangun pagi. Salahkan juga mulut ku yang begitu bo doh dan menawarkan diri untuk membantunya merasakan kelegaan karena hasrat nya yang belum juga tersalurkan.
Jujur saja, aku pernah melihat film biru sekali dalam hidup ku ini. Dan itu terjadi secara tak sengaja.
Saat itu aku sedang bermain ke rumah seorang teman wanita ku semasa SMA. Ia lalu menunjukkan film biru itu kepada ku. Dan mata ku tak bisa berhenti untuk melihat tayangannya hingga akhir.
__ADS_1
Aku yang semasa SMA dulu tak pernah pacaran, akhirnya berhasil dibuat penasaran oleh setiap adegan dalam film biru itu. Termasuk juga adegan pemanasan tangan yang akhirnya ku lakukan juga kepada Erlan.
Dan aku sungguh tak menduga. Ternyata kegiatan ini jadi rutinitas pagi yang selalu dimohonkan Erlan kepada ku hingga tadi pagi. Membuat pergelangan tangan ku menjadi cukup pegal juga karena harus melakukan pemanasan dalan waktu yang lumayan lama.
Tapi aku tak menyesal melakukannya. Karena ada kepuasan tersendiri saat kulihat wajah Erlan yang tampak damai di setiap kesudahan nya. I do love him more and more again(aku sungguh mencintai nya lagi dan lagi)...
Sore hari nya, sekitar jam tiga, aku dan Erlan berpamitan pulang. Sebelum pulang, aku sempat bertemu dengan Darman yang tampak bersikap canggung saat tak sengaja bertemu dengan ku.
Terhadap adik ku ini, aku tak merasakan perasaan tak suka ataupun benci. Aku justru merasa sedikit lebih senang saat kusadari kalau aku juga mempunyai saudara kandung di dunia ini.
Ku berikan Darman pelukan singkat sebelum kami berpisah. Dan aku juga mengepalkan lima lembar uang lembaran merah ke tangan nya.
"Ini buat beli buku dan jajannya kamu, Ya Dar. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bilang ke Kakak!" Ucap ku kepada nya.
Darman terlihat terharu. Dan bahkan ia sempat menangis tanpa suara saat mengantar kepergian ku. Ku dengar suara nya yang masih terdengar kekanakan mengucapkan terima kasih nya kepada ku.
"Makasih ya, Kak Laila.." ucap Darman dengan mata memerah.
Dan kemudian, aku langsung beranjak pergi dari rumah mertua ku itu. Tanpa menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Papa kandung ku.
Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hati ini. Namun sama seperti yang diharapkan Erlan, Nunik dan juga Mama, aku pun merasa yakin kalau kelak aku akan bisa kembali berhadapan dengan Papa. Dengan hati yang lapang dan tangan menyambut terbuka. Yah.. semoga hari itu secepat mungkin akan segera tiba. Aamiin.
***
Seperti janji Erlan. Selepas dari rumah masa kecil suami ku itu, kami menyempatkan untuk mampir melihat rumah yang hendak Erlan beli untuk kami tinggali kelak.
Letak rumah nya tak jauh dari pusat kota B. Model nya seperti rumah mertua ku. Dengan adanya halaman yang mengelilingi rumah. Dan aku langsung menyukai pilihan Erlan ini.
Ini seperti rumah yang kuimpi-mimpikan selama ini. Karena ia tak hanya memiliki halaman yang luas, tetapi juga jumlah kamar tidur yang cukup banyak (ada enam kamar tidur lain selain kamar tidur utama di lantai atas), kolam ikan, dan bentuknya yang tinggi dengan ventilasi udara yang dibangun dengan sangat baik.
Tanpa lampu, rumah besar ini juga sudah cukup terang karena cahaya matahari yang bisa langsung masuk menembus kaca-kaca jendela besar yang ada cukup banyak.
__ADS_1
"Gimana? Kamu suka gak, Yang?" Tanya Erlan kepadaku.
"Suka! aku suka banget rumah ini, Lan! Jadi kamu mau beli rumah ini?" Aku bertanya.
"Syukurlah kalau kamu suka. Dan ya. Aku akan langsung urus proses pembayarannya malam ini juga. Biar bulan depan kita bisa langsung pindah ke rumah ini. Lagipula di sini juga ada banyak kamar. Jadi Mama Mutia bisa pilih kamar mana pun yang dia mau," imbuh Erlan kemudian.
Ku pandangi lagi Erlan dengan tatapan haru. Aku terharu kala mendengar dua kalimat terakhirnya Erlan tadi.
"Kamu rela kan, Yang, kalau Mama ikut tinggal bareng kita?" Tanya ku memastikan.
Terlebih dulu Erlan menci um punggung tangan ku yang tak pernah lepas dari genggamannya sedari kami turun dari mobil tadi. Kemudian ia berkata dengan serius.
"Tentu saja aku gak keberatan, Yang. Bagaimana pun juga Mama Mutia sudah menjadi Mama ku juga sekarang dan sampai kapan pun juga. Jadi gak mungkin juga kan kita biarkan Mama tinggal di kontrakan sana seorang diri?"
"Nanti aku berencana untuk mencari asisten rumah juga untuk merawat dan membersihkan rumah ini. Jadi kamu dan Mama gak perlu lagi merasa capek. Mama juga gak perlu lagi menjual gorengan atau jadi kuli cuci di rumah orang, Yang.." imbuh Erlan menambahkan.
"Kamu.. malu ya, Yang, punya mertua yang kerjanya kuli cuci?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut ku. Dan aku berhasil mendapatkan cubitan kecil di pipi dari suami ku itu.
"Ngawur kamu, Yang! Ya enggak lah! Ngapain juga aku harus malu untuk pekerjaan halal yang dilakuin Mama kamu? Apalagi dengan pekerjaan itu lah Mama Mutia sudah berhasil menghidupi dan membesarkan kamu hingga jadi semanis ini. Seharusnya aku bersyukur banget malah!" Seru Erlan berapi-api.
"Aku cuma ngerasa kasihan aja sama Mama, Yang. Kasihan kan Mama kalau masih harus capek-capek kerja. Udah kamu sama Mama nanti di rumah aja. Lagi pula aku sengaja beli rumah ini karena halaman nya yang juga lumayan luas. Jadi kalau Mama mau kan nanti Mama bisa bebas melakukan hobi nya."
"Hobi?" Tanya ku bingung.
"Iya. Mama kan sebenarnya punya hobi menanam bunga, Yang. Mama sendiri lho yang bilang ke aku. Katanya di rumah lamanya dulu, Mama menanam bermacam-macam bunga anggrek,. Anyelir dan juga jenis bunga yang lain," ujar Erlan kembali.
"Oh.."
Dan ingatanku pun melayang ke masa kecil ku dulu. Memang benar. Seingat ku dulu memang ada banyak jenis bunga di rumah lama kami. Rumah yang pernah memberikan kenangan terbaik sekaligus juga terpedih dalam hidup ku ini.
***
__ADS_1